JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
JALAN BRAGA


__ADS_3

Esok harinya, Dana bangun pagi buta. Setelah mengambil wudhu dan melaksanakan ibadah wajib, ia lalu mengambil sepatu yang sengaja di bawanya ke Bandung. Pagi itu ia ingin sekali lari pagi. Om Iyan sudah menunggunya di bawah. Om Dana itu memang sering sekali lari pagi. Perempuan itu melakukan pemanasan sebelum memulai aktifitasnya.


"Yok?" kata Dana yang melihat om Iyan membenarkan tali sepatunya di kursi teras depan setelah pemanasan.


"Tunggu Awan."


"Dia ikut?" tanya Dana pada om Iyan.


"Bilangnya sih ikut semalam." Dana hanya mengangguk mengerti. Ia melakukan pemanasan di teras depan rumah. Tak lama, Awan keluar dari rumah. Dana yang melihat Awan lalu bersiap untuk jogging.


"Aku duluan om, rute sama ya? nanti kalau aku bareng kalian bakal ketinggalan." Tak lama, perempuan itu menghilang dari hadapan mereka. Om Iyan menunggu Awan melakukan pemanasan ringan sebelum akhirnya menyusul keponakannya itu.


Hari itu adalah hari Minggu pagi. Jalan di sekitar perumahan itu benar-benar ramai dipadati orang-orang yang berolah raga pagi. Ada banyak orang yang bersepeda, jogging, bahkan bermain skateboars. Dana duduk di pinggir trotoar taman kompleks setelah berlari cukup jauh. Dirinya menenggak botol minum yang dibawanya. Tak lama, ia melihat Awan dan Om Iyan di belakang. Dana lalu meneruskan aktivitasnya lagi setelah melihat mereka.


Setelah 1 jam lebih mereka berlari, Dana berhenti di depan rumah om Iyan. Dirinya membaringkan diri di teras rumah. Perempuan itu mencoba untuk mengatur laju nafasnya.


"Jangan tidur dulu mba," kata Om Iyan ketika sampai di depan rumah. Awan yang berdiri di belakang om Iyan lalu meminum botol yang sejak pagi ia tinggal di depan rumah. Ia juga membasuh tangannya yang berkeringat. Om Iyan masih berjalan kecil dari pojok ke pojok gang lainnya untuk pendinginan.


"Bangun," kata Awan mengulurkan tangan pada kakak kelasnya itu. Dana meraih tangan Awan dan mencoba bangkit berdiri. Karena posisi pijakan kaki Dana berada di turunan keramik yang sedikit licin karena air minum awan, Dana sedikit terpeleset.


Awan refleks menarik kakak kelasnya itu agar tidak terjatuh. Posisi tubuh Dana benar-benar sangat dekat dengan Awan. Laki-laki itu menopang tubuh Dana dengan tangan kirinya. Tatapan mereka berdua beradu. Ada rasa yang aneh disana. Rasa yang tak pernah Awan rasakan sebelumnya bahkan ketika ia memeluk Dana.


Dana memperhatikan raut wajah Awan. Perempuan itu bisa melihat dengan jelas wajah adik kelasnya yang basah karena keringat. Entah mengapa Dana terpesona melihat pemandangan yang tepat ada di depannya. Jantung perempuan itu berdetak tak beraturan. Dana sampai bingung apakah itu adalah efek dari olah raga atau efek dari adik kelasnya itu.


Dana melepaskan pelukan Awan ketika ia lihat om Iyan kembali.


"Yok masuk," kata om Iyan pada mereka. Awan tampak canggung saat itu. Dana sebenarnya merasakan hal tak jauh berbeda, tapi ia mencoba untuk menutupi hal tersebut.


Dana dan Awan lalu menyusul om Iyan di belakang. Dana langsung naik ke lantai 2 tanpa bicara sepatah katapun pada Awan. Laki-laki itu juga sama. Ia memasukki kamar bawah lalu menutup pintunya. Awan berfikir keras mengapa ia merasakan hal seperti itu. Ada perasaan aneh yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata.

__ADS_1


Dana lalu mandi dan berdandan. Siang itu ia ingin sekali pergi ke suatu tempat. Setah selesai, ia turun ke lantai 1. Dilihatnya di ruang tamu Awan sedang mengobrol dengan om Iyan. Tante sedang ada di dapur memasak makanan untuk sarapan dibantu oleh teteh yang sering datang membersihkan rumah.


