JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
BELUM SELESAI


__ADS_3

Setibanya di kota Jakarta, Awan mengantarkan Dana ke kostnya. Dana lalu turun dari mobil Awan. Tak disangka dirinya mendapatkan tamu yang tak diundang. Ia adalah mantan pacar Dana, kak Wisnu. Dana yang masih kecewa dengan kak Wisnu mencoba untuk tetap tenang.


Awan yang melihat Wisnu berdiri di depan kost Dana hanya melihat laki-laki itu dari dalam mobil. Ia tak mau ikut campur urusan Dana dengannya. Tapi Awan tak langsung pergi dari tempat itu. Dirinya akan menunggu Dana masuk ke dalam sebelum pergi.


"Kamu ngapain kesini?" tanya Dana pada Wisnu.


"Aku nyariin kamu dari kemarin, aku khawatir."


"Aku gak papa, mending kamu urus saja urusanmu sendiri. Lagi pula kamu sudah gak punya hak buat khawatir sama aku." Kata Dana tegas.


"Dan, aku gak mau pisah seperti ini." Wisnu coba meraih pundak perempuan di depannya.


Tapi belum sampai ia meraihnya, Dana sudah menepis tangan Wisnu.


"Aku sudah bilang kak, silahkan kamu kejar surga kamu, aku juga akan melakukan hal yang sama."


"Aku gak mau pisah."


"Kamu ini aneh ya? kamu yang mutusin aku!" Dana menunjuk kesal kak Wisnu.


"Tapi aku gak mau hubungan kita jadi seperti ini Dan," Wisnu mulai terlihat frustasi.


"Emang kamu egois tau gak kak! kamu yang mutusin, kamu yang mau aku pergi, sekarang kamu dateng ke aku nemuin aku, mohon-mohon sama aku buat apa? balikan? atau gimana sih? aku gak ngerti kak mau kamu apa?" jawab Dana yang terlihat tak kalah frustasi. Dirinya benar-benar kesal dengan tingkah Wisnu yang tak bisa ia pahami maksudnya.


"Aku belum mau ngomong sama kamu. Jadi tolong banget, jangan temui aku dulu kak!" perempuan itu melanjutkan ucapannya. Dana membuang muka tak mau melihat ke arah laki-laki di depannya.


Awan masih mengawasi kondisi Dana. Ia tak akan turun sampai Dana benar-benar memerlukannya.


"Kamu habis dari mana?"


"Bukan urusan kamu!" jawab Dana singkat.

__ADS_1


"Apa kamu mau kita jadi orang asing seperti ini?"


"Iya, lebih baik seperti ini! Aku harus masuk ke dalam. Hari ini aku kerja." Dana hendak pergi meninggalkan Wisnu. Tapi, langkah perempuan itu terhenti karena Wisnu menghalanginya. Ia memegang lengan Dana.


"Sebentar Dan, aku masih ingin bicara."


"Aku bilang lepasin!" Dana mulai berontak melepaskan cengkraman tangan Wisnu.


Awan yang melihat hal tersebut sontak keluar dari mobil.


"Dia bilang lepasin! kamu gak denger?" Awan melepaskan tangan Wisnu dari lengan Dana.


Dana sedikit kaget karena Awan membelanya. Raut wajahnya seperti tak suka jika Dana diperlakukan kasar oleh Wisnu.


"Bukan urusan kamu Wan! ini urusan saya dan Dana!" Wisnu tampak tersulut emosi melihat Awan keluar dari mobil yang Dana naiki. Ia kesal karena Awan juga ikut campur urusan mereka berdua.


"Ini urusan saya, karena orang yang kamu maksud adalah calon istri saya!" Awan menekan kata-katanya. Dana hanya diam terpaku menatap wajah Awan. Dirinya masih mencerna ucapan adik kelasnya itu.


"Lebih baik kamu pergi dari sini, atau jangan pernah lagi mengganggu calon istri saya!" Awan melanjutkan kata-katanya.


"Dan?" tatapan Wisnu seakan bertanya pada Dana. Ia mencari kebenaran dari sorot mata wanita itu.


