JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
MEMAAFKAN


__ADS_3

Flashback!


Dana sedang berdiri menjaga pintu keluar lapangan. Hari itu adalah jadwal masa orientasi sekolah di SMA nya. Sebagai panitia sie kedisiplinan dan tata tertib, ia memeriksa semua perlengkapan anak baru yang akan mengikuti MOS. Dana dengan sigap memerikasa satu persatu siswa.


"Mana name tag kamu?"


"Maaf kak katinggalan." kata seorang siswi baru.


"Langsung ikut kumpul di sana." kata Dana tegas. Setelah selesai, ia lalu mendisiplinkan siswa dan siswi baru yang tidak memakai atribut lengkap. Dibantu temannya yang lain, ia juga mencatat nama-nama mereka untuk sebagai bahan penilaian.


"Hari ini adalah tour sekolah. Kalian akan menjadi 1 kelompok dengan nama kelompok 'Cacing' saya ingin kalian menentukan ketua dari kelompok ini sendiri. Saya beri waktu 2 menit." kata Dana pada adik kelas nya. Riuh panik dari anak baru itu sungguh bagaikan angin yang menyegarkan telinganya. Ia pernah diposisi itu dan sekarang Dana yang telah duduk di kelas 12 pun seperti nostalgia ketika melihat mereka.


"Kak sudah!" kata salah satu anak.


"Ketuanya maju." kata Dana tegas.


"Tugas kamu, menghafal semua nama teman-teman kamu. Kalian juga harus kenal satu sama lain. Karena ini akan menjadi kelompok kalian selama 3 hari ke depan. Paham?" kata Dana pada ketua kelompok itu.


"Ini adalah kak Ian, kakak pembimbing kalian. Saya harap, ini adalah terakhir kalinya saya lihat ada yang tak menggunakan atribut lengkap. Paham?" sambung Dana.


"Siap paham!" kata mereka serentak.


Hari ke dua, tugas mereka adalah meminta tanda tangan, nama dan foto seluruh kakak kelas yang menjadi panitia MOS. Mereka juga harus membuat sebuah video tentang profile sekolah secara beregu.


"Permisi kak, Saya Awan dari kelompok cacing izin meminta foto dan biodata kakak untuk tugas MOS hari ke 2," kata salah satu anak yang menghampiri Dana.


"Kamu ketua kelompok Cacing?"


"Siap benar kak."


"Memangnya kamu tahu saya siapa?" tanya Dana mencoba menguji adik tingkatnya.


"Siap, Kak Alexa Dana Queenara Hanum dari kelas IPA 7 bagian sie kedisiplinan."


"Kalau kamu sudah tahu, kenapa kamu menyusahkan saya untuk menulis nama saya di sini!" bentak Dana pada Awan. "Kamu tidak ingat arahan dari kakak pembimbing? lupa!" bentak Dana lagi.


"Siap ingat!" jawab Awan.


"Sekarang tulis!" kata Dana menyerahkan kertas itu kembali pada Awan.


Setelah itu, Awan meminta foto dan tanda tangan dari Dana.


"Pojok kanan belakang, siapa namanya?" tanya Dana pada ketua kelompok itu.


"Siap Erlita," jawab Awan.

__ADS_1


Dana lalu menghampiri anak yang ada di pojok kanan belakang dan melihat name tag miliknya. Ia lalu memutari mereka dan melihat satu per satu perlengkapan yang mereka pakai.


"Berapa kali saya bilang, sepatu harus ful hitam! Nis tolong lakban." kata Dana pada temannya. Ia lalu melakban sepatu salah satu anak yang terdapat warna putih di bagian bawahnya.


"Kamu! setiap Senin sampai Kamis, di SMA ini wajib menggunakan sepatu pantofel dan PDH dari sekolah! saya tidak mau melihat sepatu seperti ini lagi ketika saya mengecek kelengkapan kalian baik saat MOS ataupun saat upacara. Paham!"


"Siap paham!" jawab mereka serentak.


"Untuk ketua kelompok, saya mau kamu pastikan seluruh teman-teman kamu memakai atribut sesuai dangan ketentuan. Paham?" ucap Dana pada Awan.


"Siap, paham kak!" kata Awan tegas.


