
"Kita mau kemana?" tanya Awan yang masih menyetir mobilnya.
"Berhenti saja di sini." kata Dana singkat.
"Kamu mau ngomongin apa sih?" tanya Awan lembut.
"Ada yang mau kamu ceritain sama aku?" tanya Dana langsung pada Awan.
"Gak ada, kenapa?" tanya Awan balik. Ia tampak bingung dengan pertanyaan istrinya.
"Yakin ga ada?" tanya Dana lagi.
"Kamu mau dengar soal apa Dan?" tanya Awan pada istrinya. Ia menatap Dana dengan tatapan lembut.
"Soal Rachel. Kenapa dia masih telfon kamu?" Raut wajah Wan seketika berubah.
"Dan," Awan terlihat kaget mendengar ucapan Dana. Awan tampak berfikir keras sebelum melanjutkan ucapannya.
"Oke, aku akan jelaskan." Awan mengusap kasar wajahnya sebelum meneruskan ucapannya. "Kemarin, dia sakit. Aku gak tau kenapa dia telfon aku. Aku cuma bantu dia aja bawa ke rumah sakit. Dia pingsan di rumahnya Dan, gak mungkin aku diemin kan?" jelas Awan.
"Dan kamu gak bilang sama aku?" tanya Dana masih dengan raut yang serius.
"Aku bilang sama kamu, aku jenguk teman aku."
"Teman? teman istimewa begitu sampai kamu perhatian sama dia, antar dia ke rumah sakit, nungguin dia..."
"Ini nih, kamu selalu mempermasalahkan hal kecil seperti ini." kata Awan memotong perkataan istrinya.
"Hal kecil kamu bilang?" Dana benar-benar tak paham dengan kata-kata yang terlontar dari mulut suaminya. Ia tak habis fikir jika Awan menganggap masalah sebesar ini adalah hal kecil untuknya.
"Dan aku cuma ingin membantu dia. Gak lebih." jelas Awan yang tampak mulai frustasi.
"Kalau gak lebih, kenapa gak jujur sama aku? kenapa kamu harus berdalih itu teman kamu segala macam? kenapa kamu gak bilang aja kalau kamu bantu Rachel? apa yang kamu tutup-tutupi itu Wan akan buat aku semakin curiga sama kamu, tau? kenapa kamu selalu bohong sama aku?"
"Karena aku tau respon kamu akan seperti ini." jawab Awan pada Dana.
"Terus, jadi kamu gak jujur sama aku? iya? kalau aku gak tau dengan sengaja seperti ini, kamu gak akan pernah cerita kan?"
__ADS_1
"Dan, aku cuma bantu dia sebagai teman. Gak lebih!"
"2 kali Wan kamu ketahuan seperti ini. Aku harus gimana? jadi aku harus diem aja? terus nunggu kamu di rebut lagi sama dia iya?" kata Dana pada Awan. Hatinya seperti teriris mendapati suaminya yang tak berterus terang padanya.
"Gak akan ada yang ngerebut aku Dan, kenapa bahasan kamu sampai kesana sih?" Awan memegang pundak Dana dengan kedua tangannya. Ia mencoba meyakinkan istrinya.
"Karena kita nikah tanpa cinta Wan! kamu gak cinta sama aku! iya kan? kamu nikah karena mama! kamu belum bisa lepasin Rachel sepenuhnya! wajar kan aku takut? karena aku jatuh cinta sama kamu, karena aku sayang sama kamu!" Dana mulai menangis mengatakan hal itu pada Awan. Ia menepis tangan Awan agar tak lagi menyentuhnya. Laki-laki yang ada di depannya hanya diam memandang dengan sendu. Ia lalu memegang tangan istrinya.
"Maafin aku." kata Awan lembut.
"Lagi?" tanya Dana yang masih menangis.
"Dan, Rachel itu masalalu aku, oke? Aku sudah tak punya rasa sama dia. Aku nolong dia karena aku kasihan dengannya. Dia pergi ke Jakarta karena aku. Dia ngikutin aku ke Jakarta, merantau di sini sendirian tanpa keluarga, karna aku Dan! aku gak bisa mengabaikan dia begitu saja." kata Awan mencoba menjelaskan. "Dan juga, aku nikah sama kamu memang karena mama jodohin kita, tapi terlepas dari itu semua, aku gak akan nikah sama kamu hanya karena mama Dan! kamu paham kan maksud aku?"
"Aku gak paham Wan sama kamu. Aku gak tau apa aku harus percaya sama kamu atau enggak. Hati aku sakit Wan, 2 kali aku tau kamu gak terus terang sama aku. Aku gak suka kamu masih dekat dengan Rachel!" Dana melepaskan genggaman tangan Awan. Perempuan itu menghapus air matanya. Ia lalu keluar dari mobil dan pergi meninggalkan mobil Awan.
"Dan kamu mau kemana?" Awan menyusul Dana.
"Dana!"
Dana lalu masuk ke dalam taxi. Ia menangis sejadi jadinya. Ia tak tau apa yang harus ia perbuat sekarang.
"Mba maaf ini mau diantar ke mana?" tanya sopir taxi itu ragu-ragu.
