JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
BRAGA PUNYA CERITA


__ADS_3

Dana akhirnya membeli 1 buah dasi yang cukup mahal di salah satu toko baju bermerk di sana. Sebenarnya ia ingin membelikan ini bukan karna ia masih ingin kembali pada kak Wisnu. Sama seperti saat kak Wisnu memberikan kado untuk dirinya, ia juga ingin membelilan kado untuk ulang tahun kak Wisnu akhir bulan ini. Dasi itu adalah kado perpisahan untuk mereka. Dana memang tak menerima kalung pemberian kak Wisnu. Tapi, ia tetap ingin memberikan kado ini untuknya. Ia benar-benar akan melepaskan kak Wisnu ketika ia memberikan hadiah itu padanya. Ia pikir hal tersebut akan impas bagi mereka berdua.


Saat ia membayar barang di kasir, ia melihat sebuah topi yang terpajang di sana. Ia ingat ketika dulu dirinya sering sekali membeli topi untuk kegiatan paskibra. Dana mengambil 2 topi yang terganyung di sana. Satu warna hitam dan satunya lagi berwarna coklat mirip dengan baju yang dipakai Awan.


Setelah membayarnya, Dana lalu menghanpiri Awan.


"Laper!" Rengek Dana seperti anak kecil. Awan tak menghiraukan perempuan itu sama sekali. Ia masih asyik memainkan game yang ada di handphone nya. "Wan!" panggil Dana lagi.


Perempuan itu lalu memakaikan topi coklat yang ia beli ke kepala Awan. Seketika Awan yang tadinya fokus bermain game melihat ke arah Dana.


"Buat kamu." Kata Dana tersenyum. Dana mengeluarkan lagi topi hitam yang ia beli.


"Kembar!" kata Dana bersemangat ketika memakai topi itu. Awan hanya tertawa melihat tingkah kakak kelasnya itu.


"Masih suka pake topi?" tanya Awan pada Dana.


"Gak pernah! makanya aku beli, pingin aja. Bagus kan?" kata Dana pada Awan.


Setelah itu, Dana dan Awan menuju ke salah satu restaurant yang ada di sana. Mereka lalu makan siang dan istirahat di tempat itu. Obrolan mereka saat itu masih seputar film yang tadi mereka tonton dan juga tentunya paskibraka.


"Untuk apa kamu beli hadiah untuk Wisnu?" Awan memberanikan diri bertanya mengenai hal tersebut pada Dana.


"Kak Wisnu ngasih kalung ke aku waktu kami putus. Kata di itu hadiah terakhir untukku darinya."


"Kamu terima?" tanya Awan memotong perkataan Dana.


"Ya enggak lah, kamu pikir aku perempuan apaan yang nerima kalung waktu di putusin." Dana tertawa kecil karena pertanyaan Awan. Ia tak marah sama sekali dengan pertanyaan Awan.


"Terus?"


"Ya, aku mau ngasih ini aja, lagi pula bulan ini dia ulang tahun. Terus aku merasa berhutang budi saja kalau sampai aku gak ngasih apapun buat dia." Dana menyendok makanan yang ada di piringnya.


Awan merasa sangat bersalah pada Dana. Ia telah salah mengira jika perempuan itu tak punya harga diri karena membelikan hadiah untuk orang yang jelas-jelas telah membuangnya. Ternyata Dana sedang merencanakan aksi balas dendam secara tak langsung. Awan tau betapa beratnya untuk melakukan hal itu. Tak mudah untuk berbesar hati menerima luka yang telah diberikan oleh orang yang dicintai.


Selepas makan, mereka mencari temoat untuk sholat. Setelah menemukannya, Awan dan Dana melakukan sholat bersama dengan beberapa pengunjung di sana.

__ADS_1


"Setelah ini ke mana?" tanya Awan lagi pada Dana.


"Kali ini aku mau cari ice cream." Dana tersenyum melihat ke arah Awan.


Mereka berdua berjalan ke luar gedung itu. Awan sangat senang akhirnya hal yang dia inginkan akhirnya terlaksana. Mereka berdua berjalan di trotoar jalan Braga. Dana mencari toko ice cream yang terkenal di sana.


"Sweet Can*ina" Awan membaca tulisan yang ada di depan toko itu. Dana menarik tangan laki-laki itu masuk ke dalam. Awan memesan ice cream coklat di sana, sementara seperti biasa, Dana memesan rasa matcha. Mereka lalu keluar dari toko itu setelah membayar ice cream yang dibeli.


"Kamu sering ke sini?" tanya Awan pada Dana.


