
Dana benar-benar sangat bersemangat hari ini, Ia tampak mengepak beberapa pakaian di dalam koper miliknya. Tak lupa ia mengepak pakaian suaminya juga.
"Baju aku udah, baju Awan udah, hem... tas!" kata Dana dengan sigap membuka lemari.
"Aku gak ada tas lagi," kata Dana menghembuskan nafas kesal.
"Udah semua?" tanya Awan yang baru saja masuk ke kamar membawa secangkir kopi di tangannya.
"Aku gak punya tas Wan!" kata Dana merengek.
"Ini sederet tas kamu semua Dana!" kata Awan menunjukkan deretan tas Dana yang memenuhi lemari milik mereka.
"Ini tas ke kantor! kamu mau aku ke nikahan orang pake tas kantor? atau pakai ransel ini sekalian?hah!" Dana berkacak pinggang membalas ucapan suaminya.
"Ini bagus nih, cocok sama baju kamu warna pink, tuh cantik..." Awan mencocokkan tas berukuran sedang itu pada baju yang akan Dana kenakan di acara pernikahan kak Sad. Dana hanya memandang Awan dengan wajah datarnya.
"Bilang aja gak mau mbeliin aku tas baru. Dah gak papa kok, aku bisa beli sendiri." Dana lalu menutup koper itu dan berjalan ke kamar mandi.
"Kok marah?" kata Awan heran. Tak lama berselang, Dana sudah siap dengan dandanannya. Awan yang tengah duduk di ruang TV pun menengok ke arah istrinya yang tampil cantik dengan celana kulot dan crop top yang melekat sempurna di tubuhnya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Awan menatap Dana dari atas sampai bawah.
"Ke mall, kamu gak mau beliin aku tas, yaudah aku beli sendiri. Dah aku pergi ya?" kata Dana berjalan menuju ke arah depan.
Awan lalu berdiri dan segera menarik belakang celana Dana hingga perempuan itu hampir terjungkal ke belakang jika tak ada Awan yang menangkap tubuhnya.
"Duh! apaan sih?" tanya Dana kesal.
"Ganti baju!" kata Awan dengan tegas.
"Emang kenapa sama baju aku?" Dana meneliti pakaian yang ia kenakan.
"Kamu itu bersuami! bukan lagi lajang! gak suka aku kamu pake baju begini." kata Awan menatap Dana dengan tatapan tajam. "Ini lagi, kenapa perut kamu keliatan gini?" kata Awan menunjuk pada model baju yang dikenakan istrinya.
"Ini model Wan! lagian bukannya kamu seneng liat aku pakai baju seperti ini?" Dana menaikkan kedua alisnya menunggu jawaban Dana suaminya.
"Di rumah! gak buat keluar!" jawab Awan tegas.
"Iyaa... ini mau ganti!" jawab Dana tak kalah tegas.
Setelah berganti pakaian, Dana lalu berjalan ke luar. Awan telah siap di dalam mobilnya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Dana ketika melihat Awan yang telah duduk di kursi kemudi mobil.
__ADS_1
"Nganter kamu," jawab Awan singkat. Mendengar jawaban Awan, Dana sontak tersenyum senang. Ia bergegas untuk masuk ke dalam mobil dan memakai sabuk pengaman.
Hari itu, Dana dan Awan pun mencari tas yang dapat dipakai untuk pernikahan kak Sad.
Awan benar-benar kaget melihat harga tas yang Dana pilih.
"Lima juta?" Awan membelalakan matanya melihat struck pembayaran yang saat kini ia pegang.
"Ini dari emas?" tanya Awan pada istrinya.
"Ikhlas enggak? kalau gak ikhlas aku transfer nih sekarang," kata Dana mengeluarkan handphone miliknya.
"Y-ya ikhlas, cuma A-aku kira ya gak sampe 1juta."
"Yaudah, 4juta nya aku transfer." kata Dana pada Awan. Awan pun mengambil handphone milik istrinya.
"Gak gitu Dan, aku gak masalah buat beliin barang branded buat kamu. Beberapa barang-barang aku juga gak murah, cuma gak semahal ini juga."
