
"Kenapa?" Tanya Dana dari balik telefon. Ia refleks menanyakan itu karena dirinya benar-benar tak tau alasan mereka berdua menyudahi hubungan mereka.
"Takdir mungkin. Kamu kenapa belum tidur?" Tanya Awan berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Dana tau jika Awan mungkin tak ingin membahasnya. Ia juga tak sampai hati jika harus memaksa laki-laki itu untuk bercerita padanya.
"Belum, kan masih telefon."
"Memangnya Wisnu tak marah jika aku menelefonmu seperti ini?" Dana tertawa mendengar ucapan Awan.
"Pasti marah sih," Dana berusaha bicara jujur pada Awan.
"Yaudah tidur, besok kerja kan kamu?" Awan mengakhiri percakapan mereka setelah mengucap salam. Pikirannya kembali berkutat memikirkan Rachel bahkan setelah ia mengobrol dengan Dana.
**
Esok harinya, Dana berangkat kerja seperti biasa. Perempuan itu menaiki MRT menuju kantornya seperti biasa. Sesampainya di stasiun, ia memasukki kereta dan duduk di bangku. Dilihatnya suasana pagi itu begitu kosong karena ia pergi lebih awal.
Telefonnya berbunyi. Dilihatnya itu adalah telefon dari kak Wisnu.
"Halo kak?"
"Sudah berangkat?" Tanya kak Wisnu pada perempuan di balik telefon.
"Sudah, ini lagi di kereta. Kak Wisnu bagaimana?"
"Ini masih sarapan. Aku membuat nasi goreng." Ia menyendok nasi yang ada di piringnya. Laki-laki itu sengaja membuat 2 porsi nasi goreng untuk dirinya dan Dana. Ia tau jika Dana berangkat sangat pagi, perempuan itu tak akan sempat untuk sarapan.
Dana hanya mengangguk tanda menegerti. Dirinya masih sibuk mengecek beberapa barang yang ada di tas nya. Dirinya memang sering mengecek dokumen yang dibutuhkannya ketika di kantor.
"Aku mampir ke kantor kamu ya?" tanya kak Wisnu pada Dana.
__ADS_1
"Untuk apa? kan kontor kak Wisnu beda arah?" Dana mengerutkan dahi mendengar perkataan laki-laki itu.
"Nganterin sarapan. Kamu belum makan kan?" Dana yang mendengar kata-kata kak Wisnu sontak tersenyum malu. Dirinya benar-benar tak mengerti kenapa ada seseorang seperti dia yang mau menjadi pacarnya. Kak Wisnu benar-benar seperti orang yang selama ini Dana impikan. Hal yang dilakukan laki-laki itu selalu saja membuatnya merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia.
"Yaudah, datang aja."
"Cuma gitu aja?" Dana lagi-lagi tak paham dengan maksud ucapan kak Wisnu.
"Gak ngomong apa gitu?"
"Maunya aku ngomong apa?"
"Love you kek, apa gitu..." Dana tertawa mendengar ucapan kak Wisnu. Semenjak dekat dengannya, sikap kak Wisnu yang dulu terkesan berwibawa di matanya, kini menjadi seperti anak kucing yang menempel pada induknya. Tapi, sikap kak Wisnu yang seperti ini yang Dana suka.
"Apaan sih, ku tunggu di kantor, Love you." Dana langsung menutup telefonnya. Dirinya memang tak pernah mengatakan hal itu pada laki-laki manapun. Hal itu membuatnya merasa canggung ketika pertama kali mengatakannya. Dirinya yang tak pernah berpacaran sebelumnya menganggap hal tersebut adalah hal yang sedikit memalukan.
Wisnu hanya tersenyum geli mendengar perkataan yang Dana lontarkan untuknya. Ia tau jika Dana bukan tipe orang yang akan bersikap manis pada dirinya. Mendengar kata love you darinya saja seakan membuat laki-laki itu bahagia.
"Tapi pak, ini memang harus dibebankan pada pajak perusahaan. Saya sudah menghitung sesuai ketentuan yang ada di dalam undang-undang."
