JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
PINDAHAN PART 2


__ADS_3

Setelah selesai merapikan baju-bajunya, Dana lalu bersiap untuk mandi sejenak. Badannya sudah sangat letih. Tak mungkin ia tidur dengan keadaan seperti itu. Ia melihat Awan yang masih tertidur. Entah ia benar-benar tertidur atau mencoba untuk tertidur. Dana lalu melihat isi lemari yang kini ada di depannya.


"Ini ma lemari aku. Gak kaya lemari Awan." Kata Dana bermonolog. Ia melihat lebih dari 2/3 isi lemari itu adalah pakaian miliknya. Walaupun lemari itu sebenarnya cukup besar, tapi, pakaian Dana memenuhi hampir seluruh bagian dari lemari itu.


Perempuan itu lalu mengambil pakaian untuk ganti. Ia pun masuk ke kamar mandi untuk mulai membersihkan diri dan mandi. Tak lama, Dana keluar dari kamar mandi. Awan yang memang belum bisa tidurpun menengok ke arah kamar mandi ketika Dana membuka pintu.


"Kamu mandi jam 12 malam. Gak takut rematik?" kata Awan yang mulai duduk di tempat tidurnya. Ia bersandar pada tempat tidur sembari melihat Dana yang masih sibuk mengeringkan rambutmya.


"Enak aja! aku gak setua itu Wan. Kebangun ya?" tanya Dana yang berjalan menuju arah Awan.


"Belum tidur aku." kata Awan melihat ke arah Dana yang kini duduk di kursi di samping tempat tidur mereka. Dana mengambil beberapa skin care yang ada di atas meja.


"Kamu haru lihat deh lemarinya. Isinya baju aku semua." Dana lalu membuka lemari itu. Awan tersenyum karena apa yang Dana katakan memang benar.


"Lama-lama aku beli lemari baru nih." Kata Awan pada Dana.


Dana hanya tertawa mendengar gurauan dari suaminya. Ia lalu melanjutkan aktifitasnya memakai krim wajah. Pandangan Awan tertuju pada paper bag yang ada di sebelah tempat tidur mereka. Ia lalu mengambil nya karena penasaran.


"Ini apa Dan?" tanya Awan pada Dana.


"Mana?"


"Ini," jawab Awan menunjukkan paper bag yang kini ada di tangannya.


"Oh, hadiah dari tante. Belum aku buka, coba di buka." kata Dana pada Awan. Laki-laki itupun menuruti ucapan Dana. Ia membuka tas itu.


"Baju deh sepertinya." kata Awan ketika melihat kain berwarna hitam yang ada di dalam tas itu.


"Oh iya?" Dana lalu duduk di sebelah Awan karena penasaran. Awan mengambil baju itu dan melihatnya. Mata Awan membulat sempurna ketika melihat baju yang kini ia pegang.


Dana tak jauh berbeda. Tanpa sadar perempuan itu bahkan membuka mulutnya ketika melihat kain yang Awan kira adalah baju sebenarnya menang sebuah baju. Iya, itu adalah baju 'dinas' berwarna hitam. Refleks Awan memasukkan lagi baju itu ke paper bag. Jantung Awan benar-benar dibuat tak sehat malam ini. Suasana diantara keduanya benar-benar canggung.


"Biar aku simpan." Dana refleks merebut paper bag itu dan menyimpannya di lemari. Perempuan itu mencoba untuk mengatur ekspresinya agar tidak terlihat gugup. Ia tak habis pikir mengapa tante Ari memberikan baju seperti itu padanya. Ia benar-benar malu karena Awan menyentuh baju itu. Dana lalu berbalik dan menatap Awan yang juga masih menatapnya.

__ADS_1


"Tidur dah malam." kata Dana pada Awan. Ia lalu berjalan menuju tempat tidur untuk segera tidur. Awan lalu mengangguk dan hanya menuruti ucapan Dana. 30 menit sudah keduanya mencoba untuk memejamkan mata. Awan tampak gusar terus mengganti posisi tidurnya. Sementara Dana mencoba tenang dan memejamkan mata.


"Dan, aku tidur di luar deh." Kata Awan pada Dana.


"Kenapa?" Dana tampak kaget mendengar ucapan Awan.


"Gak papa, aku tidur di kamar sebelah saja. Dari pada kita sama-sama gak bisa tidur."


"Oke," kata Dana tak membantah. Awan lalu beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar. Ia mengacak rambutnya ketika tanpa sadar ternyata ia merasa canggung terhadap istrinya.


