JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
AWAN


__ADS_3

Rachel pulang ke Jakarta setelah ia menyelesaikan pekerjaannya di Bali. Beberapa hari yang lalu Awan menelefon dan memmberikan kabar jika dirinya kecelakaan. Rachel benar-benar panik mendengar kabar itu. Tapi disisi lain, ia harus profesional menyelesaikan pekerjaannya.


Setelah turun dari pesawat, ia bergegas untuk menemui Awan di rumahnya.


"Sayang, kamu gimana kabarnya? mana yang sakit? tangannya masih sakit?" kata perempuan itu saat ia bertemi dengan Awan pacarnya.


"Aku gak papa, ayo masuk kamu pasti lelah." Awan menarik Rachel masuk ke dalam rumahnya.


"Maaf ya sayang baru bisa pulang. Kamu tau kan sesibuk apa aku ini?" Rachel duduk di kursi ruang tengah sambil memegang tangan Awan.


"Gak papa sayang, lagian usah dibantu temenku juga kemarin. Kamu gak usah khawatir."


"Teman siapa?" Rachel terlihat menaruh curiga pada Awan. Melihat hal itu, Awan yang sebenarnya ingin jujur mengurungkan niatnya untuk menceritakan Dana dan Wisnu yang menolongnya. Baginya, ceritanya itu tak lebih dari bom yang akan membuat amarah Rachel meledak-ledak jika tau.


"Kakak tingkat. Wisnu namanya. Ia kebetulan tinggal di Jakarta." Awan memgelus rambut perempuan itu. Rachel hanya mengangguk tanda mengerti.


Awan mengenggam tangan Rachel. Ia cukup rindu dengan perempuan itu mengingat sudah 3 hari mereka tak bertemu.


"Ini apa?" Awan terlihat kaget ketika ia menemukan gambar yang berada di tangan kiri Rachel. Ia menaikkan lengan kaos Rachel sebelah kiri. Dilihatnya ada beberapa tato di sana. Itu adalah tato baru yang Rachel buat di Bali.


"Bagus kan?" Rachel menunjukkan tato yang ia buat pada Awan.


"Kenapa kamu tantoan? kamu kan tau mama aku seperti apa Chel! Gimana nanti pendapat dia ke kamu kalau kamu punya tato seperti ini?"


"Ya kan gak akan terlihat juga. Masa mama kamu mau ngegulung baju aku kayak gini. Kamu tenang aja, aman!"


"Chel,"


"Wan, kamu sayang kan sama aku? aku sudah lama ingin buat tato ini. Gak mungkin aku buang kesempatan buat bikin tato. Mumpung aku ke Bali." Belum juga Awan berbicara, Rachel sudah memotong pembicaraannya.


"Kamu lihat, aku ukir nama kamu disini." Rachel menunjukkan tato bertuliskan nama Awan di pundak kirinya.


"Aku hanya takut mamaku semakin tak menyukaimu sayang." Awan membelai rambut Rachel dengan lembut.


"Mama kamu memang sedikit kolot. Mama aku aja gak protes sama apa yang aku lakuin."


Awan hanya diam mendengar pacarnya itu. Meskipun hatinya sedikit kecewa karena Rachel tak menghormati mama, tapi ia tak ingin berdebat dengan perempuan itu.


Hal yang dilakukan Rachel sangat berbeda dengan perlakuan Dana pada mama. Dana tak segan untuk menuruti kemauan mama meskipun hal tersebut sedikit tak masuk akal dan tak ada hubungannya dengan kepentingan Dana sendiri.

__ADS_1


Rachel menemani Awan sarapan pagi. Ia membelikan Awan bubur ayam di depan gang. Dirinya sibuk menonton acara yang ada di TV sembari menunggu Awan selesai makan.


"Aku nginep sini ya buat sementara." Rachel menatap wajah pacarnya itu.


"Gak bisa dong Chel, apa kata tetangga sini kalau tau ada perempuan tinggal disini bersamaku."


"Ya kamu tinggal bilang saja, aku istrimu. Beres."


"Lingkungan ini masih banyak orang daerah. Mama kenal betul dengan mereka. Mama tak akan tinggal diam melihatmu menginap di sini."


"Yasudah kalau kamu tak mau. Aku pulang sekarang!" Rachel membawa semua barang-barangnya dan pergi meninggalkan rumah Awan. Awan hanya melihat perempuan itu dan menghela nafas beratnya. Entah mengapa sikap Rachel semakin berubah setelah pulang dari Bali. Ia semakin terlihat kekanak-kanakkan.


