JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
LAPANGAN SEKOLAH


__ADS_3

"Mau kesana?" tanya Dana pada Awan. Laki-laki itu hanya mengangguk menjawab istrinya. Siang itu tampak begitu sejuk berkat pepohonan yang rindang di pinggir lapangan basket. Dana dan Awan duduk di tepi lapangan. Memandang beberapa anak laki-laki seumuran adiknya sedang bermain basket.


"Gak mau masuk main gitu?" tanya Dana pada Awan.


"Gak, gak jago kalo basket aku."


"Aku nyesel tau dulu gak ikut basket, voly gitu. Gak bisa olah raga jadinya." kata Dana memandang lurus ke depan.


"Dah ikut kegiatan sebanyak itu masih mau nambah ceritanya?" tanya Awan dengan nada menyindir.


"Ya kan bisa ganti, kan misal juga. Berandai-andai ini lo!" kata Dana tersenyum.


"Gak paham deh aku sama orang extrovert. Aku ikut futsal aja karena emang harus milih 1 extrakurikuler, kalau enggak ya gak akan tuh main di gor tiap Sabtu."


"Sumpah tau gak sih, aku punya temen model kamu, inget Dina kan? wah dulu awal kuliah aku tuh belum ber tujuh sama mereka, kemana-mana masih sama Dina. Dia tuh ya, misalnya aku ajak makan sama temen-temen kelas, Dia gak pernah mau! Sekalinya mau, dia ngobrol cuma 15 menit pertama. Abis itu diem aja kek patung. Mukanya tuh kek capek gitu. Katanya dia capek kalo ketemu orang banyak coba. Gak paham aku! suka kasihan kalau ngajak dia main, akunya masih full baterai, dia sudah seperti orang mau pingsan." kata Dana tertawa.


"Relate sih, aku juga suka seperti itu." kata Awan mengangguk.


"Sabar ya punya istri gak bisa diem kayak aku." Kata Dana menepuk-nepuk punggung suaminya pelan.


"Dah yok pulang, mama pasti nunggu di rumah." Kata Awan pada Dana. Ia menjulurkan tangannya untuk membantu istrinya berdiri. Dana dengan senang hati menerima bantuan dari Awan. Hari itu mereka cukup senang karena bisa bernostalgia di tempat mereka belajar dulu.


Awan membawa mobil cukup lambat menikmati moment bersama istrinya. Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di rumah mama. Dana dan Awan lalu masuk dan menyapa mama. Entah bagaimana ceritanya tapi mama sudah tak marah pada anak perempuannya. Mereka lalu mengobrol banyak hal di depan TV. Awan lalu menghampiri adik Dana yang sedang bermain PS di kamarnya. Ia lalu ikut bermain dan meninggalkan Dana dan mama yang asyik mengobrol di ruang tengah. Papa Dana memang sedang tak ada dirumah kala itu. Ia sedang ada dinas di luar kota sehingga tak bisa berkumpul dengan mereka.


"Awan baik sama kamu?" tanya mama pada anak perempuannya.


"Em," angguk Dana. Ia tersenyum menatap mama. "Tadi kita mampir ke SMA." kata Dana melanjutkan.


"Ngapain?" tanya mama heran.

__ADS_1


"Main, nostalgia gitu. Seneng sih aku bisa jalan-jalan sama Awan."


"Mama senang anak mama happy." kata mama mengenggam tangan Dana. "Tapi nduk, mama harap, gak cuma Awan yang bikin kamu senang, kamu juga harus buat dia senang." Dana mengangguk menjawab ucapan mamanya.


Setelah cukup lama berada di rumah mama, Selepas makan malam, Awan dan Dana pamit untuk pulang ke Jakarta. Seperti mama Hesti, mama Santi juga membawakan Dana berbagai jenis buah-buahan dan cemilan yang Awan suka. Mama Santi memang punya bisnis sampingan camilan makanan sehingga Awan cukup senang karena dapat membawa banyak camilan ke Jakarta.


"Ini ngerampok sih Wan, Lihat dong, barang-barang yang sebelumnya cuma di bagasi sekarang dah sampe jok tengah," kata Dana menengok ke arah belakang mobil.


