
Dana mencoba untuk berdiri, tapi karena sudah hampir 1 jam ia tak menggerakan kakinya, perempuan itu tak bisa menjaga keseimbangannya. Awan refleks menangkap tubuh kakak kelasnya.
"Kakiku kram," Dana terlihat menunduk melihat kakinya.
Awan lalu terpaksa menggendong kakak kelasnya itu menyebrangi jalan tol. Ia memang memarkirkan mobilnya di arah yang berlawanan dengan tempat Dana duduk.
"Maaf," Dana meminta maaf padanya dengan suara yang lemah. Awan hanya menatap perempuan itu tanpa menjawab. Dana hanya pasrah menerima hal itu. Ia tak tau lagi jika Awan tak kembali saat itu, entah apa yang akan terjadi padanya.
Setelah membawa koper dan menaruh nya kembali ke bagasi, Awan membuka pembicaraan.
"Kamu kenapa gak mencoba buat jalan sih? malah diem disana? cari tempat berteduh atau apa kan bisa?" katanya sedikit kesal.
"Aku sudah jalan jauh, tapi di sekitar sini tak ada rumah warga. Kakiku masih sakit karena kecelakaan kemarin." kata Dana masih menunduk menyembunyikan wajahnya. Perempuan itu memang sempat mengalami kecelakaan saat perjalanan ke Jakarta tahun lalu. Hal itu menyebabkan kaki kirinya patah dan harus menjalani pemulihan cukup lama. Karena hal itu pula, Dana tak diizinkan menaiki motor oleh mama.
Awan hanya menghela nafas kesal melihat tingkah kakak kelasnya itu. Dulu saat SMP, Dana seperti orang yang sangat tangguh melatih Paskibraka. Ia dijuluki tangan dingin karena apapun yang dilakukannya pasti membawa prestasi bagi sekolah. Namun disisi lain Awan juga benci dengan perempuan yang ada di sampingnya itu. Mama selalu membanding-bandingkan dia dengan Dana sewaktu sekolah. Dan sekarang, ketika ia tak lagi dibandingkan dengannya, mama selalu menceritakan semua hal tentang perempuan ini padanya.
Awan memacu mobilnya kembali. Mencari pintu keluar tol untuk putar balik. Kalau saja ia tak melihat HP Dana di tempat duduk mobilnya, mungkin ia tak akan berfikir untuk kembali menjemput perempuan itu. Hal itu cukup memakan waktu baginya. Karena sangat sulit untuk mencari jalan memutar di tol.
"Hacim..." Dana mulai bersin-bersin karena merasa kedinginan. Awan yang melihat hal itu langsung mematikan AC mobilnya. Ia baru sadar jika baju yang dikenakan Dana basah karena hujan.
"Kita cari rest area dulu." katanya singkat. Mereka berhenti di Rest Area. Dana mengeluarkan baju dari dalam koper. Ia lalu menuju kamar mandi dan mengganti bajunya. Awan juga beristirahat dan sholat di tempat itu.
"Sudah?" tanya Awan saat melihat kakak kelasnya itu masuk ke dalam mobil.
"Sudah." katanya singkat.
"Nih, mie instan biar hangat." katanya dengan lembut.
"Makasih." Dana masih merasa kedinginan karena cuaca diluar memang cukup dingin. Ia mulai memakan mie yang diberikan oleh Awan padanya. Awan dengan sabar menunggu perempuan itu menghabiskan makanannya. Ia memainkan Handphone yang dipegangnya.
__ADS_1
"Wan," Kata Dana membuka pembicaraan.
"Makasih," kata perempuan itu melanjutkan. Awan masih cuek tak menanggapi perkataan kakak kelasnya itu. Dana hanya diam melihat Awan yang tak menjawab ucapannya. Ia memperhatikan ke arah Handphone yang dipegang Awan.
RACHEL ❤
Dana tak sengaja lihat pesan dari orang itu. Ia bisa msnyimpulkan kalau itu adalah pacar Awan.
"Kamu sudah punya pacar?" Dana spontan mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya. Awan refleks menengok ke arah perempuan yang ada di sebelahnya itu.
