
Awan tertawa mendengar ucapa Dana. Perempuan di sampingnya itu hanya menyender di kursi. Ia lalu memejamkan matanya sejenak. Riuh jalan itu tak begitu diperdulikannya. Awan menengok ke arah kakak kelasnya. Ia tersenyum mendapati Dana yang tampaknya tertidur.
Awan menyenderkan kepala Dana pada pundaknya. Sesekali ia menyapu rambut halus yang menutupi wajah perempuan itu.
"Bagaimana kau bisa tidur di tengah keramaian begini?" kata Awan lirih. Ia masih memandang lekat perempuan di sampingnya.
Sekitar 1 jam Awan tak mengubah posisinya. Tangannya pun mulai pegal karena Dana masih menyender padanya. Awan melihat ke arah depan tempat dimana banyak sekali pasangan muda mudi yang lewat. Ada beberapa dari mereka yang tampak bercengkrama mesra. Ada pula beberapa dari mereka yang bergerombol bersama teman atau saudara mereka.
Dana lalu terbangun karena gerakan tangan Awan yang merasa kesemutan.
"Jam berapa? kenapa kamu gak bangunin aku?" tanya Dana ketika matanya terbuka. "Kepalaku..." Dana memegangi kepalanya yang sedikit pening.
"Dah bangun? nyenyak tidurnya?" tanya Awan pada perempuan itu.
"Hem..." Angguk Dana.
"Pulang yok? nanti kemalaman, besok harus pulang ke Jakarta kan?" Awan menjulurkan tangannya pada Dana. Perempuan itu lalu menerima bantuan tangan Awan.
Mereka pun meneruskan berjalan menuju tempat parkir. Setelah itu, mereka mengendarai mobil menuju rumah om Dana.
Sesampainya di rumah, Dana turun dari mobil disusul oleh Awan. Mereka berdua lalu dihadang oleh om Iyan.
"Dari mana seharian baru pulang?" Mata om Iyan memicing menunggu jawaban dari Awan dan Dana. Ia melipat kedua tangannya khas bapak yang sedang mengintrogasi anak mereka.
"Dana kan bilang om, kita dari Braga." Dana lalu masuk ke dalam rumah untuk menghindari pertanyaan macam-macam dari om nya itu. Awan masih tertahan di luar oleh om Iyan.
"Duduk!" kata om iyan pada Awan.
Awan pun meringis dan menututi ucapan om Iyan. Ia tau jika dirinya membawa Dana pergi sejak tadi pagi sampai hampir larut malam.
Om Iyan lalu duduk di sebelah Awan.
"Tadi kemana saja? Kenapa baru pulang?" tanya om Iyan menyelidik.
"Tadi nonton om, terus lanjut Dana muterin mall, abis itu kita makan siang, terus sholat..."
"Bagus," kata om Iyan mengangguk pada Awan."Lanjut!"
"Terus tadi jalan-jalan di sepanjang jalan Braga. Kita beli ice cream, terus Dana minta di fotoin di beberapa tempat. Dana beli pembatas buku seharga 650 ribu." Jelas Awan.
"650 ribu? pembatas buku dari apa itu? emas?" tanya om Iyan kaget.
"Nah, Awan gak paham juga tuh om, bisa tanya sendiri ke Dana."
__ADS_1
"Yaudah lanjut," om Iyan menyuruh Awan melanjutkan ceritanya.
"Setelah itu, Kita ke masjid buat sholat. Terus kita makan malem sekalian sholat maghrib di sana."
"Makan malam sampe jam berapa?" tanya om Iyan memotong pembicaraan Awan lagi.
"Jam 9 om tadi, macet soalnya jalannya jadi lama sampai rumahnya." Om Iyan hanya mengangguk mendengar ucalan Awan.
"Jadi, kapan mau ngelamar?" Awan kaget dengan ucapam om Iyan.
"Ngelamar om?" Awan tak kalah kaget mendengar perkataan om Iyan.
"Lah iya, sudah bawa ponakan saya sampai malam lo, nginep di tempat saya. tidur di tempat tantenya kemarin ta di Jogja? jadi kapan?"
"Om tapi..."
"Jangan sampai ya saya liat kamu macem-macem sama ponakan saya. Habis kamu di tangan saya."
"Enggak om, saya sana Dana itu temen."
