
"Kamu masih komunikasi sama Rachel?" tanya Dana serius.
"Enggak, kemarin dia cuma bilang sama aku, soal buku ini. Setelah itu yasudah." Jawab Awan.
"Kapan mau ngasih bukunya?" tanya Dana mencoba untuk tenang.
"Niatnya hari ini, tapi belum jadi." Jawab Awan.
"Yasudah, kita ketemu Rachel setelah ini." jawab Dana. Ia menatap Awan penuh ketenangan. Meskipun begitu, hatinya tetap merasa cemburu. Bagaimana tidak, perempuan yang dulu begitu dicintai oleh suaminya mencoba untuk menghubunginya lagi. Awan mungkin bisa mengamuk atau marah ketika hal tersebut terjadi pada Dana dan Wisnu. Tapi Dana tidak. Ia berusaha bersikap dewasa dan menghindari perdebatan yang tak perlu.
"Gak papa memangnya?" tanya Awan ragu-ragu. Laki-laki itu jelas menangkap kecemburuan Dana pada Rachel. Walaupun Dana berusaha setenang mungkin dalam menghadapi situasi.
"Kalau dibilang gak papa, aku jelas tak suka kamu bertemu dengan Rachel. Tapi dia masa lalu kamu Wan, dan sebagai istri kamu, aku tak perlu banyak komplain tentang itu. Kamu yang lebih tau perasaan kamu. Yang aku lakukan adalah, coba buat percaya sama kamu. Karna kamu suami aku." Jawab Dana pada Awan. Laki-laki itu menatap Dana lekat-lekat. Awan memeluk Dana erat. Ia sangat lega dengan reaksi Dana. Istrinya itu memang tak seperti perempuan kebanyakan yang akan marah atau menanggapi suatu hal dengan gegabah. Ia tau bagaimana mengatur emosinya dengan baik. Perempuan yang ia nikahi memang perempuan yang tepat untuk Awan.
Setelah membeli tissue, Awan dan Dana menuju ke sebuah caffe, tempat Rachel menunggu. Perempuan itu telah selesai dengan pekerjaan nya. Rachel sengaja menunggu Awan setelah mendapat pesan dari laki-laki itu.
"Kamu mau ikut?" tanya Awan pada Dana.
"Aku tunggu di sini. Jangan lama-lama." kata Dana tersenyum.
"Gak akan!" jawab Awan singkat. Ia lalu mengecup kening istrinya tiba-tiba. Membuat Dana sedikit tersentak karena sikap Awan padanya. Meski sudah beberapa bulan menikah dan hidup bersama, tapi Dana masih belum terbiasa dengan sikap romantis dari laki-laki yang ia nikahi. Dana terkadang masih dibuat salah tingkah dengan sikap Awan padanya.
__ADS_1
Awan lalu keluar dari mobil dan berlari kecil sembari membawa buku di tangan kanan nya. Gerimis di luar menjadi alasan mengapa laki-laki itu bergegas untuk masuk ke dalam kafe.
"Haruskah di cium?" gumam Dana sembari mengulum senyum di bibirnya.
Suasana kafe itu tak begitu ramai. Ada beberapa pasang muda-mudi yang duduk di berbagai sudut kafe. Awan menelusuri ruangan di kafe itu dengan matanya yang tajam. Sampai akhirnya ia melihat seseorang yang duduk di pojok ruangan. Seseorang yang sangat ia kenal. Awan menghela nafas panjang sebelum akhirnya mrnghampiri wanita itu.
"Maaf terlambat." Kata Awan singkat. Laki-laki itu lalu segera duduk di depan Rachel. Wanita yang ada di depan nya pun tersenyum.
"Gak papa, sama siapa?" tanya Rachel pada Awan.
"Dana, istriku." Jawab Awan tersenyum.
"Aku senang kamu bahagia Wan," kata Rachel pada mantan pacarnya.
"Semoga kamu juga bahagia selalu Cel." jawab Awan. Laki-laki itu menghela nafas sebelum menyambung ucapan nya. "Ini buku yang kamu minta." Rachel menatap buku berwarna biru yang Awan bawa. Tatapan sendu dari perempuan yang sudah putus dari pacarnya.
