
"Halo?"
"Halo Wan? sudah selesai pindahannya?" tanya Dana pada Awan.
"Sudah, aku lagi di jalan mau jemput kamu." kata Awan yang masih sibuk menyetir mobilnya.
"Oh yasudah, aku sudah selesai juga."
Awan lalu tiba di parkiran mobil. Ia menunggu Dana keluar dari kantornya. Tak lama berselang, Dana pun terlihat berjalan ke arah mobil Awan. Perempuan itu tersenyum melihat ke arah Awan.
"Dan!" belum sampai Dana di mobil Awan, ia dikagetkan dengan kedatangan kak Rindang.
"Kaget, kenapa kak?" tanya Dana pada kak Rindang.
"Pulang sama siapa? mau bareng?"
"Gak usah kak makasih, aku dijemput." Dana tersenyum menolak ajakan kak Rindang.
"Pacar?" tanya kak Rindang lagi.
"Bukan pacar, dia..."
"Dan?" Tiba-tiba Awan memanggil Dana. Ia keluar dari mobilnya dengan tatapan elangnya yang mengarah pada kak Rindang.
"Wan?" Dana sangat kaget melihat Awan yang keluar dari mobil. Ia tanpak panik karena kak Rindang pastilah kenal siapa Awan.
"Tunggu, Awan bukan sih? kita pernah ketemu di tempat pak Alex kan ya?" kak Rindang lalu menghampiri Awan.
"Iya," jawab Awan mencoba tersenyum pada kak Rindang.
"Wah, kenal sama Dana?"
"Iya, saya suaminya." Perkataan Awan sontak membuat Dana menoleh. Ia tak habis pikir mengapa Awan membuka hal tersebut dengan mudah. Lutut Dana yang sedari tadi menopangnya pun seperti lemas karena tingkah Awan.
"Suami?" tanya kak Rindang tak mengerti.
"Kak, boleh ngobrol sebentar?" kata Dana pada kak Rindang. Ia menarik seniornya itu sedikit menjauh dari Awan. Mata Dana memicing menatap Awan yang bersikap tak bersalah di hadapannya.
Dana lalu menceritakan semuanya pada kak Rindang. Ia sebenaranya tak punya kewajiban menceritakan hal ini pada orang lain. Kalau bukan karena Awan ia tak perlu serepot ini.
"What? jadi kamu sudah menikah?"
"Pelan sedikit kak. Sebenarnya aku belum cerita juga karena aku tau reaksi kalian akan seperti ini. Aku tak mau seluruh kantor ribut karna aku."
"Wah tega Dan kamu gak undang-undang."
"Baru akad kak. Besok kalau resepsi pasti aku undang." kata Dana pada seniornya.
"Bukannya sebelumnya kamu gak sama dia ya?"
__ADS_1
"Makanya itu, Aku dijodohkan dengannya tadinya. Tapi setelah kenal, terus cocok, ya sudah nikah. Tolong jangan bilang siapa-siapa dulu ya kak, please?" Dana memohon pada kak Rindang.
"Sebenarnya tak ada yang perlu ditutupi sih Dan,"
"Aku tahu, tapi aku juga tak punya kewajiban untuk memberi tahu semua orang kan?"
"Yasudah, kamu bisa percaya aku. Tenang saja."
"Makasih kak," kata Dana senang.
"Yasudah, suami kamu nunggu. Cemburu manti dia kita ngobrol terlalu lama." Dana tersenyum geli mendengar ucapan kak Rindang. Perempuan itu lalu berjalan menuju mobil Awan meninggalkan kak Rindang.
Dana lalu masuk ke dalam mobil Awan dan mengenakan sabuk pengaman.
"Yok?"
"Udah haha hihi nya?" tanya Awan sinis.
"Apaan sih? yok?"
"Hah, capek ya angkat lemari." kata Awan memijit tangannya. Ia menghela nafas berat.
"Cemburu ya?" tanya Dana menyelidik.
"Menurut kamu? aku angkat lemari dari lantai 2 sampai bawah. Terus jemput kamu ke sini, kamu malah haha hihi sama cowo lain?"
Dana tertawa mendengar ucapan Awan.
"Geli gak sih? dah ah geli." kata Awan.
