JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
PERTENGKARAN TERAKHIR


__ADS_3

Awan menunggu Rachel di dalam rumah perempuan itu. Dirinya yang cemaspun tak bisa melakukan apapun.


Setelah beberapa jam Awan menunggu, Ia mendengar suara pintu terbuka. Itu adalah Rachel. Ia pulang ke rumah dengan sempoyongan. Dari belakang perempuan itu terlihat seseorang yang sangat ia kenal.


Awan sangat terkejut melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Rachel tak kalah terkejut melihat Awan berada di dalam rumahnya.


"Wan..." Rachel melepaskan tangan laki-laki yang memapahnya itu.


Bruk! Awan menonjok laki-laki itu. Rachel berteriak karena kaget.


"Bangun!" Awan mencengkram krah baju laki-laki itu.


"Tenang Wan, ini gak kayak yang kamu fikirkan." Bang Evan mencoba berbicara pada Awan.


"Bang, Aku nganggep kamu kakak sendiri! tega ya?" Awan benar-benar marah pada Bang Evan.


"Wan, lepasin Evan!" Rachel mencoba memisahkan mereka berdua.


Evan lagi-lagi menerima pukulan dari Awan.


"Kamu kemana aja waktu Rachel butuh?" kata Evan pada Awan. Ia berdiri dan menatap wajah Awan dengan marah.


"Dia nyari aku karena pacarnya gak pernah ada buat dia, kalo kamu masih sayang sama dia, harusnya kamu perduli sama Rachel!" Bang Evan meninggalkan mereka berdua di dalam rumah. Ia benar-benar tak habis fikir dengan tingkah juniornya yang sangat emosional itu.


Flashback!


Rachel meminum wine yang ada di gelasnya. Sudah lama ketika ia terakhir meminum wine. Dirinya benar-benar dibuat mabuk hanya karena 1 gelas wine dan 1 botol beer. Ia tak tahan lagi dengan sikap Awan padanya. Ia stress memikirkan Dana yang terus berada di sekitar Awan.


Malam itu, Ia minum sambil menelfon Evan. Senior Awan di kantor. Awan mengenalkannya pada Evan 1 bulan yang lalu ketika mereka mempunyai projek bersama. Semenjak saat itu, Rachel sering kali bertanya kondisi Awan lewat Evan.


Malam itu, Rachel menelfonnya karena ia tak tau harus menceritakan masalah ini pada siapa.


"Aku gak tau lagi bang harus gimana sama Awan."


"Yaudah, kamu sabar aja sama dia, aku yakin Awan serius sama kamu." Evan menanggapi curhatan Rachel dengan sabar.

__ADS_1


"Wine ku habis, aku ingin membelinya sekarang." Rachel menuang sisa wine yang ada di botol ke gelasnya.


"Kamu mau beli dimana jam segini?" Evan tertawa mendengar omongan Rachel yang mulai melantur karena mabuk.


"Entahlah, aku gak kepikiran juga."


"Aku jemput ya? kita keluar biar kamu gak suntuk?"


Rachel mengiyakan ajakan bang Evan. Evan mengajak Rachel ke sebuah pantai yang ada di Jakarta.


"Memangnya kenapa mama Awan tak suka padamu?"


"Kau tak lihat pakaianku? Mama Awan mana suka perempuan yang memakai baju terbuka seperti ini." Rachel meminum beer yang ada di tangannya. Evan hanya menghela nafas mendengar ucapan perempuan itu.


"Menurutku itu kebebasan dari masing-masing orang sih. Kebebasan berekspresi." Rachel tertawa mendengar ucapan Evan yang sangat polos. Menurutnya laki-laki itu sangatlah naif.


"Bagaimana jika ia tak suka padaku karena aku berbeda?" Evan mengerutkan kening mendengar kata-kata Rachel. Ia sama sekali tak mengerti apa yang perempuan itu maksud. Melihat ekspresi Evan, Ia mengeluarkan kalung yang ada di lehernya. Itu adalah alasan mengapa mama Awan tak setuju jika ia dekat dengan Awan.


"Sekarang kau mengerti?" Rachel menunjukkan kalung salib yang selalu ia pakai. Itu adalah pemberian mamanya 10 tahun yang lalu.


