
Dana mengambil handphone yang sedari tadi ia taruh di atas meja. Dirinya dengan malas membuka lock screen yang terpampang jelas di depan matanya.
"Awan," Dana membaca nama yang ada di sana. Telefon yang sedari tadi ia abaikan rupannya telefon dari Awan. Dana lalu membuka kontak masuk dan menemukan beberapa pesan dari orang yang sama.
Awan Dan, aku mau ngobrol sebentar. Tolong keluar, aku ada di depan kost kamu.
Awan Dan, tolong angkat telefonnya. Aku tau kamu belum tidur.
Awan Dan, aku akan menunggu di sini sampai kamu keluar.
Pesan dari Awan benar-benar membuatnya terkejut. Bagaimana bisa laki-laki itu sekarang ada di depan kostnya. Ia lalu mengintip dari tirai jendela kostnya. Dilihatnya Awan masih berdiri menyender di mobilnya. Dana menutup tirai itu ketika melihat Awan menengok ke arahnya.
Jantung perempuan itu seperti berdetak tak karuan. Ia bimbang apakah harus keluar menemui Awan atau tidak. Dirinya terus berfikir keras. Sesekali ia menggigit bibir bawahnya karena cemas dan gugup.
Dana akhirnya memutuskan untuk keluar menemui Awan. Laki-laki yang sedang berdiri di luar itu lalu menengok ke arah suara gerbang yang di buka. Dirinya menatap Dana yang keluar dari dalam kostnya.
"Dan?"
"Kenapa Wan?"
"Kamu belum tidur?"
"Belum, tadi udah tidur, cuma kebangun." Awan hanya mengangguk tanda paham.
"Dan, Aku mau minta maaf soal tadi. Seharusnya aku gak kelewatan." Dana menatap wajah Awan yang penuh penyesalan.
"Sudahlah, bukan salahmu juga. Aku sudah telefon om, harusnya aku yang minta maaf karena om ku menekanmu."
__ADS_1
"Aku ingin datang bukan karena om Iyan Dan." Perkataan Awan tersebut sontak membuat perempuan itu kaget. Ia tak paham dengan ucapan Awan tersebut.
"Lalu karena apa?" tanya Dana pada Awan.
"Aku juga tak tau Dan. Aku hanya mengikuti hatiku. Aku rasa seperti tuhan memberikan banyak petunjuk jika memang kamu adalah orang yang ditakdirkan untuk bersamaku."
"Aku rasa ini adalah keputusan yang sangat mendadak Wan." Dana menatap laki-laki yang masih berdiri dj depannya. Jujur ia merasakan ada yang ganjal juga mengenai dirinya dan Awan. Tapi, Dana benar-benar masih tak yakin akan hal tersebut. Dana tak mau mengambil keputusan yang gegabah soal pasangan.
"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Awan pada Dana. Perempuan itu hanya mengangguk mendengar ucapan Awan.
"Apa kamu begitu membenciku sampai tak pernah bisa membuka hati untukku?"
"Bukan seperti itu Wan. Kau tau jika aku baru saja putus dengan kak Wisnu. Kamu juga baru saja putus dengan Rachel. Kamu mau membangun rumah lagi di atas pondasi yang baru saja runtuh? aku perlu waktu Wan. Aku rasa kamu juga perlu waktu. Bukan karena aku membencimu. Justru aku ingin berteman denganmu."
Keheningan diantara keduanya begitu menusuk. Awan sama sekali tak menanggapi ucapan perempuan itu. Dana memalingkan muka tak menatap wajah Awan. Otaknya terus berfikir akan keputausan yang akan diambilnya. Dana menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.
"Iya, aku ingin mencobanya Dan. Tak ada salahnya menyenangkan mama." Katanya tak yakin akan hal tersebut.
"Oke, aku harap ini tak akan menjadi bumerang untuk kita berdua Wan." Dana menatap wajah Awan serius. Dirinya juga masih ragu akan keputusannya. Tapi, dirinya tak ingin menutup semua kemungkinan yang akan terjadi hanya karena masa lalunya.