Cukup lama sampai Rachel akhirnya mengambil buku yang ada di atas meja. Ia lalu tersenyum dan berterimakasih pada Awan.
"Aku harap buku ini tak akan menjadi beban untukmu. Kalau suatu saat nanti kamu menemukan orang yang tepat, kamu bisa membuang buku ini Chel. Atau kalau terlalu berat untukmu melihat buku ini, kamu dapat membuangnya." Saran Awan pada Rachel.
"Bagaimana mungkin aku membuang buku ini dengan mudah Wan." Jawab Rachel tersenyum getir. Air mata perempuan itu sudah nampak di pelupuk matanya. Rachel dengan sigap menahan laju air mata itu dengan sehelai tissue.
__ADS_1
"Kamu akan menemukan laki-laki yang lebih baik dari aku." Jawab Awan.
"Pasti!" jawab Rachel tersenyum." Jadi sepertinya ini akhirnya ya Wan. Aku melepasmu." kata Rachel pada Awan. Perempuan itu lalu menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Awan.
Awan menerima uluran tangan Rachel sembari tersenyum. Tak ada perasaan Sedih atau memori sedih dari masa lalu Awan saat itu. Yang ada keikhalasan melepas masalalunya yang indah demi masa depan yang lebih indah lagi dengan perempuan yang telah sah menjadi istrinya.
"Yaudah, kasihan istrimu nunggu di mobil. Pulang duluan aja." Kata Rachel pada Awan.
"Gak papa?" tanya Awan ragu-ragu. Disisi lain ia tak tega meninggalkan Rachel sendiri. Awan tau selepas ia meninggalkan tempat itu, perempuan itu pasti akan menangis. Tapi Awan tak mau meninggalkan Dana lebih lama lagi. Awan tau istrinya itu pasti menunggu dalam kecemasan. Betapa besar hati istrinya itu menyuruhnya menyelesaikan masalahnya dengan seseorang yang pernah menjadi pacar dari suaminya.
"Gak papa Wan, serius." jawab Rachel pada Awan.
"Oke, aku pulang dulu ya Chel." Awan lalu menjabat tangan perempuan itu dan bergegas menuju mobil.
Mata Rachel mengikuti ke arah Awan pergi. Terlihat dari jauh laki-laki itu mulai menghilang dari pandangan nya.
Rachel lalu menangis setelah melihat Awan pergi. Dirinya benar-benar merasa bersalah atas perpisahan dirinya dan Awan. Hati perempuan itu bagai tersayat ketika teringat kenangan dari mereka yang saat ini ada di dalam buku berwarna biru itu.
Di dalam mobil, Dana mrlihat Awan berlari kecil menuju mobil. Gerimis diluar benar-benar menambah kesenduan di hari itu. Dana tersenyum tak kala melihat Awan masuk ke dalam mobil secepat kilat. "Yok?" Awan lalu mengaitkan sabuk pengaman ke tubuhnya. Dana yang sedari tadi mengamati aktivitas suaminya itu lalu memeluk Awan. Kegelisahan Dana sedari tadi ditumpahkan nya dalam pelukan suaminya. Awan cukup kaget dengan pelukan Dana yang tiba-tiba. "Jangan bilang apa-apa dulu. Sebentar." Dana sedang meredam emosinya. Ia tak ingin menangis di depan Awan hanya karna masalah sepele. Ia tau hati Awan untuk siapa. Tak ada 100 hitungan Awan sudah kembali ke dalam mobil. Itu artinya Awan telah merelakan Rachel. Dana tak mau mempermasalahkan hal kecil yang akan merusak kebahagiaan mereka.
"Kamu kalau mau marah boleh lo sayang," Kata Awan pada istrinya. Awan memeluk Dana. Laki-laki itu mengecup kening istrinya dengan lembut. Dana hanya menggeleng tak menjawab pertanyaan Awan. Baginya, pelukan dari suaminya sudah cukup untuk meredam seluruh amarah dan kegelisahan nya.
__ADS_1