"Gini Wan, banyak yang nganteri mau deketin dia, tapi saya tahan semuanya karna tau kalau kamu mau dijodohkan dengan dia. Jangan sampai saya kenalkan Dana ke yang lain ya, gak bakal mampu kamu bersaing sama mereka."
Tak lama, Dana keluar dari rumah karena ia melihat Awan belum ada di kamarnya.
"Om kok belum masuk sih? kasihan Awan belum mandi." Kata Dana pada om Iyan.
Dana keheranan melihat tingkah Awan yang seperti kaget dan canggung.
"Kenapa?" Tanya Dana pada Awan.
"Gak papa," Awan lalu masuk mendahului Dana.
Setelah membersihkan diri, mereka berdua lalu tidur di kamar masing-masing.
Awan masih memikirkan ucapan om Iyan, dirinya memang belum ada niat sedikitpun untuk melamar kakak kelasnya itu. Apalagi Dana baru saja putus dari Wisnu. Dirinya juga belum dapat melupakan Rachel. Jadi ia berfikir untuk tak terlalu memusingkan ucapan om Iyan.
**
Pagi harinya, Awan dan Dana bangun di pagi buta. Mereka sudah bersiap untuk pulang ke Jakarta sebelum subuh. Hal itu karena mereka tak dapat mengambil cuti.
"Sudah semua?" tanya Awan pada Dana ketika memasukkan barang-barang ke mobil.
"Sudah." Jawab Dana singkat. Mereka berdua lalu berpamitan dengan om dan tante.
__ADS_1
"Ati-ati ya, gak usah ngebut. Kata tante Eni pada Dana. Perempuan itu hanya mengiyakan ucmcapan tantenya.
"Hati-hati ya? Inget pesan saya Wan," Kata om Iyan pada Awan. Dana masih tak paham dengan ucapan om nya itu. Ia hanya mengerutkan dahi mendengarnya.
Di dalam mobil, Dana memandang Awan dengan penasaran.
"On aku ngomong apa sih?" tanya Dana pada Awan.
"Gak papa, gak usah dipikirin." Jawab Awan. Pandangannya kini mengarah lurus ke depan. Matahari belum menampakkan sinarnya saat itu. Dana masih terjaga dan mengobrol dengan Awan. Takut-takut kalau Awan mengantuk karna lelah.
Setelah 1 jam perjalanan, mereka mampir ke rest area untuk sholat dan membeli minuman.
"Nih minum." Awan memberikan 1 cangkir teh panas yang ia beli dan seduh di mini market.
"Makasih," kata Dana tersenyum.
"Dan, boleh aku tanya sesuatu?"
"Hem...Boleh," kata Dana.
"Memangnya kamu banyak dikenalin sama temen om mu?"
"Tau dari mana? om cerita?" Dana sedikit kaget mendengar pertanyaan Awan.
"Iya," Dana tertawa mendengar jawaban Awan.
"Jadi itu yang om ku bicaran denganmu?" "Kenapa kamu gak mau?"
"Hem, kenapa ya? aku juga gak tau sih, dulu sih karna aku masih belum move on dari kak Wisnu. Tapi sebagian besar karna gak cocok aja." Kata Dana pada Awan. Ia masih menyeruput teh yang ada di gelasnya.
"Pegawai pemerintahan juga?"
"Iya, ada yang perajurit juga, ada yang anaknya sepupunya ibuknya tanteku juga. Bingung kan? tapi belum ada yang sreg sih. Terus om ku tau aku dijodohin sama kamu kayaknya. Abis itu gak pernah lagi ngenal-ngenalin aku ke siapapun."
"Kalau sekarang? kamu kan sudah putus dari Wisnu, kalau mereka ada yang dikenalin sama kamu terus kamu langsung di lamar, mau?"
"Kau pikir apaan langsung lamar-lamar?" Dana tertawa mendengar ucapan Awan.
"Ya siapa tau kan?"
"Aku simpel sih, kalau aku yang penting kenal dulu sama aku, tau aku dulu. Kalau dia bisa berkompromi sama keras kepalanya aku, batu nya aku. Bisa nerima aku dengan kondisi aku yang kayak gini, terus dia bisa membangun hubungan baik sama keluarga aku, bisa berfikiran dewasa, ya aku oke-oke aja. Yang paling penting sih harus bisa diterima keluarga aku. Dah mutlak itu."
Awan tersenyum mendengar ucapan Dana.
__ADS_1
"Kenapa sih kamu tanya hal semacam ini?"
...****************...