Flashback off!


Malam itu, Dana menatap Awan yang tertidur di sebelahnya. Ia membelai rambut Awan perlahan.


"Tidur," kata Awan pada Dana.


"Sejak kapan suami aku ganteng kayak gini ya?" kata Dana.


"Dah lama," jawab Awan tersenyum.


Maaf buat kamu khawatir," kata Dana lembut.


"Apaan sih, kalau nangis bikin badan aku tambah kecil nangis terus nih aku." kata Dana tertawa.


"Jangan lah, masa aku meluk tulang nanti," jawab Awan mempererat pelukannya pada istrinya.


Pagi harinya, Dana dan Awan pamit untuk kembali ke Jakarta menggunakan kereta pagi. mereka berdua sengaja mengambil cuti hari itu. Mereka berdua duduk bersebelahan di dalam kereta. Dana menyenderkan kepalanya pada Awan.


"Aku ke kamar mandi bentar." kata Awan pada Dana. Tak lama, di stasiun berikutnya, Ada seorang penumpang yang duduk di depan kursi perempuan itu. Dana yang tengah sibuk memainkan handphone miliknya pun tak menghiraukan laki-laki yang baru saja datang itu.


Tak begitu lama setelahnya, ia mencoba menyapa Dana.


"Mba, mau ke mana?" tanya nya pada Dana.


"Jakarta." jawab Dana senyum.


"Kerja?" tanyanya lagi.


"Iya, kerja."


"Haikal," kata laki-laki itu menyodorkan tangannya pada Dana.


"Dana," jawab perempuan itu singkat.

__ADS_1


"Kerja di mana mba?"


"Di jakarta, di konsultan." Dana mulai tak nyaman dengan peetanyaan- pertanyaan dari laki-laki yang ada di depannya, dirinya terus menengok ke arah kemana Awan pergi tadi. Sebenarnya ia sedikit kesal karena Awan tak kunjung kembali ke tempat duduknya.


"Oh konsultan, saya di KL*F mba bagian internal auditor nya." kata laki-laki itu pada Dana. Ia terlihat mencoba untuk mengobrol dengan Dana.


"Oh, iya iya," jawab Dana tersenyum. Dari kejauhan, Awan melihat Dana yang sedang tersenyum sembari mengobrol dengan seorang laki-laki.


"Sayang?" kata Awan yang kini duduk dan memeluk Dana dari belakang. Tangan Awan melingkar di pinggang istrinya.


"Sudah?" tanya Dana tersenyum.


"Ini?" tanya laki-laki itu pada Dana.


"Saya suaminya Dana. Mas nya?" tanya Awan dengan muka yang serius. Tubuh Awan yang tegap dengan alis yang tebal dan mata yang tajam benar-benar sangat mengintimidasi.


"Baru kenal tadi di sini." jawab laki-laki itu singkat. Dana yang merasa sedikit canggung lalu memutar musik dengan headset dan memainkan handphone miliknya. Ia menyender ke tubuh Awan.


Laki-laki itu pun turun di tempat yang sama dengan mereka berdua. Dana dan Awan memesan taxi dan pulang ke rumah mereka.


"Siapa sih orang tadi?" tanya Awan pada istrinya.


"Gak tau," jawab Dana mengangkat kedua bahunya.


"Gak tau kok kamu senyum-senyum sambil ngobrol sama dia." jawab Awan terlihat kesal.


"Itu namanya ramah. Masa aku ditanya orang cemberut."


"Kalau sama laki-laki lain aja ramah, sama aku marah-marah terus." gerutu Awan.


"Kapan? orang aku lembut, baik hati, murah senyum gini."


"Sekarang! dulu?"


"Ya kan dulu belum kenal kamu."jawab Dana tertawa.


"Aku tuh sering banget papasan ketemu sama kamu, kok bisa ya kamu gak inget gitu?" tanya Awan yang merasa heran.


"Wan, otak aku tuh otak kiri. Biasanya, aku membuang memori yang emang gak penting." kata Dana pada Awan.


"Maksudnya aku gak penting?"


"Dulu, sekarang ma penting banget..." kata Dana mencubit pipi suaminya. Ia lalu tertawa karena melihat Awan yang mencibik kesal pada nya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2