
"Belum, wait! Kamu kok belum tidur?" tanya Dana pada Awan.
"Itu kenapa?" Awan terkejut melihat banyak sekali tissue yang ada di meja. Ia menghampiri Dana dan duduk di shofa ruang tamu. Beberapa tissue itu memiliki bercak darah yang cukup banyak.
"Kamu mimisan?" tanya Awan pada Dana.
"Cuma mimisan biasa, gak papa kok sudah berhenti juga mimisannya." Awan menatap Dana dengan tatapan tak percaya. Ia memegang kedua pipi istrinya dan menelusuri wajah istrinya.
"Sering seperti ini?" tanya Awan menekan kata-katanya dengan tegas.
"Enggak, cuma kalau kecapean aja."
"Kecapean tapi gak berhenti? gak tidur? kamu ini gimana sih Dan? kerja boleh, aku gak larang kamu. Tapi tolong perhatikan kesehatan kamu juga dong!"
"Iya, iya maaf... Yasudah yok tidur?" kata Dana pada Awan. Awan hanya menghembuskan nafas kesal mendengar jawaban istrinya. Dana terkesan abai dengan masalah kesehatannya.
Kedua pasangan suami istri itu akhirnya tidur di kamar mereka.
Paginya, seperti biasa Dana sudah berkutat di dapur. Ia membuat roti coklat kesukaan Awan.
"Morning?" kata Dana menyambut Awan yang baru saja keluar dari kamar.
"Morning," Jawab Awan. Ia lalu duduk bersebrangan dengan Dana di meja makan. "Masih pusing?" tanya Awan pada Dana.
"Nope, udah baik." Dana lalu duduk di kursi ruang makan.
"Kamu kenapa sih kerja sampai sebegitunya Dan? perempuan kan gak wajib untuk bekerja."
"Wan, aku itu kerja bukan hanya untuk makan. Banyak mimpi-mimpi yang ingin aku wujudkan dengan kerja keras aku. Lagi pula selagi masih muda kan apa salahnya kita kerja kan?" kata Dana mencoba untuk menjelaskan.
"Tapi kamu pikirkan juga kesehatan kamu Dan,"
"Soal itu aku memang salah Wan, maaf... harusnya aku gak sampai mimisan."
"Ini bukan hanya soal mimisannya Dan, mimisan itu tanda kalau tubuh kamu memang butuh istirahat. Kamu gak mikirin hal yang lain? kamu gak mikirin kalau kamu tiba-tiba kenapa-kenapa?"
"Iya, iya oke. Maaf ya?" Dana memegang tangan suaminya.
"Gak ada ya kamu lembur-lembur seperti itu lagi. Paham?" Kata Awan menatap tajam ke wajah istrinya.
"Aku lembur juga biar besok gak ada tanggung an waktu pulang Wan, lagi pula..."
__ADS_1
"Dana! Paham?" Awan menekan ucapannya. Suami Dana itu mulai meninggikan nada bicarannya karena merasa Dana terus memberi alasan.
"Iya, paham." Jawab Dana singkat. Ia tak mau menambah kemarahan suaminya. Tak ada pembicaraan apapun setelahnya. Mereka hanya sibuk dengan kegiatan masing-masing dan berkutat dengan pikiran masing-masing.
Hari itu, Dana pergi diantar oleh Awan ke kantornya.
"Hati-hati, nanti aku pulang lebih awal, kamu bisa jemput kan?"
"Iya nanti aku jemput." Jawab Awan singkat.
"Oke, salim?" kata Dana menjulurkan tangannya. "Assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam." Jawab Awan.
Dana lalu membuka pintu mobil Awan. Langkahnya terhenti ketika masih ada perasaan mengganjal karena pertengkaran dengan Awan pagi tadi.
Dana menutup pintu mobil itu lagi. Ia mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil.
"Kenapa?" Tanya Awan yang heran dengan tingkah laku istrinya. Dana lalu memeluk Awan untuk melegakan hatinya. Awan hanya menuruti kemauan Dana.
"Maaf untuk tadi pagi." Kata Dana pada Awan.
"Aku gak suka bertengkar denganmu." Kata Dana menunduk. Awan tersenyum mendengar ucapan istrinya. Ia lalu mengecup kening istrinya. Ia tau jika marahnya sangat beralasan, tapi membentak Dana seperti pagi tadi memang seharusnya tidak Ia lakukan.
Setelah merasa tenang, Dana pun keluar dari mobil dan pergi bekerja.
Awan lalu pergi ke kantornya. Seperti biasa, ia memarikirkan mobilnya di belakang gedung kantornya.
