JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
TAK KENAL KAMU


__ADS_3

Flashback!


"Cepat dek jangan lelet! 10 hitungan kalian harus sampai ke lapangan!" Dana berteriak pada adek tingkat saat seleksi latihan Paskibraka (Pasukan Pengibar Bendera Pusaka) untuk 17 Agustus.


Dana memang aktif mengikuti kegiatan di sekolah. Tak jarang ia mewakili sekolah untuk mengikuti Paskibraka di alun-alun kota. Tapi tidak untuk tahun ini. Dana harus memilih untuk tak mengikuti Paskibraka di alun-alun karena harus mengikuti marching band di hari yang sama. Maka dari itu, ia melatih benerapa adek tingkat untuk menggantikannya.


Saat itu, ia duduk di kelas 9 SMP. Tak banyak orang yang bisa mewakili sekolahnya untuk mengikuti Paskibraka. Hanya 3 orang dari tingkat SMP yang bisa ikut bersama 45 orang lainnya dari berbagai SMA yang ada di kotanya.


"Kenapa terlambat?" kata Dana pada salah seorang adek tingkat.


"Siap! topi saya tertinggal di kelas kak!"


"Maju kamu ke depan!" adek tingkat itu lalu keluar dari barisan dan maju ke depan.


"Kalian dengar! jika ada 1 orang yang salah dalam barisan kalian, maka semuanya akan kacau! apalagi jika ada yang terlambat! kalian adalah calon Paskibraka! baik bertugas di sekolah ataupun di kota nanti kalian harus ingat, formasi kalian harus utuh! mengerti?"


"Siap, mengerti!"


"Teman kalian ada yang terlambat! harus saya apakan dia?"


"Siap, push up 20 kali!" kata salah seorang di dalam barisan.


"Kamu dengar itu?"


"Siap dengar!" Jawab adek tingkat yang terlambat. Ia mengubah posisinya bersiap untuk push up.


"Satu, dua!"


"Stop!" Dana menghentikannya.


"Kalian semua ingat? Satu salah!" Dana meneriakan semboyan dalam tim.

__ADS_1


"Siap, semua salah!" kata semua orang di barisan.


Semua orang di dalam barisan mengambil jarak untuk ikut mengambil hukuman. Pendidikan di dalam Paskibraka memag sedikit keras. Mereka harus menerapkan semboyan jiwa korsa dan semangat nasionalisme dalam setiap tindakan.


Seleksi awal memang dipilih oleh Paskibraka tahun lalu. Oleh karena itu, Dana dan beberapa temannya mengadakan latihan di sekolah. Para alumni Paskibraka memang sengaja tak menghafal nama dari masing-masing adek tingkat. Yang mereka tau hanya nomor urutan dari barisan yang telah ditentukan dari awal. Hal ini ditujukan agar tak ada kecurangan dalam pemilihan.


Setelah selesai, Dana melatih mereka seperti biasa. Baginya ini adalah rutinitas yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Senang karena bisa berbagi ilmu, lelah karena tak hanya tenaga yang terkuras. Tapi suara juga pastinya terkuras.


Flashback off!


......................


Dana menaiki mobil Awan dengan malas. Ia hanya duduk menghadap keluar jendela. Tak ada percakapan diantara mereka berdua.


"Kamu kenapa gak nolak aja sih Wan? maksudnya kamu kan gak harus nurut buat jemput aku ataupun nganter rendang. Bisa kan cowo ngebangkang sedikit?" kata perempuan itu membuka percakapan.


"Memangnya kamu?" jawab Awan singkat.


"Sorry, aku kenapa memang?" Dana bertanya pada adik tingkatnya itu.


"Aku gak kabur! aku memang pulang lebih awal dari kantor, makanya dari pada aku nunggu kamu, lebih baik aku naik bus lah."


"Sama aja mau kabur kan?" Awan mengulangi ucapannya. Dana menghembuskan nafas kesal karenanya. Ucapan Awan memang tak ada salahnya. Tapi, entah mengapa ia tetap kesal mendengarnya.


"Kamu pernah bilang, kamu lupa mukaku. Memangnya kita pernah ketemu? maksud aku ya memang kita satu sekolah, tapi sepertinya aku gak pernah liat kamu deh." kata Dana melanjutkan percakapan diantara mereka. Awan hanya tersenyum sinis mendengar kakak kelasnya itu bicara. Ia tak menanggapi omongan Dana sama sekali. Hal tersebut membuatnya sedikit kesal.