"Emang," Awan dan Dana pun tertawa karena perilaku kekanak-kanakan mereka berdua.
Awan lalu mengemudikan mobilnya menuju kost Arin.
"Udah ngabarin Arinnya?"
"Sudah, nanti belok kanan ya?" kata Dana pada Awan.
"Bapak kost ngobrol apa aja sama kamu?" tanya Dana pada Awan.
"Banyak, ngasih petuah gitu. Cuma iya-iya aja akunya." kata Awan tersenyum geli.
"Jangan begitu, kamu durhaka sama orang tua tau." kata Dana yang juga tersenyum pada Awan.
Tak lama, mereka sampai di sebuah kost yang cukup bagus. Dana lalu menelefon Arin.
"Halo mba? aku sudah di depan. Bukain gerbang." kata Dana di telefon.
"Oh, sudah aku buka Dan, masuk saja." kata Arin pada Dana di telefon.
__ADS_1
"Oke," kata Dana sebelu menutup telefonnya.
Awan membawakan dispenser yang ada di bagasi mobilnya. Ia mengekor mengikuti Dana masuk ke kost temannya itu.
Tok, tok, tok! tak ada jawaban dari dalam.
"Mba?" Dana mengetuk kamar itu lagi. Karena tak mendapat jawaban, Dana berinisiatif untuk menelefon Arin. Tapi, entah mengapa handphone milik temannya itu tak aktif.
"Gak diangkat?" tanya Awan pada Dana.
"Gak aktif malahan." kata Dana cemas.
"Mba Arin?" Dana mengetok pintu kost Arin lagi. Ia lalu mencoba membuka pintu kamar Arin yang ternyata tak terkunci. Dana sedikit kaget ketika mendapati kost milik Arin tidak terkunci. Ruangan di dalam begitu gelap tanpa cahaya sedikitpun. Dana menatap Awan ragu. Tapi, karena takut hal yang buruk terjadi pada temannya, Dana memberanikan diri untuk masuk.
"Mba?"
"Surprize!" Dana sangat terkejut mendengar suara dari dalam. Lampu yang semula mati kini menyala. Terlihat di dalam kamar itu Arin, Difa, Dina, Wiwi, Tiya, dan Bila memberi kejutan pada Dana. Mereka adalah teman kuliah Dana.
"Happy wedding Dana," Dana menutup mulutnya karena kaget. Teman seperjuangan Dana ketika kuliah berkumpul di kost Arin.
"Kalian kapan datang? Astaga!" kata Dana kaget.
"Kita jauh-jauh lo datang buat kamu." Kata Dina.
"Aaa... terimakasih." Dana memeluk mereka semua. Selayaknya teman yang lama tidak berjumpa. Dana sampai meneteskan air mata bahagia ketika bertemu dengan mereka.
Awan hanya tersenyum melihat istrinya sangat bahagia.
"Gak mau dikenalin itu yang di luar?" tanya Difa pada Dana. Ia memberi kode pada Dana untuk mengenalkan Awan pada mereka.
"Oh iya, ini Awan, dia suami aku."
"Oh ini yang ngajak sahabat aku nikah ngedahuluin aku?" Kata Difa melipat tangan di depan. Difa yang sudah merencanakan menikah pertama diantara mereka pun harus mengalah pada Dana yang mendahuluinya.
"Jadi ini yang pernah buat Dana pusing sampai marah-marah ke kita-kita?" kata Bila menyindir.
"Oh jadi ini orang yang suka kita julid in di group?" kata Tiya yang membuat semua mata tertuju padanya.
"Ini yang ngerebut temen aku?" kata Arin yang melihat Awan dari atas sampai bawah.
"Jadi ini yang dijodohin sama kamu?"kata Wiwi melihat sinis ke arah Awan.
"Ini orang yang bikin temen aku jatuh cinta?" kata Dina menekan kata-katanya. Mereka berdiri di depan pintu seperti segerombolan perempuan yang ada di film mean girls.
Dana hanya melirik ke arah Awan yang hanya tersenyum canggung ke arah teman-teman istrinya.
"Udah pada makan ?" tanya Awan pada mereka.
"Belum," kata Tiya refleks.
__ADS_1
...****************...