
"Kalau aku yakin, sudah ku lakukan dari dulu Dan." Awan masih fokus menatap ke arah jalan. Namun, pikiran Awan melayang kemana-mana. Ia tak yakin atas keputusan gegabahnya. Yang ia tau dan ia yakini, om Iyan dapat membantu mereka.
"Kalau tak yakin lebih baik tak usah Wan." Dana menanggapi ucapan Awan tanpa menatap laki-laki itu. Tatapannya hanya tertuju pada pemandangan yang ada di luar jendela.
Awan hanya mengela nafas tanpa menanggapi ucapan Dana. Tak lama, Awan memilih untuk menghentikan mobilnya. Ia menatap perempuan di sampingnya.
"Dan,"
"Kenapa berhenti?" tanya Dana balik menatap Awan.
"Aku serius dengan ucapanku sebelumnya. Aku nyaman sama kamu. Kamu selalu ada buat aku. Bahkan tanpa sadar cuma kamu yang aku pikirkan kalau aku butuh seseorang. Aku gak bisa jamin apa-apa Dan sama kamu. Aku juga gak bisa jamin perasaan aku sendiri sama kamu. Tapi, kalau tuhan memang menakdirkan aku dan kamu bersatu, aku yakin akan ada jalan. Dan aku tak akan mengelak seperti sebelumnya. Sekarang keputusannya tinggal di kamu. Kita pergi ke Bandung sekarang, atau tidak sama sekali."
Dana hanya terpaku mendengar perkataan Awan. Ia tak tau kata apa yang tepat untuk menjawab Awan. Dana yang tak kuat menatap laki-laki itu akhirnya memilih menunduk dan menangis. Ia teringat kata om Iyan sebelumnya tentang meminta petunjuk pada tuhan. Ia juga teringat perkataan Kak Sad beberapa hari yang lalu.
"Dan?" Awan memanggil nama perempuan itu dengan lembut. Mata Awan masih menatap Dana dengan sendu. Terpancar perasaan bimbang dibalut dengan rasa sedih di sana.
Dana yang semenjak tadi menunduk kini mulai mengangkat wajahnya menatap Awan. Bisa di lihat Dana juga merasakan apa yang sedang Awan rasakan. Rasa gelisah dan bimbang di hatinya tak bisa lagi ditutupi. Tapi, Dana melihat ada ketulusan yang tak pernah ia rasakan dari kak Wisnu. Tatapan Awan benar-benar membuat hatinya berdesir.
"Kita tak perlu ke Bandung. Kalau kamu serius, bilang sama mama kalau kamu mau nikah sama aku." Dana menatap waut wajah Awan lekat-lekat. Ia menunggu apa reaksi yang akan ditampilkan dari laki-laki itu.
"Kita balik sekarang." Awan menjawab Dana dengan singkat. Tak ada keraguan lagi di sana. Ia dengan tegas menatap perempuan itu. Awan lalu kembali fokus pada kemudinya dan mencari jalan putar untuk kembali ke rumahnya.
Setelah beberapa saat mereka pergi, akhirnya mereka kembali ke rumah Awan.
__ADS_1
Terlihat papa, mama, tata dan tante Santi sedang kebingungan menelfon sanak sodara mereka untuk mencari keberadaan Awan dan Dana. Papa bahkan sudah memegang kunci mobilnya hendak mencari mereka berdua. Langkah papa terhenti ketika melihat mobil Awan yang sudah ada di depan rumah.
Di dalam mobil, Awan menggenggam tangan Dana. Laki-laki itu tak mengatakan sepatah katapun. Hanya tatapan Awan yang berbicara seolah semuanya akan baik-baik saja. Dana tersenyum melihat itu. Matanya masih berkaca-kaca akibat tangisannya tadi. Mereka berdua lalu keluar dari mobil.
"Nduk?" mama yang melihat Dana langsung menghampiri anak perempuannya itu. Tatapannya benar-benar sangat cemas. Mama memeluk Dana dengan erat.
