JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
MAKAN MALAM


__ADS_3

Setelah menyelesaikan pekerjaannya hari itu, Dana bersiap untuk pulang ke kostnya. Sebelum ia keluar dari ruangannya, ia mendengar handphone yang ada di dalam tas nya berbunyi.


Dret... dret...


Diambilnya handphone itu. Ia melihat notifikasi yang ada di layar HP nya. Itu adalah Awan yang tadi menelefonnya.


"Halo, Wan?" sapa Dana di dalam telefon.


"Halo, kamu sudah selesai?"


"Astaga iya, kita mau makan malam ya?" Dana menepuk jidatnya karena lupa. Ia lalu berjalan ke arah lift dengan cepat. Dirinya takut jika Awan telah menunggunya di bawah. Dana sempat heran, bisa-bisanya ia melupakan janji makan malamnya bersama Awan seperti itu.


"Kamu lupa?" tanya Awan pada Dana. Awan masih fokus pada aktifitasnya yang sedang menyetir.


"Hampir lupa. Kamu sudah selesai?"


"Aku sudah mau sampai kantor kamu."


"Yasudah, aku sudah di lobi. Kabarin kalo sudah sampai." Dana lalu menutup telefon itu setelah mengucap salam.


Dana duduk di lobi kantornya. Ia masih menunggu Awan yang belum datang. Dari arah lift kak Rindang dan beberapa rekan kerjanya keluar dari lift.


"Loh, belum pulang Dan?" tanya kak Rindang pada Dana.


"Belum,"


"Mau bareng? kita searah kan?"


"Gak usah kak, aku nunggu temen." kata Dana tersenyum.


"Oh, pacar kamu itu ya?"


Tak lama, Awan sampai di kantor Dana. Ia lalu memarkirkan mobil dan hendak turun dari mobil. Dana yang mengetahui hal itu langsung lari ke arah Awan.


"Kak, duluan ya?" Dana tak mau rekan kantornya membuat gosip aneh lagi tentang dirinya. Apalagi kak Rindang pastilah pernah melihat Awan sebelumnya. Bagaimana tidak, ia pernah berpapasan dengan Awan di rumah pak Alex.


"Masuk- masuk!" kata Dana mendorong Awan kembali masuk ke dalam mobilnya.


"Kenapa?"


"Kak Rindang, dia pasti tak asing denganmu."

__ADS_1


Awan lalu menuruti perkataan Dana.


"Ayo cus pergi Wan cepet!" kata Dana panik. Awan lalu menyalakan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan kantor Dana.


Di dalam lobi, kak Rindang masih menatap mobil yang Dana naiki.


"Kayak kenal," Kak Rindang mengerutkan dahinya dan mencoba berfikir dimana ia pernah melihat mobil itu.


"Kenapa memangnya?" tanya Awan di dalam mobil.


"Ya gak papa." kata Dana singkat. Ia merasa lega karena kak Rindang tak melihat Awan. Dana hanya tak ingin digosipkan macam-macam di kanntor. Baginya hal tersebut sangat memusingkan dan mengganggunya.


"Wisnu dulu gini juga?" Dana lalu menatap Awan. Ia tak mengerti maksud dari ucapan laki-laki itu.


"Maksudnya?"


"Ya, gak boleh keliatan, sampe kamu dorong masuk ke mobil. Terus panik, takut ketauan." Awan sebenarnya merasa tersinggung dengan tingkah laku Dana yang seakan ingin menutup-nutupi hubungan mereka.


"Gak gitu Wan, aku cuma gak mau ada gosip aja. Masa terakhir kali aku itu digosipin mau nikah. Kan gak lucu! Aku cuma gak nyaman aja." Awan tak menjawab ucapan Dana. Pandangannya masih fokus ke arah depan. Dana yang melihat hal itu mulai merasa bersalah pada Awan. Tak ada percakapan diantara mereka sampai tiba di tempat tujuan.


"Dah sampai." Awan memarkirkan mobilnya dan turun dari mobil. Ia meninggalkan Dana yang masih ada di dalam mobil itu. Dana yang masih mrlepas sabuk pengamannya hanya memandang Awan yang tampak berjalan masuk ke dalam restaurant itu.


"Pacaran macam apaan ditinggal." Gerutu Dana.


"Mau pesan apa?" tanya Awan pada Dana.


