
Seluruh tamu undangan dan keluarga telah berkumpul di aula itu. Suasana haru sangat kental terasa ketika papa Dana memberikan nasihat pada Awan dan anak perempuannya. Seorang anak perempuan yang kini telah dipinang oleh laki-laki yang telah berjanji menjaganya sehidup semati kini duduk di hadapannya. Kedua mata perempuan itu tak lagi sanggup membendung tangisan harunya. Ia terus menunduk karena tak mau memperlihatkan tangis nya pada siapapun yang ada di ruangan itu. Awan memberikan Dana tissue. Ia terus mengusap punggung perempuan itu dengan lembut. Tak lupa ia menggenggam tangan Dana erat.
"Are you oke?" Awan berbisik pada perempuan itu. Ia tau jika tangis haru dan bahagia yang kini Dana rasakan. Tapi, ia tetap khawatir pada perempuan yang ada di sebelahnya itu. Dana hanya mengangguk mendengar ucapan Awan.
Acara hari itu selesai tepat sebelum adzan dzuhur. Seluruh tamu undangan dan keluarga sama-sama melaksanakan sholat di masjid yang cukup besar di lingkungan pondok pesantren. Beberapa keluarga Awan memberi selamat pada pasangan suami istri itu. Hingga pukul 1 siang, satu persatu tamu dan keluarga meninggalkan pondok pesantren. Awan dan Dana memilih untuk pulang ke rumah masing-masing sebelum acara usai. Mereka berdua harus bersiap untuk pulang ke Jakarta. Tante Ari, dan Om Iyan beserta keluarga lainnya juga pulang tak lama setelah acara selesai.
"Sudah selesai beres-beresnya nduk?" tanya mama pada Dana ketika pulang dari pondok pesantren.
"Sudah ma, Tinggal tunggu Awan saja. Sepertinya dia mau tidur siang dulu. Daripada di jalan ngantuk kan?" Dana menutup koper yang akan ia bawa ke Jakarta.
"Kok mama sedih ya nduk? sudah kamu selesai kuliah langsung merantau kerja, sekarang diambil orang buat jadi istri." Mama tampak sedih mengatakan hal itu. Ia kini duduk di pinggir tempat tidur anak perempuannya sembari melihat Dana berkemas.
"Ma, gak akan ada yang berubah. Mama tetap mama Dana, anak mama ini juga bakal tetep pulang rutin nengokin mama seperti saat Dana belum menikah. Mama harusnya senang ada yang jagain Dana di sana. Mama punya anak laki-laki baru yang bisa mama andalkan juga." Dana duduk di samping mama. Ia memeluk mamanya erat. Ha itu membuat hati mama yang sebelumnya sangat sedih menjadi lega.
Tak lama setelah itu, Tante Ari yang memang belum pulang ke Jogja masuk ke kamar Dana.
"Mba, itu Awan sudah datang."
"Iya tan," Jawab Dana pada tantenya.
Awan lalu masuk ke dalam rumah dan menyalami keluarga barunya. Ia lalu duduk di ruang tengah mengobrol dengan Nanda dan adik-adik Dana yang lain.
"Mau berangkat jam berapa?" tanya Dana pada Awan.
"Setelah maghrib saja, nanggung." Awan menjawab pertanyaan Dana singkat.
Dana lalu duduk di samping laki-laki itu dan ikut mengobrol dengan adik-adiknya yang lain. Om Iyan sudah lebih dahulu pulang ke Bandung begitu juga dengan nenek dan kakek Dana yang ikut pulang bersama Om Iyan.
"Mba, nih hadiah buat kamu, nanti di bawa ya?" tante memberikan sebuah paper bag yang diletakkan di dekat koper Dana yang sudah ada di ruang tamu.
__ADS_1
"Apa ini tan?" Dana hendak membuka paper bag itu. Tante lalu mencegahnya.
"Dibuka di rumah aja." Kata Tante. Dana hanya mengangguk menurut pada tante.
Selepas maghrib, Awan dan Dana berpamitan untuk pergi ke Jakarta.
"Bye bye!" kata Dana pada keluarganya yang mengantar mereka di depan pintu gerbang. Dana melambaikan tangannya ke arah mereka. Awan membunyikan kelakson mobilnya.
