JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
KEMARAHAN AWAN


__ADS_3

Dana begitu terkejut melihat apa yang ada di dalam bungkus kardus itu. Ternyata terdabat 6 kotak yang lebih kecil di sana. Dana membuka kotak itu satu per satu. Kotak pertama, berisi sepasang handuk kimono dan 2 buah gelas yang sangat lucu. Kotak kedua berisi 1 set peralatan memasak dengan warna yang cantik. Kotak ketiga berisi sebuah amplop yang membuat Dana penasaran. Setelah dibuka, ternyata isi dari amplop itu adalah voucer liburan di sebuah hotel yang ada di daerah puncak. Hadiah ke empat adalah sebuah hiasan dinding yang sangat lucu dan unik. Hadiah selanjutnya adalah sebuah paket body spa yang ditata sangat cantik di dalam kotak. Hadiah yang ada di tumpukan paling bawah adalah sepasang pakaian tidur yang lucu untuk dirinya dan juga Awan.


Dana sangat senang mendapat hadiah dari teman-temannya. Ia lalu memeluk mereka semua.


"Ini bukan seperti hadiah untuk pernikahan tau gak sih, semacam hadiah ulang tahun untuk Dana." kata Difa tertawa.


"Gak papa, lusa kan dia ulang tahun," Dana tertawa mendengar ucapan Arin. Ia senang ternyata mereka masih ingat dengan hari ulang tahunnya.


"Kamu kenapa Dan tiba-tiba mutusin buat nikah sama Awan?" tanya Tiya pada Dana.


"Kenapa ya? hem... jujur sebenarnya itu dipaksa sih, mama nemuin aku lagi di rumah Awan waktu itu."


"What? kamu sudah nyicil?" Dina tampak kaget menanggapi ucapan Dana.


"Ih bukan, dengerin dulu! itu salah paham, waktu itu gak sengaja aku dateng pas Awan sakit. Jadi aku nginep di rumahnya niatnya ya cuma nolongin. Terus sempet rebutan makanan gitu, ya intinya mama salah paham saja. Terus gak tau, Awan tiba-tiba ngajak nikah juga. Yaudah sih, mungkin jodoh." kata Dana menerangkan.


"Absurd banget ceritanya." kata Wiwi padanya.


"Kalau aku jelaskan, tiga hari tiga malam kita gak tidur. Gak akan selesai!" kata Dana tertawa.


Malam itu, mereka bercerita banyak hal sampai tertidur. Mereka tidur saling berjejer di kasur lantai. Arin, Dina dan Wiwi tidur di atas sementara yang lainnya memilih untuk tidur di bawah. Walaupun kost Arin terbilang cukup besar untuk ukuran kamar kost, tempat itu tetap saja tak akan mampu menampung mereka ber 7 di dalam 1 buah kasur. Saat itu, Dana yang belum bisa tidur memilih untuk keluar dari kamar Arin dan menghirup udara dari balkon kamarnya. Dana juga membawa handphone nya yang sedari tadi ia letakkan. Ia takut jika Awan menelfonnya. Ternyata benar, 30 panggilan tak terjawab dari Awan. Dana tak mendengar panggilan itu karena handphone nya selalu dalam mode diam. Banyak sekali pesan yang masuk dari Awan. Dana menutup mulutnya karena kaget.


"Mampus, Awan pasti marah padaku." kata Dana bermonolog.


Dana lalu menelefon Awan. Ia menggigit kukunya karena cemas jika Awan benar-benar marah padanya.


"Masih inget punya suami?" tanya Awan dari balik telefon.


"Halo? Assalamualaikum suamiku." kata Dana dengan nada sehalus mungkin.


"Waalaikumsalam." dari nada bicara suaminya, Dana tau betul jika Awan sangat marah padanya.


"Maaf, aku asik berbincang dengan temen-temenku tadi. Jangan marah ya? aku kan jarang ketemu mereka."


"Saya tak pernah melarangmu untuk menginap atau bermain dengan teman-temanmu. Tapi apa pantas jika perempuan yang sudah punya suami tak bertanya kabar suaminya bahkan setelah ia pergi? Bisa ya istri gak cemas suaminya pergi ke mana?"

__ADS_1


"Ya aku kan tau kamu pasti langsung pulang." Kata Dana lirih.


"Terus gak ditanya gitu? gak cemas gitu? kalau aku gak sampai rumah gimana? kalau aku ada apa-apa di jalan gimana?"


"Kamu kok ngomong gitu sih?" kata Dana merasa bersalah. "Iya maaf Awan, maaf... aku salah." kata Dana.


"Memang salah." jawab Awan tegas.