"Jangan pernah pergi seperti itu lagi." Mama menangis memeluk Dana. Tangannya membelai rambut anaknya itu dengan halus.
Papa Awan menatap anak laki-lakinya dengan perasaan lega. Awan tau jika papanya pastilah sangat khawatir padanya. Bagaimanapun Awan tak pernah bertingkah kurang ajar seperti yang ia lakukan tadi. Papa pastilah sangat shock melihat tingkahnya yang tak biasa.
"Sudah, sudah masuk dulu." Tante Hesti menyuruh mereka semua untuk masuk ke dalam rumah. Dana masih menangis dipelukan mamanya. Ia berjalan sembari menyender pada mama. Awan dan papa menyusul masuk ke dalam rumah. Tata yang sedari tadi diam kini mengeluarkan suaranya.
"Kak, jangan pernah seperti ini lagi, aku takut kalian kenapa-napa." Tata menatap kakak laki-lakinya itu. Awan hanya tersenyum dan memegang pundak adiknya mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Awan mau bicara pah," Seisi ruangan itu menyimak ke arah Awan. Mereka menunggu Awan yang akan berbicara. Terlibat sesekali Awan tampak berfikir keras.
"Awan dan Dana sudah bicara masalah perjodohan yang pernah kalian buat untuk kita. Awan sudah tak punya seseorang lagi di hati Awan, begitu juga Dana. Awan sering kali bersama dengan Dana. Entah mengapa, Awan merasa nyaman bersamanya. Tadi Dana dan Awan sudah bicara masalah ini. Dan Dana bilang, kalau aku serius dengannya aku harus bicara pada tante Santi tentang ini...
Tante, saya ingin menjadikan Dana, anak tante sebagai pendamping saya. Awan ingin menikah dengan Dana tante, Awan ingin mencoba membahagiakannya. Dan Awan akan berusaha semaksimal mungkin agar tak membuatnya menangis. Awan ingin serius dengan anak tante." Ucapan Awan benar-benar membuat semua orang kaget.
Dana hanya menunduk. Ia berusaha mengatur detak jantungnya yang sebenarnya sudah tak karuan. Bagaimana tidak, ia baru saja dilamar oleh seorang laki-laki yang bahkan tak pernah ia fikir akan menjadi pasangannya.
"Kamu serius nak?" mama Awan bertanya pada Awan. Ia masih dengab ekspresi kaget dan bahagianya.
__ADS_1
"Wan, kamu jujur sama papa, kamu mau nikah karena apa? kamu sudah melakukan sesuatu dengan Dana?"
"Pa, Awan sudah bilang dengan papa, Awan gak pernah melakukan hal yang dibenci oleh tuhan pa."
"Lalu kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran?" Papa masih mencoba mencari jawaban atas pertanyaannya.
"Awan gak berubah fikiran om, Sebelumnya Awan pernah bicara dengan Dana soal ini. Tapi, kami sama-sama orang yang pernah terluka dengan masa lalu. Dana masih ragu, jadi Dana menolak Awan sebelumnya." Dana mencoba memberi perngertian ke papa Awan.
"Lalu sekarang kamu setuju?" tanya papa Awan pada perempuan itu.
"Hal yang Dana tau, Awan itu baik dan tulus. Dan alasan itu cukup untuk membuat Dana menyetujui ajakannya menikah." Dana menatap Awan. Laki-laki itu tampak tersenyum melihat Dana.
Ada tatapan yang teduh yang Awan perlihatkan di sana. Tatapan yang entah mengapa membuat Dana luluh dan menerimanya.
Mama memegang bahu Dana mencoba menguatkan anaknya.
"Nak, saat ini cuma ada tante di sini. Kalau kamu sungguh-sungguh, kamu bisa ikut kami pulang minggu besok. Sekalian kita ketemu keluarga besar. Jujur tante tak tenang melepas Dana di Jakarta seperti ini tanpa ada yang menjaganya."
Dana menatap mama dengan tanda tanya.
"Maksud tante?" Awan pun demikian. Ia mengerutkan dahi menatap tante Santi yang duduk di depannya.
...****************...
__ADS_1