
Hari itu seluruh keluarga besar Dana berkumpul hingga sore hari. Keluarga Awan sudah pulang selepas Ashar. Dana yang memang seringkali menjahitkan dress dan kebaya untuk pernikahan sepupu-sepupunya tak ambil pusing dengan kebaya yang akan ia pakai besok.
"Coba ini nduk, sepertinya lebih soft dibanding punya kamu yang warna merah." Mama mengambil kebaya yang ada di lemari. Kebaya itu berwarna soft pink dengan sedikit aksen bunga yang menurut Dana sangat cantik. Dana pernah mengenakan kebaya itu ketika kak Arum, kakak kak Sad menikah.
"Bagus," Mama melihat kebaya itu sangat cantik dibadan anak perempuannya. Awan yang masih tinggal di sana pun melihat Dana tampak anggun mengenakan kebaya itu.
"Cantik." Seluruh mata keluarga Dana menengok ke arah Awan ketika tanpa sadar ia memuji penampilan Dana. "Dress nya." Awan yang akhirnya tersadar akan hal yang dilakukannya lalu meneruskan ucapannya. Ia tampak canggung dan gugup.
"Aku jelek ya? yaudah ganti deh." Dana hendak kembali ke kamar untuk mengganti kebaya yang ia gunakan.
"Maksudnya Cantik, kamu cantik. Dress nya cantik juga." Awan mencoba meralat ucapannya. Dana memicingkan matanya. Ia melipat tangannya ke depan.
"Kayaknya kamu gak suka aku pakai ini." Kata Dana dengan nada yang cenderung kesal.
"Suka, siapa bilang?" Awan menghampiri Dana. Seluruh keluarganya yang ada di ruangan itu tampak menyibukkan diri pura-pura tak mendengar pertengkaran mereka berdua. "Cantik." Awan mencubit pipi Dana.
"Oh tidak! mataku." Adik Dana menutup matanya melihat tingkah calon kakaknya itu.
"Okey!" Dana lalu berbalik dan masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Tak lama setelah itu, Dana lalu keluar dan duduk di antara keluarganya. Mereka masih berbincang dengan Awan. Sesekali tante dan om menanyakan tentang Awan dan keluarganya. Nenek Dana yang juga duduk di sebelah Dana pun menanyakan banyak hal pada Awan. Hari itu adalah hari pertama bagi nenek dan kakek Dana bertemu dengan Awan.
Setelah malam cukup larut, beberapa keluarga Dana yang lain satu persatu mulai pulang. Tinggalah keluarga Dana dari mamanya yang memang menginap di rumah Dana. Sahabat Dana pun sudah pulang tak lama setelah acara pertunangan itu selesai. Kak Sad memilih tinggal lebih lama karena ingin mendengar cerita dari adik sepupunya itu secara detail.
__ADS_1
"Jadi yang nyebar undangan aku dulu, tapi yang menikah kamu dulu?" kak Sad melipat kedua tangannya ke depan. Matanya memicing menunggu jawaban adiknya itu.
"Ya gimana ya," Dana melirik ke arah Awan.
"Kok aku?" kata Awan yang seakan menjawab lirikan mata perempuan itu.
"Wan, titip adikku ini. Dia memang berisik orangnya, kamu harus banyak maklum padanya. Tubuhnya saja yang bertampah tua, tingkahnya tak lebih dewasa dari Niko."
Plak!
Dana memukul lengan kakaknya itu cukup keras. Kak Sad hanya mengaduh karena ulah dari adik sepupunya itu.
"Ati-ati ya kalau ngomong!" Dana lalu mengancam kakaknya. Ia mencibir karena kesal oleh perkataan kak Sad. Mereka mengobrol banyak hal tentang hubungan mereka. Terkadang kak Sad juga menitipkan pesan kepada Awan untuk menjaga adiknya itu. Hingga pukul 10 malam Awan akhirnya berpamitan untuk pulang ke rumahnya. Ia tak mau terlambat untuk datang ke acara istimewanya besok.
Malam itu benar-benar malam yang menggembirakan bagi Dana karena ia dapat bercengkrama dengan orang yang ia sayang. Keakraban tamppak terpampang dengan jelas diantara obrolan keluarga bersar itu.
