JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
BEFORE THE DAY


__ADS_3

Pagi harinya setelah bangun dan selesai melaksanakan salat subuh, Dana bergegas menuju dapur. Ia membuat roti panggang untuk dirinya dan juga Awan.


"Dan, kamu lihat seragam aku gak? kemarin sudah ku setrika. Harusnya ada di gantungan baju." kata Awan pada Dana.


"Oh, ada kok Wan. Kemarin kan aku beres-beres, lalu aku letakkan di gantungan baju yang ada di luar lemari itu." Dana lalu menuju ke kamar untuk menunjukkan tempat yang ia maksud. Dana lalu mengambil baju yang Awan cari. Ia meletakkan baju itu dengan rapih di gantungan. "Ini," kata Dana memberikan baju tersebut pada Awan.


"Kenapa kamu letakkan di sini sih Dan? Kamu mau baju aku kusut? Aku gak suka kamu nyentuh atau mindah barang-barang yang udah aku tata ya!" kata Awan tampak kesal. Kekesalan Awan sedikit membuat Dana terkejut.


"Wan, aku menaruhnya sini juga supaya kamu gampang ambilnya. Lagi pula aku gantung juga kan? jadi gak akan kusut. Dan walaupun kusut kan tinggal di setrika." kata Dana enteng.


"Pokoknya mulai besok jangan sentuh barang-barang yang sudah aku tata, Ngerti?" Awan lalu masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Dana hanya memandang ke arah Awan pergi. Ia menghembuskan nafas berat melihat sikap Awan yang sedikit dingin padanya.


Tak mau ambil pusing. Dana lalu kembali ke dapur. Ia lalu menyajikan makanan di atas meja. Perempuan itu membuat mini pizza dari roti tawar. Ia menambahkan sosis, keju dan saus sebagai topping dari pizza yang dibuatnya. Ia duduk sembari menunggu Awan keluar dari kamar. Pagi itu, Dana berangkat ke kantor sedikit siang sehingga ia dapat sedikit bersantai di pagi hari.


Tak perlu waktu lama, Awan keluar dari kamar. Dana refleks berdiri dan tersenyum ke arah suaminya.


"Wan sarapan! lihat deh, aku buat pizza roti tawar. Aku sudah cobain tadi, enak!" kata Dana bersemangat.


Awan lalu menghampiri Dana yang masih berdiri di samping meja makan. Ia meneliti makanan yang istrinya buat. Awan hanya tersenyum sinis melihat makanan itu. Dana yang melihat senyuman Awan pun mengerutkan dahi.


"Kenapa? kamu gak suka kah?" tanya Dana menatap Awan.


"Kamu tahu gak, aku gak bisa makan saos kalau pagi. Kamu mau buat aku sakit perut?" tanya Awan dengan muka datarnya.


Dana hanya menggigit bibirnya mendengar perkataan Awan. Ia benar-benar mengutuk kebodohannya karena memberikan saos di atas roti itu.


"Maaf, maaf! yasudah kalau begitu aku buatkan roti coklat seperti biasa saja ya?" Dana lalu berbalik hendak mengambil bahan-bahan yang Ia butuhkan.


"Gak usah! aku minum susu saja. Kalau nunggu kamu nanti aku telat." Awan lalu meminum susu yang sudah Dana buat.


"Gak Wan sebentar kok. Kalau enggak aku bawakan bekal, nanti kamu bisa makan di mobil juga." Dana dengan cepat membuat roti coklat itu. Ia lalu membungkusnya di dalam kotak makan yang ia ambil dari lemari. Ketika ia berbalik, Awan ternyata sudah tidak ada di belakangnya.


"Cepet banget ngilangnya!" Dana sedikit berlari mengejar Awan keluar.


"Awan ini bekalnya!" kata Dana berteriak mencoba mengejar suaminya. Tapi, Awan telah pergi melaju dengan mobilnya meninggalkan halaman rumah itu. Hingga tersisa Dana yang kini berdiri di luar pagar tanpa alas kaki. Perempuan itu menghembuskan nafas berat.


"Gimana sih!" kata Dana bermonolog. Ia lalu melangkah ke dalam rumahnya. Dana merasakan sedikit perih di kakinya.


"Aw!" ketika dilihat, ternyata ada pecahan kaca yang menancap di sana. "Duh, ada-ada saja!" kata Dana melepaskan pecahan kaca itu. Ia meringis kesakitan ketika darah mengalir dari luka yang disebabkan pecahan kaca tersebut.

__ADS_1


Dana dengan cepat membasuh luka itu dengan air kran yang ada di depan rumahnya. Ia lalu masuk ke dalam untuk mengobati luka tersebut. Dana mengambil kotak P3K yang ada di lemari. Ia lalu menahan luka itu dengan kasa agar darahnya berhenti. Sembari mengobati lukanya, Ia membuka handphone yang ia letakan di kursi. Perempuan itu tersenyum ketika banyak notifikasi yang masuk di handphone nya. Beberapa ucapan dari sahabatnya bagaikan angin segar di pagi hari. Belum sempat ia membuka pesan dari sahabat-sahabatnya, Dana mendapat notifikasi telefon masuk dari Awan. Ia lalu mengangkat telefon itu.


