JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
URGENT


__ADS_3

GAK UNTUK YG DIBAWAH UMUR, SKIP AJA OBROLAN INI KALAU KALIAN MERASA DIBAWAH UMUR. NEXT KE BAB SELANJUTNYA AJA YA 😅


"Soal apa?" tanya Awan yang kini duduk bersandar di tempat tidur. Dana menatap suaminya dengan bimbang. Ia masih menimang-nimang apakah akan mendiskusikan hal ini dengan Awan atau tidak.


"Aku ga menarik kah buat kamu?" tanya Dana tiba-tiba. Perempuan itu kini menunduk malu karena menanyakan hal ini pada Awan.


"Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Awan kaget. lalu mendekatkan tubuhnya pada Dana. Tatapanya kini menelusuri setiap titik di wajah istrinya. Awan benar-banar tak mengerti kenapa Dana memikirkan hal seperti itu. Tentu saja sebagai pria ia tak mungkin tak tergoda pada wanita yang kini menjadi istrinya. Ia masih pria normal yang akan tergoda melihat kecantikan yang istrinya suguhkan padanya setiap hari. Tapi hal tersebut selalu ia tahan karena tak mau membuat Dana tak nyaman. Ditambah lagi pembicaraan dengan Dana sebelum menikah membuatnya tak ingin mengambil tindakan tanpa seizin istrinya.


"Ya aku tahu kita baru menikah. Tapi, c*um aku saja kamu tak pernah. Maksudnya ya Aku juga ga menuntut buat buru-buru. Tapi kita gak kaya udah nikah aja." kata Dana mencoba menjelaskan. "Kamu bahkan tidur di luar kemarin ninggalin aku."Kata Dana lirih. "Ya aku tau aku gak se h*t Rachel. Gak secantik dia, juga..." Dana lalu menghentikan ucapannya. Ia tau jika tak seharusnya ia mengungkit soal Rachel saat sudah menikah dengan Awan. Laki-laki itu pun tak pernah sekalipun mengungkit tentang Wisnu atau masa lalu nya dengan mantan pacarnya.


"Kamu pikir aku gak nahan? Dan, aku sudah bilang ke kamu. Aku gak akan ngelakuin apapun tanpa seizin kamu."


"Terus aku yang harus mulai?" tanya Dana pada Awan.


"Ya gak gitu. Tapi kalau kamu mau mulai duluan ya gak papa juga." Dana lalu memundurkan posisi duduknya. Pandangannya masih tertuju pada Awan yang juga masih menatapnya.


"Aku gak tau soal beginian. Belum pernah." kata Dana menunduk.


"Kamu pikir aku sudah?" kata Awan menyolek hidung wanita yang ada di depannya. Laki-laki itupun tertawa mendengar perkataan konyol dari istrinya.


"Aku pikir aku gak menarik buat kamu." Dana kini melirik ke arah Awan yang tampak menatapnya dengan lekat.

__ADS_1


"Kamu pikir aku pindah kamar karena ga tertarik sama kamu? Dan, aku pria normal. Mana mungkin aku tak tertarik melihat istriku yang setiap hari hanya memakai celana sependek ini. Tapi, aku menghargai kamu, aku menghargai pendapat kamu soal mempunyai anak."


Dana kaget mendengar ucapan Awan. Ia lalu teringat dengan hal yang pernah ia bicarakan dengan laki-laki itu sebelum menikah. Entah mengapa setelah mengingat hal itu, ia merasa sangat bersalah karena sudah berprasangka buruk dengan Awan.


"Maaf," kata Dana menunduk.


"No, gak ada yang perlu minta maaf Dana. Kamu gak salah. Kita sudah membicarakan ini sebelum menikah, dan aku fine dengan itu." Awan lalu memegang pundak Dana. Ia menatap perempuan itu mencoba menenangkan dan mengurangi rasa bersalahnya.


"Tapi kalau seperti ini aku berasa jadi istri yang gak baik buat kamu Wan. Maksud aku ya bukan berarti karena aku belum ingin punya anak terus kita jadi gak ngapa-ngapain. Maksudnya kita kan bisa..."


Ucapan Dana tiba-tiba terhenti karena perilaku Awan yang membuat tubuhnya mematung.


