
Pukul 22.15 WIB.
Sudah cukup larut malam, namun Awan belum juga pulang ke rumah. Beberapa kali Dana keluar rumah ketika terdengar suara mobil yang lewat di gang rumahnya. Tak terlihat juga mobil Awan. Dana lalu memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di shofa ruang tamu yang cukup lebar. Ia memainkan handphone miliknya. Sesekali ia mengirim pesan pada Awan menanyakan keberadaan suaminya. Sesekali juga ia menelefon Awan karena cemas. Malam semakin larut. Dana lalu tertidur di shofa karena merasa cukup lelah dengan aktifitasnya hari itu.
Tepat pukul 12 malam, Awan pulang ke rumah. Ia membuka pintu rumahnya yang tak terkunci. Dilihatnya Dana tengah terlelap tidur di atas shofa. Awan lalu berjongok mensejajarkan diri dengan istrinya. Ia memandangi wajah Dana dengan tatapan hangat. Awan mengerutkan dahinya ketika teringat kebohongan yang ia buat pada istrinya.
"Maafkan aku Dan," kata Awan lirih. Awan membelai pipi istrinya. Ia juga merapihkan bebrapa anak rambut Dana yang menutupi wajahnya.
Dana terbangun ketika dinginnya tangan Awan menyapu wajahnya.
"Dah pulang? tangan kamu dingin banget?" kata Dana pada Awan. Ia lalu duduk dan mengenggam tangan suaminya. Dana mengusap-usap tangan itu lembut. Menempelkan tangan Awan pada pipinya agar hangat.
"Kamu dari mana sih dingin banget tangannya?" kata Dana cemas.
"Kena AC mobil tadi." kata Awan tersenyum.
"Kalau dingin dimatikan lah Wan," kata Dana pada Awan.
"Kamu kenapa tidur di sini?"
"Nunggu kamu lah. sampe ketiduran." kata Dana menatap Awan.
"Maaf ya? gara-gara aku kamu tidur di sini. Lain kali, kalau kamu tidur pintunya jangan lupa di kunci kalau gak ada aku. Oke?" kata Awan lembut. Ia membelai rambut istrinya.
Dana hanya mengangguk menjawab perkataan Awan. Setelah selesai membersihkan badan, Dana dan Awan langsung tertidur. Mereka berdua sangat kelelahan karena aktifitas masing-masing.
***
Pagi harinya, seperti biasa, Dana menyiapkan sarapan untuk Awan.
"Sarapan dulu Wan?"
"Dan, aku minta dibawakan bekal aja boleh? aku hari ini harus berangkat pagi,"
"Oh kalau gitu aku bungkusin dulu. Dinas kah? kalau gitu aku bungkus banyak sekalian ya roti nya? supaya kamu bisa makan dengan temanmu juga." kata Dana tersenyum. Awan hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia tersenyum melihat ke arah Dana. Lagi-lagi ia tak menjelaskan situasinya pada Dana. Awan tak tahu bagaimana caranya memulai untuk menjelaskan semuanya pada istrinya. Ia hanya takut jika apa yang dilakukannya akan membuat Dana kecewa. Ia takut jika Dana akan berfikiran yang tidak-tidak atas tindakannya.
Awan lalu berangkat setelah berpamitan dengan Dana. Ia langsung menuju rumah sakit untuk menemani Rachel melakukan operasi. Pukul 9 pagi, Rachel memasukki ruangan operasi. Awan menunggu di luar dengan cemas. Ia memejamkan matanya dan berfikir tentang banyak hal. Banyak hal termasuk Dana dan resepsi pernikahan yang akan segera diadakan kurang dari 2 bulan.
Setelah 1 jam berlalu, Dokter yang menangani Rachel keluar dari ruang operasi.
"Dok gimana keadaan Rachel?" tanya Awan pada dokter tersebut.
__ADS_1
"Alhamdulillah, keadaannya stabil, operasi juga lancar. Tinggal menunggu saja untuk pemulihan. Pasien masih di dalam, nanti langsung akan di pindahkan ke ruangannya." kata dokter pada Awan.
"Terimakasih banyak dok," kata Awan lega.
Awan menunggu Rachel sadar di ruangannya. Ia memandang wajah Rachel yang masih terlihat pucat. Tak lama, Rachel membuka matanya.
"Hai, sudah bangun? apa yang dirasakan sekarang?" tanya Awan pada Rachel.
"Lemas saja, Masih kesemutan."
"Ya sudah istirahat, aku panggil dokter dulu ya?" Rachel hanya mengangguk menjawab pertanyaan Awan.
Saat Awan akan kembali ke ruangan Rachel, ia dikagetkan dengan seseorang yang memanggilnya dari belakang.
"Wan?" Awan refleks menengok ke sumber suara itu. "Awan kan?" tanya Wisnu pada Awan.
"Ah, iya kak." Jawab Awan sedikit panik dan canggung.
"Kamu ngapain di rumah sakit? Dana sakit? sakit apa?" tanya Wisnu tampak khawatir.
