JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
MOJITO CLASSIC


__ADS_3

"Braga A** C***" Awan membaca tulisan yang ada di atas. "Sudah pernah ke sini?" tanya Awan pada Dana.


"Belum, aku pingin ke sini belum kesampaian terus." kata Dana pada Awan.


Mereka berdua duduk di kursi yang ada di dalam cafe itu. Seorang waiters menyambut mereka. Ia memberikan menu yang ada di sana. Dana melihat menu itu.


"Kak aku mojito classic 1, beef steak 1 yang medium well ya kak." Kata Dana pada waiters.


"Aku lemon squash 1, sama beef steak mushroom, medium rare ya kak." kata Awan menimpali.


"Baik kak ditunggu ya." Kata Waiters itu ramah.


Awan mengobrol banyak topik dengan Dana. Tak lama setelah itu, Makanan dan minuman yang mereka pesan sudah datang.


"Kamu ingat gak, dulu pas aku sama kamu ketemu di Cangkir, kamu pesannya juga mojito." Dana tertawa mendengar ucapan Awan.


"Masih inget?" tanya Dana pada Awan.


"Iya lah, gelasnya gede banget. Sampe heran aku, ini kamu orang atau sapi minumnya banyak banget. Dan itu udah mau habis kan?"


"Aku nunggu kamu 20 menit Wan, kamu gila ya bisa-bisanya duduk ngumpet di pojok. Ya mana aku liat. Aku duduk di depan kasir terus di depan pintu biar kalau ada orang masuk itu kelihatan. Malah kamu ngumpet di pojok." Kata Dana meminum mojito yang ia pesan.


"Aku sudah tengok sana sini. Tapi gak ngeh kalau itu kamu Dan. Seriusan!" Mereka bedua tertawa mengingat kejadian saat pertama kali mereka bertemu karena dijodohkan.


"Terus nih, kamu ngira aku gay? kocak sumpah!" kata Awan melanjutkan.


"Ya abisnya kamu mau-mauan aja dijodoh-jodohin sama mama kamu. Maksudnya, kayak gak make sense aja kalau kamu mau tanpa ada suatu hal. Ya aku nebak aja lah, lagian banyak kan yang kayak gitu sekarang. Maksudnya ya kamu gak jelek-jelek amat lah, gak mungkin mau dijodohin kalau gak ada sesuatu." Kata Dana panjang lebar.


"Bilang aja ganteng susah amat." Ucapan Awan membuat Dana terdiam. Dana lalu meminum setengah gelas mojito yang ada di tangannya lagi karena merasa sedikit gugup. Dana merasakan rasa yang sedikit aneh dengan minuman yang dipesannya.


"Kok agak pait ya? emang mojito seperti ini kah?"


"Masa sih?"


"Iya, agak pait." Dana meletakan minuman yang dipesannya itu. Dana dan Awan memakan steak yang sudah mereka pesan. Cukup lama keduanya makan sambil mengobrol. Mereka lalu melaksanakan sholat maghrib secara bergantian.


Setelah Dana sholat maghrib, dirinya yang masih merasa aneh dengan minuman yang dipesannya lalu meneliti gelas itu. Karena masih haus, ia lalu mencoba minum sedikit demi sedikit minuman itu sambil menunggu Awan kembali.


Akhirnya Dana menghabiskan minuman yang ada di gelasnya. Sangat disayangkan jika ia tak menghabiskannya mengingat harganya yang cukup mahal.

__ADS_1


"Udah?" kata Dana pada Awan.


"Sudah, katanya pahit, tapi habis juga." Kata Awan ketika melihat minuman Dana yang telah habis.


"Sayang soalnya kalau gak diminum."Jawabnya santai.


Setelah itu, mereka berdua pun meninggalkan cafe itu dan berjalan kembali menuju parkiran mobil. Dana mengobrol banyak hal dengan Awan sepanjang jalan Braga.


"Dan, kau tau? kalau misalkan waktu itu aku tak kecelakaan, mungkin kau tak akan pernah lagi menemuiku." Kata Awan membuka topik pembicaraan baru.


"Hem, mungkin iya. Mungkin juga enggak." Jawab Dana pada Awan.


"Maksudnya?"


