JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
BERBOHONG


__ADS_3

Mereka meneruskan perjalanan ke rumah setelah panas Dana turun. Dalam perjalanan tersebut, Dana memutuskan untuk tidur mengingat tubuhnya yang belum begitu fit. Awan membiarkannya tidur tanpa mengganggunya.


Dana bangun ketika matahari perlahan menembus kaca mobil Awan, membuat mata nya yang terpejam membuka perlahan.


"Sampai mana?"


"Hampir sampai, sudah masuk wilayah kota." Kata Awan dingkat.


Dana mendengar suara Handphone Awan yang bergetar.


"HP kamu Wan," kata Dana pada Awan.


"Siapa?" Awan memberikan HP nya padaku. Menyuruhku untuk mengecek siapa orang yang menelefon.


"Mama Kamu." Kata Dana singkat.


"Angkat lah." Dana mengangkat telefon itu sesuai perintah dari Awan.


"Halo tante?" kata Dana pada perempuan yang ada di balik telefon dengan ramah.


"Halo nduk, sudah sampai mana?" kata tante Hesti tak kalah ramah.


"Sudah di kota tante,"


"Baguslah, kalian langsung ke Soto Pak Bathok ya? Ini tante sama Mamamu lagi sarapan di sini. Biar kalian sekalian sarapan pagi. Awan tau tempatnya kok." tante Hesti terdengar bersemangat di balik telefon. Dana melirik Awan yang sedang menyetir. Ia tau jika Awan mendengar ucapan tante Hesti itu.


Setelah menutup telefon, Awan langsung belok ke kanan untuk menuju tempat yang di maksud tante Hesti.


"Kamu tau tempatnya?" kata Dana pada Awan.


"Tau, langganan mama dari dulu." Dana hanya mengangguk tanda jika ia mengerti ucapan Awan.


Mereka sampai di tempat yang dituju. Tak ada Dana yang belum terlalu fit langsung merapikan dandanannya. Ia tak ingin terlihat pucat dan mendapat pertanyaan yang macam-macam dari kedua orang tua itu.


"Ngapain pakai lipstick? kan cuma mau makan." Awan terlihat heran dengan tingkah kakak kelasnya itu.


"Biar gak pucet, aku malas ditanya-tanya nanti." Dana masih sibuk mengoleskan lipbalm untuk bibirnya.


Setelah selesai, mereka berdua pun keluar dari mobil.


"Halo nduk," kata tante Hesti memeluk Dana. Setelah itu mereka makan bersama. Awan duduk di samping Dana. Ia memilih diam ketika mama dan tante Santi terlihat bercerita banyak hal. Dana juga hanya tersenyum mendengarkan kedua orang itu bercerita.


"Kalian macet dimana sih sampai selama itu?" tanya tante Santi pada Awan dan anak perempuannya.


"Di tol tante, ada banyak kecelakaan sepertinya tadi. Jadi sering berhenti juga." Kata Awan santai.

__ADS_1


"Berarti kamu belum tidur?" Kali ini giliran mama Awan yang bertanya.


"Sudah, kita berhenti di rest area ya?" jawab Dana pada tante Hesti. Ia menengok ke arah Awan. Laki-laki itu hanya tersenyum menanggapi.


"Mama seneng deh liat kalian kaya gini." Awan dan Dana melirik satu sama lain. Mereka tersenyum melihat mama dan tante Hesti senang. Setelah makan, Awan tetap mengantar Dana ke rumahnya. Walaupun tante Santi telah menyuruh mereka bertukar mobil agar lebih efisien, tante Hesti menolaknya. Ia bersikukuh agar Awan tetap mengantar Dana sampai rumah.


"Lancar ya bohongnya?" Celetuk Awan di dalam mobil.


"Sama kan?" kata Dana menimpali.


Di dalam mobil sudah tak ada rasa canggung diantara mereka. Sesekali Awan menanyakan pekerjaan Dana sebagai konsultan. Dana juga menanyakan pekerjaan Awan.


"Kamu pasti benci banget ya sama aku?" Dana menengok ke arah Awan ketika melontarkan pertanyaan itu.


"Maksudnya?" Awan masih tak paham dengan pertanyaan kakak kelasnya itu.


"Ya, dulu aku sering hukum kamu waktu Paskib."


"Benci sih, tapi bukan karena hukuman paskib." Dana mengerutkan dahi tanda tak mengerti.


"Jadi karena apa?"


"Kepo!" kata Awan singkat. Jika Awan sudah menjawab seperti itu, Dana sangat malas untuk meneruskan pertanyaannya. Ia memilih untuk diam karena Awan tak akan menjawab dengan jawaban yang serius.


Awan mengantar Dana sampai ke rumah. Setelah itu ia pulang ke rumahnya. Tak ada lagi pembicaraan diantara mereka setelah itu. Dana menghabiskan waktu liburnya dengan memasak dan membantu mama merawat tanaman.


