JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
RUTINITAS BARU


__ADS_3

MAAF NIH HARUS SKIP 2 BAB 😂😂


GAK UNTUK YG DIBAWAH UMUR, SKIP AJA BAB INI KALAU KALIAN MERASA DIBAWAH UMUR. NEXT KE BAB SELANJUTNYA AJA YA 😅


Dana membuka matanya setelah mendengar adzan yang terdengar dari masjid perumahan itu. Dilihatnya Awan masih tertidur di sampingnya. Sebenarnya ia masih tak menyangka laki-laki yang tertidur di sampingnya ini adalah suaminya. Semuanya bagaikan mimpi panjang yang tak kunjung usai. Bagaimana bisa ia menikah dengan laki-laki itu dalam waktu yang sangat singkat.


Dana kini menatap Awan yang masih berbalut selimut yang sama dengannya. Ia menyentuh hidung Awan yang mancung. Menelusuri setiap inci wajah suaminya yang masih terlelap. Mengelus pipi Awan dengan lembut.


"Mancing lagi?" tanya Awan pada Dana. Hal tersebut sontak mengagetkan perempuan itu. Tangan Awan kini mendekap tubuh polos istrinya. Membuat Dana tak bisa berkutik ketika dirinya ketahuan menyentuh wajah suaminya.


"Subuh, bangun!" kata Dana menepuk lengan Awan.


"Iya aku dengar," kata Awan tersenyum.


"Aku mandi dulu," kata Dana hendak Beranjak dari tempat tidurnya. Perempuan itu melupakan satu hal. Ia lalu mencari pakaian yang telah hilang entah kemana.


"Cari apa?" tanya Awan yang masih terbaring sembari melihat tingkah istrinya yang seperti mencari sesuatu.


"Baju aku, kemana ya? Hah... disana lagi!" Dana menghembuskan nafas berat ketika melihat pakaiannya yang terlempar jauh di dekat pintu kamar mandi.


"Yaudah. Aku juga usah lihat semuanya."


"Wan! ngeselin!" kata Dana pada Awan. Laki-laki itu hanya tertawa melihat istrinya yang salah tingkah.


"Ya gimana? kamu bawa selimutnya, aku yang kelihatan dong?"


"Apaan sih! ya gimana nih, pikirin dong caranya, malah ketawa!" Kata Dana mencubit lengan Awan.


"Yaudah bawa lah selimutnya sana."

__ADS_1


"Nih turupin pake bantal." kata Dana mengambil bantal yang ada di belakangnya. Awan hanya tertawa mendengar ucapan Dana. Perempuan itu dengan cepat melilitkan selimut itu pada tubuhnya dan mencoba berlari kecil menuju kamar mandi.


"Jangan lari, nangi jatuh." kata Awan pada Dana.


Benar saja, Dana yang sebelumnya hendak mempercepat langkahnya kini hanya bisa berjalan perlahan menuju kamar mandi. Bukan karena takut akan terjatuh atau teepeleset, tapi karena hal lain. Kini perempuan itu baru merasakan sakit di bagian intinya. Tak begitu sakit seperti yang teman-temannya pernah katakan padanya. Tapi Ia masih merasakan nyeri di sana. Dana mencoba berjalan seperti biasa agar Awan tak curiga padanya. Mata elang Awan masih mengikuti ke arah Dana pergi. Ia tersenyum geli ketika melihat istrinya masuk ke kamar mandi dengan sedikit tertatih tapi tetap berusaha untuk cepat sampai di sana.


Awan lalu bangkit dari tempat tidurnya. Ia melihat sisa-sisa jejak dari aktifitas yang mereka berdua lakukan. Awan lalu memungut pakaian yang ada di lantai, meletakkannya di keranjang cucian. Awan membuka lemarinya dan mencari celana boxer miliknya. Dilihatnya kini lemari itu memang penuh dengan pakaian milik istrinya.


"Memang lemari Dana ini, bukan lemariku lagi." kata Awan tersenyum. Lemari yang sebelumnya hanya terisi beberapa tumpuk pakaian miliknya kini berubah menjadi penuh dengan pakaian milik istrinya. Awan lalu membereskan tempat tidur miliknya. Ia melihat noda asing di sana. Awan meneliti noda berwarna merah yang menempel di seprei miliknya.


"Ehem!" Awan merasa salah tingkah karena sekarang ia tau dari mana noda itu berasal. Ia melirik ke arah kamar mandi. Dari dalam terdengar suara air shower masih mengalir. Ia lalu mengganti seprei itu dengan yang baru. Menempatkan seprei yang lama di keranjang cucian. Setelah selesai dengan aktifitasnya di kamar, Awan lalu berjalan menuju dapur, mengambil gelas yang ada di sana dan menuangkan air minum kedalamnya. Ia tersenyum ketika mengingat apa yang telah terjadi semalam antara dirinya dan istrinya.