"Kamu mau aku gimana deh, berlutut sekarang? atau gimana deh supaya kamu gak marah lagi." kata Dana mengacak rambutnya.


"Bilang aku ganteng 50 kali." Dana membuka mulutnya karena kaget. Ia bahkan menjauhkan handphone nya dari telinganya karena tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. "Mau gak?" tanya Awan lagi karena Dana tak menanggapi ucapannya.


"Yaudah, Awan ganteng, Awan ganteng..."


"Suamiku." kata Awan mengoreksi.


"Suamiku ganteng, aduh ganteng banget suami berondogku. ganteng banget, Awan ganteng banget, udah berapa kali tadi? Awan ganteng, suamiku ganteng, Awan suamiku yang paling ganteng..." Dana mengulangi kata-katanya terus menerus. Hal itu membuat Awan menahan tawanya di balik telefon. Ia terus menghitung kata 'ganteng' yang keluar dari mulut Dana menggunakan jarinya.


"Yaudah tidur sana." kata Awan menghentikan ucapan Dana. Perempuan itupun menghela nafas lega.


"Minum air kran."


"Enak saja!" kata Dana sewot.


"Yasudah tidur, besok aku jemput pagi. Jangan telat bangun." Kata Awan pada Dana.


"Yasudah, kamu juga jangan telat bangun, night!" kata Dana.


"Night, Miss you." Dana mengulum senyum mendengar kata-kata dari Awan. Perempuan itu hanya diam tak menjawab sepatah katapun. "Gak di jawab?" tanya Awan yang masih belum menutup telefonnya.


"Iya, makasih." Perempuan itu sebenarnya tak tau bagaimana cara menjawab ucapan Awan. Ia cukup malu dan gengsi untuk membalasnya.


"Cuma makasih?" ada sedikit kekecewaan dari dalam hati Awan karena kata-katanya tak dibalas oleh istrinya. Awan kecewa karena tak mendapat jawaban yang diinginkannya.


"Iya, yaudah bye!" kata Dana menutup telefon tiba-tiba. Awan hanya melihat layar handphonenya dengan kesal. Ia menghela nafas karena Dana mematikan telefon darinya.

__ADS_1


Awan masih menggerutu sembari melihat ke arah handphone nya. Tak lama, ia mendapat pesan dari Dana. Pesan yang akan membuatnya tenang dan tidur nyenyak.


WIFE Miss you too...


Entah mengapa Awan tersenyum senang melihat pesan itu. Hatinya seakan melayang di udara. Senyumnya tak juga kunjung hilang bahkan ketika Ia mencoba memejamkan matanya.


Disisi lain, Dana yang mengirim pesan pada Awan pun merasa sangat malu.


"Kok panas ya?" kata Dana bermonolog. Wajahnya terlihat merah padam di bawah cahaya bulan yang menerpanya. Angin malam tak dapat menurunkan suhu tubuhnya yang naik. Tak lama, Dana pun kembali ke kamar. Ia mencoba untuk tidur walaupun sebenarnya Ia tak bisa tidur dengan tenang. Beberapa kali Ia membuka handphone yang tetap ia genggam. Pikirannya masih tertuju pada kebodohannya mengirim pesan itu pada Awan.


***


Sesuai janji, Awan menjemput istrinya setelah subuh. Dana sudah lebih dulu mandi dan bangun. Ia lalu berpamitan kepada teman-temannya karena Awan sudah menunggu di bawah.


Arin dan Dina membantu membawakan kardus hadiah yang semalam mereka berikan untuk Dana. Sementara Difa, Bila dan lainnya masih tertidur pulas setelah subuh.


"Makasih ya?" kata Dana berpamitan.


"Iya hati-hati ya? aku masih lama di sini. Nanti kita main lagi ya?" kata Dina pada Dana. Mereka lalu berpelukan tanda perpisahan.


"Pulang ya mba?" kata Awan berpamitan kepada teman Dana.


Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil. Dana membuka kaca mobil untuk melambaikan tangan pada mereka berdua.


"Miss you too..." kata Awan tanpa melihat ke arah Dana. Sontak kata-kata itu membuat matanya yang sedari tadi masih mengantuk kini membuka sempurna. Ia menatap Awan tanpa berkedip.


"Miss you too..." kata Awan mengulangi ucapannya.


"Ih Wan, apaan sih?" Awan lalu tertawa karena istrinya yang terlihat salah tingkah.


"Lagian, gengsi banget! bales miss you aja lewat pesan." Awan lalu tertawa karena sepertinya godaannya kepada Dana berhasil membuat pipi wanita di sebelahnya itu memerah.


"Awan!" Wanita itu mencubit lengan suaminya. Ia benar-benar merasa malu karena kebodohan yang ia perbuat semalam.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2