"Enggak Wan, aku gak papa kalau bayar sendiri juga. Aku tuh kalo suka ya beli, sesuai kemampuan aku tapi, dan gak setiap saat juga. Nih ya, tas ini bisa dipake 10 tahun ke depan. Bandingin sama aku beli tas harga 100 ribu terus beberapa bulan ganti. Aku gak nemuin value nya, kalau kualitasnya bagus, bisa aku rawat, bisa aku pake terus, lagi pula aku juga ga sering beli tas dan ini kulit, jadi ya bisa tahan lama. Bisa dilihat lah, tas di lemari yang mahal tuh gak sampe 5, lainnya ya peninggalan jaman purbakala dulu kuliah." kata Dana santai.
"Oke, bisa kita makan sekarang?" kata Awan mengalihkan perdebatan mereka.
"Oke," Jawab Dana menggandeng tangan suaminya.
"Sumpah aku baru tau kamu suka belanja juga." kata Awan sembari menikmati makanan yang ada di meja mereka.
"Kayaknya kamu yang lebih boros buat belanja." tuduh Dana pada suaminya.
"Masa sih?"
"Aku ke mall, butuh beli tas ya udah beli tas!Gak ada tuh mampir beli lainnya. Kamu? nih, jam lah, Sepatu masyaAllah harganya aku tau nih! Baju, merek! tas nih apa lagi nih! HP aja ini yang baru kan? sebelum sama aku kamu gak pake ini kayaknya?" sindir Dana pada suaminya.
"Ehem!" Awan menundukkan pandangannya agar tidak terintimidasi istrinya.
"Makanya sama istri jangan pelit-pelit." Dana menatap Awan dengan mata elangnya.
"Yaudah mau beli apa lagi?" tanya Awan balik menatap istrinya.
"Beneran?" tanya Dana memastikan.
"I-iya..." jawab Awan sedikit ragu.
"Oke," Mendengar jawaban istrinya, Awan hanya tersenyum. Dalam hatinya ia mengutuk kata-kata yang keluar dari mulutnya sendiri. Ia mulai mempunyai perasaan yang tak enak karena jawaban 'oke' dari istrinya.
__ADS_1
'Mampus! tanggal tua lagi!' kata Awan dalam hati.
Dana menarik Awan ke sebuah store yang ada di mall. Ia memilih satu barang yang sangat dirinya butuhkan.
"Totalnya 23 ribu kak," kata staff kasir yang ada di toko itu.
"Bayar!" kata Dana pada Awan tersenyum.
Dana lalu mengambil barang itu dan keluar dari toko.
"Kamu cuma beli itu?" tanya Awan tak percaya.
"Iya, jedai aku patah kemarin. Gak tau deh aku ngerusakin jedai mulu!" Dana lalu berjalan beriringan dengan Dana.
"Kirain kamu mau beli apa," kata Awan lega.
"Ngira aku bakal beli barang mahal lagi?" tanya Dana tersenyum geli.
"Kirain," jawab Awan.
"Tau lah aku, tanggal tua kan? deg deg an?" kata Dana tersenyum.
"Pegawai negeri kan gitu Dan, belum gajian." jawab Awan.
"Aku yang baru gajian." kata Dana tertawa bangga. Awan hanya mengacak rambut Dana gemas. Ia lalu merangkul pundak istrinya dan berjalan menuju parkiran mobil untuk segera pulang ke rumah.
Malam itu juga, keduanya melakukan perjalanan jauh pulang ke kampung halaman mereka. Sudah lama sejak terakhir mereka pulang ke rumah. Dana benar-benar bersemangat hingga tak tertidur di jalan. Ia bercerita banyak hal dengan Awan di sepanjang perjalanan.
"Istirahat dulu ya?" tanya Awan ketika melihat rest area di depan mereka.
"Oke," jawab Dana singkat.
"Kamu mau ke kamar mandi?" tanya Awan pada Dana.
"Enggak," jawab Dana santai.
"Punggung ku pegel, aku mau lemesin badan dulu." Awan menarik tuas yang ada di jok mobilnya. merebahkan tubuhnya didalam mobil.
"Mau aku pijitin?" tanya Dana tak tega melihat suaminya yang tampak lelah.
"Boleh," jawab Awan bersemangat. Dana lalu ambil posisi menghadap ke arah Awan. Ia menaikkan kaki di atas kursi agar lebih nyaman. Awan memunggungi istrinya agar Dana dapat memijit punggungnya.
"Enak?" tanya Dana pada Awan.
__ADS_1
"Enak, gak tau kamu pinter mijit," jawab Awan.
...****************...