JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
SELAMAT


__ADS_3

Sore harinya, Awan menjemput istrinya sesuai janji. Mereka lalu pulang ke rumah untuk bersiap-siap pulang ke kota asal mereka. Tepat esok harinya, mereka akan menghadiri undangan pernikahan Wisnu dan calon istrinya.


"Sudah semua?" tanya Awan pada Dana.


"Sudah, yok?" Dana mengajak Awan untuk berangkat segera. Awan membawa koper mereka ke dalam mobil. Selama perjalanan, mereka saling bertukar pikiran mengenai banyak hal. Dana memang suka berdiskusi dan mengobrol banyak hal dengan Awan. Sekitar 8 jam sudah mobil mereka melaju menyusuri kota. Beberapa kali mereka juga berhenti untuk sekedar istirahat melepas penat.


Dana melihat Awan yang sudah cukup lelah.


"Mau gantian kah?" tanya Dana pada Awan.


"No, biar aku saja."


"Mama suruh kita buat berhenti kalau lelah. Kita cari SPBU ya?" kata-kata istrinya langsung disetujui oleh Awan.


"Aku tidur sebentar ya?" tanya Awan pada Dana. Perempuan itu lalu memijit pundak Awan untuk membantu menghilangkan lelahnya. Setelah cukup lama dana memijit, Awan lalu meraih tangan istrinya. Ia mengenggamnya dengan erat. "Aku ingin berbaring." kata Awan menatap Dana dengan mata sayu.


"Mau cari hotel saja?" tanya Dana khawatir. Ia sangat takut jika Awan terlalu memaksakan diri untuk menyetir setelah seharian bekerja.


"Aku ingin istirahat Dan, kalau kita pesan hotel, aku yakin kita gak akan beristirahat." kata Awan tersenyum.


"Ih kamu!" Dana lalu melepaskan genggaman tangan Awan. Ia menatap suaminya dengan mata yang memicing.


"Ih kamu kenapa? kamu mikir apa?" Awan menatap Dana balik dengan tatapan jahilnya.


"Gak mikir apa-apa." jawab Dana sedikit canggung.


"Bohong! coba aku mau tahu kamu mikir apa?" kata Awan tersenyum.


"Awan! udah tidur cepetan."


"Boleh pindah ke belakang? aku mau tidur di pangkuan kamu." Dana hanya tersenyum mendengar ucapan Awan. Ia lalu mengangguk dan menuruti kemauan suaminya.


Dana memandang wajah suaminya lekat-lekat. Perempuan itu terus mengelus rambut Awan dengan lembut. Awan tertidur pulas di pangkuannya.


"Hidung kamu mancung banget Wan?" kata Dana sedikit berbisik. "Makasih sudah jadi suami yang baik untukku." kata Dana lirih tanpa membangunkan Awan. Setelah hampir 1 jam Awan terlelap, akhirnya ia membuka matanya.


"Sudah bangun?" tanya Dana menatap Awan. Laki-laki itu kini terduduk di sebelah Dana.

__ADS_1


"Kenapa kamu gak tidur juga?" Awan mengelus rambut istrinya.


"Aku keasyikan liatin kamu. Jadi gak ngantuk."


"Pergi sekarang?" tanya Awan pada Dana. Perempuan itu mengangguk tanda setuju. Awan membasuh wajahnya di kamar mandi sebelum kembali menyetir.


Mereka berdua akhirnya sampai di kota kelahiran mereka. Saat itu masih sangat gelap karena waktu baru saja menunjukkan pukul 4 pagi. Beberapa masjid sudah mengumandangkan adzan. Mama Santi membukakan pintu untuk mereka. Awan membawa koper ke kamar dan langsung mengambil air wudhu untuk salat.


Pagi harinya, Dana dan Awan bersiap untuk datang ke acara pernikahan kak Wisnu. Perempuan itu memakai dress berwarna biru toska dengan beberapa aksen di bagian lengan. Ia menatap cermin sembari membenarkan riasannya. Awan masuk ke kamar dan melihat istrinya yang sedang bercermin. Laki-laki itu memeluk Dana dari belakang.


"Cantik," kata Awan memandang ke cermin. Dana hanya tersenyum mendengar ucapan Awan.


"Nduk kalian mau pergi..." Dana dan Awan dikagetkan dengan kehadiran mama yang menyelonong masuk ke kamar. Dana langsung melepaskan pelukan Awan dan mendorongnya hingga terjatuh ke atas kasur.


"Kenapa ma?" Kata Dana canggung.


