JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
TAMPARAN KERAS!


__ADS_3

Dana kembali ke kantornya setelah selesai mencuci piring bekas makan siang mereka berdua.


"Aku balik kantor dulu Wan,"


"Makasih ya,"


"Sama-sama."


Saat Dana membuka pintu untuk pulang, dirinya dikejutkan dengan kedatangan seseorang di luar.


"Kamu ngapain kesini?"


"Aku cuma menyampaikan amanah dari mama Awan. Sudah selesai kok, aku juga sudah mau pergi." Rachel menatap Dana dengan marah. Dirinya benar-benar tak habis pikir mengapa perempuan itu datang ke rumah kekasihnya.


Dana berlalu dari hadapan Rachel. Belum sampai ia di depan gerbang rumah, Rachel menarik kuat rambut Dana. Wanita itu mendorong tubuh Dana ke lantai.


"Aku belum selesai bicara ya! Kurang ajar banget, beraninya masih godain Awan, Dia pacar aku!"


Rachel terus saja menyerang Dana. Keributan itu refleks membuat Awan yang ada di dalam berlari ke luar rumah.


"Chel? Apa-apaan kamu ini?" Awan menarik tangan Rachel untuk memisahkan mereka berdua.


"Kenapa dia ada di sini?" Rachel terlihat marah karena kedatangan Dana.


"Dia datang karena kemauan mama. Nganter obat sayang," Awan menjelaskan kepada pacarnya itu apa yang sebenarnya terjadi. Dana yang masih shock hanya diam memandang mereka berdua.


"Bulsh*it Wan! Selama ini aku sabar karena aku sayang sama kamu. Sampai kapan? Sampai kapan aku harus sabar Wan?" Suara Rachel tersebut memancing beberapa tetangga keluar rumah untuk mencari tau apa yang terjadi.


"Kita bicara di dalam!" Awan menarik lengan Rachel cukup keras. Dana yang masuh ada di luar lalu membenahi pakaiannya yang sedikit berantakan karena ulah Rachel. Ia sedikit malu karena beberapa tetangga Awan berbisik melihat dirinya. Dana lalu berjalan ke depan gang untuk mencari taxi yang tadi ia pesan. Ia tak bisa lagi menunggu taxi itu di depan rumah Awan.


"Kamu apa-apaan sih?"


"Kamu yang apa-apaan? kenapa kamu bawa dia masuk?"


"Dia cuma nganter obat Chel!"


"Kamu pikir aku gak tau? Dia yang jemput kamu waktu kamu kecelakaan kemarin kan? kamu bohong sama aku Wan!"


"Kamu tau dari mana?"


"Kamu gak perlu tau! Sampai kapan aku harus nunggu kamu? setahun lagi? dua tahun? Sampai kapan aku harus nunggu kamu buat nikahin aku Wan? Kamu bilang setelah lepas dari perempuan itu, kamu mau nikahin aku? kamu bilang kalau mama kamu tau dia sudah punya pacar, mama kamu akan nerima aku? tapi apa Wan? mama kamu masih aja ngehubungin dia! Aku harus gimana lagi sekarang? Jawab Wan!"

__ADS_1


"Kamu tau dari mana dia jemput aku?"


"Bang Evan, aku tanya soal kamu lewat dia. Kamu tau betapa khawatirnya aku? Aku ambil pesawat pagi biar bisa langsung ketemu kamu. Aku ngorbanin pekerjaan aku yang sebenarnya masih ada di sana buat ketemu kamu. Tapi apa? aku mau jagain kamu di sini aja gak kamu bolehin. Kamu malah bawa perempuan lain masuk ke rumah ini. Pantas gak aku marah?"


"Maaf, " Awan menyesal atas kebohongannya pada Rachel. Ia juga menyesal karena menganggap perempuan itu tak lagi perduli padanya. Ia menganggap Rachel berubah. Dirinya benar-benar merasa bersalah atas hal tersebut.


"Cuma maaf? itu yang selalu kamu bilang sama aku."


"Aku sayang sama kamu, kamu tau itu."


"Aku gak tau Wan, sekarang ini kamu memang milik aku. Tapi, aku gak tau apa hati kamu masih milik aku seutuhnya."


"Iam Yours," Awan mencoba memeluk kekasihnya itu. Tapi, Rachel menepisnya.


"Buktikan!"


"Aku harus apa Chel?" Awan sudah tak tau lagi apa yang harus ia perbuat agar Rachel percaya padanya.


Rachel memegang tengkuk leher laki-laki itu. Ia berusaha meraih bibir Awan.


"Chel!" Awan refleks mendorong Rachel. Ia tau apa yang akan dilakukan perempuan itu padanya. Beberapa kali saat mereka berpacaran, Rachel menggodanya. Tapi Awan selalu menolaknya.


Hampir 4 tahun sudah mereka bersama. Ia tak mau berbuat macam-macam dengan perempuan itu. Ia selalu menjaganya.


