
"Aku sering nonton futsal dari dulu. Sampai aku lulus pun aku sering datang ke Gor nonton futsal."
Flashback!
Dana memandang udara dengan tatapan kosong. Sudah 2 kali dalam 1 tahun terakhir dirinya menonton pertandingan futsal sendiri tanpa ditemani oleh siapapun. Tahun lalu, dirinya duduk di tempat itu dengan Wisnu. Mereka menonton tim SMA yang bermain di tingkat kabupaten. Dirinya selalu bersorak senang ketika tim futsal SMA nya mencetak gol. Berbeda dengan tahun sebelumnya, kali ini ia hanya menatap kosong tanpa memberikan dukungan pada tim yang bermain. Sesekali ia menyeka air matanya yang tiba-tiba menetes ketika memikirkan seseorang. Sesekali juga perempuan itu mencari seseorang yang dirindukannya. Ia mencari Wisnu. Laki-laki yang meninggalkannya tahun lalu.
Tim SMA 1 telah selesai bertanding. Dana lalu berdiri hendak meninggalkan kursi penonton.
"Selamat bro!" Salah satu temannya menyalami Awan yang telah memenangkan pertandingan.
"Thanks bro!" Awan dengan senyum sumringah menyapa teman-teman sekolahnya yang lain.
Bruk! Tak lama dirinya mendengar suara ribut-ribut dari arah belakangnya.
"Maaf," Dana tampak panik ketika menabrak salah satu panitia yang membawa karung bola di pinggir lapangan. Perempuan itu memungut beberapa bola yang menggelinding tak tentu arah. Untung saja, pertandingan sore itu telah usai. Jadi, hal tersebut tak mengganggu jalannya pertandingan.
"Kalau jalan liat-liat mba, jangan melamun." Kata seorang panitia yang membawa keranjang bola itu. Beberapa orang di sekitar membantu mereka untuk memungut bola yang sudah ada di berbagai sudut.
Awan berjalan menuju ke arah perempuan itu. Ia tersenyum sinis ketika melihat betapa konyol kakak kelasnya itu memungut bola.
"Makanya kalau niat nonton itu jangan ngelamun!" Awan membawakan beberapa bola ke arah Dana. Awan tau jika sedari tadi, perempuan itu hanya memandang kosong ke arah lapangan. Ia tau jika Dana datang ke sana bukan untuk menonton pertandingan futsal sekolah mereka.
Sejak awal pertandingan, dirinya telah memperhatikan Dana dari lapangan. Ia sangat mengenali perempuan itu bahkan dari jauh. Bagaimana mungkin Awan tak mengenali Dana ketika dirinya sangat benci pada perempuan itu.
Dana menerima bola yang Awan pegang. Dirinya tak menghiraukan ucapan adik kelasnya itu. Dana melanjutkan aktifitasnya memungut bola. Dirinya sudah merasa malu karena membuat kesalahan konyol seperti itu.
Flashback off!
Awan hanya tersenyum mendengar ucapan Dana. Ia ingat betul betapa bodohnya kakak kelasnya itu menabrak salah satu panitia dan menyebabkan banyak orang kesusahan mengambil bola yang menggelinding tak tentu arah.
Tak lama, makanan yang mereka pesan pun datang. Dana dan Awan memakan sashimi yang mereka pesan dengan lahap. Sesekali keduanya melontarkan candaan yang membuat mereka berdua tertawa. Entah sejak kapan obrolan mereka berubah sangat renyah. Awan yang dulu sangat enggan untuk berbicara dengan Dana, kini mereka duduk berdua dalam 1 meja dan mengobrol banyak hal.
__ADS_1
"Biar aku yang bayar." Dana mengelurkan kartu Debit miliknya untuk membayar makanan.
"Gak, kamu mentang-mentang udah kerja lebih dulu jadi mau bayarin gitu? mau ditaruh dimana harga diri aku sebagai laki-laki." Dana tertawa mendengar hal tersebut.
"Ya gak gitu. Anggep aja ini ucapan terimakasih karena udah bantu pilih baju untuk adikku." Dana tersenyum menatap Awan.
"Kalau begitu, next aku yang bayar!" Kata Awan pada Dana.
"Oke," Dana tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan laki-laki itu.
Setelah selesai makan, mereka berdua berjalan menuju pintu keluar mall.
