
Awan bersiap untuk bekerja. Ia sengaja berangkat sedikit siang karena sebenarnya ia hari ini ada kunjungan lapangan ke daerah lain. Jadi hari ini ia tak perlu presensi di kantor. Baginya, tugas dinas ke luar kota merupakan hal yang menyenangkan. Tapi tidak untuk kali ini. Ia harus dinas bersama Bang Evan. Ia memang telah memaafkan seniornya. Tapi masih ada kecanggung an di antara kedua kolega itu. Awan memutuskan untuk berangkat sendiri ke lokasi. Sementara bang Evan menyusulnya menggunakan mobil dinas.
Sesampainya di lokasi, mereka berdua menjalankan tugas secara profesional. Tak ada percakapan diluar pekerjaan yang terucap dari keduanya. Tak seperti biasanya, kali ini mereka sangat fokus dengan tugas masing-masing.
"Bang, untuk laporan, biar saya saja yang buat. Bang Evan nanti tinggal urus rekomendasi sama perizinannya." Kata Awan pada Bang Evan. Awan lalu membereskan peralatan mereka. Ia ingin sekali cepat pergi dari tempat itu. Awan merasa tak nyaman dengan keberadaan Bang Evan.
"Kamu putus dengan Rachel?" Perkataan Bang Evan membuat Awan menghentikan pekerjaannya.
"Aku harap kita tak lagi membahas masalah pribadi ketika bekerja." Awan berbicara tanpa menengok ke arah Bang Evan.
"Kau tau, Rachel itu cinta mati sama kamu? Gak mudah buat dapatin hatinya Wan." Perkataan Bang Evan membuat Awan terusik. Ia lantas menengok ke arah seniornya itu. Awan memicingkan mata menunggu kelanjutan dari ucapan lawan bicaranya.
"Aku lagi deketin Rachel. Dia sudah tak terikat denganmu bukan?" Bang Evan berlalu dari hadapan Awan dengan membawa peralatan mereka.
Awan yang sudah menduga hal tersebut akan terjadi tak begitu kaget mendengarnya. Tapi entah mengapa hatinya tetap tak rela perempuan yang pernah menjadi pacarnya itu dekat dengan laki-laki lain.
Awan lalu berjalan menuju mobilnya. Ia meninggalkan tempat itu tanpa berpamitan dengan bang Evan. Dirinya lalu pergi ke sebuah pantai yang cukup terkenal yang ada di daerah Jakarta. Inilah enaknya jika ia melakukan perjalanan dinas atau survey, dirinya tak perlu kembali kr kantor untuk bekerja. Jadi ia bisa pulang lebih awal. Awan memarkirkan mobilnya di dekat pantai. Ia lalu turun dan duduk di pinggir pantai itu menghadap ke laut lepas. Pikirannya masih berkecambuk memikirkan perkataan bang Evan. Jujur, Awan sudah mengiklaskan perempuan itu bahagia dengan orang lain. Tapi di sisi lain, sudah 4tahun mereka bersama, siapa orang yang akan dengan mudah melupakan kenangan selama 4 tahun mereka.
Awan mendengar handphone nya berdering. Itu adalah telefon dari mama. Ia lalu mengangkatnya.
"Halo ma?" sapa Awan pada mamanya di telefon.
"Halo Wan? sedang apa?" tanya mama pada Awan.
"Lagi survey di luar kantor tadi. Sekarang sudah selesai sih. Kenapa ma?"
"Kata tante Santi, kemarin kamu nganter Dana ke Bandung? ke tempat om nya? nginep di sana?" tanya mama. Wanita itu terdengar sangat bersemangat bertanya pada Awan.
__ADS_1
"Iya, nginep."
"Alhandulillah..." Awan benar-benar tak habis pikir mendengar ucapan mamanya. Ia mengerutkan dahi ketika mendengar mamanya dengan semangat mengucap hamdalah.
"Kok alhamdulillah?"
"Ya berarti kamu sudah lebih dekat dengan Dana kan? mama pokoknya dukung kamu terus le, mama pokoknya setuju kamu sama Dana."
"Mama tak ingat Rachel?" mama terdengar menghembuskan nafas berat.
