JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
NASIHAT MAMA


__ADS_3

Pukul 6 pagi mama menjemput Dana di rumah tante. Awan dan Dana sudah siap untuk pulang ke kota mereka hari itu juga. Mama yang sudah tau jika Awan berada di rumah adiknya itu sontak memberikan kabar ke tante Hesti. Mereka berdua cukup senang mendengar anak-anak mereka sudah mulai dekat dengan sendirinya.


"Udah siap-siap?" tanya tante Santi pada Awan. Awan lalu mencium tangan perempuan yang ada di depannya. Tante Santi datang bersama papa Dana dan juga adiknya.


"Sudah tante," Awan menjawab pertanyaan tante Santi dengan ramah.


"Semalam tante sudah telefon mamamu kalau kamu mau pulang sama tante." Awan hanya tersenyum dan mengangguk tanda mengerti. Mereka lalu berpamitan pada tante Ari dan anak-anaknya.


Pagi itu, Suasana jalanan di Jogja cukup lengang. Mungkin karena hari masih cukup pagi, jadi tak terlihat banyak kendaraan yang melintas.


Di dalam mobil, mama Dana duduk di sebelah papa perempuan itu. Di barisan tengah mobil ada Dana, Awan dan Niko adik Dana. Itu pertamakalinya Awan bertemu dengan keluarga Dana secara lengkap. Dirinya cukup canggung dengan suasana itu.


"Pekerjaanmu gimana nduk? lancar?" tanya mama pada Dana. Perempuan itu hanya mengiyakan pertanyaan mamanya dengan singkat.


"Kamu gimana Wan?" mama lalu berganti bertanya pada Awan.


"Alhamdulillah lancar tante,"Awan tersenyum mendengar pertanyaan tante Santi.


"Ini mobil tahun berapa pak?" Awan membuka pembicaraan dengan papa Dana. Tak lama, mereka tampal asyik mengobrol soal otomotif. Awan bahkan menanyakan funiture mobil yang ada di dalam. Beberapa kali adiknya juga menimpali jawaban dari pertanyaan Awan.


Dana yang tak mengerti hanya mendengarkan percakapan mereka bertiga. Dia tak paham sejak kapan obrolan diantara papa, Niko dan Awan menjadi sangat renyah.


"Kamu suka otomotif?" Dana sedikit berbisik bertanya pada Awan.


"Aku main mobil banget tau, dari dulu aku pingin beli mobil ini." Dana hanya mengerutkan dahi mendengar ucapan Awan.


Setelah 2 jam perjalanan, Tibalah mereka di kota kecil itu. Dana membuka jendela ketika sampai di jalan dekat sawah yang masih terlihat asri dan sejuk.


"Wellcome home!" kata Dana sembari menghirup udara pagi yang ada di luar.


"Jauh kah Wan rumahmu?" kata Dana yang masih melihat ke luar jendela sambil menikmati angin yang menerpanya. Perempuan itu memang belum pernah sekalipun datang ke rumah adik kelasnya itu.

__ADS_1


"Palingan 10 menit lagi sampai." Jawab Awan pada Dana. Dirinya memperhatikan tingkah Dana yang kekanak-kanakan.


"Dingin kak, tutup ah! kayak anak kecil." Adik Dana menutup kaca jendela yang tadi dibuka oleh Dana. Perempuan itupun mencibik dan menekuk wajahnya. Awan tertawa mendengar adik dan kakak itu bertengkar.


Awan juga memiliki adik yang usianya hanya terpaut 1 tahun dibawahnya. Ia dan adiknya juga sering kali bertengkar seperti Dana dan adiknya. Tapi bedanya, Tata adik Awan yang bertingkah seperti anak kecil. Sementara, di sini Dana yang bertingkah seperti anak kecil.


"Kamu kayak Tata saja kak!" Awan masih tertawa melihat keduanya terkadang saling memukul. Dana benar-benar sangat jahil pada adiknya itu. Awan menemukan sisi lain lagi dari perempuan yang selalu ia anggap dingin itu.


"Adikmu? beda lah, Aku lebih tua."


"Lebih tua apanya? dasar bocil! kayak gitu kok bisa udah kerja. Hu!..." Kata Niko adik Dana. Dana lalu memukul adiknya itu dengan bantal yang ada di dalam mobil.