"Ya ditawarin, masa ditolak. Gak sopan!" kata Awan tertawa. Dana pun ikut menertawakan hal tersebut.


"Oh iya, Minggu depan mama suruh pulang untuk ngurus nikahan, Jumat nya kamu libur?" tanya Dana pada Awan.


"Aku usahakan nanti," jawab Awan singkat. Setelah beberap jam perjalanan, mereka akhirnya sampai di rumah. Dana yang masih mengantuk pun membantu Awan menurunkan barang-barang dari mobil. Suasana saat itu masih petang walaupun sudah memasukki waktu subuh.


"Makanan dari mantan tuh," kata Dana melirik ke arah bungkusan plastik yang ada di atas kursi. Dana memutar bola matanya lalu masuk ke dalam rumah. Ia tak perduli dengan makanan yang Rachel bawa untuk Awan. Lagi pula mungkin makanan istu sudah basi karena telah lama tak di sentuh.


"Sayang banget dah basi."


"Mending makan rendang dari mama." kata Awan membuang bungkusan itu ke tong sampah. Dana yang melihat hal tersebut hanya menatap datar ke arah Awan lalu masuk ke kamar.


"Kamu buat sarapan tidak hari ini?" tanya Awan pada istrinya. Awan memeluk Dana dari belakang.


"Gak mau makan makanan tadi itu?"


"Enak sandwich buatan kamu." kata Awan berbisik di telinga istrinya.


"Mandi dulu," kata Dana melepas pelukan Awan. Ia lalu mengambil anduk dan masuk ke kamar mandi.


Selepas mandi, sepeti biasa Dana menyiapkan makanan untuk Awan. Laki-laki itu keluar dari kamar dan menghampiri istrinya yang ada di ruang makan.

__ADS_1


"Sarapan dulu," kata Dana menghidangkan makanan yang Awan suka. Mereka lalu makan bersama dan sesekali berbincang masalah pernikahan.


"Gedung sama EO dah deal kan ya kata mama?" tanya Awan pada istrinya.


"Iya, mama tuh besok ngajak aku buat cari bahan untuk keluarga. Hah! aku yakin itu habis banyak bangey deh." Dana menghela nafas berat.


"Ya gimana ya, mau nikah sederhana juga gak akan bisa. Kamu anak pertama, aku anak pertama." kata Awan menanggapi ucapan istrinya.


"Kalau bisa minta nih Wan, aku mending udah stop sampai acara ijab qabul kemarin aja."


"Gak papa sekali seumur hidup, itung-itung nyenengin mama juga kan?" kata Awan pada Dana. Ia mengelap ujung mulut istrinya yang terkena mayonise.


"Kamu nikah masih karna mama?" tanya Dana penasaran.


"Hem, memang karena mama kan?" jawab Awan dengan santai. Dana diam sejenak menatap Awan yang masih asyik makan sarapan yang Dana buat.


"Aku siap-siap dulu," Dana meninggalkan Awan yang masih makan. Ia lalu mencuci piring miliknya dan segera masuk ke kamar. Awan hanya menatap istrinya. Pandangannya kini hanya mengekor ke arah kemana Dana pergi. Ia mengerutkan dahi karana merasa tingkah istrinya yangs sedikit aneh.


"Jadi masih karena mama? hah! terus bisa-bisa nya sok romantis gitu sama aku? emang ya cowo itu. Wah, kenapa aku marah ya? Haish!" gerutu Dana kesal.


Tak lama Dana dan Awan pun sudah siap untuk berangkat ke kantor.


"Yok?" ajak Awan pada istrinya.


"Aku berangkat sendiri aja. Lagi pula kalau kamu nganter aku nanti telat, aku sudah pesan taxi online juga." kata Dana sembari memasang jam tangan nya.


"Oke," jawab Awan singkat. Ia lalu melaju dengan mobilnya meninggalkan Dana yang masih berdiri menunggu taxi yang ia pasan.


"Oke? gak khawatir gitu? oke aja gitu? Dasar gak peka, Ck! " kata Dana bermonolog.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2