"Mau sampe kapan to le? Kamu mau nunggu dia pindah agama? atau mau nunggu mama mati biar kamu bisa seenak hati pindah ke agamanya?"
"Kok mama ngomongnya gitu?"
"Ya bener kan? mamamu ini gak akan setuju kamu dengan dia. Kalau mama gak ada kan kamu bebas. Iya kan?" Awan diam mendengar ucapan mamanya. Ia benar-benar tak bermaksud demikian dengan mamanya. Siapa yang ingin mamanya meninggal hanya untuk perempuan yang dicintainya. Ia lebih-lebih mencintai mamanya daripada siapapun di dunia ini.
"ALHAMDULILLAH..." Kata mama sangat senang. Ia bahkan memanggil adiknya Tata untuk sama-sama mendengarkan cerita Awan.
"Kok bisa kak? ayo cerita cepet Tata mau denger!" Tata tampak menguping pembicaraan dirinya dan mama.
"Mungkin belum jodoh ma, benar yang mama bilang. Tembok itu begitu tinggi. Awan berniat terus memanjatnya, tapi tembok itu benar-benar tak berujung. Awan terus bimbang ma, Awan tak mau membawa kebimbangan itu menuju pernikahan."
"Wan, jodoh, maut, umur sudah ada yang mengatur. Mau kamu sekuat apapun mempertahankannya. Kalau tuhan sudah menggariskan tak ada yang bisa menolaknya. Sama seperti mama. Mama juga gak akan bisa memaksa kamu buat berjodoh dengan Dana. Jika dia memang sudah ditakdirkan berjodoh dengan orang lain. Mama bisa apa? Tapi mama senang kamu makin dekat dengan Dana. Mungkin itu bisa jadi tanda." Awan hanya diam mendengar ucapan mamanya. Ia baru sadar jika selama ini orang yang selalu ia perjuangkan benar-benar hilang. Rachel tak lagi menghubunginya sama sekali setelah malam itu. Awan juga tak ingin mengganggu perempuan itu. Tapi entah mengapa Dana yang selama ini ia benci kini berteman baik dengan dirinya. Ia bahkan sangat dekat dengan kakak kelasnya itu.
"Ma, aku harus pulang sekarang. Sudah sore." Kata Awan pada mamanya. Awan lalu menutup telefon itu.
Laki-laki itu lalu berjalan ke arah mobilnya dan mengendarainya pulang ke rumah.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, ia mendapati pagar rumahnya terbuka. Awan lalu berjalan masuk ke area rumahnya.
"Dan?" Awan melihat Dana yang sedang duduk di tangga teras rumahnya.
"Wan?" perempuan itu tersenyum melihat kedatangan Awan. Ia terlihat lesu karena mengantuk.
"Kamu dari kapan di sini?" tanya Awan pada Dana.
"Dari jam 4 tadi. Kamu lama banget sih? aku sampe tidur di situ." Dana menunjuk ke arah dimana ia duduk tadi.
"Kenapa gak telfon?"
"Tadi aku telfon sibuk mulu, jadi aku nunggu deh sampe ketiduran." kata Dana pada Awan.
Tak lama, adzan maghrib pun berkumandang. Awan mempersilahkan Dana untuk masuk ke rumahnya.
"Kamu kenapa ke sini?"
"Jajang! bawain makanan buat kamu. Sushi yang waktu itu kita makan. Aku juga bawa roti buat stock di rumahmu. O iya, aku sempet tanya ke mama kamu, katanya kamu suka banget sama snack ini, jadi aku beli juga. Terus aku beli beberapa makanan..." Belum selesai Dana bicara Awan memeluk perempuan yang ada di depannya. Hal itu sontak mengagetkannya. Mata Dana sampai terbelalak karena kaget. Jantungnya yang semula berdetak normal kini mulai berdetak tak teratur. Tubuhnya benar-benar kaku di dalam pelukan Awan.
"Sebentar, jangan di lepas, sebentar saja." Kata Awan pada Dana.
"Wan?"
"Aku mau memastikan sesuatu Dan, sebentar, tolong." Awan lalu terpejam. Tangannya masih memeluk erat kakak kelasnya itu.
...****************...
__ADS_1