"Udah, malu itu lo dilihat Awan!" Mama menghentikan perkelahian antara kedua saudara itu.


Setelah sampai di rumah Awan, tante Hesti menyuruh mereka untuk duduk di kursi ruang tamu. Perempuan itu menyiapkan berbagai jenis camilan dan teh manis untuk menyambut kami. Awan langsung bergegas ke kamar dan izin untuk membersihkan diri.


"Kok bisa pulang barengan? janjian?" tanya Tante Hesti pada Dana.


"Kabar pacar kamu gimana?" Dana hampir tersedak ketika mendengar pertanyaan perempuan itu.


"Baik tante, Alhamdulillah,"


"Kok gak pulang bareng kamu? Dia anak kota sini kan?"


"Kak Wisnu sedang sibuk tante, kalau akhir bulan memang sedikit lebih sibuk dari hari-hari lainnya. Besok Senin ada lelangan barang ilegal juga soalnya tante." (Yang bekerja di bidang ini sepertinya paham maksudnya ya?)


"Oh seperti itu," Tante Hesti hanya mengangguk tanda jika ia paham akan penjelasan Dana.


Setelah itu, Dana dan keluarganya pamit untuk pulang.


"Sesibuk itu kah sampai tak mengantarmu nduk?" mama pada anaknya ketika di dalam mobil.

__ADS_1


"Namanya juga kerja ma, kan gak semua orang bisa sebebas Dana kalau hari libur."


"Tapi yang namanya laki-laki kalau cinta ya pasti akan dilakuin semua hal. Padahal dia kan bisa pulang juga. Masa dia rela pacarnya pulang sama laki-laki lain." Mama mencibir kak Wisnu. Dana hanya diam mendengar cibiran dari mamanya. Ia sebenarnya sependapat dengan mama. Tapi ia juga tak bisa menjelek-jelekan kak Wisnu di depan mamanya.


Dana memang tak memberi tahukan soal Awan yang pulang bersamanya kemarin. Dirinya tak mau hal kecil semacam itu akan membuat kak Wisnu salah paham atas dirinya. Terakhir kali ia bercerita soal Awan, tanggapan kak Wisnu tidak terlalu bagus. Kak Wisnu seperti tak suka pada Awan.


"Kamu itu ya nduk, cari laki-laki ya yang serius." kata mama pada putri kesayangannya.


"Kak Wisnu juga serius ma, lagi pula dia dan Dana sudah kenal cukup lama. Kak Sad juga sudah kenal dengannya." Dana mencoba membela kak Wisnu di depan mamanya itu.


"Kamu sudah pernah dibawa ke rumahnya? Bertemu dengan orang tuanya?"


"Ya belum, aku pacaran juga baru 2 bulan."


"Mau 2 bulan, mau 2 tahun. Kalau sudah pacar ya harusnya dikenalin. Itu kalau serius. Lagi pula kamu itu sudah 23 tahun nduk! Mau nunggu sampai umur berapa nikahnya?"


"Ma... kita kan sudah sepakat untuk tak membicarakan soal umur dan pernikahan."


"Ya memang, tapi kan mamamu ini sudah tambah tua nduk, pinginnya ya punya cucu! Kalau kalian serius yaudah nikah lah. Pekerjaan sudah mapan, Rumah katamu Wisnu sudah ada. Mau cari apa lagi?"


Dana sedikit memikirkan omongan dari mamanya. Apa yang dikatakan mamanya memang benar. Sebenarnya ia juga bertanya-tanya mengapa kak Wisnu seperti enggan membawanya untuk dikenalkan pada orangtuanya.


"Awan yang sudah pacaran 4 tahun saja belum nikah, dia sudah lama pacaran malahan. Kalau Dana kan baru 2 bulan." Dana coba mencari Alasan.


"Kalau itu beda kasus. Mereka memang tak semudah itu kalau mau menikah." Dana mengerutkan dahi tak mengerti.


"Kau tak tau jika mereka berbeda keyakinan?" mama melanjutkan kalimatnya.


Dana sedikit kaget mendengarnya. Ia terus bertanya-tanya apakah itu adalah penyebab keduanya putus beberapa hari yang lalu. Awan tak pernah menceritakan hal ini pada dirinya. Dana juga tak ingin ikut campur soal hubungan keduanya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2