"Samain aja." kata Dana pada Awan. Jujur ia kesal dengan tingkah Awan yang seakan dingin padanya. Dana juga bersikap tak kalah dingin pada Awan.


Tak ada percakapan diantara mereka. Dana hanya memainkan handphone nya. Begitu juga Awan yang tampak bermain game.


"Kita mau diem-dieman kayak gini?" Dana yang sudah tak tahan pun membuka percakapan. Ia menatap Awan dengan perasaan kesal.


"Kamu yang duluan sibuk sendiri dengan handphone kamu." Awan menjawab Dana tanpa melihatnya. Ia masih asyik memainkan game yang ada di handphonenya. Dana yang kesal pun mengambil paksa hp yang Awan pegang.


"Apaan sih!" Awan meninggikan suaranya.


"Aku lagi ngomong!" Dana yang tampak kesal pun membalas ucapan Awan tak mau kalah.


Awan menatap wajah perempuan yang ada di hadapannya. Dana menatap balik Awan tak kalah tajam. Mata nya memancarkan kekesalan pada Awan.


"Yaudah mau ngomong apa?"

__ADS_1


"Kamu kenapa sih Wan?"


"Loh, harusnya aku yang tanya. Sebegitu malu ya kamu? sampai gak mau aku terlihat sama teman kantormu?"


"Masih soal tadi? aku kan udah jelasin. Aku cuma gak mau ada gosip macem-macem. Udah!"


"Wisnu seperti itu juga dulu?"


"Kamu apa-apaan sih bawa-bawa Wisnu?"


"Ya aku cuma tanya!"


"Aku gak pernah ya, bawa-bawa Rachel. Aku gak suka kamu bawa-bawa Wisnu." Dana yang sudah sangat kesal lalu pergi meninggalkan restaurant itu.


"Dan!" Awan mengejar Dana yang pergi meninggalkan restaurant itu.


"Kamu mau makan? makan situ sendiri!" Dana sangat emosi dengan tingkah Awan yang begitu kekanak-kanakan. Ia mencoba mempercepat langkahnya meninggalakan tempat itu. Tapi usahanya sia-sia. Langkah Awan jelas lebih panjang daripada dirinya.


Awan berhasil meraih tangan perempuan itu.


"Apa?" mata perempuan itu mulaii berkaca-kaca. Ia sangat kesal dengan tingkah Awan. Ia juga tak suka jika masa lalunya diungkit kembali.


"Aku sudah bilang Wan. Dari awal aku nolak kamu, karna aku memang belum siap menerima orang baru. Tapi kamu bilang mau coba? harusnya kamu negertiin persasan aku!" Dana memukul dada Awan karena kesal. Perempuan itu mencoba melanpiaskan amarahnya pada Awan. Awan yang melihat kemarahan Dana akhirnya mengerti. Tak seharusnya ia bertingkah seperti itu pada Dana. Awan menatap wajah perempuan itu lekat-lekat.


"Maaf, maaf, maaf" Awan mencoba memeluk perempuan itu. Dana masih mengatur laju nafasnya. Ia juga menghapus air mata yang telah mengalir melewati sudut matanya.


Pelukan itu benar-benar menghilangkan amarah Dana. Entah mengapa rasa kesalnya yang sempat memuncak, kini hilang bersama dengan datangnya rasa nyaman.


"Aku lapar." Awan tersenyum mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Dana.


"Kita masuk sekarang?" Dana mengangguk setuju. Awan lalu merangkul pundak Dana. Keduanya lalu masuk ke dalam restaurant.


Tak lama setelah mereka kembali, makanan yang mereka pesan pun datang. Awan yang sejak tadi terlibat dingin, kini mulai menunjukkan perhatiannya pada Dana. Ia bahkan membantu perempuan itu memotong steak yang ada di piringnya.


"Minggu besok aku mau ke Bandung."


"Jadi?" Dana sedikit kaget dengan ucapan Awan.


"Iya lah, ikut?"


"Ikut." Dana tersenyum mendengar ucapan Awan. Mereka lalu melanjutkan makan dan mengobrol banyak topik. Tak ada lagi kemarahan diantara keduanya. Awan mencoba memahami perempuan yang duduk di depannya itu. Ia sadar jika keras kepalanya sama dengan Dana. Awan merasa mengenal sisi lain dari Dana malam itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2