
"Yok berangkat?" ajak Awan pada istrinya. Dana masih sibuk dengan berkas yang ada di meja ruang tamu. Sejak Ia tinggal di rumah itu, ruang tamu kini berubah menjadi tempat Dana bekerja.
"Wait, aku masih ngecek dokumen. Hari ini aku nemenin client sidang." kata Dana masih tak melihat pada Awan.
"Kamu sering ikut sidang seperti itu?" tanya Awan bersender pada tembok.
"Cukup sering, kalau memang ada sengketa." jawab Dana santai.
"Dah kaya pengacara saja." kata Awan pada istrinya.
"Mirip," jawab Dana tersenyum.
Setelah selesai, mereka pun berangkat ke kantor. Awan mengantar Dana sebelum berangkat ke kantornya.
"Hati-hati di jalan, kabarin kalau sudah sampai." kata Dana mencium tangan Awan.
"Nanti jemput jam berapa?" tanya Awan pada Dana.
"Tergantung jadwal sidang sih, nanti aku kabari kamu saja, takutnya kamu jemput aku belum selesai," jawab Dana pada Awan.
"Yaudah, sukses sidangnya." kata Awan membelai rambut istrinya.
"Sukses juga kerjaannya hari ini." kata Dana tersenyum. Dana lalu keluar dari mobil Awan. Ia langsung masuk ke kantor pengadilan pajak. Di sana sudah ada beberapa rekan kerjanya dan juga client mereka. Sidang hari itu cukup menguras tenaga mereka semua. Tapi, karena dimulai cukup pagi, sidang dapat diselesaikan sebelum pukul 1 siang.
Dana mendapat pesan masuk ketika keluar dari ruang sidang.
Awan
Sudah selesai sidangnya?
^^^Dana^^^
^^^Baru selesai, lapar!!! 😖^^^
Awan
Aku jemput kita makan siang sama-sama?
^^^Dana^^^
^^^Boleh 😊^^^
__ADS_1
"Dan ikut makan?" tanya kak Lita pada Dana.
"Nope, hari ini aku mau pergi." jawab Dana semangat.
"Yasudah, kita duluan ya?" kata kak Lita berpamitan dengan Dana. Dana hanya mengangguk menjawab ucapan seniornya itu.
Mereka lalu meninggalakn Dana di luar gedung. Dana masih menunggu Awan untuk menjemputnya.
Tak begitu lama setelahnya, Awan pun datang. Dana tersenyum dan berjalan menuju mobil Awan.
"Lama ya?" tanya Awan pada Dana.
"Gak terlalu." Jawab Dana tersenyum.
Dana dan Awan tiba di salah satu restaurant yang ada di kota itu. Mereka memilih tempat duduk di dekat jendela yang menghadap ke jalan. Awan memesankan Dana makanan kesukaannya. Mereka lalu mengobrol beberapa hal sembari menunggu makanan yang dipesan datang.
"Sering ke sini?" tanya Awan pada Dana.
"Benerapa kali, makanan di sini cukup enak." kata Dana tersenyum.
Disela sela obrolan itu, seorang staff datang membawakan minuman untuk mereka.
"Sama siapa ke sini nya?" tanya Awan pada Dana.
Awan melipat tangannya ke depan. Ia bersandar pada kursi di belakangnya, menatap istrinya dengan matanya yang tajam.
"Kenapa?" tanya Dana polos.
"Jadi tempat kencan sama mantan?" tanya Awan menekan kata-katanya.
"Emm, Beberapa kali saja, tapi kan sudah lama gak ke sini." kata Dana tersenyum. "Cemburu?" tanya Dana sedikit berharap.
"Enggak," Elak Awan. Ia lalu meminum kopi yang dipesannya.
"Enak kopinya?" kata Dana penasaran.
"Enak, mau?," tanya Awan menyodorkan kopi yang ada di gelasnya.
"Dikit gak papa kali ya?" Dana lalu meminum kopi itu. Rasa dari kopi yang cukup kuat ditambah harum dari kopi tersebut menambah cita rasanya.
