JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
URUSAN LAKI-LAKI


__ADS_3

Dana meninggalkan ruangan itu dengan marah.


"Dan? gak papa?"


"Gak papa kak, ayo pulang."


Dana menarik kak Lita untuk pulang bersamanya. Dirinya tak mau jika hal tersebut menjadi pusat pembicaraan rekan kerja yang lain.


"Siapa?"


"Orang gila." Dana menjawabnya dengan tampang yang marah. Dirinya benar-benar tak suka jika pekerjaanya diganggu oleh orang lain. Di kost, beberapa telefon masuk ke HP Dana. Beberapa orang kantornya menelfonnya menanyakan kejadian tadi. Oleh karena itu, dirinya benar-benar malas untuk mengangkat telfon dari siapapun.


Dana melihat Handphone yang ia letakan di atas meja riasnya. Ia melihat telfon dari Awan. Dana menimang-nimang apakah akan menangkat telfon dari laki-laki itu atau tidak. Akhirnya setelah berfikir, ia memutuskan untuk menangkatnya.


"Halo?"


"Halo Dan, aku mau minta maaf soal kejadian hari ini. Aku gak enak sama kamu." Dana menghela nafas berat mendengar hal tersebut.


"Wan, jujur aku sama sekali gak ada masalah sama kamu. Maksudnya, kita sudah selesai semenjak mama kamu tau aku punya pacar."


"Aku tau Dan, makanya aku minta maaf sama kamu soal tadi." Awan merasa bersalah atas hal yang terjadi pada perempuan itu.


"Sudahlah, sudah lewat juga. Yang perlu kamu tau Wan, aku gak mau terlibat dengan hubungan kamu sama pacar kamu itu." Keheningan diantara mereka berdua setelah itu benar-benar menusuk. Tak ada percakapan antara Dana dan Awan di dalam telefon.


"Maaf telah melibatkanmu."


Dana menutup pembicaraan dengan Awan. Ia memutuskan untuk memaafkannya dan memilih untuk berdamai dengan laki-laki itu.


Beberapa hari kemudian, Dana menceritakan semuanya pada kak Wisnu ketika makan siang. Dana memang ingin membangun hubungan yang terbuka dengan Wisnu. Sebisa mungkin ia selalu menceritakan hal yang dialaminya pada kekasihnya itu. Ia takut jika hal itu tak dilakukannya, hubungan dengan kak Wisnu tak akan pernah berjalan dengan mulus.


"Kenapa kamu baru bilang soal ini padaku?"

__ADS_1


"Maaf kak, aku cuma menyampaikan amanah tante Hesti, Itu saja. Aku tak tau jika pacarnya akan mendatangi kantorku setelah itu."


"Sudah ku bilang Dan, jauhi Awan! kenapa kamu masih mau membantunya?" Kak Wisnu terlihat sangat marah pada Dana. Ia sangat kecewa dengan sikap Dana itu. Ia juga kecewa karena Dana ingkar janji padanya.


"Aku berhutang budi padanya." Kata Dana membela diri.


"Berhutang budi apa?" Kak Wisnu terlihat frustasi mendengar ucapan kekasihnya itu.


Dana diam mendengar pertanyaan kak Wisnu. Entah mengapa ia mengungkit masalalu dengannya. Ia sadar, tak seharusnya ia bersikap seperti ini pada laki-laki itu.


Dana memang berhutang budi pada Awan yang merawatnya ketika ia sakit dulu. Dana hanya ingin membalas hal tersebut sampai Awan sembuh.


"Dia pernah nolongin aku dulu kak," Kata Dana lirih.


"Kamu sudah membalasnya kemarin. Jauhi laki-laki itu." Kak Wisnu menatapnya lekat-lekat. Dana hanya menunduk karena tak berani menatap laki-laki di depannya itu. Ia merasa bersalah padanya. Disisi lain, dirinya hanya ingin membalas kebaikan Awan dan tante Hesti padanya.


Setelah makan siang itu, Wisnu mengantar Dana ke kantornya.


Dana menatap wajah laki-laki disampingnya itu.


"Semuanya akan baik-baik saja." Kata Dana pada kak Wisnu. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil.


"Kabarin kalau sudah sampai." Kata Dana pada Wisnu. Laki-laki itu tak menjawab sama sekali. Dana mengerti akan kemarahan Wisnu padanya.