"Gak tau, mungkin saja aku masih akan menemuimu sesekali. Mungkin aku juga akan meminta bantuanmu lain kali. Seperti saat aku menangis malam itu." Dana menatap Wajah Awan.


"Hem, Kita gak tau bagaimana takdir bekerja kan Wan?" ucap Dana melanjutkan. Awan balik menatap perempuan yang berjalan di sampingnya.


Awan sedikit aneh dengan cara Dana berjalan. Ia seperti berjalan sedikit gontai. Kadang ia berjalan sesikit menjauh darinya. Kadang Dana berjalan lebih dekat dengannya hingga menabrak tubuh Awan.


"Kamu gak papa?" tanya Awan pada Dana. Perempuan itu hanya mengangguk.


"Awas!" Awan menarik Dana yang hampir saja menabrak orang berjalan di depannya. Seketika, Dana tersadar jika ada yang tak beres dari tubuhnya.


"Kamu minum apa tadi?" tanya Awan pada Dana.


"Hem? mojito coktail?" jawab Dana.


"Kamu gila? kenapa kamu minum itu?" Awan seketika kaget dengan jawaban perempuan itu. Ia meninggikan nada suaranya.


"Lah emang kenapa? coktail itu kan gak..." Dana tak melanjutkan ucapannya. Ia baru sadar jika dirinya salah pesan minuman.


"Astaga, itu moktail! kata Dana kaget. Astaughfirullah, maafkan hamba ya tuhan." Kata Dana sangat panik. Awan hanya menghela nafas berat mendengar ucapan Dana.


"Makanya, kalau pesan itu dilihat bener-bener. Jadi gini kan?" Awan meninggikan suaranya menanggapi kepanikan Dana.


"Terus gimana?" tanya Dana pada Awan. Laki-laki itu lalu mendudukkan Dana pada kursi yang ada di pinggir trotoar.


"Kamu duduk sini, aku beli air mineral dulu di cafe sana." Kata Awan pada Dana. Perempuan itu hanya menuruti ucapan Awan. Dirinya masih merasa panik karena kecerobohannya.

__ADS_1


Tak lama Awanpun kembali. Ia memberikan air mineral yang dibelinya pada kakak-kelasnya. Awan lalu duduk di sebelah Dana.


"Dasar ceroboh." kata Awan pada Dana.


"Ya aku lupa, aku kebalik antara coktail dan moktail." Dana diam menatap jalanan di depannya.


"Jadi gini rasanya tipsy?"


"Baru minum dikit sudah seperti ini." Awan mengambil tas yang Dana pegang.


"Aku gak pernah Wan,"


"Dulu Rachel sering seperti ini. Aku selalu menjemputnya ketika ia tak sadar. Kadang juga aku harus menggendongnya ke mobil. Dia bekerja di dunia modeling, kadang ada saatnya mereka mengadakan jamuan seperti itu." Dana menatap Awan.


"Kenapa kau tak menggendongku ke mobil?" Dana menatap wajah laki-laki di sebelahnya.


"Kau berat!" Kata Awan tertawa.


"Enak saja, kata siapa?"


"Aku lah! aku 2 kali menggendongmu Dan," Awan tersenyum melihat Dana. Hal tersebut sontak membuat perempuan itu salah tingkah.


Awan menunggu perempuan itu sadar sepenuhnya sebelum pulang. Ia tak mungkin membawa Dana pulang ke rumah om nya dalam keadaan seperti ini.


"Kamu pernah?" tanya Dana tiba-tiba.


"Pernah apa?"


"Minum? maksudnya Rachel minum, jadi.."


"Belum pernah." Awan memotong ucaoan Dana. Perempuan itu lalu menengok ke arah Awan.


"Wah, kamu membuat aku tambah bersalah. Wanita macam apa yang minum seperti orang bodoh!" Kata Dana menanggapi ucapan Awan.


"Namanya gak sengaja," Awan tertawa mendengar Dana yang tampak frustasi.


"Aku terlihat seperti wanita buruk sekarang." Kata Dana mengacak rambutnya.


"Aku lebih buruk darimu Dan, tenang saja."

__ADS_1


"Apa itu perlu dibanggakan?" Dana berdecak kesal pada Awan.


...****************...


__ADS_2