JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
NOSTALGIA


__ADS_3

Pagi harinya, Awan dan Dana telah bangun. Awan terlihat berfikir keras di tepi tempat tidur. Dana yang sedari tadi tengah mandi pun keluar dari kamar mandi.


"Aku mau bicara,"


"Yasudah, bicara lah," kata Dana berjalan menuju kursi di samping tempat tidur. Ia menatap Awan yang masih terlihat berfikir keras.


"Aku mau tahu plan kamu selama 5 tahun kedepan."


"Kenapa kamu mau tahu soal itu?" Jawab Dana pada Awan.


"Dan, aku menghargai rencana kamu nanti. Makanya aku perlu tahu agar aku juga paham kemana arah pernikahan ini berjalan."


Tok, Tok!


"Sayang ayo sarapan dulu." teriak mama dari balik pintu.


"Iya ma," Dana lalu berdiri dan membuka pintu. "Yok Wan?" kata Dana mengajak Awan turun ke bawah untuk sarapan.


"Biar Dana bantu ma," kata Dana membawakan makanan yang sudah mama dan bu Lastri masak.


"Gimana semalem?"


"H?" Dana terlihat kaget dan tak paham ketika menjawab ucapan mama.


"Gak papa," kata mama tersenyum. Mereka lalu melanjutkan aktifitasnya. Selepas sarapan, Dana membantu mama merawat tanamannya yang ada di kebun belakang. Rumah Awan memang lebih luas dibanding rumah Dana yang ada di tengah pemukiman kota. Rumah itu memiliki pemandangan yang indah dengan latar sawah dan gunung yang menjulang tinggi. Beberapa hektar sawah itu adalah kepunyaan keluarga Awan. Di samping rumah, terdapat kebun yang cukup luas yang pastinya ditanam sendiri oleh mama. Mama Hesti bahkan mempunyai rumah anggrek yang menjadi bisnis sampingan keluarga mereka.


"Kamu bawalah beberapa buat di rumah kalu suka."


"Dana gak pandai merawat tanaman ma, nanti sayang kalau mati." kata Dana tersenyum. Mereka sedang mengelap daun anggrek agar lebih bagus dan mengkilap.


"Awan gimana? ngerepotin enggak?"


"Enggak mah, Awan baik sama Dana."


"Kemarin ditinggal ya sama Awan?"


"Dana yang minta kok ma, lagi pula kasihan kalau Awan di sana kelamaan, gak ada teman ngobrol."


"Ya gitu, dia lebih introvert soalnya. Kamu harus banyak maklum jadinya ya?" Dana hanya tersenyum menjawab pertanyaan mama Hesti.


"Awan itu, anak mama yang apa ya... paling nurut lah pokoknya kalau sama mama. Sebenarnya kalian sepertinya setipe. Jadi mama sebenarnya sedikit cemas saja, tapi mama bersyukur kamu bisa bersikap lebih dewasa dari Awan." Dana lalu tersenyum menengok ke arah mama mertuanya.


"O iya Wan, untuk gedung dan makanan nya kemarin mama dan mama mertua kamu sudah bertemu dengan EO nya, sudah deal juga, jadi untuk hal itu sudah beres."

__ADS_1


"Oke ma, Awan sama Dana ngikut saja, nanti Awan transfer ke mama saja uangnya."


"Minggu depan kalian pulang lagi ya? fitting baju, untuk temanya sesuai yang Dana mau kan? putih biru?"


"Iya ma putih biru, terimakasih banyak ya ma? Awan dan Dana jadi ngerepotin mama lagi,"


"Enggak lah, mama malah senang, Untuk lainnya, nanti biar mama yang urus, kalian tinggal terima jadi aja." Dana tersenyum ke arah mama mertuanya. Ia memeluk mama Hesti hangat. Dana memang sangat beruntung mendapatkan mama mertua sebaik mama Hesti.


"Sayang mau mampir rumah mama dulu kan nanti? mau berangkat kapan?" tanya Awan pada Dana.


"Aku ngikut kamu saja." kata Dana tersenyum.


Siang harinya, kedua pasangan itu memutuskan untuk pergi ke rumah orang tua Dana sebelum pulang ke Jakarta. Seperti layaknya anak yang pualng ke rumah orang tuanya, Mama Hesti membawakan mereka banyak sekali bahan makanan seperti beras dan sayur yang ditanam di kebun. Ada beberapa buah-buahan dan makanan lainnya yang terbungkus rapih di sebuah kardus. Tak lupa, mama membawakan mereka rendang yang keduanya suka.


"Mama bawain banyak banget penuh mobil kita." kata Dana tersenyum.


"Gak usah beli beras dah sampe bulan depan." kata Awan menimpali.


Mobil Awan melaju pulan membelah jalan di pinggir kota. Dana sangat ingat dengan jalan yang mereka lewati.


