
"Dan, besok kita ada ketemu pak Alex nih, aku sudah kontak beliau juga." Kata kak Lita pada Dana.
"Oke, biar aku yang siapin dokumennya nanti kak." kata Dana tersenyum.
"Cincin baru?" tanya kak Lita ketika melihat tangan kanan Dana yang memegang mouse. Dana refleks membelalakan matanya ketika ia melihat cincin nikah itu masih menempel di tangannya. Ia benar-benar mengutuk kebodohannya yang tak melepas cincin itu ketika di kantor.
"Iya, bagus kan?" Dana yang sudah ketahuan tak mau mengelak. Ia menunjukkan cincin itu pada kak Lita.
"Kok dipakai di kanan, kayak udah nikah aja." Mata kak Lita yang tak memakai kacamata pun menyipit melihat cincin yang menempel di jari manis perempuan yang ada di sampingnya.
"Biar gak ada yang gangguin aja." Kata Dana santai. Ia sengaja untuk membuat hal tersebut bahan bercandaan agar kak Lita tidak curiga.
"Dih, pamali! dari si Wisnu-Wisnu itu?" tanya kak Lita pada Dana.
"Yaudah aku pindah deh. Nih puas?" kata Dana yang melepas cincin dari jari manis tangan kanannya dan memindahkan ke jari manis tangan kirinya. Ia lalu menunjukkannya pada kak Lita. Mereka pun tertawa karena hal itu.
Siang itu, Dana mendapat telefon dari Awan. Dana yang sedang berada di ruang rapat divisinya tak manjawab telefon itu. Kak Lita yang mendengar handphone Dana yang bergetar hanya melirik sekilas.
"Angkat dulu Dan, sepertinya penting." Kata kak Lita pada Dana.
"Sebentar ya?" Dana lalu keluar dari ruangan dan mengangkat telefon itu.
"Halo Wan?"
"Halo, aku ganggu ya?" kata Awan dari balik telefon.
"Enggak sih, lagi rapat aja tadi. Kenapa?"
"Makan di luar yok?"
"Kapan?" tanya Dana mengerutkan dahi.
"Siang ini," Dana lalu melirik ke arah ruangan rapatnya yang terbuat dari kaca. Dana bisa melihat rekan kerjanya yang lain masih berdiskusi.
"Aku sepertinya telat deh makan siangnya. Rapatnya belum selesai." Dana sebenarnya merasa tak enak hati menolak ajakan Awan. Tapi, ia juga akan sangat merasa tak enak hati jika harus menunda rapat untuk makan siang dengan suaminya itu. Dana menggigit bibir bawahnya karena sedikit cemas menunggu tanggapan Awan.
"Ya sudah tak apa, aku makan sama yang lain saja. Kamu jangan sampai skip makan siang tapi ya?"
"Iya, maaf ya Wan. Kamu juga jangan lupa makan siang." Kata Dana pada Awan.
Dana lalu menutup telefon setelah mengucap salam. Ia buru-buru kembali ke ruang rapat untuk melanjutkan diskusinya dengan divisinya.
Waktu telah menunjukkan pukul setengah 1 siang. Diskusi di ruanga itu masih berlangsung.
"Break aja dulu kali ya?" kak Lita melirik jam yang ada di ruangan. Seluruh koleganya menghembuskan nafas berat dan meregangkan sendi-sendi mereka. Tak lama, kami dikagetkan dengan kedatangan kurir makanan yang mengetuk pintu.
__ADS_1
"Permisi kak? mau antar makanan. Atas nama istri saya." Seluruh manusia yang ada di ruangan itu mengerutkan dahi dan saling pandang termasuk Dana.
"Atas nama siapa pak?" tanya Dana lagi.
"Atas nama istri saya kak. Begitu tadi kata mas nya."
"Maaf pak disini kami belum ada yang menikah." kata Kak Lita
"Tapi katanya disuruh antar ke sini kak, di ruang rapatnya."
Tak lama handphone Dana pun berbunyi. Ada pesan masuk dari Awan.
Awan Makanannya sudah datang? kurang tidak? aku hanya beli 10 porsi, semoga cukup.√√
Dana membelalakkan mata melihat pesan itu. Ternyata orang yang memesan makanan itu adalah Awan.
Flashback!
Awan yang sedari tadi mengunyah makanan berkali-kali melihat ke arah handphonenya. Ia melihat tanda online yang ada di kontak Dana. Beberap kali juga ia mengirim pesan menanyakan rapat yang diikuti perempuan itu. Tapi, hasilnya nihil. Dana tak juga menjawab pesan darinya. Ia yakin jika perempuan itu belumlah makan siang.