"Bukan Dana, temen aku yang sakit. Kak Wisnu kenapa di sini?" tanya Awan mengalihkan pembicaraan.
"Oh, lagi konsul ke dokter saja buat program hamil istri." kata Wisnu tersenyum.
Mereka lalu berpisah setelah Awan berpamitan dengan Wisnu.
Wisnu yang sedikit aneh dengan tingkah Awan, Ia memilih untuk mengikuti laki-laki itu di belakang. Wisnu melihat Awan masuk ke salah satu ruangan pasien. Disana, dari kaca pintu, terlihat Awan yang sedang membantu seorang perempuan untuk minum. Mereka terlihat cukup mesra karena beberapa kali wanita tersebut memegang tangan Awan.
Wisnu lalu pergi dari tempat itu dengan penuh tanda tanya. Siapa perempuan yang ada di dalam sana dan mengapa Awan ada di sana sangat memenuhi pikirannya. Sebelum kembali ke mobilnya, Wisnu memutuskan untuk menelefon Dana. Ia ingin memastikan sesuatu pada perempuan itu.
"Halo Kak? gimana?" sapa Dana dari balik telefon.
"Iya Dan, ini aku cuma mau tanya, kalau misalnya... dulu kamu kalau awal nikah ada minum obat sesuatu atau apa gak?" tanya Wisnu pada Dana. Ia hanya ingin mencari topik yang relefan dengan Dana.
"Oh, kalau aku enggak sih kak, cuma vitamin saja, itupun aku sudah konsumsi dari sebelum menikah. Vega mau langsung program hamil kah?" tanya Dana penasaran.
"Iya nih, baru konsul dulu sih. Kamu gimana? sehat-sehat kan? suami kamu gimana?" tanya Wisnu.
"Alhandulillah sehat, Awan juga sehat." jawab Dana pada Wisnu.
"Di rumah kah Awan?" tanya Wisnu.
__ADS_1
"Enggak, dia lagi dinas ke luar kota."
"Kirain di rumah." kata Wisnu tersenyum.
"Enggak lah, ini kan weekdays, kalau enggak ke kantor ya dinas ke luar kota." Jawab Dana santai.
"Kamu baik-baik saja kan dengan Awan?" tanya Wisnu memastikan.
"Iya, kita baik-baik saja kok," jawab Dana sedikit heran dengan pertanyaan Wisnu.
"Ya sudah Dan kalau begitu, makasih ya informasinya. Aku harus balik kantor juga." kata Wisnu pada Dana.
"Anytime kak, semoga cepat berhasil programnya." kata Dana tersenyum.
"Yap thankyou, semoga kamu bahagia juga ya Dan sama Awan. Kamu tahu kan kalau aku selalu berharap kamu happy sama Awan. Kamu bisa cerita apapun padaku Dan, if you need to talk." kata Wisnu tulus.
"Ya, thankyou," jawab Dana dengan ramah. Ia lalu menutup telefon itu dan kembali bekerja. Menurutnya sedikit aneh karena tiba-tiba Kak Wisnu menelfon dirinya.
Sore harinya, Awan menjemput Dana di kantornya. Dana menunggu di loby kantor. Ia sedikit kesal karena Awan terlambat menjemputnya. Tapi, kekesalan Dana hilang ketika melihat Awan datang.
"Tumben telat jemputnya?" tanya Dana pada Awan ketika di dalam mobil.
"Iya sory macet banget tadi, jadi harus muter." kata Awan lembut.
Dana melihat mobil Awan yang cukup berantakan. Tak biasanya mobil Awan tak terurus seperti sekarang. Awan selalu rapih dalam meletakkan sesuatu tapi tidak untuk hari ini.
"Tumben mobil kamu gak rapih? Masker di sini, uang receh di situ, banyak bon juga." Kata Dana merapikan mobil Awan. Ia menumpuk bon yang berceceran entah kemana. Dana melihat sesuatu yang janggal. Beberapa nota belanja di mini market di tempat yang cukup jauh dari rumah mereka.
"Kamu untuk apa beli handuk?" tanya Dana pada Awan. Mendengar ucapan Dana, Awan langsung mengambil nota itu dan meremasnya.
"Enggak kemarin teman aku yang beli, waktu kita jenguk temanku yang sakit." Awan coba mencari alasan pada istrinya agar tidak curiga. Dana hanya mengangguk mencoba memahami ucapan suaminya.
"Teman kamu sakit apa memangnya?" tanya Dana pada Awan.
"Usus buntu," jawab Awan singkat.
"Wah itu pasti sakit banget, mamah pernah seperti itu, terus di operasi. Berarti teman kamu itu sudah di operasi? gimana keadaannya?" tanya Dana.
"Sudah, dia sudah lebih baik." kata Awan tersenyum.
"Syukurlah," jawab Dana singkat. "Itu teman apa sih? SMA?" tanya Dana pada Awan.
__ADS_1
"Teman main saja." Dana hanya mengangguk tanda mengerti.
...****************...