JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
KATA HATI


__ADS_3

Flashback!


2 years ago.


"Ma, sampai kapanpun aku tak mau dijodohkan dengannya! mama ini kenapa sih? kenapa mama sangat terobsesi pada perempuan itu?" Awan sangat marah mendengar ucapan mama yang akan menjodohkannya dengan kakak kelas yang selama ini selalu dibanding-bandingkan dengannya. Awan yang sudah punya pacar pun tak ingin putus dari Rachel. Hubungan mereka sedang berjalan dengan baik saat itu. Rachel selalu ada untuk Awan meskipun mereka harus berpisah kota. Awan masih dalam masa pendidikann saat itu.


"Wan, mama tau yang terbaik untuk kamu. Dia perempuan baik-baik. Mama tau seperti apa dia di didik. Keluarganya baik Wan!"


"Mama punya hutang sama mereka sampai memaksa aku seperti ini?"


"Bukan hutang Wan, mama hanya menilai Rachel tak lebih baik dari Dana dari semua sisi."


"Kalau mama bicara Rachel tak baik untuk Awan, ya gak usah mama jodoh-jodohkan Awan dengan perempuan lain. Lagi pula mama tak kenal Rachel. Coba saja mama buka hati mama sedikit saja untuk dia. Dia baik ma, gak seburuk seperti yang mama selama ini fikirkan." Awan sangat frustasi menjelaskan pada mamanya. Ia benar-benar menentang perjodohan dengan kakak kelasnya itu.


"Pokoknya mama tak suka dengan Rachel. Kamu mau nurut sama mama dan tinggalkan perempuan berandal itu. Atau kamu memilih dia dan mama tak akan pernah lagi mengurusi urusanmu!" Mama lalu meninggalkan kamar anak laki-lakinya itu. Ia benar-benar tak rela jika Awan anak laki-laki satu-satunya memilih wanita seperti Rachel. Bagaimana mungkin dirinya menjerumuskan Awan untuk menikah dengan perempuan yang suka mabuk dan pulang malam.


"Ma...."


"Renungkan Wan, sampai kapanpun mama tak akan pernah menerima Rachel." Mama menutup pintu kamarnya. Awan hanya mengusap kasar wajahnya. Otaknya benar-benar berfikir keras mencari cara untuk membuat mama menerima perempuan pilihannya.


Awan lalu pergi dari rumah. Ia menyaut kunci motor dan dompetnya lalu pergi begitu saja tanpa pamit. Ia pergi ke kota lain untuk menemui Rachel.


Setelah menempuh perjalanan yang tak pendek, ia sampai di depan rumah perempuan itu. Rachel membuka pintu rumahnya ketika mendengar Awan mengetok pintu.


"Sayang, kamu kok di sini?" Awan langsung memeluk perempuan yang ada di depannya. Pelukan yang sangat erat tanda ia tak mau kehilangan Rachel sampai kapanpun.


"Aku siap meninggalkan semuanya untuk kamu Chel!" Perkataan Awan sontak membuat Rachel melepaskan pelukan laki-laki itu.

__ADS_1


"Kenapa? kamu kenapa Wan?" Perempua itu membelai pipi Awan lembut. Terlihat di sana kesedihan dan kegelisahan yang terpancar jelas.


"Mama mau jodohin aku sama orang lain." Rachel yang mendengar itu sontak memeluk Awan dengan erat. Ia benar-benar mencintai Awan dengan tulus. Rachel tak mau kehilangan laki-laki di dalam pelukannya.


Rachel duduk di teras dengan Awan. Dirinya memegang erat tangan laki-laki itu. Menatapnya lekat dan sesekali ia membelai rambut Awan. Laki-laki yang sedang libur dari pendidikannya itu memang sering memanjangkan rambut walaupun tak sampai menutupi telinganya.


"Chel, apa tak bisa kamu mengikuti agamaku?" Perkataan Awan membuat Rachel mengerutkan dahi. Ia yang sudah berjanji pada dirinya sendiri benar-benar tak ada niat untuk meninghalkan tuhannya.


"Bagaimana dengan kamu Wan?"


"Chel, apapun untuk kamu. Tapi tidak dengan itu." Awan menatap Rachel lekat-lekat.