Awan lalu membuka aplikasi untuk memesan makanan secara online. Ia lalu memesan beberapa menu di salah satu restaurant cepat saji. Awan tak begitu tau berapa jumlah orang yang ada di divisi Dana. Ia hanya asal memencet makanan yang akan ia beli. Ia memesan untuk 10 porsi berharap makanan itu cukup untuk mereka. Awan lalu mengorder makanan yang telah ia pilih. Tak lama, makanan itu telah siap dan diantar oleh seorang kurir.
KURIR MAKANAN Siang pak, pesanan sudah sesuai aplikasi ya, untuk pengirimannya alamatnya apakah sudah sesuai?
KURIR MAKANAN Baik pak,
^^^AWAN Oh iya pak, maaf nanti yang menerima bukan saya ya, yang menerima atas nama istri saya.^^^
Belum selesai Awan menulis, tiba-tiba ia dikagetkan oleh kedatangan orang yang tak asing baginya.
"Wan? Awan kan ya?" tanya Ferdi teman SMA Awan.
"Weh bro, astaga! bisa ketemu di sini ya? apa kabar?" Awan sangat senang menyalami Ferdi. Mereka lalu asyik mengobrol. Ferdi juga memesan makanan dan makan siang bersama Awan di restaurant itu.
Flachback off!
"Oh astaga itu saya pak lupa. Makasih banyak pak." Dana lalu mengambil makanan yang ada di tangan kurir itu. Seluruh manusia yang ada di ruangan itupun sedikit heran karena tingkah Dana.
Kurir itupun langsung pergi setelah Dana menerima pesanan makanan itu.
"Kamu yang pesen?" Tanya kak Lita keheranan.
"Iya, surprise! panggil yang lain kita makan sama-sama di sini." Kata Dana. Ia lalu menyuruh juniornya untuk memanggil rekan kerjanya yang lain untuk makan siang.
"Kapan kamu pesen? wah makan besar nih kita." kata kak Rindang yang baru saja masuk ke ruangan. Dana sebenarnya sangat canggung di situ. Tapi, ia harus menutupi hal itu agar rekan kerjanya tak curiga.
__ADS_1
Dana lalu keluar dari ruangan dan menuju kamar mandi. Ia menelefon Awan sembari mencuci tangannya.
"Halo Awan?"
"Halo, udah dateng makanannya?" tanya Awan dari balik telefon.
"Udah, kamu nih bikin aku jantungan tau."
"Kenapa memangnya? kurang kah makanannya?" Kata Awan sedikit hawatir.
"Bukan itu, kamu pesan atas nama siapa?"
"Maksudnya?" Awan mengerutkan dahi tak mengerti. Ia yang baru saja sampai di kantornya hanya duduk dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Atas nama istri saya?" Dana menekan kata katanya.
"Hah?" Awan yang penasaran pun membuka kembali pesan yang sempat ia kirimkan ke kurir makanan itu. "Astaga!" laki-laki itu menepuk jidatnya.
"Aku panik tau!" Kata Dana pada Awan.
"Maaf-maaf, tadi ada temen lama aku gak sengaja ketemu. Ternyata aku lupa belum selesai mengetiknya udah aku kirim."
"Ih kamu ini," Dana sebenarnya tak marah pada Awan. Toh jika ia ketahuan sudah menikah hal itu bukanlah sebuah kejahatan. Hanya saja Dana belum siap untuk menerima pertanyaan ganjil dan aneh dari rekan kerjanya.
"Ya maaf," Awan sedikit tak enak hati pada Dana.
"Makasih, udah dipesenin makan. Berkat kamu kita makan enak hari ini." Kata Dana mencoba menghapus rasa bersalah Awan.
"Jadi marah enggak?" tanya Awan memastikan.
"Enggak," Dana menggeleng pelan.
"Suka?"
"Hem, makasih." Perempuan itu menahan senyumnya. Ia tak mau terlihat berlebihan menanggapi perilaku Awan padanya.
"Cuma makasih?"
"Terus apa?" Dana mengerutkan Dahinya.
"Apa kek,"
"Ih apaan sih, yaudah iya Awan yang paling ganteng makasih. Sudah kan? Assalamualaikum." Dana lalu menutup telefon itu sebelum Awan menjawabnya. Awan yang mendengar Dana seperti salah tingkah pun hanya tersenyum geli. Ia pikir Dana memang lucu jika sedang bersikap seperti itu. Sangat jauh dari Dana yang dulu ia kenal.
...****************...
__ADS_1