Awan lalu tidur di kamar yang berbeda dengan Dana. Di dalam kamar, Dana terlihat menghela nafas berat.


"Gini ya nikah?" kata Dana bermonolog. Dirinya merasa jika selama ia menikah banyak sekali hal-hal yang membuatnya kaget, canggung, bahkan tak enak hati dengan Awan. Ia merasa harus banyak beradaptasi dengan laki-laki yang kini telah menjadi suaminya.


Tak lama, mereka berdua pun terlelap di kamar yang berbeda.


***


Esok harinya, Dana bangun pagi untuk memasak sarapan. Seperti biasa, ia membuat makanan yang berbahan dasar roti. Kali ini Dana membuat sandwich untuk Awan. Ia juga menyiapkan jus dan sereal. Laki-laki itu pun keluar dari kamarnya.


"Sarapan dulu, terus mandi."


"Mau pindahan jam berapa?" tanya Awan pada Dana.


"Nanti sore sih, aku ada meeting dengan pak Alex hari ini." Jawab Dana yang masih sibuk menuangkan jus ke gelas suaminya.


"Oh, ya sudah. Berangkat denganku saja." kata Awan pada istrinya.


"Gak usah, aku bareng kak Lita dari kantor. Kamu ketemu pak Alex lagi?" Tanya Dana.


"Enggak, sudah dengan temanku sih. Kan waktu itu pak Alex hanya berkonsultasi. Aku hanya memberinya sedikit saran saja. Sekarang sudah ranahnya temanku." Katanya santai. Ia lalu meneguk jus yang Dana berikan untuknya.


Dana hanya mengangguk paham atas ucapan Awan.

__ADS_1


"O iya Dan, nanti aku kan ada tugas luar. Jadi sepertinya aku bisa pulang lebih awal. Pindahannya biar aku saja yang ngurus."


"Kamu yakin?" Dana terlihat ragu dengan tawaran Awan.


"Iya, kan tinggal angkut saja. Lagi pula kalau nunggu kamu pulang, keburu sore. Nanti kita beres-beres kemalaman lagi."


"Ya sudah, nanti kamu bawa kunci kostnya berarti. Oh iya, dispenser temenku?"


"Dispensernya aku bawa pake mobil saja, nanti waktu aku jemput kamu langsung kita kasih ke orangnya."


"Oke," Dana lalu mengangguk dan melanjutkan sarapannya.


Setelah selesai dan mandi, mereka berdua lalu berangkat ke kantor bersama. Awan mengantarkan Dana ke kantornya. Ia lalu segera melaju menuju tempat tugasnya. Pagi itu, Dana sangat disibukkan dengan dokumen yang akan ia bawa untuk bertemu client nya.


Siang itu, pertemuan dengan pak Alex berjalan dengan lancar. Dana sudah dapat melanjutkan tugasnya untuk melaporkan pajak milik clientnya itu.


Di sisi lain, Awan yang telah selesai dengan tugasnya lalu pergi menuju kost istrinya. Ia sudah memanggil mobil pengangkut untuk mengangkut barang-barang milik istrinya.


"Bang, tolong ini masuk mobil saja saja ya?"


"Oh iya pak."


"Ini alamatnya. Saya mau jemput istri saya dulu. Nanti barang-barangnya di letakkan di teras saja ya?" untuk uangnya saya transfer lewat rekening saja ya?"


"Oh iya pak siap. Nanti saya kasih nomor rekening saya ke bapak."


Awan lalu berpamitan dengan bapak kost dan mengembalikan kunci itu ke bapak kost. Seperti yang ia duga, Ia mendapat banyak ceramah dari bapak kost Dana itu.


"Bener mas, kalau sudah mampu memang seharusnya cepat dihalalkan. Mau nunggu apa lagi coba? Kalau sudah mapan, tinggal cari yang bisa ngurus kita. Bapak dulu pas nikah ya begitu. Cari yang masaknya enak, cari yang telaten ngurus kita, yang paling penting cari yang cantik. Ya kan?" Awan hanya tersenyum dan mengangguk mendengar ceramah bapak kost Dana.


"Pak sepertinya saya harus menjemput istri saya sekarang. Sudah waktunya pulang soalnya."


"Oh iya, jangan biarkan mba Dana menunggu. Nanti kalau marah, wah perempuan itu kalau marah susah ngerayunya..."

__ADS_1


"Iya pak, yasudah mari pak, Assalamualaikum." Awan lalu dengan cepat berlalu untuk menghentikan perkataan bapak kost Dana.


...****************...


__ADS_2