Laki-laki itu menc*um Dana tiba-tiba. C*uman singkat yang membuat Dana tak bisa berkata-kata lagi. Jantung perempuan itu kini seperti meledak ketika Awan menc*um Dana tiba-tiba.


"Dan? gak papa?" tanya Awan yang melihat Dana berlari ke arah kamar mandi. Ia sedikit cemas namun juga merasa lucu melihat reaksi dari istrinya.


Di dalam kamar mandi, Dana masih menutup mulutnya. Ia merasa sangat bodoh karena meninggalkan Awan dan berlari kemari.


"Kenapa sih harus cegukan." kata Dana mengutuk dirinya.


"Dan, gak papa?" tanya Awan yang kini mengetuk pintu kamar mandi. Hal tersebut sontak mengagetkan istrinya.

__ADS_1


"Gak papa Wan," kata Dana singkat. Perempuan itu lalu menarik dan menghembuskan nafas berulang kali. Ia mencoba untuk menenangkan dirinya.


"Tenang Dana tenang, dia suami kamu." kata Dana di depan cermin. Ia lalu merapikan sedikit rambutnya sebelum memutuskan untuk keluar.


Tak lama, Dana keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Awan masih berdiri di depan pintu menunggu wanita itu keluar. Dana benar-benar merasa canggung mencoba memalingkan wajahnya dari laki-laki yang kini menatapnya. Mata elangnya seperti mengintimidasi membuat Dana merasa tak nyaman.


"Kenapa?" tanya Dana mencoba memberanikan diri. Awan tak menjawab ucapan Dana. Ia hanya menatap wanita itu dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.


Awan tiba-tiba mendekat ke arah Dana. Hal tersebut sontak membuat Dana menjauh dari Awan.


"Wan?" kata Dan yang kini sudah terpojok. Punggung wanita itu kini sudah menempel di dinding. Namun, Awan belum selesai di sana. Ia kini mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Dana bahkan dapat merasakan hembusan nafas Awan mengenai kulitnya. Tangan kanan laki-laki itu kini mengurung tubuh istrinya. Sementara tangan yang lain memegang lengan Dana yang handak menggagalkan usahanya.


Merasa dirinya tak punya hak untuk menolak suaminya, perempuan itu kini hanya berpasrah ketika Awan memungut bib*rnya dengan lembut. Ada rasa yang aneh disana. Rasa yang tak pernah Dana dapatkan sebelumnya. Ia dapat merasakan darahnya berdesir seiring dengan c*uman Awan yang semakin dalam. Membawanya seperti terbang karena Dana kini tak merasakan lututnya dapat menopangnya berdiri dengan tegak. Awan mendekap tubuh istrinya dan mendorongnya ke dalam pelukannya. Dana tak perduli lagi dengan apa yang akan terjadi setelahnya. Ia hanya pasrah mengikuti permainan Awan. Membalas setiap c*uman yang laki-laki itu berikan, menyerahkan tubuhnya pada suaminya.


Dana kini telah larut akan permainan pana* itu. Tangannya bahkan telah melingkar di leher Awan. Sesekali Ia me*emas rambut Awan perlahan, menciptakan ga*rah aneh yang dirasakan oleh laki-laki itu.


Awan melepas c*umannya ketika ia merasa istrinya kesulitan untuk bernafas. Ada kecanggungan diantara keduanya. Dana masih dapat merasakan hangatnya nafas suaminya yang kini menatapnya lekat.


"Aku akan teruskan kalau kamu izinkan." kata Awan singkat.


"Aku gak akan pernah melepaskanmu kalau kamu kamu berani meneruskan ini." kata Dana menatap Awan balik.

__ADS_1


"Kalau begitu jangan pernah melepaskanku." Awan lalu memungut bibir istrinya. Malam itu, seperti malam yang panjang bagi keduanya. Malam yang indah untuk memadu kasih antara dua insan yang telah sah mengikat janji di hadapan tuhannya. Mungkin tak perlu dijelaskan apa yang terjadi setelahnya. Karena pembaca yang budiman pastilah tahu arah dari cerita yang ada di bab ini.


...****************...


__ADS_2