"Stop Evan! aku harap ini yang terakhir kalinya kamu ngirim barang-barang seperti ini ke tempatku." bentak seorang wanita yang terlihat sangat marah.
"Chel? aku sayang sama kamu! kamu tau itu. Apa lagi sih yang kamu harapkan dari dia? lagi pula orang itu sudah menikah dengan wanita lain. Dia sudah bahagia dengan orang lain dan itu bukan kamu Chel!" Perempuan itu hanya berlalu meninggalkan laki-laki itu. Ia mencoba menjauh namun laki-laki itu terus saja mengejarnya.
"Aku bilang lepas!" kata Rachel ketika tangannya di cekal oleh Evan.
"Aku mau ngobrol sama kamu. Kamu gak bisa seperti ini sama aku!"
"Aku bilang lepas ya lepas!" kata Wanita itu berusaha memberontak.
"Dia bilang lepas bang!" kata Seorang laki-laki yang tak sengaja melihat pertengkaran itu. Awan lalu melepaskan tangan Evan dari tangan Rachel. Perempuan itu lalu menatap Awan sejenak sebelum akhirnya berlalu dari hadapan laki-laki itu.
"Gue gak ada urusan sama lo!" Kata Evan menunjuk kasar ke arah Awan. Evan lalu meninggalkan Awan yang berdiri mematung. Ia terus berfikir keras tentang kejadian yang bsru saja ia lihat. Ia memikirkan alasan mengapa Rachel bisa datang ke kantornya, mengapa ia bertengkar dengan bang Evan. Ia lalu mengusap kasar wajahnya. Ia lalu memilih untuk masuk ke dalam kantor.
__ADS_1
Tak lama, Awan mendapatkan telefon masuk dari seseorang. 'Rachel' batin Awan ketika membaca nama yang tertera di layar handphobe miliknya. Ia lalu mengangkat telefon itu.
"Halo Chel?"
"Halo Wan? maaf aku nelfon kamu." kata Rachel dengan nada yang ragu.
"Gak papa, kamu gak papa kan tadi?" tanya Awan.
"Hem, Gak papa kok! aku mau ngucapin terimakasih juga ke kamu. Makasih ya?"
"Anytime Chel!"
"Oh iya, gimana kabar kamu? aku dengar kamu sudah menikah? selamat ya?" kata Rachel canggung.
"Ya, terimakasih."
"Okey," kata Rachel singkat. Setelah itu percakapan diantara mereka terjeda.
"Chel, kamu tau kan aku ingin kamu selalu bahagia? Aku harap kamu bisa menemukan kebahagiaan tanpa aku." kata Awan memecah keheningan. Hati perempuan itu seperti teriris mendengar ucapan Awan. Ia benar-benar sedih dibuatnya. Bagaimana bisa ia melupakan laki-laki yang terus menemaninya selama 4 tahun terakhir. Bagaimana bisa Awan melupakannya hanya karena wanita yang baru saja ia kenal karena perjodohan. Tak terasa air matanya pun menetes, Rachel tak juga menjawab ucapan Awan.
"Chel, masih di sana?" tanya Awan lagi.
"Masih, ya semoga aku bahagia tanpa kamu Wan! aku harap kamu juga bahagia sekarang. Anyway, i have to go. Ada pemotretan soalnya, aku tutup ya telefonnya."
"Oke," jawab Awan sebelum menutup telefonnya. Ia lalu menghembuskan nafas berat sebelum ia masuk ke ruangannya.
Awan yang merasa mengantuk pun hendak membuat kopi untuk menghilangkan kantuknya. Ia lalu berjalan menuju pentry untuk membuat kopi.
"Saya harap kamu gak akan ikut campur urusan saya dengan Rachel lagi." kata seseorang yang ada di belakang Awan.
"Rachel gak suka di paksa, saya hanya menolongnya." kata Awan tanpa berbalik. Ia masih sibuk mengaduk kopi yang ia buat.
"Dengar ya Wan! kamu yang meninggalkan dia dan memilih untuk menikah dengan wanita lain. Kamu yang menyakitinya! jadi kamu tak lagi punya hak apapun terhadap Rachel!"
"Apa berarti anda punya hak terhadapnya? punya hak untuk menyakitinya seperti tadi?"
"Saya yang selalu ada untuknya ketika kamu membuatnya sedih! saya yang selalu menghiburnya!"
"Kamu yakin kamu menghiburnya? bukan merusaknya?" Awan lalu pergi dari hadapan Evan. Meninggalkan kemarahan yang semakin memuncak di hati laki-laki itu.
...****************...
__ADS_1