"Pulang bareng aku aja, kan searah." Awan menawarkan tumpangan pada perempuan itu. Dana sedikit berfikir mengingat jika Wisnu tak suka dengan Awan. Ia sebenarnya takut jika Wisnu tau dirinya sedang bersama laki-laki lain.
"Aku naik taxi aja deh." Awan tertawa mendengar ucapan Dana. Ia tau jika perempuan itu sangat menghargai Wisnu sebagai kekasihnya. Awan tau jika Dana pasti menolak ajakannya karena Wisnu.
"Yaudah, kalau begitu aku duluan. Aku parkir di basement soalnya." Dana mengangguk mendengar ucapan Awan. Ia lalu berpisah dengan adik kelasnya itu dan berjalan menuju ke pintu masuk depan.
"Belum dapat taxi kak?" tanya satpam yang berjaga di pintu keluar mall.
"Belum pak, sepertinya karena hujan. Dari tadi di cancel terus."
"Soalnya kalau hujan macet sih kak daerah sini, jadi banyak taxi yang gak mau nganter." Dana mengendus frustasi mendengar hal itu. Tak lama, ia melihat mobil Awan datang dari arah kirinya. Laki-laki itu memberhentikan mobilnya di depan pintu masuk mall.
"Gak ada taxi kak?" tanya Awan pada Dana.
"Belum dapat."
"Udah, naik cepet." Kata Awan pada Dana.
"Aku gak enak sama kamu."
__ADS_1
"Udah cepet," Dana akhirnya menuruti perintah Awan. Perempuan itu lantas menaiki mobil yang dibawa adik kelasnya itu.
"Hujan soalnya," Awan melaju menggunakan mobilnya itu. Entah mengapa Dana melihat mobil yang tak asing melintas di samping mobil Awan. Ia terus menengok ke Arah mobil itu.
"Kok kayak kenal ya?" Dana kaget melihat sesuatu dari arah luar jendela.
"Halu, ujan gini masa bisa liat." Dana tak ambil pusing dengan hal itu. Mungkin Awan benar jika ia hanya berhalusinasi. Dana menemukan sesuatu yang berbeda dari mobil yang Awan kendarai.
"Mobil baru?" tanya Dana pada laki-laki yang ada di sebelahnya.
"Punya papa, kan kamu tau mobilku rusak pas kecelakaan kemarin."
"Asuransi enggak itu? parah banget kah?"
"Asuransi kok, tapi masih di bengkel."
"Enak ya, kamu kecelakaan masih boleh nyetir. Aku kecelakaan langsung stop gak boleh sama sekali naik motor." Dana menghela nafasnya.
"Bukannya kamu bisa nyetir mobil? kenapa gak beli mobil aja?" Awan menanggapi ucapan Dana dan masih fokus melihat arah kemudinya.
"Belum butuh, aku itu menerapkan hidup minimalis. Sesuai kebutuhan aja."
"Pelit?" Awan tersenyum geli mendengar ucapan Dana. Sebenarnya ia paham apa yang Dana maksud. Ia hanya ingin menanggapi ucapan perempuan itu dengan candaan.
"Enak aja, bukan pelit. Berhati-hati namanya. Aku kuliah keuangan buat apa kalau gak bisa menerapkan prisnip ekonomi dengan baik."
"Terus kamu kalau dapat uang buat apa?" Tanya Awan pada Dana.
"Ya ditabung, aku itu pingin banget punya rumah sendiri, bisa jalan-jalan ke luar negeri pake uang sendiri, pokoknya banyak banget yang pingin aku lakuin di umur 27, 28 an nanti. Makanya, sekarang ya nabung."
Awan tersenyum mendengar ucapan perempuan itu. Ia benar-benar mirip dengannya yang menerapkan hidup minimalis. Ia menyimpan semua uangnya di tabungan. Awan hanya memakai sedikit gajinya untuk keperluan sehari-harinya. Ia lebih banyak menerima barang bekas milik papanya. Bedanya, Awan memang diberikan fasilitas yang sudah lengkap oleh orang tuanya. Oleh karena itu, laki-laki itu mengalokasikan uang miliknya untuk tabungan seperti tabungan anak dan tabungan untuk hari tuanya serta untuk Dana Darurat.
__ADS_1
...****************...