JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
PENYESUAIAN


__ADS_3

Dana lalu meneruskan pekerjaan nya setelah mengobrol panjang dengan pak Andan. Siang itu ia berencana menemui bagian personalia untuk mengajukan cuti.


“Awan!” pikir Dana tiba-tiba. Ia lupa jika dirinya juga harus meminta persetujuan Awan atas syarat yang pak Andan ajukan. Dana lalu capat-cepat mengambil handphone miliknya dan menghubungi Awan. Handphone milik suaminya sedang tidak aktif. Awan memang terkadang sulit untuk dihibungi ketika sedang bekerja. Suaminya itu lebih sering bekerja di lapangan, sehingga terkadang ia tak mengecek handphone miliknya.


“Dan, aku mau koordinasi sama kamu. Pak Rendi tadi telfon, beliau tanya soal progres pajak reportingnya.“ Kata kak Rindang pada Dana. Sepulangnya Dana dari rumah orang tuanya itu memang banyak pekerjaan yang menumpuk. Kak Rindang banyak sekali membantu Dana dalam menelesaikan tugasnya. Dana lalu menghubungi client nya itu untuk menjadwalakan meeting dan menjelaskan secara singkat melalui telephon.


”Kak makasih banyak ya, kalo gak ada kak Rindang aku bakal kewalahan.“ Kata Dana pada seniornya itu. ”Baru juga ditinggal beberapa hari Dan, santai saja, ga masalah lah. Tapi nanti kalau aku lanjut ke luar negeri, kamu harus handle semuanya sendiri.“ Kata kak Rindang tersenyum pada Dana. ”Di ambil kak jadinya?“ tanya Dana memastikan. ”Iya lah. Kesempatan Dan. Lagian aku belum ada terikat sama siapapun. Beda dengan kamu yang sudah punya suami.“ Kata kak Rindang menyindir.


”Hust! Jangan keras-keras. Kalau ada yang dengar gimana?“ kata Dana panik. Ia reflek melihat keadaan sekitar mereka. ”lagipula kenapa harus di tutup-tutupi sih Dan, bukan aib juga. Kamu menikah sah kan?“ Kak Rindang menunggu jawaban Dana. Perempuan itu diam sejenak untuk berfikir. Sebenarnya apa yang dikatakan kak Rindang memang ada benarnya. Dia dan Awan menikah secara sah. Dimata agama, dimata keluarga, dan dimata hukum. Tapi entah mengapa Dana dan Awan memilih merahasiakan nya. Mungkin karena dirinya merasa ini terlalu cepat. Mungkin juga ia sebenarnya belum siap menerima omongan dari lingkungan tempat kerjanya. Dana memilih tidak menjawab pertanyaan kak Rindang. Dia hanya tersenyum simpul dan menunduk.


“Sudahlah pengantin baru sepertinya pusing sekali, tak usah terlalu dipikir Dan ucapanku. Cuma bercanda. Apapun yang membuat adek ku ini happy pasti aku dukung.“ Kak Rindang memukul kepala Dana pelan menggunakan kertas. 


Dana tau watak kak Rindang. Sudah semenjak awal ia bekerja di kantor, kak Rindang selalu memperlakukannya layaknya seorang adik. Kak Rindang selalu sabar mengajari Dana sejak awal Dana datang. Hal tersebut juga yang membuat Dana lebih mudah bercerita dengan kak Rindang dibanding rekan kerjanya yang lain. Hari itu Dana melakukan aktifitasnya seperti biasa. Tak ada yang special kecuali izin cuti yang sudah ia kantongi. Dana bergegas keluar Ketika jam sudah menunjukan pukul 4. Ia tau jika suaminya pasti telah menunggu di depan kantor untuk mnejemputnya.


”Dan!“ sapa Awan tersenyum dan melambai ke arah istrinya. Dana sebenarnya cukup kaget dengan sapaan Awan yang cukup keras. Tapi, ia mencoba tersenyum canggung dan bergegas menghampiri suaminya. ”Gimana hari ini?” tanya Dana pada Awan. ”Cukup capek, aku full di lapangan tadi, sampai lupa cek handphone. Kamu tadi telfon aku ya? Maaf ya sayang.“ Kata Awan pada Dana. Dana sebenarnya merasa canggung dengan panggilan ‘sayang‘ yang Awan gunakan. Tapi Dana paham jika Awan hanya ingin mereka membiasakan diri dengan pernikahan yang sudah mereka jalani.