"Pulanglah, sudah larut." Kata Dana pada Awan. Laki-laki itu hanya mengangguk setuju. Dana lalu masuk ke dalam kostnya tanpa menunggu Awan pergi lebih dahulu. Malam itu, mereka seperti mengambil keputusan yang sangat singkat tanpa memikirkan konsekuensi yang akan mereka dapatkan.
**
Esok paginya, Dana bangun pagi seperti biasa. Ia sengaja berangkat ke kantor lebih pagi karena ia harus survey ke client barunya. Kali ini, client nya bukanlah sebuah perusahaan melainkan orang yang cukup terpandang yang menyewa jasanya untuk menjadi konsultan atas pajaknya. Ia merupakan client lama dari kak Rindang.
"Kak Lita beneran sakit?" Dana menelefon kak Lita yang sedang cuti hari itu. Rekan kerjanya itu mengambil izin karena sakit.
__ADS_1
"Iya Dan, maaf ya? aku bener-bener gak bisa masuk hari ini, aku demam." Dana merasa perihatin akan kondisi kak Lita. Sesekali ia mendengar perempuan itu batuk. Terdengar juga suara kak Lita yang seperti serak karena flu nya.
"Ya sudah kak, gak papa. Aku bisa atasi sendiri kok. Kak Lita istirahat saja ya? jangan lupa makan dan minum obatnya." Dana menutup telefonnya setelah mengucapkan salam pada kak Lita. Ia lalu bergegas berangkat ke rumah client nya itu.
Hari ini ia menaiki mobil dinas kantor yang terparkir di garasi perusahaan. Ia memang dapat memakainya ketika ada tugas ke luar. Dana benar-benar dibuat takjub akan rumah yang ada di depannya ketika sampai. Ia memarkirkan mobil itu di teras rumah yang mungkin baginya seperti istana. Is bahkan tak menduga jika ada rumah sebesar ini di pinggir ibu kota.
Tak lama, terlihat seseorang keluar dari dalam rumah. Ia berpakaian sangat rapi dengan jas hitam yang ia pakai.
"Bu Dana?"
"Panggil saja Dana, Saya belum menikah." Dana tersenyum pada lawan bicaranya itu.
"Baik, Silahkan masuk ke dalam. Pak Alex sudah menunggu anda di dalam." Laki -laki itu lalu mengantar Dana masuk ke rumah. Dama dipersilahkan duduk di kursi yang ada di ruang tamu. Ruangan itu begitu luas, terlihat seluruh ruangan itu berwarna putih dengan sentuhan eropa modern yang menghiasi beberapa sudut.
"Sudah datang rupannya?" Seorang pria bisa dibilang seumuran dengan om Iyan turun dari lantai 2. Dana tersenyum dan bangun dari tempat duduknya. Perempuan itu menjabat tangan Pak Alex dengan ramah.
"Selamat pagi pak, saya Dana yang akan menggantikan Pak Rindang."
"Iya, iya, saya sudah banyak dengar tentang kamu." Pak Alex tampak sangat ramah pada Dana.
"Sebentar, sebelum kita mulai diskusinya, saya juga sedang menunggu tamu lainnya. Gak papa kan kalau menunggu sebentar lagi?" tanya Pak Alex pada Dana.
"Tak masalah pak,"
Dana berbincang denga pak Alex. Ia banyak mendiskusikan tentang keuangan dan ekonomi. Mengingat jika pak Alex merupakan pengusaha, obrolan yang mereka obrolkan sangatlah menarik. Pak Alex yang merupakan orang campuran antara Indonesia dan Australia sangat penasaran tentang sistem pajak yang ada di Indonesia. Ia juga meminta tips dan saran akan hal tersebut pada Dana
"Tamu saya ini sebenarnya sangat erat dengan bisnis yang akan saya bangun. Saya butuh dia untuk menilai tanah saya. Makanya saja sekalian panggil dia pas saya panggil mba Dana. Jadi biar sekalian saja." Dana mengangguk tanda mengerti. Perempuan itu lalu tersenyum pada pak Alex.
__ADS_1
...****************...