***
Esok harinya, rumah itu sudah tampak ramai semanjak subuh. Dana sudah bersiap sesaat setelah sholat subuh. Tepat pukul 9 pagi, Dana dan keluarga besarnya lalu pergi ke pesantren milik pakdhe Awan. Disana, keluarga Awan telah menunggu kedatangan mereka. Aula pesantren tampak sudah dipenuhi oleh para santri dan keluarga besar kedua belak pihak. Dana duduk di ruangan yang cukup jauh dari aula itu. Ia ditemani oleh mama dan tante serta neneknya. Tak berselang lama, Fina dan Putri pun datang. Keduanya menemani sahabat mereka yang tampak gagal menyembunyikan rasa gugupnya.
"Tenang Dan, lancar kok." Fina mencoba menenangkan sahabatnya itu. Putri masih memegang tangan Dana yang terasa sedingin es. Mulut wanita yang memakai kebaya berwarna soft pink tak henti- hentinya mengucap doa meminta kelancaran acara kepada tuhan. Acara dimulai dengan pembukaan dan dilanjutkan dengan pembacaan lantunan Al-Quran. Setelah itu tentunya acara inti yaitu ijjab Qabul.
__ADS_1
Awan menjabat tangan papa Dana. Disana ada banyak mata yang tertuju padanya. Jujur saat itu dirinya benar-benar tak tahu cara mengatasi rasa gugupnya. Jantungnya berdetak sangat kencang menikmati setiap desir darah yang mengalir sangat cepat di tubuhnya. Papa Dana mulai menjabat tangan Awan yang sedingin es. Saat itulah Tuhan menjawab semuanya. Tuhan menjawab doa Dana dan Awan yang saling bertaut sehingga tersampaikanlah pesan dari tuhan kepada dua insan yang insyaAllah berjodoh. Dengan sekali tarikan nafas, Awan menyatakan janji sucinya kepada Allah. Janji tentang selalu beriman pada tuhannya. Janji untuk sehidup semati dengan perempuan yang kini telah ia pinang.
"Sah!"
Tangis haru dan tawa bahagia seketika menyeruak di dalam aula. Dana yang mendengar dari speaker yang terpasang di ruangan itu merasa sangat lega. Kini laki-laki itu telah sah menjadi pasangan hidupnya.
"Selamat duk," Mama memeluk Dana haru. Tante dan seluruh keluarga Dana yanga da di ruangan itu memeluk Dana bergantian.
"Kamu sekarang sudah jadi istri orang Dan," Fina memeluk sahabatnya itu erat.
"Alhamdulillah," Putri pun menangis haru. Ia sangat senang ternyata Dana sahabatnya yang 23 tahun tak pernah membawa seorangpun untuk dikenalkan pada mereka kini telah lebih dahulu menikah mendahului keduannya.
Perempuan itu mencoba menahan tangisannya karena tak mau riasan wajah yang sangat cantik itu luntur terkena air matanya. Matanya kini tampak berkaca-kaca. Ia mencoba sekuat tenaga menahan tangisan bahagianya itu.
Dana dan keluarganya lalu berjalan menuju aula. Mereka akan bergabung dengan keluarga yang lain serta tamu yang sengaja diundang khusus.
Untuk pertama kalinya, Awan melihat Dana memakai kebaya dengan riasan wajah yang membuatnya terpesona. Mata laki-laki itu terus mengarah pada Dana. Pandangannya tak bisa lepas dari perempuan yang kini berjalan ke arahnya. Awan seperti tersihir oleh perempuan itu.
"Cantik," Awan memuji istrinya dengan lembut. Tatapannya tampak teduh bagaikan angin yang menerpa dan menyapa Dana dengan lembut.
"Terimakasih," Dana tampak tersenyum canggung karena ucapan Awan. Pipinya memerah karena malu.
__ADS_1
Awan menyematkan cincin di jari manis kanan milik perempuan itu. Dana juga melakukan hal yang sama seperti yang Awan lakukan. Keduanya kini duduk bersanding dan mendengarkan petuah yang akan diberikan kepada mereka kedua sebagai suami dan istri. Setelah rangkaian acara itu selesai, mereka mengambil foto cukup banyak untuk dokumentasi. Acara pernikahan itu berlangsung dengan hikmat dan sederhana.
...****************...