Sepulang kerja, Wisnu sengaja mampir ke rumah Awan. Ia harus membicarakan hal ini pada Awan. Wisnu tak ingin kekasihnya itu mendapat masalah lagi karena Awan ataupun pacarnya.


Wisnu mengetok rumah Awan. Dari dalam rumah, terdengar suara Awan. Adik kelas Wisnu itu membukakan pintu untuk seseorang yang datang.


"Kak Wisnu? kenapa? tumben kemari?" Awan sedikit kaget akan kedatangan kak Wisnu tanpa Dana. Ia hanya mengira- ngira apa tujuan kakak kelasnya itu datang menemuinya.Awan mempersilahkan Wisnu masuk ke rumahnya.


Wisnu duduk di ruang tamu rumah itu. Ia membuka pembicaraan dengan raut wajah yang serius. "Aku mau bicara soal Dana."

__ADS_1


"Kenapa Dana?" Awan terlihat sedikit khawatir ketika Wisnu menyebut nama kakak kelasnya itu. Hal itu spontan membuat Wisnu tak suka melihat ekspresi Awan.


"Tolong bilang pada mama kamu agar tak lagi menyusahkannya."


"Iya kak, aku akan bilang mama nanti." Awan terlihat sedikit lega karena ini hanya menyangkut sikap mama pada Dana. Sebenarnya ia khawatir pada Dana karena kejadian beberapa hari yang lalu.


"Tolong atur juga pacarmu itu agar tak sembarangan mendatangi kantor orang!"


"Maksudnya?" Awan terlihat mengerutkan dahi tanda tak mengerti. Dana memang tak mengadukan perilaku Rachel pada Awan. Menurutnya, hal tersebut tak perlu dipermasalahkan lagi.


"Kau tak tau jika pacarmu itu menampar Dana di kantornya?" Perkataan Wisnu sontak membuat Awan membelakakkan matanya. Dirinya benar-benar tak menyangka jika Rachel melakukan hal gila seperti itu. Dirinya tak tau jika Dana dipermalukan di depan umum oleh Rachel. Perempuan itu juga tak menceritakan apapun padanya saat ia menelfonnya beberapa hari yang lalu.


"Kau benar-benar tak tau?" kak Wisnu mengulangi kata-katanya. Ia tersenyum sinis melihat ekspresi Awan yang terlihat kaget.


"Sekarang kau tau seberapa gilanya pacarmu itu. Aku tak akan membiarkan siapapun melukai Dana. Paham?" katanya pada Awan.


"Jangan pernah temui Dana lagi. Kau akan berurusan denganku jika sampai kau menemuinya lagi. Assalamualaikum." Kak Wisnu berjalan keluar rumah Awan dengan ekspresi marah. Dirinya benar-benar tak suka jika ada laki-laki lain yang dekat dengan kekasihnya.


Entah mengapa Awan benar-benar marah pada sikap Rachel. Ia lalu memanggil taxi dan pergi untuk menenui Rachel. Mobil Awan masih berada di bengkel, oleh karena itu, ia harus memesan taxi untuk bisa pergi keluar rumah.


Sesampainya di rumah Rachel, Ia memencet bel rumah itu. Tak ada jawaban sama sekali dari dalam rumah. Beberapa hari setelah insiden pertengakaran dengannya itu, Rachel sama sekali tak menghubunginya.


Awan lalu berusaha untuk memencet sandi rumah Rachel. Selama ini, Awan memang tau sandi rumah pacaranya itu. Tak lama pintu pun terbuka. Dilihatnya rumah itu tampak kosong tak berpenghuni. Di meja makan, Awan melihat beberapa puntung rokok dan minuman aklohol.


Awan tau jika itu adalah milik Rachel. Ia tau jika pacarnya itu memang sering mengonsumsi wine dan beer. Dirinya beberapa kali bertengkar dengannya karena hal itu. Jujur Awan tak suka dengan kebiasaan Rachel. Ia ingin merubah kebiasaan buruk pacarnya itu.


Rachelpun sempat berjanji padanya akan berubah jika ia menikah dengan Awan. Perempuan itu berjanji akan berubah demi Awan.


Awan menyusuri seluruh penjuru ruangan. Tak ada orang sama sekali. Ia lalu menelefon Rachel. Perempuan itu sama sekali tak menjawab telefonnya.


Awan yang semula sangat marah pada Rachel seketika merasa cemas karena perempuan itu tak menjawab telefon darinya. Tak biasanya Rachel mengabaikan telefon darinya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2