"Jalan ke sekolah kita dulu." kata Dana tersenyum. Ia mengingat masa SMA yang menyenangkan.


"Mau mampir?" tanya Awan pada istrinya.


"Buka itu gerbangnya, mampir ya bentar?" kata Awan menyalakan lampu sein mobilnya.


"Ih seriusan?" tanya Dana tak yakin.


"Iyalah dah berhenti juga kan?" Awan dan Dana lalu turun dari mobil. Terlihat di depan mata mereka sebuah gedung yang tak terlalu tinggi dari depan.


"Gak berubah memang ya?" kata Awan berjalan masuk ke dalam sekolah. Entah mengapa hari itu gerbang sekolah dibuka lebar.


"Tumben di buka ya hari Minggu?"


"Ada yang lagi di dalam kali, dulu kalau mau ada event aku hari Minggu juga suka masuk ke sekolah." jawab Awan. Dana hanya mengangguk tanda mengerti. Keduanya berjalan menyusuri sekolah mereka dulu.


"Kelas aku di sana." tunjuk Dana pada sebuah ruangan yang ada di lorong yang mereka lalui.


"Ini kelasku," kata Awan menunjuk ruangan di samping mereka.


"Wait, kamu IPS?" tanya Dana pada Awan.


"Kamu gak tau?"

__ADS_1


"No, asli aku baru tau Wan," kata Dana kaget.


"Dah emang gak bener dah," Awan berjalan meninggalkan Dana, ia menggeleng-gelangkan kepalanya merajuk pada istrinya.


"Ya maaf aku gak tau Awan, jangan marah lah. Aku kira kamu masuk pertanahan itu ya dari IPA." kata Dana tertawa menyusul suaminya.


"Sumpah parah banget, gak tau jurusan suaminya." kata Awan masih merajuk. Dana merangkul suaminya dan membujuknya agar tidak lagi marah padanya.


"Kamu fakultas ekonomi juga dari IPA, gimana coba tuh?" tanya Awan pada Dana.


"Panjang ceritanya, intinya aku gak masuk kedokteran aja. Makanya ambil jurusan keuangan. Otakku tuh gak nyampe kalau disuruh ngapalin bagian syaraf sekecil itu, terus jantung apalah itu. Matematika, hitungan, logika banget aku itu," kata Dana tersenyum.


"Mama kamu pasti yang suruh kamu masuk kedokteran."


"Yap, seperti tebakan kamu. Pas tau gak masuk, yasudah aku cari jurusan yang aku suka saja. Pokoknya, kalau punya anak nanti, aku pingin bebasin dia buat milih jalan hidup dia. Aku gak mau ngekang atau ngatur-ngatur dia buat seperti yang aku mau," kata Dana santai.


"Ngarahin itu wajib, tapi aku setuju sih kalau gak boleh ngatur-ngatur." Dana tersenyum dan menyender di pundak Awan.


"Mau ke bawah?" tanya Awan pada istrinya. Dana mengangguk mendengar ucapan Awan.


Sekolah mereka dulu memang cukup besar. Awan dan Dana berjalan ke bagian lain sekolah. Mereka menuruni tangga menuju ke bagian kantin, mushola dan lapangan.


"Aku pernah bolos tau ke kantin." kata Dana tertawa ketika mengingat masa sekolahnya dulu.


"Gak heran sih," kata Awan.


"Kamu punya temen gak sih dulu?" tanya Dana pada Awan.


"Punya lah, cuma gak banyak sih. Aku lebih pendiam dulu," katanya Santai.


"Pendiam sampe aku gak kenal kan?" kata Dana tersenyum.


"Tapi aku tahu kamu dulu, siapa sih yang gak tau Dana ketua PMR, anak paskib terus anak paduan suara, terus kamu ikut apa lagi dulu?" kata Awan pada Dana. Perempuan di sampingnya hanya tertawa mendengar ucapan Awan.


"Ya gimana ya Wan, orang tua aku dua-duanya kerja. Dulu adikku sekolah di tempat nenek, jadi aku dirumah sendiri. Buat apa pulang terus tidur. Mending ikut kegiatan lah, cari temen gitu," kata Dana menjelaskan. "Dulu sepi banget hidupku Wan, kayak ngobrol sama orang tuaku sendiri tuh jarang banget. Tapi aku paham sih mereka kerja, jadi ya sudah. Tapi semenjak kuliah enggak sih, banyak family time nya aku. Apalagi semenjak mama pindah di ruangan baru, jafi gak sesibuk dulu."


"Tapi kamu bisa deket sama keluarga besar kamu? tante, om, adek."


"Ya, beruntung sih aku. Banyak suport sistem." Dana tersenyum menatap Awan.


"Bener kan dipakai untuk basket lapangannya," Kata Awan melihat ke arah lapangan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2