"Beberapa kali," Dana memakan ice cream yang ia beli.


"Aku mau ngajak kamu liat barang jadul." Dana menarik tangan Awan ke salah satu toko barang antik. Mereka melihat banyak sekali barang di sana. Dana melihat ke bagian belakang.


"Cari apa teh?" tanya seorang laki-laki seumuran papa Dana di sana.


"Pembatas buku," kata Dana tersenyum. Laki-laki itupun menunjukkan beberapa koleksi pembatas buku yang terbuat dari logam dengan ukiran yang beraneka rupa. Ada yang berbentuk wayang, bunga, bahkan ada yang berbentuk hewan seperti naga.


"Saya mau ini pak," Dana menunjuk ke salah satu koleksi di sana. Itu adalah pembatas buku berukir bunga.


"Wah selera teteh nya bagus. Ini dari tahun 1960 an teh, Dulu pernah dipakai sama bangsawan Indonesia." Dana tersenyum mendengar ucapan dari penjual itu. Setelah membayarnya, Dana lalu keluar dari toko disusul oleh Awan di belakangnya.


"Enggak, ada novel yang sedang aku baca. Aku beli semacam series nya gitu. Jadi sepertinya akan cocok kalau aku membeli ini." Kata Dana menjelaskan.


"Itu kan mahal Dan, kamu cuma beli karena mau baca novel?"


"Memangnya kenapa? aku suka kok, Lagi pula aku selalu membeli sesuatu itu bertujuan. Nanti, aku menghemat kamu bilang pelit." Dana tersenyum pada Awan. Awan hanya mengendus heran dengan sikap Dana yang benar-benar tak bisa ia tebak.


Mereka berdua lalu berjalan-jalan di sepanjang Jalan Braga. Sesekali Dana mengambil foto di beberapa sudut jalan itu. Sesekali juga Awan membuat lelucon yang membuat Dana tertawa. Mereka menyusuri jalan itu sampai sore. Pukul 4 sore, Dana dan Awan mencari masjid terdekat untuk melaksanakan ibadah. Dana yang telah selesai lalu menunggu Awan keluar dari dalam masjid.


Tak jauh dari tempat perempuan itu duduk, Ada seorang perempuan yang masuk ke dalam masjid. Sementara itu ia melihat laki-laki yang sepertinya adalah pasangan dari perempuan tadi. Laki-laki itu tak ikut masuk ke dalam. Ia duduk di luar tak jauh dari tempat Dana duduk.


Tanpa sadar, laki-laki itu menengok ke arah Dana. Karena sedikit kaget, Dana hanya tersenyum ke arah laki-laki itu.


"Sudah selesai teh?" tanyanya pada Dana.

__ADS_1


"Sudah, kakanya nggak masuk?" tanya Dana balik.


"Saya bukan muslim teh, Cuma nemenin pacar saya." Dana sedikit tak enak hati mendengar hal itu.


"Oh, maaf kak saya gak tau."


"Gak papa teh, sudah biasa. Ya namanya di Indonesia kan harus punya toleransi tinggi kan?" Dana tersenyum mendengar ucapan orang itu. Tak lama, Awan keluar dari dalam masjid.


"Yok?" Awan duduk dan memakai sepatu yang ada di depannya.


"Sudah? yok?" kata Dana pada Awan.


"Duluan kak," kata Dana pada laki-laki yang sedari tadi mengajaknya mengobrol.


"Iya mangga-mangga neng" jawabnya ramah. Awan hanya tersenyum dan mengangguk pada orang itu.


"Siapa?"


"Orang, ngobrol aja tadi. Dia nganterin pacarnya sholat." Awan sontak menengok ke arah Dana. Ia tersenyum mendengar hal itu.


"Kayak aku sama Rachel dulu. Kalau aku ke masjid dia nunggu di depan." Kata Awan


"Berat ya?"


"Hem, temboknya tinggi banget. Mau manjat susah." Awan berbicara tanpa melihat Dana.


"Ya, cuma bisa doa aja semoga dia dapat orang yang lebih baik dari aku, dan aku dapat yang yang lebih baik juga darinya." Awan melanjutkan ucapannya.


"Dah move on?"


"Bohong kalau aku bilang sudah Dan," Dana mengangguk setuju dengan perkataan Awan.


"Kita ke mana?"


"Kita cari cafe, aku haus." Awan tersenyum mendengar ucapan Dana.

__ADS_1


Mereka pun mencari cafe terdekat di sana. Dana lalu menarik Awan ke salah satu cafe yang menarik perhatiannya di depan.


...****************...


__ADS_2