JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
PINDAHAN


__ADS_3

Sore hari ketika pulang dari kantor, Dana langsung menuju kostnya. Ia membereskan barang-barang yang akan ia angkut ke rumah Awan besok. Ia juga berpamitan pada bapak kost.


Awan akan membantunya sepulang dari kantor. Jam telah menunjukkan pukul 5 sore. Dana masih sibuk menata baju-bajunya di koper. Tak lupa ia membeli kardus untuk meletakan barang-barangnya yang lain.


Tok, tok, tok!


Tak lama, pintu kamarnya pun di ketok seseorang. Itu adalah Awan. Ia membawa makanan untuk makan malam mereka


"Punten g* food!" katanya ketika Dana membuka pintu. Ia menunjukkan senyum yang membuat perempuan itu tertawa akan tingkahnya.


"Wih makan malam." kata Dana antusias. Mereka duduk di tengah kamar dan membuka bungkusan makanan yang ada di depan mereka.


"Kamu beli apa?" tanya Dana. Perempuan itu dengan cekatan mengambil minum untuk Awan.


"Nasi goreng, suka ga?"


"Suka," Dana mengangguk senang. Awan tersenyum simpul melihat reaksi Dana yang terlihat antusias.


Dana dan Awan mengobrol banyak hal. Mereka mendiskusikan tentang barang yang ada di ruangan itu. Dan penataan barang yang akan masuk rumahnya.


"Di rumah berarti nanti ada 2 dispenser dong ya?" kata Awan pada Dana.


"Mau di tinggal aja kah? atau di jual?" tanya Dana ada Awan.


"Jual memangnya laku?" tanya Awan.


"Laku, cuma ya gak seberapa. Oh sebentar aku telefon temenku deh. Siapa tau dia mau ambil. Soalnya dia gak ada dispenser juga di kostnya."


Dana lalu mengambil handphone yang ada di atas tempat tidurnya. Ia mencari kontak milik Arin, teman kuliahnya. Dana lalu menelefon Arin.


"Hola mba!" sapa Dana di telefon


"Woy! kenapa?" jawab Arin.


"Rin, masih butuh dispenser gak?" Tanya Dana.


"Masih, cuma aku mau beli malas banget bawanya."


"Yaudah, punyaku buat kamu aja deh. Nanti aku antar ke kost kamu." Kata Dana sambil mengunyah makanannya.


"Lah? kamu beli baru? atau bagaimana?" Arin sedikit kaget mendengar tawaran temannya itu.

__ADS_1


"Aku kan pindah ke tempat Awan. Di rumahnya sudah ada dispenser."


"O iya astaga, lupa ya sama yg udah nikah gak undang-undang." sindir Arin halus.


"Ih, nanti aku undang nya waktu resepsi."


"Tetep aja gak undang-undang." katanya pada Dana.


"Yaudah iya oke Dana aku mau, Oke Arin nanti aku kirim ke kost kamu ya? Oke terimakasih Dana love you temanku yang paling cantik." Arin hanya tertawa mendengar ucapan Dana.


"Iya udah, makasih ya. Aku tunggu dispenser baru aku." kata Arin pada Dana. Ia lalu menutup telefon itu setelah mengucap salam.


Awan hanya tersenyum geli melihat tingkah laku istrinya itu.


"Kenapa?" tanya Dana menatap Awan.


"Enggak, aku kaget aja kamu bisa seberisik itu."


"Dari dulu aku seperti ini. Gak suka?" tanya Dana melirik tajam ke arah Awan. Ia masih mengunyah makanan yang ada di mulutnya.


"Lucu." Satu kata dari Awan berhasil membuat Dana terdiam. Awan hanya menunduk dan menyendok makanan yang ada di depannya.


Dana yang merasa salah tingkah pun mengalihkan pandangannya. Ia menutupi pipinya yang kini bersemu merah.


"Nginep sini atau pulang?" tanya Awan pada Dana.


"Ngikut aja, kamu ngantuk kah? mau aku aja yang nyetir?" tanya Dana pada Awan.


"Enggak, aku takutnya kamu yang capek." kata Awan.


"I'm good! kalau mau pulang ayok." kata Dana.


Setelah membereskan barang-bareng, mereka lalu pulang ke rumah. Tak lupa Dana membawa koper yang berisi pakaian untuk mengurangi muatan yang akan di angkit besok.