"Chel?" Rachel meninggalkan Awan. Perempuan itu lalu dengan cepat menghilang dari hadapan Awan.


"Brengs*k!" umpat Rachel yang sangat marah. Ia sangat kesal pada perlakuan Awan padanya.


**


Dana tiba di kantornya. Kak Lita bertanya pada rekan kerjanya itu alasan Dana kembali terlambat ke kantor. Dana hanya tersenyum dan mengatakan padanya jika ia terjebak macet di jalan.


Jam sudah menunjukan pukul 5 sore. Hari itu adalah akhir pekan. Beberapa pekerja memang sering pulang lebih awal di akhir pekan sehingga kantor sudah cukup sepi saat itu.


"Pulang Dan?" tanya kak Lita padanya.


"Bentar kak, duluan aja. Masih ada pekerjaan." Dana masih berkutat pada komputer yang ada di depannya.


Tak lama terdengar keributan yang datang dari luar ruangan. Kak Lita dan Dana yang masih ada di dalam ruangan seketika menengok ke sumber suara tersebut.


"Saya mau ketemu sama yang namanya Dana!"

__ADS_1


"Tapi kak, maaf kakaknya bisa tunggu di lobi biar saya panggilkan orangnya."


"Dia ada di dalam kan! saya mau bertemu dengannya sekarang juga!"


Dana yang mendengar itu lalu berjalan keluar ruangan. Terlihat beberapa orang di sana berkerumun untuk melihat siapa orang yang membuat keributan itu.


"Kamu mencari saya?" tanya Dana pada perempuan itu. Rachel menatap Dana dengan tatapan marahnya.


"Silahkan ikut saya ke dalam." Dana mempersilahkan Rachel untuk masuk ke ruangannya. Ia mempersilahkan perempuan itu duduk di ruang rapat divisinya.


Kak Lita yang cemas masih menunggu mereka di depan ruangan. Ia takut jika terjadi apa-apa pada juniornya itu. Terlebih lagi, hanya ada dirinya yang tersisa di ruangan itu.


Beberapa pekerja yang masih penasaran mencoba bertanya padanya. Tapi Lita hanya menjawab jika ia adalah client yang salah paham. Dirinya juga menyuruh orang-orang tidak mengerumuni ruangan divisinya.


Lita tau jika orang itu bukanlah client mereka. Ia hafal betul mana saja client nya karena ia bekerja di tim yang sama dengan Dana.


Di dalam ruangan, Dana duduk berhadapan dengan Rachel. Dirinya terlihat santai menanggapi kemarahan dari wanita di depannya itu.


"Ada apa membuat keributan kemari?"


"Gue mau ngingetin lo buat jauhin Awan!" Dana tersenyum geli mendengar perkataan perempuan itu.


"Tak usah disuruh juga sudah saya jauhi. Mungkin kamu salah paham soal hal tadi. Seperti yang saya katakan, saya tak ada hubungan apapun dengannya. Kamu juga pasti tau jika saya sudah punya pacar."


"Lo gak harus nuruti semua keinginan mama Awan kan?" Dana mengerutkan dahi mendengar kata-kata perempuan itu.


"Jika ia tau anaknya sudah memiliki pacar, tante Hesti memang seharusnya lebih mempercayakan kamu untuk merawat anaknya, Bukan saya."


"Semua gara-gara kamu!"


"Bukan karena saya, itu karena kamu tak bisa mengambil hati tante Hesti."


"Jadi kamu merasa unggul karena bisa mengambil hati tante Hesti?"


"Untuk apa saya merasa unggul? Tak ada untungnya untuk saya. Saya malah berharap kamu bisa segera merebut hati tante Hesti. Jadi saya tak usah repot-repot menemui Awan lagi."


Rachel hanya mengendus kesal mendengar perkataan Dana. Ia tak habis pikir perempuan itu mengatakan hal yang sangat menyebalkan seperti itu. Dana tak sepolos yang ia kira.


"Sepertinya tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Saya harap anda tak akan pernah datang lagi kemari dan membuat keributan di tempat kerja saya. Jika hal itu terjadi lagi, Baik Awan ataupun Tante Hesti perlu tau soal perbuatan rendahan yang dilakukan oleh calon menantunya ini." Dana lalu berdiridari tempat duduknya. Kata-katanya benar-benar membuat Rachel merasa terhina.


Plak! Rachel menampar Dana cukup keras. Plak! Dana yang tersulut emosi menampar balik perempuan yang ada di depannya itu.

__ADS_1


"Sudah cukup saya biarkan anda menarik rambut saya tadi. Saya harap ini terakhir kalinya anda bersikap kurang ajar kepada saya. Saya tak segan-segan untuk lapor polisi jika hal ini terulang kembali." Dana meninggalkan perempuan itu di dalam ruangan. Ia masih mencoba untuk mengatur nafasnya yang tak teratur karena marah.


...****************...


__ADS_2