"Lama banget gak minun kopi." kata Dana mencium aroma kopi yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Aku ke kamar mandi bentar," kata Awan pada istrinya. Dana masih meminum kopi itu dengan santai. Sudah lama ia tak meminum kopi yang sekuat ini. Biasanya, ia hanya akan meminum kopi susu dengan takaran yang sedikit untuk mengobati rasa rindunya pada minum kopi. Setelah makan dan berbincang, mereka pun pulang ke rumah. Dana meneruskan pekerjaannya untuk memeriksa dokumen yang akan ia berikan pada client nya esok pagi. Awan yang memang tidak mengambil cuti pun harus kembali ke kantor.
Dana masih sibuk memeriksa berkas di ruang tamu. Beberapa kali ia memegangi perutnya yang terasa tidak enak. Perempuan itu pun berinisiatif untuk mengambil air putih di dapur. Dana lalu duduk di ruang TV untuk menonton film. Ia menjeda pekerjaannya sebelum kembali fokus pada tumpukan dokumen yang telah menunggunya.
Tak selang beberapa lama, Dana merasa sangat mual. Ia terpaksa berlari ke arah kamar mandi dan memutahkan seluruh isi perutnya.
"Mampus, harusnya aku gak minum kopi tadi." kata Dana menyesali perbuatannya.
Ia lalu duduk lagi di ruang TV menunggu keadaannya membaik.
Sudah beberapa kali perempuan itu mondar mandir ke kamar mandi. Lambungnya terasa sangat perih dan panas sekarang. Dana lalu mengambil obat dan meminumnya. Perempuan itu memutuskan untuk tidur setelah meminum obat.
Tak selang beberapa lama, Awan pulang dari kantor. Ia sedikit merasa heran karena tak mendapati istrinya di manapun. Biasanya, Dana akan berlari ke arahnya untuk menyambutnya ketika pulang. Tapi, Awan tak melihat Dana datang untuk menemuinya sama sekali.
"Dan?" Awan mulai mencari ke setiap sudut rumah. Ia mencari di ruang tengah sampai ke dapur. Awan lalu berbalik hendak mencari Dana di dalam kamar.
"Sudah pulang Wan?" tanya Dana yang baru saja keluar dari kamar.
"Tidur? Dan berapa kali aku bilang ke kamu, kalau mau tidur rumah di kunci." kata Awan yang tampak kesal.
"Maaf tadi aku lupa Wan," jawab Dana lemas.
"Kalau ada perampok gimana? laptop kamu di depan loh! kalau dicuri siapa juga yang rugi? kerjaan kamu..." kata Awan memarahi Dana. Belum selesai dengan ucapannya, Dana sudah berlari meninggalkan Awan menuju ke kamar mandi. Lagi-lagi ia memurahkan isi perutnya. Awan yang merasa panik pun menyusul istrinya.
"Kamu kenapa?" tanya Awan yang kini menepuk-nepuk punggung Dana.
"Gak, gak papa Wan." kata Dana kembali ke kamarnya. Ia lalu duduk di tepi tempat tidur. Awan lalu memijit pundak istrinya. sesekali ia menepuk-nepuk punggung Dana ketika melihat istrinya akan mutah lagi.
"Kamu pucet banget Dan. Kenapa?" tanya Awan khawatir.
"Gak papa."
"Kamu gak..." kata Awan menjeda ucapannya. Dana mengerutkan Dahi menatap Awan tak mengerti. "Kamu hamil?" tanya Awan tampak serius.
"Wan, gak semua mutah- mutah itu hamil. Ini karena minum kopi kamu tadi. Sebenarnya aku gak bisa minum kopi, jadi gini." kata Dana yang masih lemas.
"Oh, gitu..." kata Awan tampak kecewa. Dana lalu bangun dari tempat tidur hendak mengambil obat. Belum sampai ia di depan meja, lambung nya serasa sangat sakit. Badan perempuan itu sangat lemas sehingga membuat Dana tak dapat menopang tubuhnya lagi.
Dana pun pingsan di lantai.
"Dan!" pekik Awan yang kaget melihat istrinya tak sadarkan diri. Laki-laki itu membopong istrinya ke atas tempat tidur.
__ADS_1
"Awan perut aku sakit banget." kaluh Dana yang masih sangat lemas.
"Kita ke rumah sakut sekarang." kata Awan dengan cekatan membawa Dana untuk pergi ke rumah sakit.