"Perusahaan saya bisa transfer pricing mba, lagi pula beban pajaknya sangat besar kalau cost ini tidak dimasukkan dalam pengurang an penghasilan."
"Maaf pak, disini saya bekerja sebagai konsultan perusahaan bapak. Saya hanya menyarankan sesuai dengan undang-undang yang berlaku saat ini. Kalau memang inginnya bapak seperti itu, lebih baik bapak cari konsultan yang lain. Saya hanya bisa membantu mengurangi pajak sesuai dengan SOP yang berlaku pak. Kalau hal ini dilakukan, bukan hanya perusahaan bapak yang terkena imbasnya. Saya juga bisa terseret pak. Perusahaan bapak bisa terkena sanksi jika melakukan tax Avoidance." Dana menjelaskan hal tersebut pada client nya. Dirinya sedikit kesal karena client nya bersikukuh untuk mempertahankan pendapatnya yang salah.
Dana keluar dari ruangan rapat milik divisinya dengan lemas. Dirinya benar-benar terkuras tenaganya karena berdebat dengan client.
"Haduh, pusing aku." Kata Dana mengendus kesal.
"Dah lepas aja kalau dia gak mau nurut daripada keseret kan?" Kata kak Lita padanya.
__ADS_1
Mereka lalu duduk di kursi masing-masing.
"Astaga nasi gorengku." Dana berlari menuju tangga dengan cepat. Ia lupa untuk mengambil nasi goreng yang sudah kak Wisnu buat untuknya.
"Ambil apa Dan?" tanya kak Lita.
"Nasi goreng, mau?" Dana yang semula terlihat sangat lelah seketika berubah menjadi sangat ceria.
"Wih, dari si Wisnu- Wisnu itu?" tanyanya pada rekan kerjanya itu. Kak Lita sontak membantu untuk membuka isi plastik yang dibawa rekan kerjanya itu. Dirinya juga penasaran dengan isi yang ada di dalamnya.
"Cute banget!" kata Kak Lita ketika melihat isi dari kotak makan yang Wisnu bawa. Di dalamnya terdapat nasi goreng dan telur yang dibentuk sangat cantik di atas nasi goreng itu. Disekelilingnya ada beberapa potong sosis ayam dan brokoli yang menjadi hiasan di pinggirnya. Di bagian samping kotak itu, terdapat susu kotak kecil dan sticky notes bertuliskan 'i love you too'.
Perempuan itu tertawa membaca tulisan itu. Ia tau jika tulisan itu merupakan jawaban dari kata-katanya pada kak Wisnu pagi tadi.
Dana dan kak Lita lalu bersama-sama memakan nasi goreng yang ada di depan mereka. Perempuan itu tak boleh terlalu kenyang mengingat dirinya berjanji akan makan siang dengan kak Wisnu nanti.
Kak Wisnu menjemput pacarnya itu untuk makan siang. Mereka makan di salah satu restaurant yang cukup terkenal di Jakarta.
"Jadi, apa maksudnya i love you too?" Dana menanyakan tulisan yang kak Wisnu buat untuknya.
"Jawaban aku lah." Kak Wisnu memandang wajah wanita di depannya sambil tersenyum.
"Kak, Minggu besok pulang yok? kak Wisnu sudah lama kan tak pulang ke rumah? ya itung-itung aku bisa main ketemu mama kak Wisnu. Kak Wisnu kan sudah ketemu mama aku." Kata Dana sambil tersenyum.
"Jangan dulu deh Dan, aku gak bisa pulang soalnya Minggu ini. Pekerjaanku sangat sibuk."
"Yah..." Dana terlihat kecewa mendengar ucapan dari laki-laki yang ada di depannya.
"Aku antar ke stasiun ya besok?" Dana hanya mengangguk mendengar ucapan kak Wisnu. Dirinya selalu bertanya-tanya kenapa kak Wisnu tak pernah pulang ke rumahnya. Tapi wanita itu tak pernah tau alasan di baliknya. Kak Wisnu cukup tertutup dan seperti enggan membicarakan masalah keluarganya pada Dana.
__ADS_1
...****************...