JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
DAY 1


__ADS_3

Dana lalu menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Seperti yang Awan suka, Dana membuat roti panggang dengan selai coklat di dalamnya. Ia juga menyediakan sereal dan susu hangat untuk Awan. Dana membangunkan Awan yang memang tertidur setelah salat subuh.


"Awan bangun, sudah siang. Kamu ke kantor kan?" kata Dana sedikit berbisik. Awan hanya menggeliat di dalam selimut. "Wan?" Dana mencoba membangunkannya lagi. Setelah usahanya yang sangat lama, Awan akhirnya membuka mata perlahan.


"Hem..." katanya pada Dana.


"Bangun, sarapan dulu." kata Dana.


"Bangunin," Awan menjulurkan kedua tangannya meminta Dana untuk menariknya dari tempat tidur. Dana pun menuruti kemauan Awan. Ia menarik laki-laki itu sekuat tenaga. Tapi yang ada, Dana malah terjungkal ke belakang karena badan Awan yang jauh lebih besar darinya. Dana tak kuat menarik laki-laki itu.


Awan yang melihat Dana pun tertawa.


"Hahaha... kamu ngapain sih." Awan lalu bangun dari tempat tidur dan mencoba menolong Dana yang masih terduduk sambil menahan rasa sakit di pantatnya.


"Ih, iseng banget sih!" Dana memukul Awan yang kini duduk mensejajarkan diri dengannya. Ia masih tertawa dengan sangat puas seperti orang yang memenangkan permainan.


"Maaf, maaf... yok bangun!" Kata Awan mencoba membantu Dana bangun. Mereka lalu berjalan menuju ke ruang makan untuk sarapan.


"Kesukaan kamu." Dana memberikan roti itu pada Awan. Ia juga menuangkan susu ke sereal yang ada di mangkuk milik Awan.


"Kamu gak minum susu?" tanya Awan pada Dana.


"Enggak, aku suka enek kalo pagi minum susu. Jadi aku minum air putih aja." Kata Dana memakan roti yang ada di tangannya. Awan hanya mengangguk mengerti.


"O iya, kamu mau pindah kapan ke sini?"


"Pulang kerja nanti aku mau beres-beres kost dulu. Terus pamit juga kan sama bapak kost. Mungkin lusa? Sewa mobil pengangkut juga kan?" kata Dana yang masih sibuk mengunyah makanannya.


"Banyak barangnya?"


"Lumayan, ada lemari pakaian sama alat masak juga, terus ada koper-koper juga sih. Tapi tempat tidur dari kostnya. Jadi gak terlalu ribet sebenernya. Lemarinya juga kecil sih. Taruh di mana ya nanti?"


"Kamar 1 nya masih muat sih, disitu aja nanti." Dana hanya mengangguk mendengar ucapan Awan.


"Kamu gak kerja?" tanya Awan pada Dana.


"Kerja, masuk jam 9 nanti."

__ADS_1


"Temen kantor kamu tau kalau kamu nikah?"


"Belum, kalau tau sepertinya bakal heboh deh. Aku kasih tau pas kita resepsi aja deh. Sekalian nyebar undangan kan?" kata Dana pada Awan.


"Yaudah, senyaman kamu aja."


"Temen kantor kamu tau emang?"


"Tau lah, aku cuti gimana kalau mereka gak tau?"


"Aku cuti bilang mau acara keluarga."


"Ya kan beda Dan,"


"Iyasih,"


Setelah menghabiskan makanan, Awan lalu mencuci piring mereka berdua. Dana lalu menyapu lantai yang memang sudah beberapa hari ditinggal pemiliknya.


Awan lalu mandi di kamar mandi dalam. Dana lalu memilih mandi di kamar mandi yang ada di ruang tengah agar tidak terlalu siang berangkat ke kantornya. Ketika Dana keluar, Awan sudah rapi menggunakan baju kerjanya. Ia menenteng tas dan berjalan ke ruang tengah untuk memakai sepatu.


"Sudah siap?"


"Enggak, kamu duluan saja, aku mau mampir kost dulu. Nanti aku naik ojek online saja."


"Gak papa?" tanyanya pada Dana.


"Iya, gak papa, kan biasanya gitu. Dah kamu mending berangkat sekarang. Nanti telat kalau kelamaan." Dana menarik tangan Awan dan mendorongnya ke arah ruang tamu agar ia cepat berangkat.