”Wan, sebenarnya aku mau cerita sesuatu. Tapi, nanti di rumah saja ya. Kamu janji tidak boleh marah padaku.“ Kata Dana sedikit manja. Ia tau hal yang dilakukan dirinya akan sangat di tentang oleh Awan. Bagaimana tidak, mengambil proyek di luar negeri sama saja memisahkan keduanya setelah menikah. ”Soal apa dulu? Sayang?“ goda Awan pada istrinya.

__ADS_1


”Kamu bisa enggak, gausah panggil sayang. Wan sumpah ya, kita itu lebih sering berantem daripada baikan. Kamu panggil aku seperti itu rasanya aneh. Geli Wan sumpah!“ kata Dana tertawa. Ia mencubit lengan Awan sambil merengek pada suaminya.


”Ya memang kenapa sih. Boleh kan aku panggil ‘sayang’”. Goda Awan lagi pada istrinya. Keisengan Awan pada Dana sejenak menghilangkan kegelisahan perempuan itu. 


Sesampainya di rumah, Dana langsung menyiapkan keperluan Awan untuk beristirahat dan mandi. Ia sadar jika kini dirinya tidak boleh berleha-leha lagi seperti sebelum menikah. Dana dengan cekatan menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Air hangat untuk mandi Awan juga sudah siap.


"Wan, mandi dulu! gantian nanti aku." kata Dana dari balik pintu kamar mandi. Ia lalu menghampiri suaminya yang sedang beristirahat di ruang tengah. Dana mengambilkan handuk untuk suaminya dan mengekor di belakang Awan.


Perempuan itu sedikit terkejut ketika Awan dengan tanpa aba-aba membuka kemejanya di depan mata Dana. Perempuan itu pun mengalihkan pandangan nya ke sisi lain.


" Kenapa? masih canggung?" tanya Awan menggoda istrinya.


"Udah jadi suami kamu Dan! kenapa sih masih suka deg-deg an gitu. Astaga!" Gumam dana sembari mengacak-acak rambutnya.


Untuk mengalihkan pikiran nya, Dana segera meluncur ke dapur untuk memasak. Mereka berencana untuk makan malam di rumah. Dengan masakan cumi lada hitam dan sayur kangkung sebagai pelengkapnya.


"Sudah selesai?" Tanya Dana ketika melihat Awan keluar dari pintu kamar mereka.

__ADS_1


"Sudah. Kamu masak apa? wangi banget!" Tanya Awan yang kini sudah sangat antusias duduk di kursi meja makan.


"Cumi, Aku mandi dulu sebentar ya, tinggal buat minum. Kamu bisa kan bantu aku? nanti kita makan bersama." Kata Dana tersenyum.


"Oke, mau kopi atau teh?" tanya Awan pada istrinya.


"Aku kopi, mau lembur." kata Dana tanpa menengok ke arah Awan.


Awan hanya menuruti ucapan istrinya. Ia masih sibuk mengeringkan rambutnya yang basah.


"Sudah waktunya potong rambut ini!" gumam Awan. Tak lama, Dana sudah selesai mandi dan berganti baju. Ia lalu memakai parfum dan sedikit lotion di tubuhnya.


"Sudah?" tanya Awan ketika melihat Dana sudah berganti pakaian. Harum semerbak dari tubuh wanita muda itu menusuk ke hidung Awan.


"Sudah." kata Dana pada Awan tersenyum.


"Wangi banget," kata Awan tersenyum.

__ADS_1


"Gak enak ya wanginya?" tanya Dana memastikan. Ia mengendus pakaian nya dengan sedikit takut. Dana takut jika aroma parfum miliknya mengganggu Awan.


"Enggak sayang. Harum kok, aku suka." Kata Awan lembut. Dana yang masih menyesuaikan diri dengan pujian dan kata-kata manis dari suaminya benar-benar dibuat salah tingkah. Ia hampir saja menumpahkan kopi yang ada di depan meja.


__ADS_2