JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
PILIHAN DANA


__ADS_3

Dana pulang diantar oleh kak Sad setelah acara selesai.


"Bulan depan tinggal aku." kata kak Sad pada Dana. Perempuan itu tersenyum mendengar ucapan kakak sepupunya. "Bagi tips dong soal pernikahan." bujuk kak Sad.


"Apa ya? yang penting komunikasi aja sih yang selalu aku tekankan." kata Dana.


"Sama gak sih sama pacaran? ya maksud aku, aku kan cukup lama pacaran sama Nisa,"


"Beda lah kak, pacaran ketemu paling seminggu berapa kali. Belum juga kamu LDR kan? ini kalo nikah ya kamu ketemu tiap hari. Sayang-sayang an, berantem. Ya gitu deh," kata Dana tersenyum.


"Seneng ya?" tanya kak Sad.


"Ya, aku sih enjoy aja. Awan juga baik sama aku." kata Dana menengok ke arah kak Sad.


Setibanya di rumah, Dana tak melihat mobil Awan di depan rumahnya. Ia mengerutkan dahi karena Awan tak pulang kerumahnya.


"Makasih kak sudah mengantarku."


"Sama-sama, aku langsung saja ya? salam buat tante," Dana mengangguk mendengar ucapan kak Sad. Ia lalu turun dan melihat mobil kak Sad yang melaju pergi meninggalkan halaman rumahnya.


Dana menghembuskan nafas kesal.


"Oke fine! gak ngabarin, terus gak pulang. Serah kamu deh Wan!" kata Dana kesal. Ia lalu masuk ke dalam rumahnya.


"Loh, Awan mana?"


"Ada kepentingan katanya ma, tadi pergi." Dana lalu masuk ke kamar dan mengunci kamarnya. Ia tak mau mendengar ceramah ataupun pertanyaan dari mamanya.


Dana melihat layar handphone miliknya sembari merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Awan sama sekali tak memberi kabar ataupun bertanya tentangnya.


Dana lalu keluar dari kamar untuk mengambil air minum.


"Nduk, minum ini?" mama menyodorkan secangkir minuman pada Dana.

__ADS_1


"Apa ini ma?" tanya Dana meneliti.


"Jamu, ini bagus untuk mempercepat kehamilan."


"Ma, gak ah! Dana gak mau minum itu," Dana mengembalikan cangkir itu pada mamanya.


"Coba sedikit saja, lagi pula kalau berhasil kan kamu juga yang seneng. Awan pasti senang kalau kamu cepat hamil! itu anak temen mama minum ini rutin, gak sampe 2bulan udah isi," jelas mama.


"Mah! yang mau mengandung itu Dana! yang melahirkan juga Dana! Kenapa jadi mama yang ngurusin Dana mau hamil kapan sih?" Dana berlalu dari hadapan mamanya menuju kamar.


"Mama mau yang terbaik buat kamu! lagi pula memangnya kenapa kalau usaha kan gak ada salahnya." Mama menyusul anaknya di belakang.


"Dana dan Awan bisa urus masalah kita sendiri ma, please!"


"Mama mau tanya sama kamu! kamu gak nunda kehamilan kan?" Mama memegang lengan anaknya. Dana hanya memalingkan muka dari mamanya. Ia mengunci mulutnya rapat-rapat.


"Nduk! kodratnya wanita itu memang seperti itu. Kalau kamu menunda..."


"Dana belum siap punya anak ma!" Mama melepaskan tangannya dari lengan anaknya.


"Dana sudah bilang, kita bisa selesaikan masalah kita sendiri." tatap Dana tajam pada mama.


"Mama gak setuju! kamu gak ingat om kamu dulu susah untuk punya anak? 12 tahun nduk nunggu Shanum ada! kamu mau seperti itu? lagi pula kalo mertua kamu tahu, mama yakin mereka gak akan setuju dengan keputusan kamu."


"Yang jalanin Dana ma, tolong hargai keputusan Dana! lagi pula Dana sudah menuruti ucapan mama untuk menikah dengan Awan kan? mama masih mau lebih dengan Dana punya anak?"


