
"Astaughfirullah..."
"Ma!" Dana dan Awan mencoba berdiri. Mereka sangat kaget melihat kedatangan keluarga mereka. Awan dan Dana seperti sedang kepergok melakukan hal yang tidak-tidak.
"Kalian ini apa-apaan!" kata papa Awan yang terlihat marah. Dana terlihat bingung mencari kata-kata untuk menjelaskan kejadian tersebut pada orang tuanya. Terlihat di depan pintu Tata adik Awan juga tampak shock.
"Sini kamu!" Papa Awan menyeret Awan keluar dari kamarnya. Ia menjewer telinga Awan tanpa ampun. Dana hanya menutup mulutnya melihat Awan yang tampak kesakitan.
"Pah, pah, ampun pah, jangan di tarik... ini salah paham." Awan mengaduh kesakitan. Mama Awan yang masih tampak shock tampak mengikuti mereka berdua disusul dengan Tata.
"Ma," Mama tampak marah pada Dana. Ia lalu mengunci kamar Awan dari dalam.
"Kamu ngapain sama Awan?"
"Mama salah paham, Dana gak ngapa-ngapain sama dia. Nih, Dana rebutan ini sama Awan." Dana mengambil bungkus makanan yang masih tergeletak di lantai.
"Rebutan sampe kamar? lagian kamu ngapain di sini? bukannya kamu harusnya di kantor kerja? kamu bilang sama mama kemarin kamu gak bisa pulang karena sibuk! sibuk seperti ini yang kamu maksud?" Mama tampak sangat marah pada Dana.
"Ma, demi tuhan deh aku gak ngapa-ngapain sama Awan. Dia demam kemarin, terus Dana kebetulan di sini. Awan hampir pingsan di luar kalau Dana gak tolong ma,"
"Gak usah bawa nama tuhan nduk, Kamu pikir mama percaya? orang Awan sehat seperti itu. Mama malu anak mama seperti ini. Apa kata mba Hesti kalau liat kamu seperti ini? gagal mama didik kamu. Ini yang selalu mama takutkan kalau kamu pergi merantau seperti ini. Sudah terbawa kamu sama pergaulan Jakarta, iya?" Mama menyubit langan Dana. Dana hanya mengaduh kesakitan karenanya.
"Maa, please percaya sama Dana. Beneran deh demi apapun, Dana masih perawan. Dana gak ngapa-ngapain sama Awan." Dana mulai bersujud di kaki mamanya menohon maaf. Ia benar-benar panik karena tak pernah melihat mama semarah ini padanya.
"Sekarang mama tanya sama kamu! berapa kali nginep di sini?"
Dana hanya menunduk tak menjawab. Ia tak mungkin mengatakan jika ia sudah menhinap di sini lebih dari sekali. Bisa-bisa kemarahan mamanya semakin memuncak.
***
__ADS_1
Di ruang tamu, Awan di dudukkan bersimpuh di depan orang tuanya. Mama duduk di kursi dengan tatapan kecewa pada anak laki-lakinya itu. Papa masih mondar-mandir mengusap kasar wajahnya menyesali perbuatan anaknya. Tata hanya diam berdiri sedikit menjauh dari mereka. Ia juga takut jika harus mendengar kemarahan papanya.
"Seperti ini kelakuan kamu di Jakarta?"
"Papa salah paham pa, Awan gak ngapa-ngapain sama Dana."
"Papa ngajarin kamu agama, tata krama, ngajarin kamu jadi orang yang beradab! tapi begini hasilnya Wan!"
"Wan, mama senang kamu akur dengan Dana. Bahkan ketika kamu dekat dan mengantarnya ke Bandung mama senang. Tapi kelakuan kalin benar-benar melewati batas. Belum saatnya kalian seperti itu. Mama kecewa denganmu."
"Ma, pa, Awan gak melakukan Apapun dengan Dana. Kami hanya berebut makanan. Mama bisa tanya sendiri pada Dana. Sumpah ma, Awan gak mungkin macem-macem dengannya." Awan tampak frustasi menjelaskan kejadian yang sebenarnya terjadi pada orang tuanya.