"Ke pantai pak!" kata Dana asal. Ia seperti tak punya tujuan saat itu. Tak ada tempat yang terfikir di kepala Dana selain pantai. Sopir taxi itu hanya menuruti perkataan Dana. Setelah 1 jam perjalanan, Sopir taxi itu memberhentikan mobil di tepi pantai. Dana lalu membayar dan turun dari taxi. Karena merasa cemas, sopir taxi itu pun memberikan nomornya pada Dana.
"Mba, ini nomor telfon saya, nanti kalau mba mau pulang bisa telfon saya karena pasti tidak akan ada yang mengambil orderan taxi di sini." kata sopir taxi itu memberikan selembar kertas pada Dana.
"Terimakasih," jawab Dana singkat.
Sopir taxi itu lalu pergi meninggalakan Dana. Dana berjalan ke arah pantai. Ia lalu duduk di tepi pantai menghadap ke arah ombak yang datang. Ia hanya terdiam dan memejamkan matanya. Mendengarkan lantunan puisi dari ombak yang perlahan mendekat menghampirinya. Merasakan angin yang menerpa tubuhnya. Hatinya perlahan mulai damai bersama dengan alam yang dengan ramah menyambutnya.
***
Awan lalu kembali ke restaurant tempat keluarganya makan. Ia lalu menjemput Nanda seorang diri.
"Dana mana Wan?" tanya mama pada menantunya.
__ADS_1
"Dia tadi ketemu teman ma, terus katanya mau pergi sama temannya, yasudah Awan bolehin." kata Awan terlihat canggung. Ia mencoba mencari alasan pada keluarganya tentang Dana yang tak datang bersama dengannya.
Mereka lalu pulang ke rumah tante Ari. Cukup lama mereka berbincang tapi Dana tak kunjung pulang. Awan yang mulai cemas pun mencoba menelefonnya. Tak ada jawaban dari perempuan itu. Handphone milik Dana tak juga tak juga di aktifkan. Siang berganti sore, sore berganti petang. Mama dan tante berulang kali bertanya soal Dana. Awan hanya mencari alasan supaya mereka semua tak curiga. Awan yang mulai cemas pun mengambil kunci mobil tante dan berniat untuk mencari istrinya.
"Awan? sini duduk," kata mama mertuanya menghentikan langkahnya. Awan lalu menuruti ucapan mertuanya meskipun ia masih tampak cemas.
"Kenapa ma?" tanya Awan spontan.
"Dana gak pergi sama temannya kan?" Awan hanya menunduk tak menjawab ucapan mama.
"Mama tau, teman-teman Dana sudah banyak yang meninggalkan Jogja. Tak mungkin dia pergi bersama dengan temannya di sini. Awan tau Dana kemana?" tanya mama lembut.
"Maafin Awan ma," jawab Awan lirih.
"Mama gak akan ikut campur dengan masalah kalian, kalian sudah dewasa, kalian sudah bisa menyelesaikannya sendiri."
"Iya ma," jawab Awan lemah.
"Mungkin ini juga salah mama sampai Dana seperti ini. Wan, anak mama itu gak akan pernah berbuat seperti ini kalau gak ada sebabnya. Mama yakin Dana punya alasan sendiri. Dan mama yakin, kalian bisa menyelesaikan masalah ini sama-sama. Kalian tau karena apa? karena kalian punya satu sama lain, Dana jelas sayang sama kamu Wan, dan mama yakin kamu juga sayang sama anak mama." Mama menjeda ucapannya. Ia menghela nafas berat sebelum meneruskan perkataannya.
"Anak mama itu mama didik dengan keras dari dulu. Dulu mama ingin sekali Dana menjadi orang yang sukses, orang yang gak kekurangan. Kadang mama kelewat keras karena ambisi mama pada anak pertama mama. Tapi entahlah mengapa anak itu nurut banget sama mama. Dulu ekonomi mama belum seperti sekarang, masih sulit, papa Dana masih harus merantau keluar Jawa. Mama di sini harus pandai mengatur keuangan. Jadi mama ingin Dana tak susah seperti mama dulu. Tapi mama sadar, yang Dana butuhkan bukan hanya itu, dan mama sadar, yang terpenting sekarang adalah anak mama bahagia. Baik kamu, ataupun Dana. Mama ingin kalian bahagia." kata mama pada menantunya. Ia mengusap air matanya yang tak disadari sudah menetes di pipinya.
"Awan janji, Awan akan berusaha buat Dana bahagia ma," kata Awan pada mama mertuannya. Mama hanya mengangguk dan tersenyum pada anak nya.
"Yasudah, kamu cari Dana. Kalau tebakan mama sih, dia pergi ke pantai. Dia suka banget diem liat air." kata Mama tersenyum.
"Makasih ma," kata Awan beranjak dari tempat duduknya.
Sesampainya di luar rumah, Awan melihat Dana keluar dari sebuah taxi. Ia lalu menatap Dana dengan tatapan sendu. Dana lalu berbalik menatap Awan.
Awan menghampiri istrinya yang masih diam di depan gerbang rumah tante Ari.
"Maaf kemaleman, tadi nunggu sopir taxi jadi..." Belum selesai Dana berbicara, Awan memeluk istrinya dengan erat.
"Jangan pernah seperti ini lagi," kata Awan yang masih memeluk istrinya. Dana lalu membalas pelukan Awan. Melepaskan keresahan dan beban yang ada di hatinya.
...****************...
__ADS_1