"Halo Wan?" sapa istrinya dari telefon.


"Kamu ke kantor jam berapa?" tanya Awan.


"Jam 9 nanti, kenapa?" tanya Dana.


"Tolong bawakan berkas yang ada di mejaku. Nanti aku ambil ke kantormu."


"Berkas? sebentar," Dana lalu berjalan sedikit tertatih menuju meja Awan yang ada di sebelah ruang TV. "Oh iya ada, nanti aku bawakan." Kata Dana membereskan berkas tersebut.


"Oke terimakasih."


"Wan, aku bawakan makan...Halo?" belum selesai Dana berbicara, Awan sudah menutup telefonnya. Dana hanya menatap keheranan pada layar handphonenya.


"Dia kenapa sih? aneh banget!" tanyanya pada dirinya sendiri.


Dana lalu melanjutkan aktifitasnya mengobati luka yang ada di kakinya. Selesai itu, Ia lalu sarapan dan membereskan rumah. Ia sudah berjanji pada Awan untuk menyapu dan mencuci pakaian di hari itu. Meskipun sama-sama sibuk, mereka memang memilih untuk tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga. Sehingga, pasangan suami istri itu akan membagi tugas untuk mengerjakan pekerjaan rumah mereka.


Selesai mencuci, Dana lalu bersiap untuk berangkat. Tak lupa Ia membawa berkas yang Awan minta. Hari itu, Dana memilih menggunakan sepatu. Ia tak mau terlihat berjalan dengan pincang jika memaksakan diri menggunakan heels.


"Morning!" sapa Dana pada kak Lita.


"Morning! tumben pake sepatu, kenapa kakinya?" kata kak Lita melirik ke arah kaki Dana yang terlihat sedikit pincang.


"Iya nih! kena kaca tadi," kata Dana tersenyum.


"Kok bisa?"


"Ya bisa," jawab Dana singakat.


Tak lama, Awan pun menelefon Dana. Perempuan itu lalu mengangkat telefon dari Awan. Ia sedikit menjauh dari kak Lita agar perempuan itu tak mendengar pembicaraannya dengan Awan.


"Halo Wan?"


"Sudah sampai kantor?" tanya Awan singkat.


"Sudah, kamu mau ambil berkasnya sekarang?" tanya Dana.

__ADS_1


"Iya, sebentar lagi aku sampai." Awan masih berfokus pada kemudinya.


"Oh, yasudah, aku ke bawah sekarang." Kata Dana singkat. Awan lalu menutup telefon itu setelah mengiyakan perkataan Dana.


Dana pun mengambil dokumen yang ada di dalam tas nya. Ia menempatkan dokumen itu di map berwarna biru. Tak lupa ia membawa kotak makan yang sudah Ia bungkus rapih di sebuah tas kecil lengkap dengan susu kotak dan buah-buahan yang sudah Ia potong. Kemudian perempuan itu bergegas berjalan menuju ke lobi.


Tak lama, Ia melihat mobil Awan. Dana lalu keluar menuju tempat parkir.


Awan sedikit keheranan dengan cara Dana berjalan. Ia terlihat sedikit pincang dan tak seperti biasanya, istrinya itu memakai sepatu dan bergaya lebih santai di kantor. Dana bergegas masuk ke dalam mobil.


"Ini berkasnya," kata Dana menyerahkan berkas yang Awan minta.


"Thanks!" katanya singkat.


"Ini makanannya, kamu belum sarapan kan?" tanya Dana tersenyum. Awan menatap bungkusan yang Dana berikan padanya.


"Gak perlu repot-repot sebenarnya."


"Gak repot Wan, tenang saja." kata Dana. "Kalau begitu aku masuk ya? kerjaan aku masih numpuk. Kamu hati-hati nyetirnya." Dana lalu membuka pintu mobil Awan. Laki-laki itu memegang lengan istrinya. Ia mencegah Dana untuk pergi.


"Kaki kamu kenapa? tumben pake sepatu," tanya Awan.


"Gak papa, pingin tampil casual aja. Dah ya, hati-hati." Dana tak ingin membuat Awan hawatir. Ia lalu bergegas masuk ke dalam kantor untuk menghindari pertanyaan dari suaminya.


Dana lalu membuka sepatu miliknya. Ia meringis kesakitan ketika melihat darah masih menembus perban yang ia pasang. Darah itu bahkan menembus sampai kaos kaki milik Dana.


"Dan, kok bisa gitu?" tanya kak Rindang yang melihat aktifitas rekan kerjanya.


"Iya nih kak, tadi pagi kena pecahan kaca."


"Bahaya loh ini, sudah di obati?" tanya kak Rindang pada Dana.


"Udah, tenang aja," kata Dana santai.


"Diobati Awan?" tanya kak Rindang. Hal tersebut sontak membuat Dana terkejut. Ia refleks menengok ke sekeliling memastikan tak ada yang mendengar ucapan rekan kerjanya itu.


"Kak!" kata Dana berbisik.


"Maaf, maaf..." kata kak Rindang tertawa.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2