
Sepulang kerja, dirinya langsung membeli beberapa vitamin dan juga buah-buahan untuk diberikan pada mama Wisnu. Seperti rencana sebelumnya, ia memang sengaja untuk meluangkan waktu menjenguk mama Wisnu dirumahnya. Dana berfikir pasti mama Wisnu akan senang jika ia datang menjenguknya.
Beberapa kali Dana menelfon laki-laki itu. Wisnu sama sekali tak mengangkat telefonnya.
Dana Kak, Dana mau ke tempat kak Wisnu setelah maghrib. Kak Wisnu sudah di rumah kan? Dana ingin bertemu dengan mama kak Wisnu.√√
Dana mengirim pesan pada Wisnu. Karena pesan itu tak kunjung dibalas, ia berinisiatif untuk datang ke rumahnya langsung.
Dana memesan taxi dan menuju rumah kak Wisnu. Sepanjang jalan, dirinya terus mencoba untuk menelfon laki-laki itu.
Dana tiba di rumah kak Wisnu. Dilihatnya rumah itu tampak sepi dari luar. Ia sedikit ragu untuk mengetuk pintu rumah yang kini sudah ada di depannya. Dana yakin jika kak Wisnu sudah pulang mengingat lampu terasnya sudah menyala.
Tok tok!
Dana mengetuk puntu itu beberapa kali. Tak lama, seseorang tampak membuka pintu rumah itu. Dana terkejut ketika seseorang yang menemuinya ternyata adalah seorang perempuan. Mungkin usianya tak beda jauh darinya.
"Cari siapa ya mba?" Tanya perempuan berkerudung panjang itu pada Dana. Dana yakin jika itu adalah salah satu adik yang pernah Wisnu ceritakan. Meskipun ia sebenarnya cukup ragu karena seingatnya adik Wisnu umurnya terpaut cukup jauh dari kak Wisnu.
"Kak Wisnunya ada?" tanya Dana pada perempuan itu. Paras perempuan itu tak kalah cantik dengan Dana. Tutur katanya pun halus dalam bertanya pada Dana.
"Mas belum pulang, ada urusan apa ya mba? ada yang ingin disampaikan?"
"Kalau mama kak Wisnu?" tanya Dana lagi pada perempuan itu.
"Mas dan mama masih check up dirumah sakit. Kalau boleh tau dengan mba siapa ya?"
"Saya... " Belum selesai Dana berbicara, mereka mendengar suara mobil yang datang dari luar.
"Itu mas," kata perempuan itu menunjuk ke arah mobil yang terparkir di luar pagar. Dari mobil, Wisnu keluar memapah mamanya. Dirinya kaget akan kedatangan Dana ke rumahnya. Dana tak kalah kaget melihat mata sembab laki-laki di depannya.
__ADS_1
Vega menghampiri kak Wisnu dan membantu memapah mama laki-laki itu. Dana tersenyum melihat wanita tua itu. Mama kak Wisnu juga tersenyum melihat Dana.
"Kak Wisnu kenapa?" Dana mencoba meraih pipi laki-laki itu. Perempuan itu tampak panik ketika pria yang dicintainya menampakkan wajah yang murung dengan mata sembab.
"Aku gak papa, kamu ngapain kesini?" Kak Wisnu menepis tangan Dana pelan.
"Aku bawa ini buat mama kamu." Perempuan itu menunjukkan beberapa plastik yang ia bawa. Dana sedikit kecewa dengan sikap kak Wisnu. Ia bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada laki-laki itu. Mengapa ia menangis. Mengapa ia menepis tangannya. Pertanyaan di kepalanya itu seakan membingungkan untuk Dana.
"Siapa Nu?" tanya mamanya yang masih berada di depan pintu rumah. Vega hanya memperhatikan kak Wisnu dan Dana dari kejauhan. Ia masih membantu untuk memapah mama laki-laki itu.
"Teman ma, Tolong bawa mama masuk dek," Vega hanya mengangguk mendengar ucapan kak Wisnu. Pertanyaan di dalam benak Dana bertambah. Mengapa laki-laki itu tak mau mengenalkan dirinya sebagai pacarnya. Tanpa disadari, Dana menatap kak Wisnu dengan penuh kekecewaan.
"Terimakasih, Tapi Dan, aku capek banget hari ini. Bisa gak kita ketemunya besok? Aku juga harus membantu untuk merawat mama malam ini. Nanti aku hubungi kamu. Kamu hati-hati ya pulangnya?" Wisnu memegang pundak Dana dan berlalu untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Kak," Dana mencegah kak Wisnu masuk. Ia memegangi tangan laki-laki itu.