Sesampainya di rumah, Awan membawa koper Dana ke kamar. Ia lalu mandi dan membersihkan diri. Dana masih saja sibuk membongkar koper miliknya. Ia meletakkan baju miliknya di lemari. Sesekali ia menatap lemari di depannya memikirkan cara agar pakaiannya bisa tersusun rapi di lemari.


"Mau langsung bongkar-bongkar?" tanya Awan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Dana refleks menengok ke arah suaminya. Dana sangat kaget ketika melihat Awan bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk ketika keluar dari kamar mandi. Dana lalu refleks memalingkan wajahnya ke arah lain. Jantungnya berdegup kencang karena gugup. Matanya kini terpejam untuk menghindari pemandangan yang asing baginya.


"Wan! bisa gak kalau mandi, bajunya itu dibawa sekalian. Jangan keluar dari kamar mandi seperti itu." Teriak Dana yang masih memejamkan matanya.

__ADS_1


"Kenapa memangnya? kan udah sah." kata Awan yang kini duduk di belakang perempuan itu. Awan masih menggosok-gosok rambutnya yang masih basah dengan handuk lain.


"Ya ta pi kan, gak gi ni!" jawab Dana gugup.


"Takut hilaf ya?" Laki-laki itu kini berbisik di telinganya. Dana refleks menghindar dan menengok ke arah Awan. Matanya membelalak sempurna ketika melihat wajah Awan yang cukup dekat dengannya.


"Dih! enak aja." Jawab Dana singkat. Dana yang merasa canggungpun kini berdiri dan meninggalkan Awan keluar dari kamar. Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Jantungnya masih berdetak tak karuan karena tingkah suaminya.


Awan yang masih berada di kamar hanya tersenyum geli melihat tingkah Dana. Ia lalu berganti pakaian dan berjongkok di dekat koper Dana yang masih berantakan.


"Dan, ini bajunya gimana? mau di bongkar sekalian?" tanya Awan yang masih meneliti isi dari koper perempuan itu.


"Iya, aku gak bisa tidur kalai belum rapih. Lagi mikir ini lemarinya muat enggak ya?" Dana yang baru datang dari dapur pun kini berjongkok di depan koper-koper miliknya.


"Muat, nanti bajuku tinggal di geser saja." Awan lalu menggeser baju-bajunya yang hanya ada beberapa tumpuk.


"Gak papa?" tanya Dana tak enak hati.


"Ini lemari kamu juga Dan," Awan menjawab kegelisahan Dana dengan senyuman. Ia lalu membantu perempuan itu untuk membereskan pakaiannya.


Setelah lebih dari 2 jam mereka berkutat dengan penataan baju, Awan dan Dana pun mulai merasa lelah.


"Jam 12 Dan, gak ngantuk?" tanya Awan pada Dana.


"Nanggung, tinggal koper ini." Kata Dana masih membuka 1 koper kecilnya. "Kamu tidur aja dulu." kata Dana melihat ke arah Awan. Ia sebenarnya canggung karena isi koper terakhir itu adalah pakaian dalam milik Dana.


"Biar aku bantu." kata Awan hendak meraih koper yang masih Dana pegang.


"Gak usah. Is oke!" kata Dana panik.


"Gak papa." Awan masih bersikeras membantu Dana merapikan isi dari koper itu.


"Gak usah Wan, serius. Kamu tidur aja, tinggal ini aja kok." Awan mengerutkan dahi melihat tingkah aneh dari istrinya.


"Udah sekalian aja." kata Awan masih mencoba mengambil koper itu.


"Ini baju dalam aku." Akhirnya Dana pun membuka suaranya sedikit takut. Perempuan itu kini memeluk koper yang ada di depannya erat. Awan yang mendengar itupun refleks melepaskan koper yang tadi hendak ia rebut. Awan tampak canggung menatap istrinya.


"Oh, oke! bisa kan? gak usah di bantuin?" kata Awan sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Dana hanya mengangguk menjawab Awan.


"Oke, aku tidur dulu." Awan lalu berdiri dan berjalan menuju tempat tidur. Sesekali ia melihat ke arah Dana. Sesekali juga ia menggaruk kepalanya. Dana hanya tersenyum ke arah Awan ketika tak sengaja Awan menengok ke arahnya.

__ADS_1


Awan lalu berbaring di tempat tidur mencoba untuk memejamkan matanya. Dana dengan cekatan merapikan isi dari koper kecil itu. Ia tak mau berlama-lama berkutat dengan isi yang ada di dalamnya. Ia sudah cukup malu dengan kejadian tadi.


...****************...


__ADS_2