
Mereka berdua sampai di rumah dengan selamat. Malamnya, mama Hesti menelefon menantunya. Ia ingin memberi kabar pada Dana tentang persiapan resepsi pernikahan mereka.
"Halo ma?" sapa Dana dari telefon.
"Halo sayang, gimana kabarnya?" tanya mama pada Dana.
"Alhamdulillah mah baik, mama gimana? tumben malam-malam telfon Dana?" tanya Dana pada mama. Awan yang melihat Dana sedang menelefon seseorang lalu menguping di sebelah istrinya.
"Mama baik, ini nduk, jadi untuk bahan yang buat seragam itu, nanti jadinya mama yang urus dengan mama kamu, tante Ari juga mau bantu cari nanti di Jogja, kalau kamu bisa pulang, nanti langsung ke Jogja saja ya? kita ketemu di sana." kata mama pada Dana. Perenpuan itu hanya mengiyakan ucapan mama. Ia cukup senang karena jika bertemu keluarga di jogja, tandanya Awan dan Dana bisa menghemat tenaga karena dapat pulang menggunakan kereta.
"Yasudah ma, nanti Dana dan Awan langsung ke Jogja saja ya ma?" kata Dana pada mama.
Mama lalu menutup telefonnya setelah berbincang dengan menantunya. Awan yang mendengar percakapan istri dan mama nya langsung memesan tiket kereta menggunakan aplikasi.
Haripun berganti hari, tiba saat keduanya harus pergi ke Jogja untuk membeli bahan pakaian. Mereka berdua menaiki kereta sore ke Jogja. Dana duduk di kursi dekat jendela, Awan duduk di sebelah istrinya.
"Wan, ingat gak? terakhir kita naik kereta itu waktu kita belum menikah."
"Ya, ingat. Yang ketemu sama pasangan kakek dan nenek itu kan?"
"Iya, gimana keadaan mereka ya?" Dana menyenderkan kepalanya pada pundak Awan. Tangan Awan pun mengenggam tangan istrinya.
"Wan, i love you?" kata Dana spontan. Belum sempat menjawab perkataan Dana, handphone milik Awan berbunyi.
"Sebentar, ada telefon masuk." Awan lalu beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Dana. Ia mengangkat telefon yang sedari tadi berdering. Itu adalah telefon dari Rachel.
"Halo Wan? kamu sudah berangkat?" tanya Rachel dari balik telefon.
"Iya sudah, kamu gimana keadaannya?"
"Aku baik, ini lagi nunggu taxi. Makasih banyak ya Wan, kalau gak ada kamu aku gak tau harus gimana." kata Rachel pada Awan.
__ADS_1
"Sama-sama Chel, maaf juga aku gak bisa antar kamu pulang." Awan merasa sedikit menyesal karena tak dapat banyak membantu Rachel.
"Gak papa, aku malah gak enak sama kamu sudah banyak merepotkan, apalagi kamu sudah urus administrasi segala macam." Rachel yang masih duduk di kursi yang ada di depan rumah sakit pun kini mencoba untuk berdiri.
"Wan, taxi nya sudah datang, aku tutup ya telefonnya?" kata Rachel pada Awan. Awan mengusap kasar wajahnya. Ia sadar harusnya tak ada yang harus ditutupi dari Dana. Tapi entah mengapa mulutnya tak pernah dapat mengucapkan kata-kata ketika akan menjelaskan semuanya pada istrinya.
Awan lalu kembali ke tempat duduknya. Disana terlihat Dana yang masih memainkan handphone miliknya.
"Telefon dari siapa Wan?" tanya Dana ketika melihat Awan datang.
"Teman," Dana masih menunggu penjelasan dari Awan. Tapi, hanya 1 kata yang keluar dari mulut laki-laki itu. Dana sebenarnya sedikit aneh dengan tingkah laku Awan. Tapi, selayaknya seorang wanita yang masih memegang kepercayaannya pada suaminya, Ia tak meneruskan pertanyaannya. Dana mencoba menunggu Awan untuk terbuka padanya.
"Kamu kalau ada apa-apa boleh loh cerita sama aku." kata Dana tersenyum. Awan hanya mengacak rambut Dana dan tersenyum melihat istrinya.
Setelah beberapa jam perjalanan, mereka pun sampai di Jogja. Langit pagi masih belum terlihat di sana. Hanya beberapa bintang yang masih bersinar karena tak tertutup oleh awan. Tante menjemput mereka di stasiun. Mereka langsung pulang ke rumah tante untuk beristirahat. Mama dan mertua Dana akan datang ke Jogja esok pagi, sehingga malam itu hanya Dana dan Awan yang menginap di rumah tante Ari. Dana langsung naik ke kamar atas karena sudah sangat mengantuk. Sementara itu, Awan mengikuti Dana di belakang. Mereka membereskan barang-barang dan membersihkan diri.