Diluar rumah, Dana datang untuk menengok Awan. Ia sebenarnya sudah janji dengan kak Wisnu untuk tak berurusan lagi dengan laki-laki itu. Tapi, tante Hesti terus saja menelfonnya untuk bertanya keadaan Awan padanya. Siang itu, saat jam makan siang datang, dirinya sengaja untuk membawakan Awan makan siang, beberapa obat, dan barang-barang yang diminta oleh tante Hesti untuk diberikan pada Awan. Tante Hesti yang bekerja di rumah sakit pastilah sudah paham apa saja yang dibutuhkan anaknya itu.


Tok, Tok, Tok!


Dana mengetuk pintu rumah Awan. Dari dalam terdengar jawaban dari laki-laki itu.


"Dana, kenapa?"


"Mama kamu nyuruh aku buat datang ngasih ini." Dana menunjukkan beberapa kantong plastik yang dibawanya.


"Abis ada tamu?" Perempuan itu melihat ada 2 gelas teh yang ada di meja. Ia hanya menebak jika ada orang lain yang datang sebelum dirinya.


"Rachel." Dana hanya mengangguk mendengar perkataan Awan.


"Mama suruh kamu bawa apa saja?"


"Ini obat antibiotik, obat nyeri, sama ada salep buat luka kamu. Terus ini buat obat flu."


Dana memegang kening Awan tiba-tiba. Awan sedikit kaget karena ulah perempuan di depannya.


"Udah gak panas, jadi obat yang ini gak usah diminum. Ini ada perban untuk tangan kamu. Hari ini udah di ganti?" tanya Dana pada Awan. Awan hanya menggeleng mendengar perkataan Dana.


"Kalau begitu nanti aku bantu ganti sekalian. Ini makan siang buat kamu. Terus yang ini, tante Hesti nyuruh aku nyetok roti buat kamu. Katanya kamu suka roti ini. Terus apa lagi ya? Sepertinya sudah." Awan tertawa kecil mendengar Dana.


"Kenapa?"


"Kamu lagi ngerap?"

__ADS_1


"Apaan sih, dah makan dulu. Aku siapin piringnya." Dana mencari piring di dapur. Tapi ia tak menemukannya.


"Awan piringnya dimana?" Dana berteriak dari dapur. Awan menghampiri kakak kelasnya itu dan menunjukan letak piring yang berada di laci bawah tempat masak.


Dana yang sedang mencari di dekat Awan pun cukup kaget karena tubuh mereka yang sangat dekat. Dana bahkan bisa melihat rahang Awan dengan jelas. Ia lihat ada luka di sana yang mulai mengering.


"Piringnya di sini." Dana hanya melihat Awan tanpa menghiraukannya. Tangan Dana refleks memegang luka itu.


Refleks, Awan menengok ke arah perempuan itu.


"Ini kenapa?"


Dana yang sadar jika dirinya melewati batas lantas mundur untuk menjauh dari Awan.


Dug! Kepala Dana terbentur meja yang ada di belakangnya.


"Aw!" Awan yang panik lalu memegang kepala Dana.


"Sakit?" Dana masih meringis kesakitan memegang kepalanya. Awan yang melihat ekspresi Dana tertawa kecil karena menganggap perempuan itu lucu.


"Lagian kamu ngapain sih Dan? Ada-ada aja."


Awan masih tertawa melihat Dana.


"Jangan ketawa Wan, nyebelin banget sih!"


Mereka berdua lalu menuju ruang tangah untuk menyiapkan makan siang. Setelah makan, Dana membantu Awan untuk mengganti perbannya.


"Selesai," kata Dana ketika ia telah selesai memasang perban di tangan Awan.


"Makasih," Dana tersenyum mendengar kata-kata Awan.


"Sebentar, ada yang terlewat." Dana membuka salep yang ia beli. Ia mengoleskan nya pada luka dirahang Awan yang tadi ia lihat.


"Ini kalau tidak diobati bakal berbekas. Kan sayang kalau bekasnya ada di wajah."


Awan menahan nafasnya karena jarak antara dirinya dan Dana yang terlalu dekat. Dirinya bahkan bisa mencium bau parfum yang menempel di pakaian perempuan itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2