"Orang kalau tau sopan santun sih biasanya kalau ada yang bicara di tanggepin." Sindir Dana dengan halus.


"Orang kalau dikasih tumpangan biasanya sih berterimakasih, bukannya nyindir atau pun cerewet!" katanya tak mau kalah.


"Kan gak minta, kamu yang tiba-tiba ada di depan kost ku. Iya kan? Lagi pula, kamu tak datang juga gak masalah. Aku masih bisa pulang sendiri. Ya terpaksa saja ikut kamu karena gak enak sama mama kamu," kata Dana menerangkan.

__ADS_1


"Turun!" Awan meminggirkan mobilnya yang melaju di tengah jalan tol.


"Lo gila?" katanya kaget.


"Gue gak suka orang cerewet kaya lo di mobil gue!" Awan mulai terbawa emosi.


"Jadi karena lo gak suka, lo nurunin gue semena-mena kayak gini di jalan?" Dana menaikkan nada bicaranya.


Awan tak menjawab pertanyaan perempuan itu. Ia keluar dari mobil dan berjalan menuju bagasi. Awan menurunkan koper dari bagasi. Ia lalu berjalan menuju pintu samping tempat duduk kakak kelasnya itu.


"Turun!" Ia membuka pintu mobil. Dana benar-benar marah melihat tingkah laki-laki yang sama sekali tak bertanggung jawab ingin menurunkannya di tengah jalan tol.


"Fine!" Dana yang terbawa emosi membuka sabuk pengamannya dan menurutinya turun dari mobil. Awan masuk kembali ke mobilnya dan membawa mobilnya melaju dengan kencang. Dana sangat marah melihat pemandangan itu.


Ia tak menyangka orang yang katanya baik ternyata sangat tak bertanggung jawab. Laki-laki yang selalu dibangga-banggakan oleh mama meninggalkannya begitu saja disini. Dana yang masih merasa marah mencoba mengatur laju nafasnya.


Dana tak punya pilihan lain selain berjalan. Ia tak mungkin memanggil taxi di tengah jalan tol. 5 Menit sudah ia berjalan. Di kilometer itu, tak terlihat satupun rumah ataupun jalan layang yang biasanya menghubungkan 2 sisi pemukiman. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB.


Dana memutuskan untuk berhenti dan menelfon mama. Ia akan mengadukan perbuatan Awan padanya. Dana benar-benar tak tahan dengan tingkah Awan. Mama harus tau jika laki-laki yang selalu dibangga-banggakan ternyata meninggalkan anak perempuannya di tengah tol.


Dana mencari HP miliknya di saku celana. Sialnya, ia tak menemukannya disana. Perempuan itu dengan panik menggeledah isi tas ransel kecil yang dibawanya. Sekali lagi, ia sama sekali tak menemukan HP miliknya. Dana sangat merasa takut saat itu. Ia ingat jika HP miliknya tertinggal di mobil Awan. Dana mulai menangis memikirkan hal terburuk yang akan terjadi padanya.


"Ma..." air matanya mulai menetes. Dana terduduk di tepi jalan tol. Ia tak tau apa yang akan terjadi padanya saat itu.


Sudah sekitar 15 menit setelah Awan meninggalkannya di jalan tol. Dana benar-benar tak melakukan apapun kecuali menangis.


Tak lama setelah itu, gerimis mulai datang. Dana yang tak sanggup untuk berjalan lagi memutuskan untuk meringkuk di pinggir jalan tol sambil menangis. Ia sedikit menyesali kebodohannya untuk ikut dengan Awan. Ia juga menyesali kata-katanya pada Awan. Setelah dipikir-pikir, kelakuannya memang sedikit keterlaluan.


Sudah sekitar 40 menit ia duduk di tempat itu. Waktu sudah menunjukan pukul 17.55 WIB. Malam mulai datang bersama dengan hujan yang hampir reda. Tubuhnya sudah mulai menggigil menahan dingin. Kakinya sudah tak terasa lagi mengingat ia sudah duduk sangat lama. Dana hanya memilih untuk tertunduk lesu dan memejamkan matanya, berharap ada orang baik hati yang akan menolongnya.


"Bangun!" Kata seseorang yang datang di hadapannya. Ia membuka matanya perlahan. Samar-samar ia melihat bayangan orang yang tak asing baginya. Orang itu adalah Awan.

__ADS_1


Dana relfeks tersenyum melihatnya. Entah mengapa menatap laki-laki itu bagaikan oase di padang pasir.


...****************...


__ADS_2