Semenjak ia menerima kalung dari mamanya itu, Rachel berjanji untuk tak meninggalkan tuhannya meskipun ia menikah dengan Awan.


"Aku juga mencintai tuhanku." Kata Evan pada Rachel. Mereka berdua tersenyum saling menatap.


"Kalau saja bukan Awan, aku pasti akan merebutmu dari laki-laki itu." Perkataan Evan membuat Rachel membulatkan matanya. Ia menatap laki-laki itu dengan lekat.


Keheningan diantara mereka terpecah karena suara telefon yang masuk ke handphone Rachel.


"Gak diangkat?"


"Malas. Dari Awan." Kata Rachel pada laki-laki itu.


Flashback off!


**

__ADS_1


"Ada hubungan apa kamu sama Evan?" Awan menatap wajah perempuan di depannya itu dengan penuh amarah.


"Tak ada, dia hanya menghiburku." Rachel menjawab dengan santai. Perempuan itu berlalu dari hadapan Awan hendak menuju kamarnya. Ia masih berjalan dengan sempoyongan karena minuman yang ia minum tadi.


"Menghibur maksudmu dalam ranah mana Chel?" Tanya Awan menekan setiap kata yang diucapkannya.


"Apa yang kau pikirkan tentang aku memang Wan?" Wanita itu kembali dan menantap Awan dengan rasa kecewa. Ia tak menyangka jika laki-laki itu berfikiran macam-macam tentangnya.


"Semua pikiran yang ada di dalam otakmu Chel! Kau pikir aku tak tau siapa kamu?" Rachel menampar Awan dengan keras. Hatinya serasa sangat sakit mendengar ucapannya.


"Dengar ya, selama aku bersamamu, Tak pernah sekalipun aku menduakanmu. Aku bukan seperti kamu Wan!" Rachel menunjuk Awan. Air matanya mulai menetes mendengar ucapan Awan itu.


"Kamu pikir aku menduakanmu? Tak pernah sama sekali aku menempatkan perempuan lain selain kamu di hatiku."


"Dana? bagaimana dengan perempuan itu?" Rachel menatap mata laki-laki itu dengan lekat. Ia mencari jawaban dari pertanyaannya pada Awan disana.


"Aku dan dia hanya berteman sekarang. Kau tau hubungan perjodohan itu telah berakhir kan Chel? Harus bagaimana lagi aku menjelaskannya padamu?" Awan terlihat mengacak rambutnya frustasi.


"Bilang sama aku kalau kamu gak ada rasa sama Dana! Bilang kalau kamu gak jatuh cinta sama perempuan itu!" Tatapan mata Awan berubah ketika mendengar pertanyaan Rachel. Ia sama sekali tak bisa menjawab pertanyaan itu. Bukan karena mencintai Dana, tapi karena pikirannya mererawang memikirkan bagaimana jawaban yang pas mendiskriripikan situasinya dengan Dana.


"Gak bisa jawab?" tanya Rachel sekali lagi.


"Aku gak cinta sama Dana." Awan menjawab pertanyaan Rachel.


"Kenapa ragu?" Rachel tertawa mendengar ucapan Awan. Hatinya seperti teriris mendapati jika Awan sedang bimbang dengan hatinya.


"Aku lelah Wan, berapa tahun aku nunggu kamu. Tapi kamu masih penuh keraguan terhadapku?" Wanita itu menangis di depannya. Awan hanya mengusap kasar wajahnya.


Rachel terduduk di kursi yang ada di belakangnya. Awan hanya memandangi perempuan itu dengan sedih. Mulutnya seperti terkunci tak bisa berkata apapun.


"Aku cinta sama kamu Chel." Awan berjongkok di depan wanita itu.


"Enggak Wan, aku gak melihat itu lagi di matamu." Rachel menatap mata Awan lekat.


"Aku mau putus..." Awan lemas mendengar kata-kata Rachel. Ia tak tau apa yang harus ia lakukan pada perempuan yang ada di depannya itu. Hatinya sangat hancur. Tapi ia tak bisa mendapatkan solusi atas masalahnya. Mama masih tak menyukai Rachel. Ia tak mungkin juga memaksa perempuan itu untuk berpindah keyakinan demi dirinya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2