JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
SEBELUMNYA


__ADS_3

"Aku ambilkan kotak P3K dulu Dan, ini harus di perban lagi." kata kak Rindang pada Dana.


"Hem, terimakasih." Dana lalu mengangguk setuju. Saat itu, kantor terlihat cukup sepi karena beberapa rekan kerjanya sedang berkutat dengan screening berkas milik client mereka masing-masing. Hal ini biasa terjadi dalam beberapa bulan sekali. Sehingga masing-masing dari mereka akan mendiskusikan perkerjaan mereka dengan divisi lain. Seperti yang Dana harus lakukan saat ini. Ia harus mendiskusikan beberapa hal dengan kak Rindang.


"Sambil bahas aja kali ya biar cepat?" tanya kak Rindang ketika kembali sembari membawakan kotak P3K.


"Boleh, kak Rin duluan deh, aku nyimak dulu sambil ganti perban." kata Dana pada rekan kerjanya itu.


"Bisa sendiri?" tanya kak Rindang. Dana hanya mengangguk menjawabnya.


"Langsung saja ya, jadi untuk bulan depan, aku pegang 10 client, nah 3 client aku itu ada selisih bayar, tapi belum di laporkan. Aku ingin kamu bantu buat peninjauan kembali saja sih untuk clientku ini. Jadi aku bisa dapat sudut pandang lain dari kamu. Nanti kamu berikan review kamu sama saran juga. Lalu untuk..." kak Rindang menjelaskan pekerjaan dan masalah yang ada. Dana menyimak dengan seksama apa yang rekan kerjanya itu katakan. Setelah selesai berdiskusi, Dana pun ganti memaparkan masalah dan pekerjaan yang sedang ia lakukan.


"Lunch di mana?" tanya kak Rindang pada Dana setelah selesai berdiskusi.


"Kantin mungkin, malas keluar dengan kaki seperti ini." kata Dana tersenyum.


"Yaudah yok? aku juga mau makan di kantin." Rindang lalu membantu Dana untuk berdiri. Ia lalu berjalan beriringan dengan Dana menuju kantin.


Mereka lalu duduk di salah satu sudut kantin. Keduanya mendiskusikan tentang client mereka dan juga hal lain yang berhubungan dengan pekerjaan.


"Jadi nanti aku telefon pak Alex ya soal ini? Aku baru tahu dia ada proyek baru." tanya Kak Rindang pada Dana.


"Iya, kemarin beliau bilang waktu aku ke sana. Nanti kalau sudah oke, kak Rindang bisa kasih reviewnya ke aku." kata Dana masih sibuk mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.


"Boleh aku tanya sesuatu Dan?"


"Tentu, mau tanya soal apa?" jawab Dana santai.


"Kamu bisa tiba-tiba mutusin buat nikah itu kenapa? maksudnya, diumur kamu yang baru 23 udah nikah itu kayak cepet banget."


"Kenapa ya, Sebenarnya aku gak pernah narget sih mau nikah umur berapa. Tapi kalau aku bilang saran orang tua, terlalu kolot gak sih?"


"Dijodohin?" tanya Kak Rindang.

__ADS_1


"Ya, semacam itu. Sebenarnya aku bisa nolak, tapi mungkin memang sudah jodoh aja. Semakin di tolak semakin deket mau gimana lagi?" kata Dana tersenyum.


"Beruntung Awan dapat kamu." kata kak Rindang tersenyum.


"Kok bisa?" tanya Dana penasaran.


"Ya aku tahu kamu lah Dan, kamu pekerja keras, sayang banget sama keluarga, bisa diandalkan, jadi ya orang yang dapat kamu pasti orang yang beruntung."


"Thanks, but anyway... I'm 24 now. This day!" kata Dana mencoba mengoreksi ucapan rekan kerjanya.


"Really? why didn't you tell me earlier? tau gitu kan aku minta traktir di luar." Dana hanya tertawa mendengar ucapan rekan kerjanya.


