JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
TIDAK BAIK-BAIK SAJA


__ADS_3

Setelah acara selesai, Dana menyempatkan waktu untuk berbincang dengan kak Sad dan Nisa. Nisa yang tau jika Dana telah menikah terlebih dahulu meminta saran untuk pernikahannya dengan kak Sad.


"Intinya nih Nis, komunikasi sih. Sampai sekarangpun ya kami masih banyak kurangnya, gimanapun nanti ke depannya asal saling aja insyaAllah bakal bertahan kok. Saling support, saling berjuang, saling menghargai, saling mengalah menurunkan ego. Ya aku sampai sekarang juga masih banyak berantemnya sama Awan. Sama-sama keras kepala kita, cuma ya balik lagi ke tujuan pernikahan kalian apa. Kalau masih mau sama-sama berjuang ya langgeng." kata Dana panjang lebar. "Kak Sad lebih sabar sih menurutku, bisa lah." kata Dana melanjutkan ucapannya.


"Sabar banget dia, makanya kadang aku takut dia yang gak akan tahan sama aku yang suka uring-uringan, marah-marah, ngambekan." Nisa tersenyum menatap temannya.


"He love you so much! itu yang aku tau." Dana tersenyum menatap sepupu barunya itu.


"Sayang, aku bantu antar ini ke tempat Nisa sama kak Sad ya?" tanya Awan pada istrinya.


"Oh, iya sok lah!" jawab Dana santai. Awan membawa beberapa barang-barang Nisa dan kak Sad serta kado-kado yang diterima oleh pengantin. Dana meneruskan obrolannya dengan Nisa. Di ruangan itu juga terdapat beberapa sepupu perempuan Dana yang menunggui mereka.


"Dan, dicari tuh." kata Angga, salah satu sepupu laki-laki Dana.


"Dicari siapa Ngga?" tanya Dana penasaran.


"Gak tau, teman kak Sad." mendengar hal itu, Dana langsung tau siapa orang yang mencarinya. Nisa menatap Dana penuh arti.


"Kalau gak nyaman gak usah ditemuin Dan," kata Nisa pada Dana. Nisa yang tau siapa orang yang Angga maksud pun memberi saran kepada Dana. Dana berfikir sejenak untuk memutuskan. Ia tak bisa terus menghindar dari kak Wisnu. Mau tak mau, pasti akan ada saatnya mereka bertemu dan berpapasan. Ia berfikir jika dirinya harus bersikap dewasa. Dana adalah wanita yang telah menikah, tak sepantasnya ia terganggu dengan laki-laki lain hanya karena masalalunya.


"Bentar ya?" kata Dana tersenyum. Ia lalu beranjak dari posisi duduknya dan pergi meninggalakn ruangan itu. Dana memutuskan untuk menemui kak Wisnu. Ia pikir mungkin ada yang ingin kak Wisnu sampaikan padanya dan ketika tadi ia bertemu dengan laki-laki itu, tak ada perasaan canggung yang dirasakannya. Dana yakin tak akan terjadi masalah hanya karena ia mengobrol sejenak dengan kak Wisnu.


"Kak? cari aku?" tanya Dana ketika melihat kak Wisnu yang sedang duduk di taman dekat tempat resepsi dilaksanakan.


"Hai, iya nih," jawabnya dengan canggung.


"Ada apa?" tanya Dana penasaran.

__ADS_1


"Enggak, aku mau tanya kabar aja."


"Oh, aku baik. Kak Wisnu gimana?" tanya Dana basa-basi.


"Baik." jawabnya singkat.


"Vega?" tanya Dana lagi.


"Baik juga." kata laki-laki itu tersenyum. Namun, raut wajah kak Wisnu menunjukkan hal lain. Dana tak melihat kebahagiaan di wajah laki-laki yang ada di depannya.


"Ada yang mau kak Wisnu bicarakan sama aku? soal apa? oh, menyangkut program hamil Vega pasti kan?" Dana mencoba menebak-nebak.


"Bukan," jawabnya singkat.


"Terus soal apa?" Dana mengerutkan dahi mendengar jawaban kak Wisnu.


Kak Wisnu tampak berfikir keras sebelum akhirnya membuka mulut. Ia mengambil aba-aba untuk menjelaskan pada Dana maksud dari dirinya ingin bertemu dengan Dana.


"What do you mean?"