"Tan, Dana mau pergi ya?" Kata Dana yang berdiri di depan pintu dapur.


"Makan dulu," Dana lalu menuruti ucapan tantenya itu. Ia membantu tante menata makanan di atas meja.


"Makan Wan, sudah matang." Ajak tante pada Awan. Om Iyan pun menemani Awan untuk makan di meja makan. Dana dan Tante Eni lalu menyusul mereka untuk sarapan.


Setelah selesai sarapan, Dana berpamitan dengan tante dan om nya untuk pergi keluar.


"Aku ikut ya?" tanya Awan pada Dana. Perempuan itu hanya mengangguk mendengar ucapan Awan. Keduanya mengendarai mobil menuju luar gang.


"Kita mau ke mana?" tanya Awan pada kakak kelasnya itu.


"Jalan Braga." Dana masih sibuk mencari rute tercepat menuju ke sana. Awan tampak senang mendengar tempat yang akan mereka tuju. Dirinya memang belum pernah pergi ke sana. Awan tau jika tempat itu memang sangat populer.


Tak lamapun mereka sampai ke tempat yang dituju. Awan menghentikan mobilnya di area parkir Braga City Walk.


"Aku mau nonton film." Dana melepas sabuk pengamannya. "Ikut enggak?" tanya perempuan itu lagi.


"Kirain mau jalan-jalan di sekitar Braga sana." Awan mengendus kesal mendengar ajakan Dana.


"Ya kalau gak mau ikut gak papa. Ini kan liburanku. Kamu yang bilang sendiri, anggep aku taximu. Ya udah! kalau kamu mau pergi..."


"Iya deh iya," Awan lalu mengikuti rencana Dana. Perempuan itu tersenyum geli melihat Awan seperti terpaksa mengikuti kemauannya.


Di dalam bioskop, Dana memesan 2 tiket film dengan genre action seperti kesukaanya.


"Sejak kapan suka film seperti ini?"

__ADS_1


"Dah lama, genre aku ya yang seperti ini." Awan hanya mengangguk tanda mengerti.


"Emang tomboy itu ya seperti itu." Dana mencibik karena ucapan Awan. Laki-laki itupun tersenyum melihat tingkah Dana.


Merekapun masuk ke teater 3 dan duduk di kursi sesuai dengan tiket yang sudah mereka pesan. Sepanjang film berlangsung Awan dan Dana benar-benar larut di dalam film yang mereka tonton. Terkadang Dana sampai gemas dan mencengkram tangan Awan. Terkadang Awan mengumpat ketika ada adegan film yang membuatnya sebal. Tingkah Dana dan Awan seperti anak kembar yang menonton film bersama.


"Gila, aku ngikutin ini film dari dulu kan Wan, sumpah seru banget!" kata Dana saat mereka berjalan menuju pintu keluar bioskop.


"Aku lebih suka yang ke 7 sih, lebih seru lagi."


"Bener sih kalo itu, sayang banget ya pemainnya sudah gak ada." Dana menanggapi ucapan Awan dan menghela nafas berat.


"Setelah ini ke mana?" tanya Awan pada Dana.


"Aku mau belanja sih," kata Dana pada Awan. Laki-laki itu memutar bola matanya dan mengikuti langkah Dana di belakang.


Beberapa kali Dana keluar masuk toko yang ada di sana. Tapi tak ada yang perempuan itu beli sama sekali. Awan sampai geleng-geleng kepala melihat Dana yang memasukki hampir setiap toko di sana.


"Kamu mau beli apa sih?" tanya Awan pada Dana.


"Entahlah, aku ingin membelikan sesuatu untuk kak Wisnu." Kata Dana pada Awan. Seketika raut wajah Awan beruba drastis. Laki-laki itu seperti tak paham dengan maksud Dana yang akan membelikan sesuatu untuk mantan pacarnya itu.


"Buat apa?"


"Ya suka-suka aku lah," kata Dana dengan santai.


"Tujuan kita ke Bandung itu buat ngelupain dia Dan! Kamu gak ingat?" Awan menekan kata-katanya.


"Memang kalau sudah mantan aku gak boleh ngasih barang ke dia?" Dana menatap Awan.

__ADS_1


"Terserah deh! Aku capek, kamu muter aja sendiri. Aku mau duduk di sana!" Awan meninggalkan Dana yang masih memilih barang di salah satu toko. Ia bertanya-tanya mengapa Awan terlihat sangat marah padanya.


...****************...


__ADS_2