"Maaf Dan, kita bicara nanti ya?" Wisnu melepaskan tangan Dana. Saat itu hati Dana benar-benar sakit. Ia tak menyangka jika Kak Wisnu akan bertingkah seperti itu padanya.
Perempuan itu mencoba untuk berfikir positif. Ia mencoba untuk maklum pada keadaan kak Wisnu. Ia berfikir jika mungkin saja kak Wisnu benar-benar sedang lelah. Mungkin saja ada yang tidak beres dengan kesehatan mamanya. Mungkin saja ia belum siap untuk memperkenalkannya dengan mamanya. Dana menghela nafas berat. Dirinya lalu tidur setelah selesai mandi dan membersihkan diri.
Pagi harinya, ia berangkat ke kantor cukup pagi. Hari itu, ia menyeduh kopi dan berdiri di balkon lantai 2 kantornya.
"Tumben ngopi?" Tanya kak Lita yang baru saja datang.
"Lagi pingin aja," Kak Lita melirik wajah Dana yang tampak murung pagi ini. Raut muka Dana berbeda dari kemarin ketika ia pulang dari kantor.
"Kenapa? kemarin kesambet setan seneng, sekarang kesambet setan sedih gitu konsepnya?" Dana tersenyum mendengar ucapan kak Lita. Ia menghela nafas berat karena masalah yang sedang ia alami.
Hari itu, dirinya benar-benar tak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Dana mencoba menelfon kak Wisnu sekali lagi. Beberapa kali ia juga mengirimkan pesan untuknya.
__ADS_1
Saat jam makan siang, Dana memilih untuk makan di kantin. Dana terus melihat handphone yang ia taruh di atas meja.
"Nunggu telfon dari siapa sih Dan?" kata kak Lita pada rekan kerjanya itu. Dana tak menjawab pertanyaan kak Lita. Ia madih memandangi HP nya sambil sesekali memakan makanan yang ada di sendoknya perlahan. Tak lama, Dana mendapatkan telefon masuk dari kak Wisnu. Dana mengangkat telfon itu dan pergi meninggalkan kak Lita yang masih duduk makan di kantin.
"Halo kak?" kata Dana pada kak Wisnu.
"Halo, maaf baru ngabarin kamu." kak Wisnu mulai pembicaraan di balik telefon. Suaranya terdengar tak seperti biasanya. Dirinya selalu senang saat menelfon Dana. Tapi hari ini, ia terdengar sangat murung.
"Gak papa kak, aku khawatir sama kak Wisnu. Kakak gak papa kan?"
"Gak papa sayang," Dana yang semenjak kemarin sangat khawatir pada Wisnu sedikit lega setelah mendengar jawaban laki-laki itu.
"Mama kak Wisnu gimana kemarin hasil check up nya?"
"Baik kok... Dana?" Kak Wisnu seperti menjeda perkataannya. Ia seperti tak sampai hati membicarakan ini dengan perempuan itu.
"Ya?"
"Mungkin beberapa hari ke depan aku gak bisa ketemu kamu dulu." Dana terdiam mendengar ucapan kak Wisnu. Ia tau jika ada sesuatu yang tak beres dengan kak Wisnu. Ia menerka jika mama kak Wisnu sakit parah. Mengingat mata laki-laki itu tampak sembab seperti habis menangis.
"Dana paham kok kak, Mama kak Wisnu kan lagi di sini, kak Wisnu pasti butuh quality time sama mama kak Wisnu kan?" Dana tersenyum mengatakan hal itu. Ia tak ingin meributkan masalah kemarin. Yang Dana pikirkan waktu itu adalah ini saatnya dia ada untuk seseorang yang ia cintai. Ia harus memberikan semangat padanya. Dana mencoba positif thingking pada kak Wisnu.
"Terimakasih kamu sudah mengerti keadaanku."
"Kak, kalau kak Wisnu ingin cerita sama aku, aku siap buat dengerin cerita kak Wisnu." Ucap Dana dari balik telefon.
"Terimakasih,"
"Mas, ini makan siangnya sudah siap. Mama menunggu di meja makan." Terdengar suara perempuan dari telefon. Dana yang mendengar itu lantas menduga jika itu adalah perempuan yang ia temui kemarin.
__ADS_1
"Yasudah kalau kak Wisnu mau makan. Aku juga lagi makan siang." Dana mengakhiri percakapan mereka setelahnya. Pikiran perempuan itu masih mengganjal memikirkan siapa sebenarnya wanita yang ia temui kemarin. Apa itu benar adik dari Wisnu atau saudaranya.
...****************...