JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
KASAR


__ADS_3

Awan berjalan menjauh dari istrinya. Dana menyusul Awan dengan cepat.


"Wan!" Dana tak perduli dengan sepatu hak tinggi yang sedang ia kenakan. Matanya menatap kepergian Awan yang tampak sangat kecewa padanya.


"Awan dengerin aku dulu!" kata Dana mencoba mengejar suaminya.


"Awan!" Dana mengambil langkah jauh untuk mengejar suaminya.


"Apa? kamu mau jelasin apa?" Awan menghentikan langkahnya ketika Dana berhasil mendahului dan mencegahnya pergi.


"Dengerin aku dulu," Dana mencegah Awan pergi dengan memegang lengan suaminya. "Aku cuma ngobrol sama kak Wisnu, Gak lebih!" Dana mencoba memberi penjelasan pada Awan.


"Ngobrol? ngobrol apa? lama banget ya ngobrolnya? sampai di taman yang jauh dari orang-orang?" Awan menatap istrinya dengan amarah.


"Kamu jangan salah paham dulu Wan!" Dana benar-benar tak tau bagaimana cara membuat Awan percaya padanya.


"Gimana aku gak salah paham? gimana caranya aku gak mikir macem-macem sama kamu kalau begini? ha? gimana?" Awan menunjuk Dana dengan kasar. Ucapan Awan benar-benar membuat Dana takut.


"Oke aku salah, aku nemuin kak Wisnu, aku minta maaf soal itu." Dana seperti kehabisan kata tak bisa menjelaskan tentang hal yang terjadi pada suaminya.


"Dan kamu itu istri aku! tak pantas perempuan yang sudah bersuami menemui laki-laki lain tanpa sepengetahuan ku! kamu tau itu?" Awan meninggikan nada bicaranya. Matanya mulai memerah karena amarahnya pada istrinya.


"Wan aku, aku gak bermaksud apapun! Oke aku salah, aku minta maaf, please! gak seharusnya aku menemui kak Wisnu. Aku gak tau harus jelasin gimana sama kamu, tapi kamu perlu tau aku gak ada apa-apa sama kak Wisnu." Dana mencoba memberi penjelasan pada suaminya. Mata perempun itu mulai meneteskan air mata. Dana tak pernah melihat Awan semarah ini pada dirinya. Ia dan Awan memang sering bertengkar, tapi kali ini, Dana benar-benar takut dengan kemarahan suaminya.


"Kamu dengar ini! mulai detik ini, selama aku masih suami kamu, aku haramkan kamu bertemu dengan laki-laki itu! paham?" Baru kali ini Awan membentak Dana. Kemarahannya benar-benar tak main-main. Dana hanya menangis mendengar ucapan Awan. "Pulang sekarang!" Awan menariknya dengan kasar.


Tarikan Awan dilepaskan oleh kak Wisnu. Laki-laki itu tampak geram dengan sikap Awan yang kasar pada Dana.


"Bisa gak kasar?" kata Wisnu membela Dana.

__ADS_1


"Gue gak ada urusan sama lo!" Awan menunjuk Wisnu dengan marah.


Wisnu masih mencengkram tangan Awan. Dana hanya menunduk melihat hal tersebut.


"Lo berurusan sama gue kalo lo kasar dengan Dana!" Awan mencengkram kerah baju Wisnu. Menatapnya dengan amarah yang memuncak.


"Denger! perempuan yang lo sebut namanya adalah istri gue! lo gak punya hak atas dia!" Awan melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju Wisnu. Sebenarnya ia tak ingin ribut di acara pernikahan orang lain. Ia menarik Dana dengan kasar. Wisnu masih mencengkram tangan Awan yang menarik Dana. Awan menatap Wisnu tajam. Dana yang sedari tadi diam akhirnya membuka mulutnya. Perempuan itu perlahan melepaskan tangan kak Wisnu dari Awan.


"Dan," Wisnu tak tega melihat Dana diperlakukan kasar oleh Awan.


"Awan bener, ini urusan aku sama Awan. Aku gak mau kak Wisnu ikut campur." Awan lalu menarik kasar istrinya. Membuat Dana beberapa kali tersandung karena langkah Awan yang cepat.


Awan memakasa Dana masuk ke dalam mobil. Ia melajukan mobilnya dengan kencang meninggalkan tempat itu tanpa pamit.