"Lalu kenapa kamu menanyakan hal itu padaku? kalau kamu tak sanggup melakukan hal yang sama?" Rachel tampak sedikit kesal dengan Awan.


"Maaf," Awan mencoba untuk memeluk perempuan itu. Tapi, Rachel menepisnya.


Flashback off!


"Kita pulang ya?" Awan lalu membelai rambut Dana dan menyeka air mata yang masih ada di sudut mata perempuan itu. Dana hanya mengangguk mendenga ucapan Awan. Laki-laki itu lalu melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah. Di sana, orang tua mereka sedang berdiskusi.


"Sudah nduk?" Mama memapah Dana untuk duduk bergabung dengan mereka. Awan yang ada di sana langsung menyusul duduk di samping papa.


"Wan, mama, papa, tante Santi sudah berdiskusi. Tadi kami juga meminta pendapat dari pihak keluarga Dana. Setelah kita berdiskusi, papa, mamamu, dan keluarga Dana setuju untuk langsung menikahkan kalian." Dana yang mendengar itu langsung menatap Awan. Keduanya tampak berpandangan dan terlihat kaget akan keputusan kedua keluarga mereka.


"Om, apa tidak terburu-buru?" Dana lalu menanggapi ucapan papa Awan.


"Nduk, kalau memang sudah niat mantap, kenapa harus di tunda lagi?"

__ADS_1


"Tapi kan keluarga Dana belum bertemu dengan keluarga om."


"Besok sabtu, kita langsung ketemu nduk. Mama kamu sudah telefon keluarga untuk berkumpul. Minggu, kita bisa langsung mengadakan akad dulu. InsyaAllah semua keluarga mendukung. Biar nanti, pakdhenya Awan yang punya pondok pesantren di daerah kita dan santri-santrinya jadi saksi saat ijab Qobul. InsyaAllah semuanya sudah siap nduk. Kita semua tinggal menunggu jawaban dari kalian berdua."


Tante Hesti yang dari tadi duduk di dekat Dana pun menggenggam tangan perempuan muda itu.


"Ikuti kata hatimu nduk, kami tidak memaksa kalian untuk buru-buru." Dana lalu menatap Awan lagi. Dana lalu menunduk dan mencoba berfikir. Cukup lama sampai Dana mencoba untuk menanggapi ucapan papa Awan.


"Dana ini perempuan. Dana ikut keputusan Awan saja gimana baiknya. InsyaAllah Dana ikhlas." Perempuan itu masih menunduk tak melihat ke arah lain. Dalam hati, Dana hanya berdoa kepada tuhan agar diberikan yang terbaik apapun yang akan di jalaninya nanti.


Semua pandangan kini tertuju pada Awan. Laki-laki itupun masih menatap Dana yang masih menunduk.


"Bismillah, Awan siap buat nikah sama Dana." Ucapan Awan sontak membuat tubuh Dana berdesir. Wajahnya kini mendongak menatap Awan. Tak terlihat keraguan dari raut wajah laki-laki itu. Tatapan Awan kini teduh menatap Dana.


"Alhamdulillah..." Mama papa dan tante Santi bersama-sama mengucap syukur. Mama lalu memeluk Dana dengan erat. Papa pun menepuk punggung Awan. Tata yang sedari tadi duduk sedikit menjauh dari mereka pun tersenyum mendengar perkataan kakaknya itu.


Malam harinya, mereka bersiap-siap untuk pulang ke kampung halaman mereka.


"Besok subuh kita langsung pulang." Papa menepuk pundak Awan yang sedang duduk di teras depan. Mama dan tante Santi masih sibuk menyiapkan barang-barang yang akan dibawa esok pagi.


Malam itu, Awan dan Papa tidur di depan TV sedangkan ke-empat perempuan itu tidur di 2 kamar yang berbeda yang ada di rumah itu.


Awan yang memang belum bisa tidur lalu memilih untuk membuat kopi dan duduk di teras rumahnya. Dana yang belum bisa tidur lalu keluar dari kamar. Ia melihat Awan yang tak ada di depan ruang tengah. Dana pun mencari laki-laki itu keluar rumah.


"Belum tidur?" Dana duduk di kursi sebelah Awan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2