"Gak, maaf-maaf. Harusnya mama ketuk puntu dulu." Mama lalu keluar meninggalkan kamar anaknya.


"Harus di dorong?" tanya Awan menatap Dana.


"Maaf, sakit kah?" kata Dana panik. Ia lalu tertawa melihat Awan yang tampak kesal karena ulahnya.


"Kenapa senyum?" tanya Awan pada istrinya. Ia hanya menggeleng dan tersenyum pada Awan.


Mereka lalu masuk ke dalam gedung dan duduk di kursi tamu undangan. Dari pintu masuk, terilahat Wisnu dan Vega masuk bersama rombongan keluarga. Tepat di tengah aula, Winsu mengikat janji sehidup semati dengan Vega. Dana tersenyum menatap mereka berdua. Dari kejauhan terlihat Wisnu menatap Dana yang duduk di samping Awan.


Setelah acara ijab Qabul selesai di laksanakan, para tamu undangan menyalami mereka satu per satu. Dana dan Awan pun sama. Ia tersenyum ketika sampai saat mereka berdua menyalami pasangan pengantin itu.


"Selamat ya kak?" kata Dana pada Wisnu.


"Selamat ya Vega," kata Dana memeluk wanita yang kini telah resmi menjadi istri Wisnu.


"Makasih udah datang," kata Vega pada Dana. Perempuan itu hanya mengangguk dan tersenyum. Setelah itu, Awan dan Dana turun dari panggung, mereka lalu mengambil beberapa hidangan yang disediakan di sana.


"Dan aku mau ke kamar mandi." kata Awan pada Dana. Perempuan itu hanya mengangguk sembari meneruskan makan beberapa camilan yang sudah ia ambil tadi. Tiba-tiba, telfon Awan berdering. Dana refleks mengambil handphone Awan yang berada di dalam tasnya. Perempuan itu mengerutkan keningnya ketika melihat nama yang tertera di layar handphone Awan. Dana lalu mengangkat telefon itu.


"Halo Wan? maaf telfon, aku mau tanya kamu di rumah enggak ya? aku mau antar makanan buat kamu. Tadi aku ketuk pintunya gak ada orang. Aku pikir kamu gak di rumah jadi aku taruh makanan nya di kursi depan. Dimakan ya? itu ayam taliwang yang sering kita makan dulu." Dana hanya diam mendengarkan ucapan dari perempuan yang menelefon suaminya.

__ADS_1


"Wan? kamu masih di sana? aku cuma mau ngucapin terimakasih saja soal kemarin karena kamu sudah nolong aku." Dana langsung mematikan telefon itu. Perempuan itu masih mencerna ucapan dari Rachel yang baru saja ia dengar.


Dana langsung menutup telefon itu tanpa menanggapi ucapan Rachel.


"Lama ya? mana ice cream aku?" tanya Awan yang baru saja kembali dari kamar mandi.


"Kamu ketemu Rachel?" tanya Dana tiba-tiba.


"Tau dari mana?" kata Awan sedikit terkejut.


"Dia telfon kamu tadi, katanya nganterin makanan buat kamu."


"Kamu angkat telfon aku?" tanya Awan yang terlihat kesal dengan tingkah istrinya.


"Iya," jawab Dana singkat.


"Aku gak suka kamu buka-buka privasi aku."


"Wan," Dana terlihat kecewa dengan tanggapan Awan. Ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar. "Kita pulang sekarang." Dana lalu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju mobil.


"Aku belum selesai bicara." kata Awan menahan Dana.


"Gak di sini Awan, kamu gak tau tempat ya?" Dana berlalu dari hadapan Awan. Ia mempercepat langkahnya untuk sampai ke mobil.


"Aku gak suka kamu buka-buka HP aku." kata Awan sesampainya di dalam mobil.


"Wan, aku gak sengaja liat telfon dari Rachel, yaudah aku angkat."


"Mau itu telfon dari Rachel, mau dari siapapun aku gak suka kamu melewati batas Dana! paham?"


"Ada apa memangnya sampai kamu marah seperti ini? Masih ada hubungan sama Rachel? iya?"


"Dan, ini tentang privasi aku, aku juga gak pernah tuh buka handphone kamu. Gak pernah aku ngecek kamu lagi chating an sama siapa, kamu telfon sama siapa." jelas Awan.


"Kita bahas di rumah," kata Dana mengaitkan sabuk pengamannya.


"Dan dilihat mama iya? gak inget kita di mana? kita bahas di sini." kata Awan dengan tegas.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2