"Jadi kemarin pulang sama Awan?" kata tante Ari di dalam mobil. Kami bertiga menaiki mobil menuju stasiun di sore hari.


"Iya kemarin itu, gimana nduk?" tanya mama pada Dana.


"Apanya?" Dana tak mengerti kenapa mama balik bertanya padanya.


"Ya kemarin, ceritain lah sama tante." Kata mama pada putrinya.


"Ya gak gimana-gimana, cuma pulang semobil sama Awan, udah." Dana sebenarnya malas menjelaskan hal itu. Karena ia tau jika ia dan Awan sempat berbohong pada tante Hesti dan mama. Dana tak ingin menambah dosa dengan berbohong lagi kepada tante.


Bagaimana bisa ia mengatakan jika dia demam karena Awan meninggalkannya di tengah tol. Tak mungkin juga ia bilang ke mama jika ia dan Awan menginap di 1 kamar hotel yang sama. Bisa mati kalau mama sampai tau. Mungkin ia akan langsung mendatangkan penghulu hari itu juga jika sampai tau tentang hal itu.


"Berapa jam mba kemarin naik mobil?" pertanyaan tante membuyarkan lamunan Dana.


"14 jam an tan, soalnya banyak berhentinya." kata Dana beralasan.


"Lama banget, tidur di jalan berarti?" tante mulai bertanya penasaran.


"Iya, berhenti di rest area," kata Dana singkat.

__ADS_1


Dana kembali ke Jakarta dengan selamat. Sesampainya di kost ia tak langsung tidur. Dilihatnya sebuah pesan di instagramnya. Ia tau itu adalah pesan dari kak Wisnu.


Kak Wisnu Hai Dana√√


^^^Dana Hai Kak√√^^^


Dana memang baru sempat membuka pesan itu. Ia tak mengira jika Kak Wisnu mengiriminya pesan 5Jam yang lalu. Ia sedikit tak enak hati karena mengabaikan pesan dari kak Wisnu.


Pagi hari nya, Dana membuka Handphone nya. Ia langsung mengecek pesan yang semalam dikirimkan pada Kak Wisnu. Belum ada jawaban disana. Ia sedikit kecewa karena hal itu.


Ting... Suara handphone yang dipegangnya membuatnya sangat bersemangat.


Kak Wisnu Gimana nih kabarnya? Sabtu depan ada jadwal enggak?√√


^^^Dana Alhamdulillah baik kak, Sabtu depan belum ada jadwal sih, kenapa memangnya?√√^^^


Kak Wisnu Owlh, bagus lah, aku mau ngajak kamu nongki.√√


^^^Dana Boleh, kemana memangnya?√√^^^


Kak Wisnu Ke, Latuna. Tempat kemarin kita ketemu, menurut kamu gimana? nanti aku ajak abangmu sekalian.√√


^^^Dana Boleh, okedeh.√√^^^


Setelah percakapan itu, Dana langsung membongkar isi lemarinya. Ia mencari baju yang akan digunakan untuk menemui kak Wisnu. Tapi, ia tak menemukan baju yang cocok untuknya.


"Gak punya baju, gimana dong?" Dana menghembuskan nafas frustasi melihat tak ada satupun baju yang cocok untukknya.


Tak terasa ia harus berangkat kerja karena waktu telah menunjukkan pukul 9 pagi. Ia bertekat untuk mencari baju jika ada waktu luang minggu ini.


Hampir 1 minggu telah berlalu. Hari Jumat ini, Dana berencana untuk mencari baju baru untuk menemui kak Wisnu.


Ia menaiki MRT menuju salah satu mall yang ada di daerah Jakarta Pusat.


Ia sengaja untuk pergi sendiri menginggat dirinya akan lama berkeliling. Dana memasukki sebuah store yang ada di mall itu. Mencari baju yang menurutnya cocok untuknya.


Tak lama, ia tertarik pada salah satu pakaian yang di gantung di sana. Ia ingin mengambil pakaian itu, sampai saat seseorangpun menarik pakaian itu darinya.


"Maaf kak, saya sudah ambil pakaian ini duluan tadi." Dana yang sedikit kaget mencoba bicara sopan pada perempuan yang ada di depannya itu.


"Masih ada yang lain kan? kamu bisa ambil yang lain." Jawab perempuan itu ketus. Dana yang tak ingin berdebat dengannya lalu mengambil pakaian yang sama yang masih tergantung di belakang baju tadi.


"Ku kira, kamu orang yang suka mengambil milik orang lain." Dana mengerutkan dahi saat mendengar perkataan perempuan asing yang baru ditemuinya itu. Ia lalu berbalik menatap perempuan didepannya.


"Maksudnya?" Jawab Dana masih tak mengerti.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2