"Happy birthday Dan," kak Rindang tersenyum ke arah Dana.


"Makasih, Tau gak? kak Rindang orang pertama yang ngucapin selamat ulang tahun langsung ke aku." Dana tak menyadari kata-katanya akan membuat tanda tanya besar di kepala kak Rindang.


"Awan gak ngucapin?" pertanyaan kak Rindang sontak membuat perempuan itu terdiam.


"Ke dua berarti. Lupa aku punya suami." kata Dana tertawa. Ia lalu meneruskan makan siang nya. Kak Rindang hanya tertawa menganggap ucapan Dana hanya sebuah lelucon.


Kak Lita baru saja datang dari luar.


"Gila panas banget hari ini."


"Kapan sih Jakarta gak panas." Jawab Dana tanpa menengok ke arah perempuan yang kini duduk di sebelahnya.


"Aku beli sesuatu." kak Lita lalu meletakkan kotak kue berukuran sedang di atas meja.


"Kak? astaga..." Dana sangat terkejut melihat apa yang kak Lita bawa.


"Happy birthday cantik," Dana lalu memeluk kak Lita. Ia sangat senang karena mendapatkan kue ulang tahun yang sangat cantik.


"Makasih banyak kak Lita," kata Dana memeluk rekan kerjanya.

__ADS_1


Hari itu, Dana membelikan banyak sekali camilan dan minuman untuk semua rekan kantornya.


"Wih traktiran ulang tahun nih," kata kak Rindang saat memasukki ruangan. Hari itu, seluruh teman-temannya berkumpul untuk makan makanan yang Dana beli.


Sore itu seperti biasa Awan menjemput istrinya. Ia menunggu Dana di tempat parkir. Tak lama, Dana pun keluar menghampiri mobil Awan. Wajahnya terlihat begitu senang ketika masuk ke dalam mobil.


"Maaf lama, gimana hari ini?" kata Dana.


"Gak papa, I'm good!" kata Awan singkat. Mereka pun meninggalkan kantor Dana dan melaju menuju rumah.


"Wan, kita gak mau kemana dulu gitu?"


"Aku capek, kita langsung pulang saja." Kata Awan tanpa menengok ke arah Dana. Perempuan itu pun tak bisa membantah perkataan suaminya. Sesampainya di rumah, Awan masuk ke rumah meninggalkan Dana yang masih ada di mobil.


"Di tinggalin lagi," gerutu Dana yang masih melihat Awan membuka pintu rumah itu.


Dana melihat kotak makan yang pagi tadi ia bawakan untuk Awan. Ketika hendak membawanya masuk, Kotak itu tampak masih penuh dengan makanan. Dana lalu membuka kontak makan itu. Benar saja dugaannya, Awan sama sekali tak menyentuh makanan yang ia siapkan. Perempuan itu menarik nafas berat. Ia benar-benar muak dengan tingkah Awan seharian ini.


"Wan!" teriak Dana yang berjalan menuju dalam rumah. Di dapur, Awan sedang meminum air yang ada di gelasnya.


"Kenapa gak di makan?" tanya Dana menaruh kasar kotak makan itu di atas meja.


"Aku kan bilang, gak usah repot-repot. Kamu yang maksa aku buat bawa itu." Kata Awan mendekat ke arah istrinya.


"Kamu seharian ini kenapa sih Wan?"


"Kenapa gimana maksud kamu?" Tanya Awan dengan nada tak paham.


"Ya kamu dari pagi udah ngeselin, cari gara-gara aja sama aku. Padahal cuma masalah baju yang salah gantung aja kamu sampe jutek sama aku."


"Ya aku cuma gak suka kamu sentuh narang-barang aku."


"Gak, ini bukan mulai dari baju." Dana menjeda ucapannya. Ia tampak berfikir keras awal mula suaminya berubah sikap padanya. "Kamu nyesel ngelakuin itu sama aku?" kata Dana yang kini melipat tangannya ke depan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2