Ia tak menyesali apapun. Menurutnya, kehidupannya sudah cukup baik setelah menikah dengan Dana. Ia cukup bahagia menikah dengan perempuan yang dijodohkan dengannya itu.


"Awan?" teriak Dana dari dalam kamar mandi.


"Ya? sebenatar," jawab Awan. Ia lalu berjalan menuju kamar. "Kenapa?" tanya Awan yang melihat Dana menjulurkan tangannya dari balik pintu kamar mandi.


"Memang ya, suka banget mancing-mancing." kata Awan menggerutu.


"Mancing apa sih Wan, kamu saja yang mudah terpancing." kata Dana meledek.


Awan lalu mengambilkan handuk Dana yang ada di luar kamar. Ia lalu kembali dan menyerahkan handuk itu pada Dana. Awan tak langsung melepasnya ketika tangan Dana menarik handuk itu. Hal jail yang dilakukan suaminya itu sontak membuat Dana berteriak.


"Awan! iseng banget!" kata Dana dari balik kamar mandi. Awan lalu tertawa mendengar Dana yang terlihat sebal padanya.


"Bilang aku ganteng dulu!" kata Awan pada Dana.


"Iya udah Awan ganteng tolong lepasin handuknya." kata Dana memohon. Kepalanya yang sedari tadi tak nampak karena bersembunyi di balik pintu kini terlihat oleh Awan.

__ADS_1


"Aku masuk ya?" tanya Awan dengan menunjukkan senyum jahilnya.


"Nggak! ih cepetan lepasin Awan! telat nanti kita subuhnya. Sudah jam berapa itu?" kata Dana pada Awan. Awan lalu melepaskan handuk itu dari tangannya. Ia tau dirinya pasti tak akan sanggup menahan, jika ia melanjutkan untuk terus menjahili istrinya.


Setelah selesai membersihkan diri. Dana lalu keluar dari kamar mandi. Ia masih mengenakan handuk kimono, kado dari teman-temannya. Awan masih sibuk memainkan handphonenya. Ia bahkan tak menghiraukan Dana yang keluar dari kamar mandi.


"Mandi Wan, aku tunggu kamu. Kita salat berjamaah." kata Dana tersenyum.


"Hem," kata Awan singkat. Ia lalu segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Dana sebenarnya sedikit kaget dengan sikap Awan yang terlihat dingin padanya. Tapi Dana hanya berfikir jika Awan masih mengantuk hingga tak terlalu menghiraukan ucapannya.


Dana melihat ada yang berbeda dari kamar itu. Ia baru menyadari jika Awan telah mengganti seprei yang ada di sana. Dana berfikir keras mengapa Awan mengganti seprei itu.


"Astaga!" kata Dana menepuk jidatnya. Ia lalu melirik ke arah kamar mandi. Memastikan Awan tak keluar dari sana. Ia mengecek cucian kotor yang ada di sudut kamar itu. Mengacaknya sampai ia menemukan alasan mengapa Awan mengganti seprei itu.


"Bodoh!" kata Dana. Ia mengutuk kebodohannya karena buru-buru mandi tanpa mengecek apapun yang ia tinggalkan. Ia bahkan mengutuk kebodohannya karena Awan yang memungut pakaian miliknya dan meletakannya di cucian kotor itu. Iya, semua pakaiannya termasuk pakaian dalam miliknya.


Wanita itu benar-benar merasa malu sampai wajahnya memerah semerah kepiting rebus. Ia kini berjongkok di depan tumpukan baju kotor itu sembari mengutuk kebodohannya.


Tak lama, Awan pun keluar dari kamar mandi. Ia merasa heran melihat istrinya yang kini berjongkok di depan keranjang cucian.


"Kamu ngapain?" tanya Awan pada Dana. Sontak hal tersebut membuat wanita itu kaget.


"Wan, harusnya aku yang beresin ini." kata Dana yang kini berdiri menghadap ke arah suaminya.


"Memang... Memang harusnya kamu. Aku harus ganti seprei, mungutin baju-baju kamu, Beresin kamar. Sedangkan gak cuma aku yang ngelakuin itu semalam." kata Awan pada Dana. Awan terlihat marah menatap Dana.


"Maaf, yaudah nanti aku yang cuci. Aku juga yang nyapu rumah. Tenang aja." kata Dana pada Awan. Perempuan itu lalu tersenyum ke arah suaminya.


"Yasudah, mau jamaah gak?" tanya Awan masih dengan nada yang tak enak. Dana hanya mengangguk mendengar pertanyaan Awan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2