JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
TANTANGAN BARU


__ADS_3

Malam itu, mereka semua tidur di rumah Awan. Mama Hesti dan mama Santi tidur di kamar tamu, sementara Awan dan Niko tidur di kamar Awan. Dana menemani teman-temannya tidur di depan TV. Tak seperti malam biasanya ketika mereka berkumpul, malam ini seluruh teman Dana memilih untuk tidur lebih awal. Dana masih memainkan handphone nya belum bisa tidur. Ia membalas beberapa pesan ucapan selamat ulang tahun dari sahabat-sahabatnya. Ia juga memposting beberapa video dan foto ke sosial media miliknya. Tak disangka, Awan ternyata belum tertidur. Ia lalu keluar dari kamar. Dana yang mendengar suara pintu terbuka pun refleks menengok.


"Kok belum tidur?" tanya Dana pada Awan.


"Iya nih gak bisa tidur." kata Awan tersenyum.


"Mau ngopi?" tanya Dana pada suaminya. Ia lalu bangkit dari tempat tidurnya.


"Teh boleh deh," kata Awan pada Dana. Perempuan itu lalu mengangguk dan dengan cekatan berjalan menuju dapur untuk membuat teh. Awan kini duduk di kursi ruang makan dan mengamati aktifitas istrinya.


"Nih," kata Dana ketika menyajikan teh untuk Awan.


"Terimakasih," kata Awan singkat. Ia lalu menghirup aroma teh yang begitu wangi. Ia meniup sebentar teh itu dan menyeruputnya perlahan.


"Mama besok langsung pulang katanya. Niko sekolah juga." kata Dana pada Awan. Laki-laki itu hanya mengangguk tanda mengerti.


"Tidur di depan saja yok?" kata Awan tiba-tiba.


"Di depan di mana? kan ruang TV ada teman-teman aku." kata Dana menunjuk ke arah ruang tengah.


"Shofa ruang tamu," jawab Awan tersenyum.


"Memangnya muat?" tanya Dana mengerutkan dahi.


"Mau coba?" Awan menatap Dana penuh arti. Dana hanya menaikkan satu alisnya mendengar pertanyaan Awan. Laki-laki itu lalu menarik Dana menuju ruang tamu. Mereka berjalan perlahan agar tidak membangunkan teman-teman Dana yang tertidur di ruang tengah.


"Dimana? ini sempit Wan," kata Dana menatap ke arah shofa yang mungkin hanya muat untuk tidur 1 orang dengan kaki yang tentunya menekuk. Awan lalu berbaring di shofa itu. Ia memberi isyarat pada Dana untuk berbaring di sampingnya. Awan memiringkan badannya. Ia lalu menarik Dana yang masih terdiam memandanginya.


Dana lalu mencoba untuk berbaring di samping Awan. Tubuh perempuan itu di dekap oleh Awan agar tidak jatuh ke belakang. Awan juga merelakan lengan kirinya menjadi bantal untuk istrinya.


"Mau kayak gini sampe pagi? yakin gak jatuh? Aku yang di pinggir, ini aku lo taruhannya." Kata Dana tersenyum.


"Enggak," Awan lalu mempererat pelukannya. Ia bahkan mengunci kaki istrinya agar tak banyak bergerak. Malam itu, mereka berdua terlelap tidur di ruang tamu.

__ADS_1


Menjelang subuh, mama Hesti sudah terlebih dahulu bangun. Ia melihat teman-teman Dana yang masih tertidur pulas. Tapi, ia tak menemukan menantunya di sana. Mama yang penasaran kemana perginya Dana pun mengecek ke ruang tamu. Seketika itu juga dirinya tersenyum melihat pemandangan yang kini ada di depannya. Awan dan Dana tampak terlelap di sana. Mama yang tak mau menganggu keduanya pun bergegas untuk masuk ke dalam kamar.


Tak lama, Dana pun bangun ketika mendengar adzan subuh. Ia lalu menatap Awan yang masih terlelap sembari memeluknya. Perlahan, perempuan itu melepaskan pelukan Awan. Ia lalu duduk di lantai memandangi wajah suaminya. Wajah yang baru ia sadari ketampanannya baru-baru ini. Sesekali perempuan itu mengusap perlahan rambut Awan. Awan yang merasakan hal tersebut pun perlahan membuka matanya.