"Lebih baik kamu pergi kak, hubungan kita sudah selesai. Seperti kataku, kamu boleh menuruti kemauan mamamu. Aku juga akan menuruti kemauan mamaku." Dana menjawab pertanyaan Wisnu dengan mantap. Wisnu benar-benar tak melihat keraguan di mata Dana. Dirinya sangat kecewa akan ucapan wanita yang dicintainya itu.


"Kamu hati-hati pulangnya ya sayang? kabarin kalau sudah sampai rumah." Dana mengecup pipi Awan. Dirinya lalu masuk ke dalam gerbang kostnya. Ia sama sekali tak menengok ke arah belakang. Dirinya benar-benar marah akan tingkah kak Wisnu yang memperlakukannya seperti mainan baginya. Ia juga merasa malu pada Awan karena larut dalam sandiwara adik kelasnya itu.


Awan yang telah melihat Dana masuk ke dalam kost lalu berbalik dan masuk ke dalam mobilnya. Menurutnya urusannya telah selesai di sana. Ia sudah mengantar Dana pulang dengan selamat. Ia lalu mengendarai mobilnya meninggalkan tempat itu.


Awan memegang pipinya. Entah mengapa ia sedikit kaget oleh tingkah Dana yang tiba-tiba menciumnya. Padahal, ini bukan kali pertama baginya di cium oleh wanita. Rachel dulu sering melakukannya. Tapi entah mengapa ia merasa sangat aneh. Darah dalam tubuhnya seperti berdesir, jantungnya memompa lebih cepat membuat detak jatungnya tak beraturan.


Awan menghela nafas panjang di dalam mobil. Ia merasa salah tingkah dan gerogi sebenarnya. Tapi untungnya ia dapat menyembunyikan perasaan itu dari Dana.

__ADS_1


Wisnu yang sangat merasa kecewa dengan kenyataan yang ia lihat di depan matanya lalu memilih untuk pergi dari tempat itu. Tapi ia belum akan melepaskan perempuan itu begitu saja. Baginya, Dana masih mencintainya. Ia hanya marah pada Wisnu karena kejadian tempo lalu. Terbukti, Dana masih menunggunya bahkan setelah ia pergi cukup lama dari hidup perempuan itu.


Dana yang merasa tak enak hati lalu menelefon Awan. Ia tak bisa membiarkan hal tersebut tanpa meminta maaf pada laki-laki itu. Awan tak boleh terlibat akan masalahnya. Ia akan merasa bersalah jika melakukan hal tersebut pada adik kelasnya.


"Halo?" sapa Awan dari balik telefon.


"Halo Wan? masih di jalan?" tanya Dana pada Awan.


"Iya ini, kenapa?"


"Maaf ya soal tadi?" Dana merasa sangat tak enak hati pada Awan.


"Gak papa, anggep aja aku ngejalanian perintah om kamu buat nganter kamu dengan selamat sampai kost." Awan masih sibuk menyetir. Pandangannya masih lurus ke depan. Ia menyambungkan telefon Dana ke mobilnya sehingga hal tersebut tak akan mengganggunya dalam menyetir.


"Harusnya aku gak kelewatan!"


"Emang sih, nyium cowo yang gak ada hubungannya sama kamu memang sedikit kelewatan." kata Awan mencoba menggoda Dana.


"Ih serius, kan aku jadi merasa bersalah."


"Gak papa Dan, serius! aku itu bercanda." Awan tertawa mendengar Dana yang terdengar frustasi.


"Aku malu tau Wan..."


"Kalau malu, jangan lakuin lagi ke cowo lain. Kalau kamu seperti itu lagi ke cowo lain, mungkin dia bakal ilfil sama kamu? atau mungkin mikir macem-macem soal kamu? untung itu aku."


"Apaan sih..." Awan tertawa mendengar jawaban Dana. Perempuan itu terkadang memang sulit untuk ia jahili. Tapi terkadang ia sangat mudah untuk di jahili.


Setelah itu, Dana lalu menutup telefon. Ia memang harus bersiap untuk berangkat ke tempat kerjanya. Awan juga harus mandi dan bersiap untuk berangkat ke kantornya. Sesekali ia tersenyum ketika teringat akan kejadian sandiwara yang ia lakukan tadi. Menurutnya sangat lucu dan puas bisa mengelabui orang seperti Wisnu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2