"Aku gak cinta sama dia, aku merasa bersalah menikah tanpa cinta. Aku merasa bersalah sama dia. Itu sebabnya aku gak bisa menyentuh dia. Aku tau Vega sudah berusaha menjadi istri yang baik untuk aku. Tapi aku gak tau Dan aku harus bagaimana dengan perempuan itu." kak Wisnu terlihat frustasi ketika bercerita dengan Dana.


"Kak, menurut aku gak seharusnya kamu ceritakan ini padaku. Terlepas dari kita dekat sebagai teman atau kita pernah dekat dulunya, gak seharusnya aku dengar tentang hal ini."


"Aku gak tau Dan mau cerita sama siapa lagi! cuma kamu yang ada di pikiran aku. Cuma kamu yang bisa aku percaya untuk mendengarkan cerita aku ini." kak Wisnu menekan ucapannya.


"Oke, jadi kak Wisnu mau gimana?" tanya Dana mencoba menenangkan keadaan.

__ADS_1


"Aku gak tau Dan, hati aku gak buat Vega Dan. Aku gak tau bagaimana caranya merubah hati aku ini." kak Wisnu lalu duduk di kursi taman itu. Ia mengusap wajahnya kasar.


"Kak, cinta itu butuh waktu. Kalau memang kak Wisnu belum bisa cinta sama Vega sekarang, aku yakin dengan berjalannya waktu perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya. Kak Wisnu hanya perlu membuka hati kakak untuk menerima keberadaan Vega di samping kak Wisnu." Dana mencoba berbicara dan memberi pengertian pada kak Wisnu.


"Gak semudah itu Dan!" kak Wisnu menatap Dana dengan tatapan sendu.


"Mudah atau sulit itu tergantung dari kak Wisnu sendiri,"


"Ini gak mudah buat aku!" kak Wisnu menekan ucapannya. Dana menatap mata sayu laki-laki yang ada di hadapannya. Tatapan penuh rasa bersalah dan penyesalan yang pernah ia lihat ketika mereka mengakhiri hubugan dulu.


"Kak! kak Wisnu harus coba." Dana mencoba meyakinkan laki-laki itu.


"Ini gak segampang itu Dan, karena aku masih sayang sama kamu!"


Dana shock mendengar ucapan kak Wisnu yang tiba-tiba. Ia benar-benar tak menyangka jika laki-laki itu dengan terang-terangan mengatakan hal yang tak harusnya ia katakan ketika telah bersama dengan pasangan masing-masing.


Cukup lama Dana diam sampai akhirnya ia merespon ucapan Wisnu. "No! please,..." Dana menatap kak Wisnu dengan tatapan kecewa.


"Dan, help me! rasa bersalah aku sama kamu terlalu besar. Rasa kecewa aku ketika mendengar kamu menikah dengan laki-laki lain benar-benar buat aku hancur Dana. Aku gak berfikir panjang lagi untuk menerima perjodohan dari mama dengan Vega."


"Kita masa lalu. Itu yang perlu kak Wisnu tau. Awan masa depan aku, Vega masa depan kakak! aku sayang dengan suamiku. Dan kak Wisnu juga harus bisa menerima dan berusaha untuk mencintai Vega." Dana benar-benar kecewa dengan kak Wisnu yang bersikap tak rasional.


"Aku harap ini terakhir kalinya aku dengar soal ini dari kak Wisnu. Aku perempuan yang sudah menikah. Kak Wisnu laki-laki yang sudah beristri. Aku tak ingin punya masalah dengan kakak atau Vega. Aku juga tak ingin Awan salah paham soal kita." Dana meninggalkan kak Wisnu dengan perasaan yang campur aduk. Ia sedih melihat kak Wisnu yang tak bahagia dengan pilihannya sendiri. Ia juga kecewa dengan kak Wisnu yang tak berfikir secara rasional. Tapi hal yang membuatnya sangat marah adalah kak Wisnu membangkitkan kenangan yang menyakitkan yang ingin Dana kubur bersama dengan pudarnya rasa cintanya pada kak Wisnu.


Dana melihat Awan yang berdiri tak jauh dari tempat ia dan kak Wisnu berbicara. Awan menatap Dana dengan tatapan kekecewaan yang mendalam.


"Awan..." Dana benar-benar dibuat panik karena kedatangan Awan yang tak ia duga. Langkahnya terhenti ketika melihat Awan yang tengah menatapnya tajam.

__ADS_1


"No,..."


...****************...


__ADS_2