"Kita pulang ke Jakarta sekarang!" kata Awan yang masih emosi. Dana tak membantah ucapan suaminya. Ia masih menunduk dan menangis tak bersuara. Perempuan itu tak bisa berkata apapun meskipun Awan menyetir dengan asal.


'Citt!!!!!'


"Bisa nyetir enggak? Turun!" bentak Awan pada pengendara mobil itu.


Dana yang masih kaget akan hal tersebut kini menyusul Awan keluar dari mobil.


"Awan udah!" Dana mencoba menghentikan suaminya.


"Turun gue bilang!" Awan mengetuk kaca mobil itu dengan keras.


"Awan udah stop!" kata Dana dengan suara yang bergetar.


Pengendara mobil itu pun turun dari mobil.

__ADS_1


"Kenapa pak?" kata pengendara itu yang mulai terpancing emosi.


"Maaf ya pak," kata Dana pada pengendara itu.


Beberapa orang memperhatikan mereka. "Udah! please, please..." Dana lantas menarik Awan untuk kembali ke dalam mobil. Tubuh Dana benar-benar gemetar karena shock. Ditambah lagi ia takut dengan kemarahan Awan yang sangat memuncak.


"Haish!" Awan menggebrak kemudi mobil. Menumpahkan kekesalannya atas apa yang terjadi. Dana hanya diam menunduk karena takut. Ia memejamkan matanya sembari memegang tangannya yang terlihat memerah akibat tarikan kasar Awan.


Awan mulai mengatur nafasnya. Ia melihat ke arah Dana yang mesih diam mematung. Sesekali perempuan itu tampak mengelap air mata yang mengalir di pipinya.


Tatapannya kini tertuju pada pergelangan tangan perempuan itu yang memerah. Pikirannya kini tertuju pada kejadian masa lalu. Kejadian ketika mama mertuanya menarik Dana dengan kasar ke ruang tamu rumahnya. Memarahi Dana habis-habisan atas kesalahan yang sebenarnya tak Dana lakukan.


"Astaughfirullahhalazim..." Awan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia merasa bersalah karena telah menyakiti istrinya. Dulu awan tak suka melihat mama menarik Dana dengan kasar. Ia benar-benar murka saat tau tangan Dana terluka. Sekarang, ia tanpa sadar telah melukai istrinya sendiri.


Awan memegang tangan Dana. Menggenggamnya perlahan.


"Maafin aku, pasti sakit." Awan mengusap lembut tangan istrinya. Tatapannya kini berubah menjadi sendu. Awan menangis ketika mencium tangan Dana. "Maafin aku," kata Awan mengulangi ucapannya.


Dana mengusap rambut awan berlahan. Ia tak lagi dapat membendung tangisannya. Dana memeluk Awan erat. Menumpahkan seluruh emosi yang ada di dalam dirinya. Dana tak bisa berkata apapun. Ia hanya diam dalam tanggisannya.


Setelah keadaan membaik. Dana mencoba membuka mulutnya.


"Aku menemui kak Wisnu karena aku pikir, kami bisa jadi teman. Aku tau gak seharusnya aku seperti itu. Aku cuma gak ingin punya hubungan buruk dengan siapapun. Kamu tau kan selama ini aku gak pernah nemuin dia. Aku selalu mencoba menata hati aku sampai aku benar-benar yakin. Dan aku menemui dia karena aku yakin kalau aku gak salah pilih Wan. Aku menemui dia karena aku sudah siap dan aku yakin kalau aku sudah tak punya hal apapun yang mengganjal di pikiran aku tentang kak Wisnu. Aku yakin kalau cuma kamu satu-satunya yang ada di hati aku sekarang." jelas Dana.


Awan kini merasa menyesal karena sudah melewati batas. Tak seharusnya ia semarah itu dengan Dana. Tak seharusnya ia membahayakan Dana, Ia menyesali semua sikapnya pada istrinya. Kecemburuan dan amarah benar-benar membuatnya tak terkendali.


"Maaf, gak seharusnya aku bersikap seperti ini padamu." kata Awan menatap Dana dengan tatapan menyesal.


...****************...

__ADS_1


Pelajaran gais, setan senang kalau ada pasangan suami istri bertengkar. Marah itu hasutan setan, dan mereka suka akan hal tersebut. Makanya jangan sampai seperti Awan ya yang akhirnya menyesal dengan kemarahannya sendiri.


__ADS_2