"Mama gak pernah maksa kamu nduk! kamu sendiri yang memutuskan kan akhirnya?" mama menjeda ucapannya. "Pokoknya mama gak mau kamu seperti ini, Gak cuma mama yang kecewa sama kamu, mama yakin semuanya juga akan kecewa dengan keputusan kamu ini! Kamu gak mikirin Awan? kamu pikir dengan Awan diam dan setuju dengan keputusan gila kamu ini, dia akan baik-baik saja, iya? Pikir itu baik-baik." Mama lalu meninggalakan anak perempuannya yang masih terdiam mematung.


Dana lalu duduk di tepi tempat tidur di kamarnya. Ia terlihat berfikir keras dan merenungi ucapan mama. Tak lama, Dana mendapat telefon dari Awan. Dana menatap layar handphone miliknya cukup lama sebelum mengangkat telefon itu.


"Halo Wan?" sapa Dana dari telefon.


"Sudah pulang?"Tanya Awan singkat.

__ADS_1


"Sudah,"


"Aku mau nginep di rumahku. Kamu mau tetap di rumah mama kamu atau ikut aku?"


"Aku ikut kamu," Jawab Dana dengan mantap.


"Oke, kalau begitu aku jemput setelah ashar nanti." Awan lalu menutup telefon setelah mengucap salam. Dana membereskan pakaian miliknya dan milik Awan yang ada di koper. Dana lalu bersiap-siap menunggu Awan menjemputnya.


"Ma, aku sama Awan tidur di rumah mama Hesti. Gak papa kan?" kata Dana pada mamanya.


"Yasudah gak papa." Mama yang sedari tadi duduk di teras pun kini masuk ke dalam rumah melewati Dana. Perempuan itu tahu jika mama masih marah atas ucapannya. Dana tahu jika mama pasti kecewa dengan pilihannya. Perempuan itu lalu masuk ke dalam kamar. Ia menunggu kedatangan suaminya sembari memainkan handphone miliknya.


Tak lama, Awan pun datang. Ia menyalami mama yang ada di depan pintu.


"Mama mau bicara sama kamu sebentar. Duduk sini Wan," kata Mama Santi pada menantu laki-lakinya.


"Mama mau bicara apa?" tanya Awan penasaran.


"Tadi, mama bicara sama Dana, benar kamu sama Dana sepakat buat nunda momongan?" Awan menatap mama mertuanya. Ia tampak berfikir mengatur kata-kata yang akan keluar dari mulutnya. "Wan, mama tau kamu setuju dengan Dana pasti karena tak mau membebani anak mama kan? Mama senang jika kamu bisa memahami anak mama, bisa sayang dengannya. Tapi, kamu sebagai suami berhak untuk mengatur anak mama. Arahkan dia, bimbing dia, kasih Dana pengertian."


"Ma, Awan sudah pernah membicarakan ini dengan Dana. Sebelum menikah malah. Awan tak ingin memaksa istri Awan ma, Awan akan sabar menunggu dia. Mama gak perlu khawatir dengan kita berdua. InsyaAllah kami bahagia. Mama doakan saja, semoga Awan dan Dana sehat terus, bahagia terus, semoga kita cepat juga dapat momongan." Awan tersenyum menatap mama mertuanya. Setelah meyakinkan mama mertuanya dan berbincang dengan mama, Awan lalu masuk ke dalam kamar. Dilihatnya di sana, Dana tertidur dengan masih memegang handphone miliknya. Awan duduk membelai rambut istrinya.


"Sayang, bangun. Jadi ke tempat mama tidak?" kata Awan lembut membangunkan istrinya. Perlahan, Dana membuka matanya.


"Hem, sudah sampai? maaf, maaf aku ketiduran tadi nungguin kamu." kata Dana duduk menyender di tempat tidur.


"Kamu berantem sama mama tadi?" tanya Awan halus.


"Berantem kecil, bukan hal besar." Dana menatap Awan.


"Berangakat sekarang? mama nunggu kita di rumah. Sudah masak banyak buat makan malam katanya." Dana tersenyum dan mengangguk pada Awan. Laki-laki itu mengecup kening istrinya dan menatapnya lekat-lekat.


"Maaf soal tadi siang. Aku janji akan lebih terbuka sama kamu." Dana memeluk Awan dengan hangat.

__ADS_1


"Maaf juga karena aku ninggalin kamu di acara tadi." kata Awan menyambung ucapannya. Ia mencium pipi Dana dan kembali memeluk istrinya erat.


...****************...


__ADS_2