"Memangnya kalau iya kenapa?" katanya dengan nada yang dingin.
"Ya gak papa, cuma penasaran saja kenapa kamu masih mau menuruti mama kamu buat bertemu denganku padahal kamu sudah punya pacar."
"Peraturan di mobil ini, dilarang untuk bertanya masalah pribadi, cerewet, ataupun melakukan hal yang mengganggu untukku. Mengerti?" kata Awan dengan tegas.
"Iya maaf, galak banget!" kata Dana pada Awan.
"Wan, boleh berhenti dulu enggak? perutku rasanya tak enak, aku mau mutah." kata Dana masih tak bertenaga.
"Kau gila, jangan mutah di mobilku lah! sebentar biar aku cari tempat dulu. Tahan, jangan mutah sekarang." Awan mulai panik mendengar ucapan Dana.
Dana yang tak enak badan langsung memutahkan isi perutnya tepat setelah ia membuka pintu mobil Awan. Kepalanya sangat pusing karena demam. Dana kembali ke mobil setelah itu.
"Masih 5 jam lagi kuat?" katanya mulai sedikit khawatir.
"Udah jalan aja, aku gak papa. Dah biasa nanti tidur juga sembuh sendiri." Ia mulai mencoba tidur lagi setelah itu.
Awan memeriksa kening kakak kelasnya itu. Ia cukup kaget karena ternyata tubuh perempuan itu sungguh panas.
__ADS_1
"Kamu demam kak, kenapa gak bilang sih?" Awan mulai panik karena perempuan itu demam.
"Udah gak papa, ntar juga turun panasnya." Dana menepis tangan Awan yang menyentuh keningnya.
"Turun gimana, panas begini? apa kata mama kamu kalau aku nganter kamu dengan kondisi sakit begini?" Awan terlihat sedikit kesal mendengar tanggapan dari perempuan itu.
"Terus mau gimana? nurunin aku di jalan lagi biar kamu gak usah nganter?" Dana yang tak punya tenaga lagi mencoba dengan keras menanggapi ucapan adek kelasnya itu. Menurutnya hal tersebut adalah hal yang tak perlu di perdebatkan.
Cukup lama Awan menatap perempuan itu. Ia sedikit merasa bersalah karena meninggalkannya di tol tadi. Awan berusaha memutar otaknya. Ia tak bisa membawa perempuan ini kembali dalam keadaan seperti ini. Bukan hanya kena marah mama, tapi pastinya dia akan habis oleh tante Santi. Mamanya Dana.
"Kok diam? ayo jalan, mau nginep sini?" kata Dana pada Awan. Mobil mereka masih berada di tempat yang sama. Dana tak punya tenaga lagi untuk berdebat dengannya. Kepalanya sudah cukup pening saat itu.
"Kita cari hotel!" kata Awan tiba-tiba. Dana masih mencerna ucapan Awan. Dia tampak masih berfikir.
"Hah?" Dana kaget setelah benerapa detik mencoba mencerna ucapan adek kelasnya itu.
"Aku gak bisa bawa kamu dalam keadaan seperti ini." Ia mulai menghidupkan mesin mobilnya. Dana masih melongo tak percaya dengan apa yang diucapkan Awan.
"Kau gila? Gak, aku gak mau! Udah kita terus aja jalan, kenapa sih repot-repot cari hotel segala?"
"Udah nurut aja! nanti biar aku bilang jalanan macet sama mama." Katanya pada Dana dengan enteng.
Dana masih menatap laki-laki itu tak percaya. Dia memikirkan apa yang akan terjadi padanya kalau sampai dia berdua di hotel dengan seorang laki-laki.
"Gak!" katanya sengan spontan.
"Apa sih? udah nurut aja, lagian cuma sampai demammu turun! Aku juga gak akan ngapa-ngapain kamu!" Awan masih sibuk menyetir mobilnya.
"Wan!"
__ADS_1
"Itu ada hotel di depan." katanya saat melihat hotel yang ada di pinggir jalan. Refleks Dana menengok ke arah yang Awan maksud.
...****************...