***
"Gak bisa jawab?" kata mama pada Dana.
Perempuan itu masih diam tak menjawab ucapan mamanya. "Ikut mama!" Mama menyeret Dana keluar dari kamar.
Mama mendudukkan anak perempuannya di sebelah Awan. Ia hanya menunduk tak berbicara sepatah katapun. Awan yang melihat Dana seperti ketakutan lalu menatap perempuan di sebelahnya. Awan melihat tangan Dana yang tampak merah karena ditarik mamanya.
"Kamu gak bisa jawab kan tadi? Sekarang tante tanya sama kamu Wan! berapa kali Dana menginap di sini. Berapa kali juga kamu menginap di tempat Dana?"
"Tiga kali. Dana menginap di sini 3 kali. Awan belum pernah menginap di kost Dana. Tapi Awan berani bersumpah jika Awan tak pernah sekalipun menyentuh anak tante." Awan masih menatap tangan Dana yang memerah. Entah mengapa ia merasa sangat marah atas perilaku kasar yang Dana terima dari mamanya. Mungkin ia bisa mengerti kemarahan orang tua atas anaknya. Tapi Dana dan dirinya benar-benar tak bersalah akan hal ini. Ia kecewa mengapa mereka tak mempercayai Dana dan Awan.
"Sudah menjawab kan? Ayo Dan kita pergi dari sini." Awan membantu Dana bangun. Tatapan Awan benar-benar kecewa dan marah pada orang tuanya. Ia juga kecewa akan tante Santi yang tak percaya pada anaknya.
"Mau kemana kalian?" papa berteriak pada Awan yang dengan cepat pergi dari hadapan mereka ber empat.
Awan mengambil kunci mobil dan membawa Dana pergi dari rumah. Mama dan tante Santi hanya terdiam melihat mereka berdua pergi.
__ADS_1
Dana yang sedari tadi tampak bingung akhirnya melepaskan tangan Awan dari bahunya.
"Wan kita mau kemana?" Dana menghentikan langkahnya.
"Ikut saja."
"Kamu mau buat mereka tambah marah?"
"Kamu kenapa diam saja ditarik seperti itu? kamu gak liat tangan kamu merah?" Awan mengangkat tangan Dana. Ia lalu memaksa Dana untuk masuk ke mobil.
Awan lalu masuk dan memacu mobilnya dengan kencang.
"Wan! kamu harusnya gak pergi seperti ini. Kalau tau kita tak salah, harusnya kamu jelaskan pada mereka. Bukan pergi!" Dana tampak kesal dengan Awan.
"Mereka gak akan dengar ucapan kita Dan!" Awan membentak Dana.
Mobil yang dikendarai Awan benar-benar cepat melaju di jalan raya. Beberapa kali tubuh Dana serasa terbanting karena Awan berbelok tiba-tiba.
"Pelan, aku takut." Dana memegang tangan Awan. Awan lalu melihat ke arah Dana yang memejamkan matanya sambil memegang pengangan yang ada di atas pintu. Awan meminggirkan mobilnya.
Dana menghela nafas lega karena Awan berhenti setelah menyetir ugal-ugalan.
"Kita ke Bandung, Cuma om kamu yang bisa bantu kita. Kalau hal itu tak membantu, aku akan menikahimu!" Dana terkejut mendengar ucapan Awan. Laki-laki itu memacu mobilnya kembali ke jalan. Kali ini tak secepat sebelumnya. Dana hanya diam tak berbicara sepatah katapun. Ia hanya mengikuti mau Awan. Ia tak ingin berdebat dengan laki-laki itu. Karena Dana tau berdebat dengan Awan yang sedang emosi hanya akan memperkeruh suasana.
Sepanjang jalan, tak ada percakapan diantara mereka. Dana dan Awan tak membawa Handphone sama sekali. Awan hanya menyaut kunci dan dompet yang selalu ia taruh di atas meja tengah.
Perjalanan mereka tampak sangat tenang. Saking tenangnya, Awan memutar radio untuk memecah keheningan.
"Kamu yakin soal menikah?" Tanya Dana memulai percakapan.
__ADS_1
...****************...