"Tapi kan..."


"Ih bawel! udah berangkat. Kunci rumah aku taruh di atas pintu ya nanti?" Dana melipat kedua tangannya dan bersender di depan pintu. Ia tersenyum melihat Awan yang sudah ada di luar.


"Beneran?" Dana mengangguk dengan yakin.


"Yaudah, berangkat ya? assalamualaikum?" katanya pada Dana. Perempuan itupun menjawab salam Awan dan melambaikan tangan ke arah Awan. Mobil suaminya pun pergi meninggalkan halaman rumah itu.


Dana juga bersiap untuk pergi ke kantor. Ia berganti pakaian dan memesan ojek online. Dana mampir ke kostnya sebelum pergi ke kantor. Ia mengambil tas dan beberapa dokumen yang akan ia bawa.

__ADS_1


Setelah itu, Dana pergi ke kantornya. Ia lalu duduk di tempat duduk di ruangannya. Tak lama berselang, kak Lita dan rekan kerjanya yang lain pun datang.


"Hai kak?" sapa Dana pada rekan kerjanya.


"Wih, ada yang baru datang dari kampung halaman nih?"


"Nih," Dana membawakan 2 kantong besar makanan yang ia beli untuk rekan kerjanya. Tak lupa Dana juga memesankan kopi untuk mereka semua. Hal itu ia lakukan untuk menebus cuti dadakan yang ia ajukan nenerapa hari yang lalu. Seluruh rekan kerjanya berkumpul di meja yang ada di tengah ruangan itu.


"Aku suka ini." Kata kak Lita merebut carica yang Dana bawa.


"Aku mau ini sih," Kak Rindang mengambil snack yang ada di meja. Rekan kerja Dana yang lainpun mengambil topless untuk menempatkan camilan yang Dana bawa.


"Kopinya," kata Dana membawa kopi yang dia order pagi ini.


"Pesta ini, emang firasatku gak pernah salah. Dana mudik, kita party" Kata Kak Lita senang.


"Wah banyak makanan ini?" kata pak Andan ketika memasukki ruangan.


"Iya pak ini." kata kak Rindang dengan sopan. Dana lalu mengikuti pak Andan yang masuj ke ruangannya.


"Pak ini oleh-oleh untuk bapak." kata Dana dengan sopan.


"Buat saya? Terimakasih Dan, acara apa ini?"


"Maaf pak kemarin saya mengajukan cuti dadakan."


"Iya iya, duduk dulu." Pak Andan yang sepertinya tahu Dana akan membicarakan sesuatu dengannya lalu mempersilahkan untuk duduk. Dana lalu mengikuti instruksi atasannya itu.


"Sebenarnya alasan saya mengambil cuti kemarin karena saya menikah pak, Mungkin terkesan mendadak, tapi sebenarnya ini sudah dirancang 2 tahun yang lalu. Alhamdulillah, akadnya sudah dilaksanakan minggu kemarin. Rencananya mungkin 4 bulan lagi resepsinya, sekitar pertengahan Oktober."


"O iya? alhamdulillah, dari kemarin saya kan tanya sama kamu, kapan nikahnya. Ternyata sudah? saya kira memang tidak jadi."


"Iya pak, maaf saya tak memberi kabar kantor juga, kemarin hanya mengajukan izin acara keluarga. Dadakan soalnya pak, dulu memang yang kak Lita katakan itu ya memang benar saya dijodohkan. Cuma dulu saya kan masih menolak, gatau kalau ternyata memang dikasih jalan malah jodohnya dia." Dana tersenyum menceritakan hal itu pada atasannya. Mereka lalu berbincang sejenak. Pak Andan lalu mencoba mengerti kondisi bawahannya itu. Pak Andan mengucapkan selamat pada Dana atas pernikahannya.


"Tapi pak, saya minta tolong jangan cerita dulu ya pak sama yang lain. Nanti saya cerita waktu saya bagi undangan saja."


Pak Andan pun menyetujui permintaan Dana. Ia lalu keluar ruangan setelah mengobrol dengan pak Andan. Hari itu adalah hari pertama ia masuk kerja setelah menikah. Tak ada yang special, hanya saja ia merasa lebih bersemangat dari hari sebelumnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2