"Wan, aku tidur dulu ya? aku ngantuk banget." kata Dana pada Awan. Awan hanya mengangguk setuju. Ia masih sibuk dengan handphone miliknya. Awan duduk di balkon kamar Dana. Entah apa yang ada di pikiran Awan saat itu. Ia hanya menatap layar handphone dan sesekali menatap ke arah langit yang mulai terang karena datangnya pagi. Dana bangun untuk sholat subuh. Dilihatnya Awan tak ada di sebelahnya. Ia lalu keluar untuk mencari Awan.
"Dingin kamu kalau seperti itu," Kata Awan mengusap pipi istrinya.
"Mau subuh sekarang?" tanya Dana. Awan hanya mengangguk dan tersenyum pada Dana. Ia lalu membantu Dana untuk berdiri.
Setelah mengambil air wudhu, mereka pun melaksanakan salat subuh berjamaah.
Tepat pukul 7 pagi, mama Santi dan mama Hesti pun datang. Mereka lalu bersiap untuk belanja ke toko kain. Tante dan Om Dana dan Nanda pun ikut berbelanja. Dana, Nanda dan Awan memilih untuk memakai mobil tante Ari agar bagasi mobil dapat menampung lebih banyak barang nantinya. Kedua mobil itu melaju beriringan menuju toko kain yang cukup terkenal di daerah Jogja. Sesampainya di sana, mereka memilih banyak bahan untuk keluarga besar kedua belah pihak. Tante yang sedang memilih kain pun seperti biasa melontarkan candaannya.
"Bahan untuk kamu dibuat sedikit lebih saja mba, siapa tau pas hari H sudah isi kan?" mama Hesti hanya tertawa dan mengamini ucapan tante Ari, sementara mama Santi hanya tersenyum penuh arti. Dana hanya menunduk sembari tersenyum. Awan yang paham ekspresi istrinya hanya mengamini ucapan tante Ari, Ia lalu mengelus pundak Dana dengan lembut.
Setelah berkutat dengan bertumpuk-tumpuk kain yang mereka beli, Akhirnya mereka selesai berbelanja. Mereka pun mampir ke tempat makan untuk makan siang. Awan dan Nanda sudah terlebih dulu turun dari mobil. Sebelum Dana turun dari mobil, Ia mendengar handphone Awan yang berbunyi. Ia mengambil handphone itu dari tas milik Awan.
"Rachel?" Dana mengerutkan dahi ketika melihat nama yang tertera di layar. Dana melihat Awan masih menunggunya di luar mobil. Ia sedang asyik mengobrol dengan Nanda sembari menunggu mobil yang lain selesai parkir.
__ADS_1
Dana mengangkat telefon itu.
"Halo?" sapa Dana dari balik telefon.
"Halo, Dana ya?"
"Iya, ada apa telfon suami saya?" tanya Dana ketus.
"Maaf gangu Dan, Aku cuma mau ngabarin Awan aja kalau adik aku sudah dateng, jadi dia gak perlu khawatir lagi." Dana tak paham dengan ucapan wanita yang ada di balik telefon itu.
"Untuk apa ya suami saya khawatir dengan kamu?"
"Enggak Dan maksudnya,..."
"Gini ya, Saya tidak perduli dengan masa lalu kalian. Tapi laki-laki yang kamu telfon ini sudah menikah. Jadi lebih baik kamu tak pernah lagi menghubunginya. Paham?"
Dana langsung mematikan telefon itu. Pikirannya benar-benar kacau. Nafas Dana tak teratur karena marah. Ia menatap Awan yang masih ada di luar mobil dengan tatapan kecewa.
Awan menatap Dana dari luar mobil. Ia merasa sedikit aneh karena Dana tak kunjung keluar dari mobil.
"Kok gak keluar?" tanya Awan membuka pintu mobil yang ada di sebelah Dana.
"Aku gak laper, bisa kita pergi dari sini?" tanya Dana mencoba menenangkan diri.
"Tapi yang lain kan mau makan Dan, kita tunggu mereka makan, baru kita jalan-jalan, oke?"
"Bisa kita pergi sekarang? saya mau bicara sama kamu." kata Dana tegas.
"Oke, aku bilang ke mama dulu." kata Awan akhirnya menurut. Awan lalu berbicara pada mama jika ia dan Dana tak bisa ikut makan siang. Ia juga berjanji akan kembali setelah mereka selesai makan siang.
...****************...
__ADS_1