"Bangun yuk? sudah subuh." kata Dana tersenyum.


"Dingin kamu duduk di lantai," kata Awan mencoba bangkit dari tidurnya. Ia kini memijit pelan pundaknya yaang pegal.


"Sakit ya?" tanya Dana pada Awan. Perempuan itu dengan sigap memijit bahu dan lengan suaminya.


"Dikit," kata Awan tersenyum.


"Kamu sih, udah tau aku berat."


"Tapi tidurku nyenyak, jadi gak papa." Kata Awan tersenyum. Hal tersebut membuat Dana yang mendengar ucapan Awan pun tersenyum.


"Yaudah yok bangun, subuh dulu. Setelah itu kamu bisa tidur lagi di kamar." kata Dana mencoba menarik Awan.


"Wan, malu dilihat mama nanti." Kata Dana menepuk lengan suaminya.


"Biarin, bagus lah! mama pasti seneng aku mesra-mesraan begini sama kamu." kata Awan pada Dana.


"Ayok bangun!" kata Dana melepaskan pelukan suaminya. Ia lalu menarik Awan kembali untuk berdiri.


Setelah sholat dan membersihkan diri, dari luar kamar terdengar suara teman-teman Dana dan juga mama yang sudah bangun dan beraktifitas. Dana lalu keluar dari kamar setelah selesai membereskan pakaian kotor miliknya. Awan masih berada di kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Mah, biar Dana yang masak." Kata Dana yang kaget ketika mama Hesti sudah menyiapkan bumbu dan memotong beberapa sayur di dapur. Terlihat di sana mamanya juga membantu mama mertuanya.


"Udah gak papa, kapan lagi mama masak di sini. Dah kammu duduk saja nunggu matang." kata mama mendorong Dana yang hendak membantu ke meja makan.


"Tapi mah,"


"Korban ke tujuh," kata Arin pada Dana.

__ADS_1


"Kita udah coba mau bantu, tapi gak ada yang dibolehin," kata Difa pada Dana.


"Jadi kalian nunggu di sini karena itu?" ke enam temannya mengangguk bersamaan. Dana lalu menghambuskan nafas berat.


"Mending nyapu." kata Dana memberikan sapu pada Dina. Ke enam temannya lalu berinisiatif untuk membereskan rumah itu. Arin dan Tiya melipat kasur yang ada di ruang TV. Dina dan Difa menyapu lantai rumah itu. Arin dan Wiwi merapikan meja makan dan membereskan sisa-sisa makanan yang mereka makan semalam. Tak lupa mereka membuang sampah yang menumpuk di halaman belakang. Sementara Dana membantu mencuci piring.


"Duh enak ya kalau punya banyak anak perempuan." kata mama Hesti ketika melihat Dana dan teman-temannya bahu membahu membersihkan rumah. Awan lalu keluar dari kamar bersama Niko.


"Mas, mama bakal ngomel sama aku kalau aku nganggur, mending kita cari kesibukan." kata Niko pada Awan.


"Cuci mobil," kata Awan mendorong Niko berjalan ke luar. Mereka berdua lalu mencuci mobil yang terparkir di halaman rumah Awan.


"Mama masak apa?" tanya Dana yang masih sibuk mencuci piring.


"Banyak, ada sop daging, ada oseng-oseng, mama juga buat makaroni keju, ada juga sayur toge. Ini sayur bagus banget buat kesuburan." kata Mama Hesti pada menantunya.


"Kanebo di mana Dan?" tanya Awan yang baru saja masuk ke area dapur.


"Di halaman belakang Wan, sebenatar aku ambilkan." kata Dana bergegas mengambil kanebo.


"Coba cicipi." kata mama pada Awan.


"Awan gak makan berat mah,"


"Ini bagus buat kesuburan Awan. Gak usah pakai nasi," Awan lalu menuruti ucapan mamanya.


"Pokoknya nduk, kamu harus sering-sering juga masakkin ini buat Awan, supaya kalian sehat dan meningkatkan prosentase kehamilan." jelas mama Hesti pada keduanya.


Dana dan Awan yang mendengar hal itu hanya saling menatap satu sama lain.


"Iya mah, nanti Dana sering-sering masakin buat Awan." jawab Dana tersenyum ke arah mama.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2