Perjalanan malam itu tampak sangat hening. Mungkin karena mereka melewati daerah hutan dimalam hari sehingga hanya benerapa kendaraan saja yang melintas.
Dana memutar lagu yang ada di flashdisknya. Ia lalu bernyanyi mencoba memecah keheningan. Beberapa kali Awan mengajak Dana mengobrol. Beberapa kali juga mereka bernyanyi lagu yang familiar di telinga keduanya.
Sampailah mereka di jalan tol. Jalan tampak lebih ramai di sana. Banyak kendaraan seperti bus malam dan beberapa travel yang mungkin mempunyai tujuan yang sama dengan Awan dan Dana. Beberapa kali juga mereka berhenti di rest area untuk sekedar melepas rasa lelah.
"Mau gantian kah?" tanya Dana pada Awan.
"Berhenti dulu aja kalau kamu ngantuk," kata Dana pada Awan.
"Enggak kok gak ngantuk."
"Bener?" Dana sedikit cemas dengan keadaan Awan. Ia tau jika Awan sangat lelah hari ini. Ia hanya tidur beberapa jam sebelum mereka berangkat ke Jakarta.
"Iya bener sayang," Kata Awan membelai rambut istrinya. Dana mencoba menahan senyumnya agar tak terlihat oleh Awan. Pipinya kini memerah karena malu. Tak lama, Awan melajukan mobilnya kembali ke jalan.
Setelah perjalanan panjang, keduanya akhirnya sampai di rumah Awan. Mereka berdua lalu memilih untuk tidur karena lelah. Dana lebih dahulu tidur dibanding Awan. Laki-laki itu masih membasuh wajahnya dan membersihkan tangan dan kakinya. Ketika keluar dari kamar mandi, ia melihat Dana yang sudah terlelap di tempat tidur miliknya. Awan lalu mencoba membaringkan diri di samping perempuan itu. Sesekali ia menengok ke arah Dana untuk melihat keadaanya. Awanpun mencoba memejamkan matanya lalu ia tertidur.
***
Esok paginya, Dana mulai membuka matanya. Ia benar-benar asing dengan ruangan yang ia tempati saat ini. Matanya yang masih mengantuk mencoba untuk menyisir ke sekeliling ruangan. Ia lalu mengganti posisi tidurnya menghadap ke arah yang lain. Seketika matanya melotot melihat punggung laki-laki yang tidur di sampingnya. Dana refleks berteriak dan menendang orang itu.
__ADS_1
"Aaaaa.... "
bruk!
Awan yang kaget pun sontak bangun dan berdiri. Ia tampak kebingungan dengan apa yang terjadi.
"Kenapa?" tanyanya panik karena mendengar teriakan Dana.
"Aku kaget!" Dana memegangi jantungnya dan tampak sangat shock karena Awan tidur di ranjang yang sama dengannya.
"Kaget kenapa?" Awan dengan mata yang masih merah karena mengantuk mencoba bertanya pada Dana.
"Kamu tidur di sini." Awan lalu melihat Dana dengan tatapan tak mengerti.
"Aku kaget liat kamu tidur di sini sama aku." kata Dana mencoba menjelaskan.
"Ya wajar kan? aku kan suami kamu." kata Awan dengan santai.
"Iyasih," Dana menggaruk kepalannya yang tak gatal.
"Sumpah aku ngantuk banget, aku mau tidur lagi." Awan lalu merebahkan tubuhnya ke tempat tidur lagi.
"Subuh Wan, jangan tidur dulu. Nanti bablas." Dana mencoba menggoyangkan tubuh Awan.
Awan lalu menghembuskan nafas berat dan bangun untuk mengambil air wudhu di kamar mandi. Setelah keluar, Dana lalu berganyian untuk wudhu.
Awan menunggu Dana untuk salat berjamaah. Dana lalu cepat-cepat memakai mukena dan berdiri di belakag Awan bersiap untuk salat. Subuh itu adalah kali pertama mereka berdua melaksanakan salat berjamaah dengan status yang sudah berbeda.
...****************...
__ADS_1